“Waktunya Dokter memeriksa pasien,” ujar seorang petugas yang langsung masuk tanpa permisi, dengan tangan kanan membawa buku catatan, dan alat Kesehatan, dengan di ikuti oleh seorang perempuan separuh baya yang mengenakan jas warna putih. Setelah pembicaraan panas kemarin, Erlan dan Arsen sengaja tak lagi ungkit masalah itu, agar Emma lebih tenang.
“Jangan banyak mikir ya …. Kasihan adik bayinya kalau di bawa stress terus, harus positif thinking, sehat sehat selalu.” Dokter memberikan pesan dengan tangan memeriksa menggunakan alat yang tadi di bawa oleh petugas tadi. Emma tersenyum sembari menganggukkan kepalanya, sesaat.
Dokter sempat berbicara sesaat dengan Erlan, sebelum akhirnya keluar ruangan, dan menutup pintu dengan pelahan. Namun …. pintu kamar terbuka lagi. Arsen masuk dengan senyum cerah, membawa seikat bunga lili putih yang harum. Senyumnya sedikit memudar saat melihat ekspresi tegang di wajah Emma dan Erlan.
"Apa aku mengganggu?" tanyanya, ragu-ragu.
Erlan segera berdiri. "Tidak. Aku baru saja menemani Emma sarapan. Aku ke luar dulu, mau cari kopi," katanya, memberikan privasi kepada mereka berdua.
Erlan menepuk pundak Arsen sekilas sebelum keluar, sebuah gestur singkat yang membawa pesan kompleks—jaga adikku.
Arsen meletakkan bunga di meja samping tempat tidur dan duduk di kursi yang ditinggalkan Erlan. Aroma lili yang lembut dan mewah segera memenuhi ruangan, kontras dengan aroma antiseptik rumah sakit yang samar. Ia meraih tangan Emma, merasakan jemari perempuan yang dicintainya itu terasa dingin, seperti porselen.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Arsen, suaranya melembut, berusaha mencairkan kebekuan di antara mereka.
"Sudah lebih baik," jawab Emma pelan. Kebohongan kecil yang terasa perlu.
"Bagus," kata Arsen, wajahnya kembali cerah, memilih untuk percaya pada kata-kata Emma daripada pada sorot matanya yang rapuh. "Aku sudah telepon orang tuaku tadi pagi. Mereka... kaget, tentu saja. Tapi mereka ingin bertemu denganmu secepatnya. Begitu kamu keluar dari sini, kita bisa langsung ke rumah. Jangan khawatir, aku akan ada di sisimu."
Jantung Emma berdebar kencang, bukan karena cinta, melainkan karena cemas. Bertemu orang tuanya? Secepat ini? Gambaran sepasang mata yang menghakimi, yang menilainya dari atas ke bawah, melintas di benaknya. “Aku belum siap—“
"Lalu aku juga sudah mencari beberapa referensi wedding organizer terbaik," lanjut Arsen dengan antusiasme yang meluap, tidak menangkap getar ragu dalam suara Emma.
"Kita tidak perlu pesta yang terlalu besar kalau kamu tidak mau. Yang penting sakral dan semua orang tahu kamu adalah istriku. Aku mau semua orang menghormatimu. Aku mau anak kita lahir dengan status yang jelas dan membanggakan."
Setiap kata yang diucapkan Arsen, meskipun penuh dengan niat baik, terasa seperti batu-batu besar yang ditumpuk di atas dadanya. Wedding organizer. Pesta. Keluarga besar. Status. Semua itu terasa begitu jauh dari apa yang ia inginkan saat ini.
Ia merasa terpojok, terhimpit antara tawaran kedamaian dari kakaknya dan proposal kehidupan megah dari Arsen. Yang satu menawarkan pelarian, yang lain menawarkan sangkar emas.
"Arsen..." panggil Emma, suaranya bergetar. Ia menarik tangannya dari genggaman pria itu.
Arsen menatapnya, bingung. Senyumnya goyah. "Kenapa, Sayang? Apa aku salah bicara?"
"Tidak... bukan begitu," Emma menelan ludah, mengumpulkan semua keberanian yang ia miliki. Puing-puing keberanian yang tersisa dari badai hidupnya beberapa hari terakhir. "Aku... aku belum siap untuk semua itu."
"Belum siap untuk apa?" tanya Arsen, masih belum mengerti. "Aku yang akan mengurus semuanya. Kamu hanya perlu fokus pada kesehatanmu dan bayi kita."
"Bukan itu," potong Emma. Ia menatap lurus ke mata Arsen, tatapan yang penuh dengan ketakutan dan permohonan. "Ini terlalu cepat. Terlalu besar. Aku tidak bisa."
"Lalu... apa yang kamu mau, Em? Katakan padaku," desak Arsen, nadanya mulai terdengar cemas, takut jika jawaban Emma adalah sesuatu yang tidak ingin ia dengar.
Emma menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan udara untuk mengucapkan kata-kata yang bisa menjadi jembatan atau justru jurang di antara mereka. "Aku mau... kita menikah."
Wajah Arsen langsung berseri-seri, kelegaan yang murni terpancar di sana. "Tentu! Tentu saja kita akan menikah! Itu yang aku bicarakan..."
"Tapi bukan seperti itu," sela Emma cepat, sebelum harapan Arsen melambung terlalu tinggi. "Aku mau kita ... nikah siri dulu."
Kata 'siri' itu menggantung di udara, mengubah atmosfer di dalam ruangan menjadi tegang. Antusiasme di wajah Arsen lenyap seketika, digantikan oleh keterkejutan dan kekecewaan yang mendalam. Seolah kata itu adalah tamparan keras di wajahnya.
"Nikah ... siri?" ulangnya, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Kenapa, Em? Kenapa siri?"
"Karena aku butuh waktu, Sen," jawab Emma lirih. "Waktu untuk pulih. Waktu untuk bernapas."
"Waktu untuk apa?" Suara Arsen meninggi, rasa sakit hati terdengar jelas di dalamnya. "Apa kamu tidak percaya padaku? Apa kamu pikir aku akan lari meninggalkanmu dan anak kita? Begitu?"
"Bukan! Bukan tentang kamu!" seru Emma, frustrasi karena Arsen tidak mengerti. "Ini tentang aku! Aku yang tidak siap! Coba kamu bayangkan posisiku, Sen. Beberapa hari yang lalu, aku hanya seorang mahasiswa biasa. Lalu dalam satu malam, hidupku hancur karena pengkhianatan, aku tahu aku hamil di luar nikah, dan sekarang... sekarang aku diharapkan untuk masuk ke dalam keluargamu yang terpandang, menikah besar-besaran, dan menjadi sorotan semua orang."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Emma, membuat bayangan Arsen di depannya kabur. "Aku takut, Sen. Aku takut dihakimi. Aku takut orang tuamu tidak akan pernah bisa menerimaku sepenuhnya. Aku takut teman-temanmu akan menertawakanmu di belakang karena menikahi perempuan sepertiku. Aku takut aku tidak akan pernah bisa cocok di duniamu."
Arsen terdiam, rahangnya mengeras. Ia tampak terluka, seolah seluruh niat baiknya baru saja dilemparkan kembali ke wajahnya. "Jadi, dengan nikah siri, kamu pikir semua itu akan selesai? Nikah siri tidak memberimu perlindungan hukum apa pun, Emma. Tidak juga untuk anak kita. Aku ingin memberimu segalanya, kehormatan, status, perlindungan. Kenapa kamu menolaknya?"
"Aku tidak menolakmu! Aku hanya meminta jeda!" isak Emma. "Aku hanya ingin kita terikat secara agama dulu. Secara diam-diam. Hanya kita, keluargaku, dan Tuhan yang tahu untuk sekarang. Sampai aku cukup kuat untuk menghadapi semuanya. Sampai aku siap menjadi istrimu di mata dunia. Apa itu terlalu sulit untuk kamu mengerti?"
"Yang aku mengerti adalah kamu tidak percaya padaku," kata Arsen dingin. Nada bicaranya menusuk hati Emma. "Kamu membangun tembok di antara kita. Kamu lebih memilih opsi yang memberimu 'jalan keluar' yang mudah daripada terikat sepenuhnya denganku."
"Itu tidak adil!" balas Emma, suaranya meninggi bercampur isak tangis. "Yang aku minta adalah pengertianmu!"
Keduanya terdiam. Terluka dan sama-sama tidak mengerti. Bagi Arsen, pernikahan resmi adalah puncak dari cinta dan tanggung jawab, sebuah proklamasi pada dunia. Bagi Emma, pernikahan siri adalah benteng pertahanan untuk hatinya yang rapuh, sebuah ruang bernapas sebelum ia melompat ke lautan yang tidak ia kenal.
Erlan masuk kembali ke kamar tepat pada saat itu, membawa dua cangkir kopi karton. Ia langsung merasakan ketegangan yang pekat, seperti udara yang kekurangan oksigen. Ia melihat adiknya menangis tersedu-sedu dan wajah Arsen yang keras dan kecewa.
"Ada apa ini?" tanyanya hati-hati, meletakkan kopi di meja.
Tidak ada yang menjawab. Emma memalingkan wajahnya, menatap ke luar jendela di mana sehelai daun kering jatuh berputar-putar. Pikirannya kembali ke tawaran kakaknya. Pergi. Menghilang. Memulai hidup baru yang tenang di kota kecil. Pilihan itu terasa semakin menarik, sebuah pelarian dari kerumitan yang menyakitkan ini.
Ia terjebak. Di satu sisi ada Arsen, pria yang baru saja dia kenal, menawarkan masa depan yang gemerlap namun penuh tekanan. Di sisi lain ada Erlan, kakaknya, menawarkan kedamaian dan ketenangan namun berarti ia harus meninggalkan Arsen selamanya.
Dan kini, ia telah menciptakan keretakan pertama di antara dirinya dan pria yang bahkan belum resmi menjadi suaminya. Permintaannya untuk menikah siri, yang ia harapkan menjadi jembatan, justru menjadi jurang yang memisahkan mereka.
"Aku... aku perlu sendiri," bisik Emma akhirnya, tidak menatap siapa pun.
Arsen bangkit dari kursinya, wajahnya masih menunjukkan kekecewaan yang dalam. Ia bahkan tidak menyentuh bunga lili yang dibawanya.
"Baiklah. Aku akan memberimu waktu." Ia berjalan keluar dari kamar tanpa menoleh lagi. Pintu tertutup dengan bunyi klik pelan yang terdengar seperti vonis.
Erlan menatap adiknya dengan cemas. "Em..."
"Aku baik-baik saja, Kak," potong Emma. Tapi suaranya terdengar begitu rapuh, seperti kaca yang siap pecah berkeping-keping.
Ia menatap ke luar jendela, ke langit biru yang luas. Di bawah sana, kehidupan berjalan seperti biasa. Tapi di dalam kamar ini, di dalam hatinya, ia berada di persimpangan jalan yang paling menentukan dalam hidupnya. Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar tidak tahu harus melangkah ke arah mana.