"Sudah bangun, Em?" sapanya pelan. Nadanya penuh kehati-hatian, seolah Emma adalah porselen retak yang bisa pecah berkeping-keping jika disentuh dengan cara yang salah.
"Makan dulu, ya? Kamu harus isi tenaga."
Emma mengangguk lemah, terlalu lelah untuk menolak. Ia membiarkan Erlan membantunya bersandar pada bantal yang ditumpuk, lalu membuka wadah bubur yang masih hangat. Aroma jahe dan kaldu ayam yang gurih seharusnya membangkitkan selera, tapi perutnya terasa mual.
"Arsen sedang mengurus administrasi di bawah," kata Erlan, seolah tahu nama itu adalah pertanyaan pertama yang menggantung di benak adiknya.
"Dia tidak mau pergi, tapi Kakak yang paksa. Supaya kamu bisa tenang sebentar."
Emma tidak menjawab, hanya mengaduk bubur di hadapannya tanpa minat. Arsen adalah penolongnya, Kehadiran pria itu adalah satu-satunya titik terang dalam kegelapan yang pekat.
"Em," Erlan memulai lagi, suaranya terdengar lebih serius. "Kakak sudah bicara dengan Arsen semalam, saat kamu tidur. Dia anak yang baik. Kakak bisa lihat dia benar-benar tulus sama kamu."
Emma berhenti mengunyah. Ia meletakkan sendoknya dan menatap kakaknya. Ia tahu ada 'tapi' yang mengikuti kalimat itu. "Lalu?"
"Lalu keputusan ada di tanganmu," jawab Erlan tegas. Wajahnya menunjukkan penyesalan yang tulus.
"Awalnya kakak ingin egois, menjadikan pilihan kakak sebagai satu satunya pilihan untukmu, tapi kakak salah, kakak tidak boleh egois. Sekarang, Kakak cuma mau kamu tahu, kamu punya pilihan karena kamu tidak sendirian." Hati Emma sedikit menghangat. Mendengar kakaknya mengakui kesalahan adalah hal yang langka.
"Pilihan apa, Kak?" bisik Emma, suaranya serak.
"Pilihan pertama, kamu terima lamaran Arsen. Kamu bangun keluarga dengannya. Kakak akan dukung seratus persen," kata Erlan mantap. Ia berhenti sejenak, mengambil napas dalam-dalam, seolah sedang mempersiapkan diri untuk pilihan kedua. "Pilihan kedua... kalau semua ini terlalu berat buatmu, kalau tekanan dari dunianya, dari keluarganya, terlalu besar... kita bisa pergi."
Emma mengangkat wajahnya, menatap Erlan dengan bingung. Alisnya bertaut. "Pergi? Pergi ke mana?"
"Ke mana saja," jawab Erlan, tatapannya lekat dan penuh keyakinan. "Kita bisa pulang ke kampung, ke rumah peninggalan Ibu. Atau kita bisa cari kota kecil yang tenang di dekat pantai, atau di pegunungan. Kakak punya sedikit tabungan. Kita bisa mulai hidup baru di sana. Hanya kita bertiga."
Kalimat terakhir itu membuat Emma tersenyum tipis untuk pertama kalinya. Beban di dadanya terasa sedikit terangkat oleh humor yang tidak disengaja itu. Ia menatap kakaknya dengan tatapan menggoda.
“Apa maksud Kakak, bertiga? Siapa lagi?” tanya Emma, bingung sampai-sampai matanya menyipit karena penasaran. Ia sama sekali tidak menangkap makna tersembunyi di balik kata-kata Erlan. Pikirannya langsung melompat ke kesimpulan yang paling logis dan lucu baginya saat ini.
“Kamu sudah punya pacar?” tanya Emma lagi dengan lirikan maut ke arah sang kakak.
“Wah, hebat sekali Kakakku ini. Selama ini diam-diam, ternyata sudah siap bawa calon istri, ya? Siapa orangnya? Kenalkan, dong!”
Sang kakak bukannya menjawab, apalagi tertawa. Wajah Erlan yang tadinya penuh keyakinan kini berubah pias. Lelaki yang terlihat sangat matang di usianya itu hanya terdiam, bibirnya terkatup rapat. Ia tampak bingung harus menjelaskan dari mana. Senyum di wajah Emma perlahan memudar, digantikan oleh firasat yang tidak enak. Reaksi kakaknya terlalu aneh.
"Kak? Kok diam?" tanya Emma, tawanya lenyap. "Bercandaanku nggak lucu, ya?"
Erlan menelan ludah. Ia menarik kursi lebih dekat ke ranjang adiknya, lalu meraih tangan Emma yang terasa dingin. Genggamannya erat, seolah berusaha menyalurkan kekuatan.
"Em... dengarkan Kakak baik-baik," mulainya dengan suara rendah dan serius. "Ini bukan tentang Kakak."
"Lalu tentang siapa?" desak Emma, jantungnya mulai berdebar tak menentu.
"Yang ketiga itu... dia ada di sini," kata Erlan pelan, matanya menatap Emma dengan sorot yang sulit diartikan—campuran antara kasihan, cemas, dan... sesuatu yang lain. "Di dalam dirimu."
Emma mengerutkan kening dalam-dalam. "Maksud Kakak apa, sih? Aku nggak ngerti. Jangan bercanda, ini sama sekali nggak lucu."
"Kakak tidak bercanda, Em," kata Erlan, suaranya bergetar. "Semalam, waktu dokter memeriksamu... alasan kamu pingsan bukan hanya karena syok dan kelelahan."
Erlan berhenti, memberi jeda yang terasa menyiksa.
"Dokter bilang... kamu sedang hamil, Em." Dunia Emma berhenti. Suara Erlan berdengung di telinganya, tetapi kata-kata itu seolah tidak bisa ia proses. Hamil!! Tidak mungkin.
"Nggak," bisiknya, menggelengkan kepala pelan. "Nggak mungkin. Kakak pasti salah dengar. Atau dokternya yang salah periksa. Itu nggak mungkin."
"Hasil tes darahnya positif, Em," sahut Erlan, suaranya penuh kepastian yang menyakitkan
"Usia kandungannya diperkirakan sekitar enam minggu." Enam minggu. Angka itu menusuknya. Pikirannya langsung berlari mundur. Ia teringat siklus bulanannya yang terlambat, yang ia abaikan karena mengira itu hanya efek stres karena sering di ganggu Ibra. Ia teringat beberapa pagi saat ia merasa mual, yang ia anggap hanya karena salah makan. Potongan-potongan puzzle yang tadinya tak berarti kini menyatu membentuk sebuah gambar yang mengerikan.
"Nggak..." ulang Emma lagi, kali ini dengan isak tangis yang tertahan. Air mata mulai menggenang di matanya. Ini bukan kabar baik. Ini adalah bencana di atas bencana.
Air mata yang tadinya hanya menggenang kini tumpah, mengalir deras di pipinya. Ia menarik tangannya dari genggaman Erlan dan memeluk lututnya sendiri, meringkuk.
"Kenapa?" isaknya pilu. "Kenapa harus sekarang? Kenapa semuanya terjadi bersamaan?"
Ia tidak kecewa pada Arsen. Ia tidak kecewa pada kakaknya. Ia kecewa pada dirinya sendiri. Ia kecewa pada takdir. Hidupnya yang sudah porak-poranda kini semakin rumit. Impiannya untuk membangun hubungan yang normal dan sehat dengan Arsen, untuk memulai segalanya dari awal dengan perlahan, kini terasa mustahil. Hubungan mereka sekarang dilandasi oleh sebuah kewajiban, sebuah 'kecelakaan'.
Erlan hanya bisa menatap adiknya dengan hati yang hancur. Ia mengulurkan tangan, mengusap punggung Emma yang bergetar hebat. Tidak ada kata-kata yang bisa ia ucapkan untuk memperbaiki ini.
Pintu kamar terbuka, dan Arsen masuk. Wajahnya tampak lebih segar, tetapi senyumnya langsung hilang begitu melihat Emma menangis tersedu-sedu dan Erlan yang menatapnya dengan pandangan pasrah.
"Kamu sudah memberitahunya?" tanya Arsen pelan kepada Erlan.
Erlan hanya mengangguk muram.
Arsen berjalan mendekat dengan langkah pelan. Ia berlutut di samping tempat tidur, mencoba mensejajarkan pandangannya dengan wajah Emma yang tersembunyi.
"Emma," panggilnya lembut. "Lihat aku."
Emma perlahan mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. Matanya merah dan bengkak. Menatap Arsen kini terasa begitu menyakitkan.
"Ini bukan akhir dari dunia," kata Arsen, suaranya tulus dan menenangkan. "Ini adalah awal. Awal bagi kita." Kata-kata itu, yang seharusnya menghibur, justru menyulut kekecewaan Emma.
"Awal?" balas Emma dengan suara serak yang penuh kepahitan. "Awal dari apa, Sen? Awal dari hidup yang lebih rumit? Awal dari rasa malu yang harus aku tanggung? Aku... aku bahkan belum yakin dengan perasaanku padamu, dan sekarang... sekarang ada ini." Pengakuan itu menyakiti Arsen, Emma bisa melihatnya dari sorot mata pria itu. Tapi ia tidak bisa berbohong lagi. Hatinya terlalu lelah untuk berpura-pura.
"Aku tidak memintamu untuk langsung yakin," balas Arsen, mencoba mengendalikan rasa sakitnya. "Aku hanya memintamu untuk memberiku kesempatan. Beri kita kesempatan. Aku akan membuktikan padamu bahwa ini bukan bencana. Ini adalah anugerah."
"Anugerah?" Emma tertawa getir. "Bagaimana ini bisa menjadi anugerah saat aku merasa seperti terperangkap? Pilihan yang Kakak berikan tadi... sekarang terasa seperti lelucon."
Ia menatap kosong ke dinding di hadapannya. "Jika aku menikahimu, aku akan selalu merasa melakukan ini karena terpaksa, karena anak ini.
Dan jika aku pergi bersama Kakak, aku akan merasa seperti perempuan jahat yang membawa lari anakmu darimu."
Ia kembali menatap kedua pria di hadapannya, dua pilar yang menawarkan jalan berbeda, yang kini keduanya terasa seperti jalan buntu.
"Aku tidak punya pilihan," bisiknya putus asa. "Aku tidak punya pilihan sama sekali."