Mata Lily masih terpejam ketika dirinya merasakan sesuatu yang keras di bawah telapak tangannya. Tanpa sadar, tangannya bergerak pelan, meraba permukaan hangat dan berotot itu. Baru beberapa detik kemudian, suara berat dan serak khas orang baru bangun terdengar di telinganya.
“Sepertinya kamu suka sekali meraba, Lily,” bisik Agam dengan nada setengah menggoda.
Seketika Lily membuka matanya. Pupus sudah kantuknya begitu menyadari bahwa tangan kanannya kini tengah menempel di perut Agam — dan bukan sekadar menempel, tapi meraba otot-otot perut pria itu yang terasa keras di balik kulit hangatnya.
“Astaga, Om! Kapan Om pulang?” seru Lily spontan, wajahnya memerah saat buru-buru menarik tangannya dan menjauh.
Agam tersenyum samar. “Dua jam yang lalu,” jawabnya santai sebelum kembali memejamkan mata, seolah tak terjadi apa-apa.
Lily memandang jam dinding — pukul enam pagi. “Om, jangan tidur lagi. Ayo bersiap,” ucapnya, berusaha menutupi rasa gugup dengan bersikap tegas.
Agam hanya menghela nafas malas. “Aku ngantuk. Kita datang nanti malam aja.”
Lily terdiam. Sebenarnya ia juga tidak begitu ingin datang pagi ini. Tapi kalau tidak muncul, ia tahu betul bagaimana keluarga suaminya bisa jadi bahan olok-olokan yang tak mengenakkan.
“Kenapa nggak tidur lagi?” tanya Agam yang kini membuka sedikit matanya, melihat Lily masih duduk di tepi ranjang.
“Udah nggak ngantuk,” jawab Lily singkat.
“Yaudah, aku masak dulu buat sarapan,” ucap Agam sembari bangkit.
Lily memandangnya heran. “Kan ada Bibi.”
“Bibi ambil cuti beberapa hari,” jawab Agam, berjalan menuju kamar mandi. Suara air mengalir terdengar tak lama kemudian.
Lily berdiri di depan pintu kamar mandi, hendak mengatakan sesuatu. Namun begitu Agam membuka pintu, pria itu langsung terkejut. “Astaga, Lily! Ngapain kamu berdiri di depan pintu?”
“Om kan ngantuk, aku aja yang masak. Nggak akan keracunan kok,” ucap Lily polos, tanpa sadar wajahnya masih memerah.
Namun Agam seolah tak mendengar, dia berjalan begitu saja melewati Lily. Lily pun mengikutinya, namun sebelum membuka pintu Agam membalik badannya. “Kamu mau ngapain?” tanya Agam dengan menatap Lily.
“Ikut ke dapur.”
“Dengan pakaian seperti ini?” ucap Agam yang menunjuk menggunakan matanya.
Lily baru menunduk dan menyadari kalau ia masih memakai gaun tidur tipis berwarna lembut, dengan belahan dada rendah dan tali bahu kecil. Wajahnya makin merah padam.
Agam hanya mendengus kecil, memutar tubuh Lily dan mendorongnya pelan ke kamar mandi. “Cuci muka, sikat gigi. Mulut kamu bau.”
“Mana ada!” protes Lily dari balik pintu, tapi Agam sudah berlalu sambil menahan tawa kecil yang tak sempat ia sembunyikan.
Senyum tipis muncul di wajahnya saat berjalan ke dapur. Ada sesuatu yang hangat di dadanya—perasaan sederhana tapi sulit dijelaskan setiap kali ia melihat Lily seperti itu polos, cerewet, dan entah kenapa selalu membuat pagi jadi lebih hidup.
Di dapur, Agam mulai menyiapkan sarapan. Tangannya terampil membuka kulkas, mengambil telur, daging asap, dan sepotong roti tawar tebal.
Bau harum kopi mulai menguar dari mesin espresso, Agam laulu menyalakan kompor. Suara desisan minyak panas memenuhi dapur kecil itu.
Telur pertama ia goreng dengan kuningnya yang utuh, mengkilap bagai matahari pagi. Satu lagi ia kocok ringan, menambahkan sedikit garam dan susu cair sebelum menuangkannya ke wajan—membuat telur orak-arik lembut berwarna kuning keemasan.
Dua potong bacon menari di wajan, mengeluarkan suara renyah dan aroma gurih yang memenuhi udara. Sementara roti panggangnya sudah kecoklatan, siap dioles mentega tipis.
Agam menata semuanya di piring roti panggang hangat di dasar, telur mata sapi diatasnya, dua potong bacon di sisi kanan, dan telur orak-arik di sebelah kiri. Sedikit daun kucai ia taburkan di atasnya.
Tak lupa, ia menyiapkan secangkir cappucino dengan latte art berbentuk hati dan secangkir susu hangat.
Saat Lily masuk ke ruang makan, rambutnya masih sedikit basah, mengenakan pakaian santai yang lebih sopan. Ia tertegun melihat meja makan yang sudah rapi dengan aroma sarapan yang menggoda.
“Om… ini semua Om yang masak?” tanyanya tak percaya.
Agam menatapnya sekilas sambil menyandarkan tubuh di meja makan. “Kalau bukan aku, siapa lagi?”
Lily tersenyum kecil, menatap piring di hadapannya. “Kelihatannya enak banget.”
“Bukan kelihatannya,” ucap Agam sambil duduk, menyendokkan telur orak-arik ke piring Lily, “Memang enak.”
Lily terkekeh pelan, lalu duduk berhadapan dengannya.
“Sepertinya minuman kita berbeda,” ucap Lily yang menatap cangkir Agam. “Itu lebih enak deh,” sambungnya.
“Nggak usah aneh-aneh, minum punya kamu,” ujar Agam membuat bibir Lily mengerucut.
“Tapi aku mau kopi,” kekeh Lily yang mengambil kopi Agam membuat Agam menghela nafasnya.
“Perut kamu bisa sakit minum kopi pagi-pagi,” tegur Agam yang tidak digubris Lily. Agam hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan dia pun mengambil segelas susu milik Lily untuk dia minum.
Lily tersenyum kecil melihat Agam yang tidak marah, dirinya mulai berpikir jika keputusan untuk menikah dengan Agam bukanlah keputusan buruk.
Notifikasi pesan masuk terdengar dari ponsel Lily membuat dia melirik ke arah ponsel. Namun saat nama pengirim pesan lewat notifikasi, Lily terlihat mengabaikan pesan itu. Dia tidak menyentuh ponselnya. Tapi, beberapa saat kemudian notifikasi kembali terdengar hingga notifikasi pesan berubah menjadi notifikasi telepon.
Helaan nafas terdengar dari mulut Lily hingga gadis itu menghentikan makannya. Lily meraih ponselnya tapi sebelum dirinya mengangkat panggilan telepon itu, Agam lebih dulu mengambil alih ponsel Lily.
“Eh Om,” ucap Lily yang terkejut.
“Halo Ayah, ini Agam,” ucap Agam segera. “Pagi ini Agam dan Lily memang nggak bisa datang karena Agam baru aja pulang tapi nanti malam kami akan datang kok.”
Tanpa basa-basi lagi Agam langsung to the point, Lily terlihat penasaran dengan jawaban ayahnya. Tapi dia tidak bisa mendengar apapun.
“Iya ayah,” ucap Agam yang kemudian menutup sambungan teleponnya.
“Ayah bilang apa?” tanya Lily yang penasaran. “Dia marah-marah nggak?”
Agam tidak menjawab ucapan Lily, dia tengah sibuk dengan ponsel Lily hingga kemudian Agam mengembalikan ponselnya ke tangan Lily. “Sudah lanjut makannya,” ujar Agam membuat Lily mendengus.
Lily yang menerima ponselnya kembali pun memilih membuka pesan dari sang ayah. Tapi saat membuka aplikasi pesan tak ada nama ayah disana. “Om hapus pesan ayah?” tanya Lily yang kini menatap suaminya yang tengah makan.
“Nggak penting, nggak perlu dibaca,” jawab Agam singkat.
“Kenapa? Kan aku belum baca, emang ayah bilang apa? Dia marah-marah ya?” Lily mencecar Agam dengan berbagai pertanyaan karena dia sangat penasaran dengan pesan sang ayah.
Tadi Lily hanya melihat notifikasi tanpa membaca pesan apa yang ayahnya kirim. Tapi dia bisa menebak jika pesan itu adalah pesan makian karena Lily yang tidak hadir diacara pernikahan Emma pagi ini.
“Makan Lily,” tegur Agam karena Lily yang tidak melanjutkan makannya. “Lily…”
“Iya Om Agam,” jawab Lily yang akhirnya patuh.