Bab 12 - Kembali di tolak

Penulis JanaIndria
11 October 2025

Selama perjalanan pulang dari rumah Jonas, hening tercipta seketika, Diandra mengemudi dengan fokus yang tajam, rahangnya mengeras, sementara Mbak Devi di kursi penumpang depan bersandar ke jendela, isak tangisnya yang tadinya hebat kini berubah menjadi getaran sunyi di bahunya.

Emma duduk sendirian di kursi belakang, terjebak dalam keheningan yang memekakkan telinga. Ia mencoba mengatur napas, namun udara di dalam mobil terasa tipis dan berat.

Bayangan Jonas yang tergeletak pingsan, kemarahan Rika, tatapan hancur Mbak Devi, dan senyum dingin Diandra berputar-putar di kepalanya seperti film rusak. Guncangan adrenalin yang tadi menopangnya kini surut drastis, meninggalkan kekosongan yang dingin dan hampa. Perutnya terasa seperti diaduk-aduk. Kepalanya mulai pusing, dan titik-titik hitam mulai menari di tepi pandangannya.

"Mbak Devi... Di ...." panggil Emma, suaranya hanya desisan lemah. Ia mencoba meraih sandaran kursi di depannya, tetapi tangannya terasa berat seperti timah.

Diandra melirik dari kaca spion. "Kenapa, Em? Kamu mual? Perlu berhenti dulu, tidak?"

"Nggak... aku cuma..."

Kalimat itu tidak pernah selesai. Kegelapan yang tadinya hanya menari di tepi pandangan kini menelan Emma utuh. Dunia menjadi senyap dan hitam. Tubuh Emma luruh ke samping, kepalanya membentur lembut jendela mobil.

"EMMA!" Teriakan panik Diandra dan Mbak Devi terdengar bersamaan. Diandra refleks menginjak rem, membuat mobil berhenti mendadak di tepi jalan yang sepi.

"Emma! Bangun, Em!"

Mbak Devi berbalik, berusaha menepuk-nepuk pipi Emma yang pucat pasi. "Ya Tuhan, Diandra, dia kenapa?"

"Aku nggak tahu, Mbak! Dia pingsan!" Diandra melepas sabuk pengamannya dengan panik. Kemudian keluar dan membuka pintu mobil dari sisi Emma.

"Wajahnya pucat sekali. Kita harus bawa dia ke rumah sakit. Sekarang!" ujar mbak Devi yang menerima kepala Emma untuk dia letakkan di pangkuannya.

Tanpa berpikir dua kali, Diandra kembali duduk di belakang kemudi, menginjak pedal gas, mobil melesat membelah malam menuju rumah sakit terdekat yang ia tahu. Seluruh drama tentang Jonas terlupakan seketika, di gantikan oleh kepanikan yang murni untuk keselamatan

Emma.


Satu jam kemudian, di koridor rumah sakit yang steril dan berbau disinfektan, Diandra dan Mbak Devi menunggu dengan cemas. Seorang dokter baru saja keluar dari ruang gawat darurat tempat Emma di periksa.

"Bagaimana keadaan teman saya, Dok?" tanya Mbak Devi, suaranya serak karena khawatir.

Dokter paruh baya itu tersenyum ramah, sebuah senyuman yang sedikit meredakan ketegangan di antara mereka.

"Pasien tidak apa-apa, Ibu. Kondisinya stabil. Dia hanya mengalami syok berat dan kelelahan, tekanan darahnya juga sempat turun drastis. Itu yang menyebabkan pingsan."

Diandra menghela napas lega.

"Syukurlah. Jadi, kami sudah bisa membawanya pulang?"

"Sebaiknya pasien beristirahat di sini dulu malam ini untuk observasi," jawab dokter.

"Selain itu, ada satu hal lagi yang perlu kalian ketahui. Hasil pemeriksaan darah menunjukkan sebuah kabar baik."

"Kabar baik?" Diandra mengulang kata kata terakhir yang di ucapkan oleh dokter dengan mengerutkan kening. Dokter itu tersenyum lebih lebar.

"Selamat. Teman Anda, sedang hamil. Usia kandungannya di perkirakan sangat muda, dan sangat rentan. Dunia seakan berhenti berputar. Diandra dan Mbak Devi saling berpandangan, mulut mereka sedikit terbuka karena terkejut. Hamil? Di tengah semua kekacauan ini?

"H-hamil? Serius? Tapi-" ulang Mbak Devi, tak percaya.

"Benar, Bu. Kehamilan di trimester pertama ini sangat rentan, terutama terhadap stres dan syok. Saya sangat menyarankan agar pasien menghindari tekanan emosional yang berat untuk sementara waktu demi menjaga kandungannya," jelas Dokter itu sebelum pamit undur diri. Diandra bersandar ke dinding, pikirannya berpacu. Emma hamil. Ini menjelaskan segalanya. Tapi ini juga memperumit segalanya.

"Kita harus menghubungi keluarganya," kata Mbak Devi pelan.

"Siapa yang harus kita telepon? Kamu tahu tidak?!"

Diandra terdiam sejenak, ingatannya seketika merujuk pada orang yang akhir akhir ini merayunya agar Emma mau dia nikahi, termasuk merayu sang kakak, Erlan.

"Aku tahu siapa yang harus di hubungi," kata Diandra tegas. Ia mengeluarkan ponselnya, mencari sebuah nama, dan menekan tombol panggil.

"Ini bukan urusan keluarganya. Ini urusan ayah dari bayi itu."

“Kamu tahu siapa ayah dari bayi yang di kandung Emma? Kapan Emma menikah, kok aku nggak tahu?


Kurang dari tiga puluh menit kemudian, sesosok pria berlari di sepanjang koridor rumah sakit. Napasnya terengah-engah, rambutnya acak-acakan, dan wajahnya pucat karena panik. Ia adalah Arsen.

"Diandra!" panggilnya begitu melihat sepupunya itu. "Di mana Emma? Apa yang terjadi? Kamu bilang dia di rumah sakit? Dia baik-baik saja, kan? Jawab aku!"

"Tenang, Sen, tenang," kata Diandra, mencoba menahan Arsen yang hendak menerobos masuk ke kamar perawatan.

"Emma baik-baik saja. Dia hanya butuh istirahat."

"Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia bisa pingsan? Apa ada yang menyakitinya?" cecar Arsen, matanya yang cemas menatap tajam ke arah Diandra.

"Dia... dia syok. Ada sedikit masalah tadi," jawab Diandra mencoba mengalihkan jawaban dari pertanyaan Arsen.

"Tapi bukan itu yang penting sekarang. Ada yang harus kamu tahu." Ujar Diandra, mengubah sikapnya yang tadi panik.

"Apa? Harus tahu apa?" Arsen benar benar terlihat kacau.

"Emma hamil, Sen. Dia mengandung anakmu."

Arsen membeku. Seluruh kepanikan di wajahnya lenyap, di gantikan oleh ekspresi kosong karena keterkejutan yang luar biasa. Matanya mengerjap beberapa kali.

"Apa... apa katamu?"

"Dia hamil. Enam minggu," ulang Diandra lebih pelan dan jelas.

Bukannya marah, atau bingung, atau takut, reaksi Arsen selanjutnya adalah sesuatu yang tak terduga. Matanya berkaca-kaca. Sebuah senyum tipis yang gemetar terukir di bibirnya.

"Ya Tuhan... dia... dia hamil," bisiknya pada diri sendiri. Kepanikan di matanya kini berubah menjadi sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih dalam. Kekhawatiran yang bercampur dengan kelegaan dan rasa memiliki yang meluap-luap.

"Aku harus menemuinya," kata Arsen, suaranya serak.

"Aku harus ada di sampingnya."

Tepat saat itu, seorang pria lain datang dengan langkah tergesa-gesa dari ujung koridor. Wajahnya keras dan penuh kekhawatiran. Erlan, kakak Emma.

"Di mana Emma?" tanyanya tanpa basa-basi begitu sampai di depan mereka. Matanya langsung tertuju pada Arsen dengan tatapan penuh selidik dan curiga.

Memandangi wajah Arsen yang mungkin terlupakan olehnya. Lalu ia ingat. Ini pria kaya yang pernah datang ke rumahnya, dengan percaya diri meminta izin untuk mendekati adiknya, pria yang ia tolak mentah-mentah karena takut Emma hanya akan menjadi mainan orang berduit.

"Untuk apa kamu di sini?" tanya Erlan dingin, memasang badan di depan pintu kamar, seolah menjadi benteng pelindung.

"Saya..." Arsen menelan ludah, berusaha mengendalikan emosinya.

"Saya ayah dari bayi yang di kandung Emma." Pengakuan itu seperti tamparan bagi Erlan. Namun dia harus mau menanggung resiko, sejak Arsen ke rumahnya dan menceritakan apa yang terjadi pada Emma hingga membuat nya hamil, Erlan sudah menyiapkan segalanya.

“Tak masalah, aku tetap tak akan membiarkan Emma menikah denganmu!!”