Sekitar satu jam berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Erlan hanya duduk diam di sofa sudut, memberikan ruang bagi adiknya namun memastikan Emma tidak sendirian. Emma sendiri hanya berbaring, memunggungi pintu, menatap dinding putih yang kosong seolah mencari jawaban di sana.
Tiba-tiba, terdengar ketukan pelan di pintu, disusul suara cekikikan yang tertahan.
"Permisi... paket kebahagiaan datang!" Suara ceria itu milik Ida, teman satu kost Emma yang paling heboh.
Pintu terbuka, dan masuklah empat orang perempuan. Ida di depan, membawa sekantong besar berisi aneka macam keripik dan majalah wanita. Di belakangnya, Mbak Devi, penghuni kost paling senior yang sudah seperti kakak bagi semua, membawa rantang berisi bubur ayam buatannya yang terkenal. Dan yang terakhir, berjalan dengan lebih anggun dan tenang, adalah Diandra beserta detektif kostan, mbak Leli.
"Em! Ya ampun, kami dengar dari Diandra kalau kamu masuk rumah sakit, bagaimana sekarang? Kamu nggak apa-apa, kan?" Leli langsung menghambur ke sisi tempat tidur, mengabaikan tatapan peringatan dari Erlan.
"Leli, pelan-pelan," tegur Mbak Devi lembut.
"Emma butuh istirahat."
Mbak devi berkata sembari meletakkan rantang di meja, senyumnya menenangkan. "Ini, Mbak masakin bubur. Jangan mikir yang aneh-aneh dulu, isi perutmu saja."
Emma mencoba tersenyum, meski terasa sangat berat. Kehadiran teman-temannya adalah balsam yang menyejukkan, sekaligus pengingat akan kehidupannya yang normal—kehidupan yang kini terasa begitu jauh.
"Makasih, sudah bikin repot semuanya ...," ujar Emma dengan wajah tak nyaman.
“Nggak repot kok, cuma masak ini, kan bahannya udah di beli ma kamu ….” Jawaban Ida mampu membuat semua yang ada dalan ruangan itu tersenyum lebar.
Pandangan Emma tiba tiba beralih pada Diandra, yang berdiri sedikit di belakang, mengamati situasi dengan sorot mata yang sulit diartikan.
“Diandra …. Ada apa, kok diam?!” tanya Emma membuat semuanya kembali menolehkan kepala ke arah pemilik kostan.
"Bagaimana keadaanmu?" bukannya menjawab, Diandra malah balik bertanya dengan suara pelan, jernih dan tenang.
"Baik," jawab Emma lagi, jawaban standar yang sudah tidak bermakna.
Erlan bangkit. "Saya ke luar sebentar," katanya, memberi kesempatan bagi para perempuan untuk berbicara lebih leluasa.
Begitu Erlan keluar, Leli langsung duduk di tepi ranjang. "Jadi, gimana ceritanya, Em? Tiba-tiba pingsan di mobil, terus sekarang di sini. Dan... dan kata mereka ... kamu..." Leli tidak melanjutkan, melirik perut rata Emma dengan ragu.
Emma menghela napas. Tidak ada gunanya bersembunyi dari mereka. "Iya, Mbak. Aku hamil."
Mbak Devi mengusap punggung Emma dengan lembut. "Sudah berapa minggu?"
"Baru beberapa minggu," bisik Emma.
"Dan... ayahnya Arsen, kan?" tanya Leli blak-blakan, membuat Mbak Devi menyikutnya pelan.
Emma mengangguk. Air matanya kembali mengancam akan tumpah.
"Terus masalahnya apa? Dia nggak mau tanggung jawab?" lanjut Leli dengan nada sengit, siap memasang badan untuk temannya.
"Justru itu masalahnya," suara Emma terdengar parau. "Dia mau tanggung jawab. Terlalu bertanggung jawab."
Selain Diandra, ketiga temannya saling berpandangan, bingung.
Diandra melangkah mendekat. "Arsen tadi ke sini?" tanyanya.
Emma mengangguk lagi.
"Baru saja dia meneleponku," kata Diandra pelan, dan seketika semua perhatian tertuju padanya. "Suaranya... kacau. Dia bilang kalian bertengkar."
Emma memalingkan wajahnya, merasa malu pertengkaran pribadinya kini menjadi konsumsi publik, bahkan jika itu hanya teman-temannya.
"Dia bilang... kamu memintanya untuk menikah siri," lanjut Diandra, bukan dengan nada menghakimi, melainkan menyatakan fakta.
Leli dan Mbak Devi terkesiap. "Kenapa siri, Em?" tanya Mbak Devi hati-hati.
Di sinilah pertahanan Emma runtuh. Ia menceritakan semuanya. Tentang antusiasme Arsen yang membuatnya tertekan, tentang rencana pernikahan besar dan pertemuan keluarga yang membuatnya ketakutan, tentang perasaannya yang tidak siap menjadi sorotan, dan tentang penolakan Arsen terhadap satu-satunya solusi yang bisa ia pikirkan.
"Aku cuma minta waktu," isak Emma di akhir ceritanya. "Aku cuma mau pegangan yang halal dulu, sampai aku siap. Apa itu salah?"
Leli yang biasanya ceplas-ceplos kini terdiam, tampak berpikir keras. Mbak Devi terus mengusap punggung Emma, mencoba menyalurkan kekuatan.
Justru Diandra yang kembali angkat bicara. Ia menarik kursi dan duduk menghadap Emma, menatapnya lekat. "Em, aku mengerti ketakutanmu. Sangat mengerti. Tapi mungkin, kamu dan Arsen hanya melihat masalah ini dari dua sisi mata uang yang berbeda."
"Maksudnya?" tanya Emma lemah.
"Kamu melihat pernikahan siri sebagai tempat berlindung. Sebuah jeda," jelas Diandra. "Tapi dari sudut pandang Arsen, dan mungkin keluarganya, itu terlihat sebaliknya. Itu terlihat seperti kamu tidak yakin padanya. Seperti kamu menyiapkan pintu belakang untuk kabur jika keadaan menjadi sulit."
"Tapi itu tidak benar!" bantah Emma.
"Aku tahu," kata Diandra cepat. "Tapi coba lihat dari dunianya. Di keluargaku, nama baik dan kehormatan itu segalanya. Terutama untuk perempuan. Cara Arsen melindungimu dan anak kalian adalah dengan memberimu status yang paling kuat dan tidak terbantahkan di mata hukum dan masyarakat. Pernikahan resmi, besar, dan diumumkan. Itu caranya berteriak pada dunia, 'Dia milikku, di bawah perlindunganku. Siapapun yang menyakitinya, berhadapan denganku.' Baginya, pernikahan siri justru akan membuatmu rentan terhadap gosip. Orang akan berbisik, 'Kenapa siri? Apa ada yang salah? Apa keluarga tidak setuju?'"
Penjelasan Diandra seperti embusan angin segar di ruangan yang pengap. Emma belum pernah memikirkannya dari sudut pandang itu. Ia hanya fokus pada ketakutannya sendiri, pada perasaannya yang terpojok. Ia tidak pernah mempertimbangkan bahwa bagi Arsen, pesta megah itu bukanlah untuk pamer, melainkan sebuah deklarasi perlindungan.
"Dia tidak bermaksud menekanmu, Em," lanjut Diandra lembut. "Dia hanya panik. Dia ingin melakukan hal yang benar dengan cara yang dia tahu. Cara seorang pria dari keluarga terpandang melindungi wanitanya. Mungkin caranya salah, terlalu terburu-buru, dan tidak mempertimbangkan perasaanmu. Tapi niatnya... aku yakin niatnya adalah untuk melindungimu."
Emma terdiam, mencerna setiap kata Diandra. Sakit hatinya pada Arsen belum hilang, tapi kini ada secercah pemahaman yang menyelinap masuk. Itu bukan pertarungan antara cinta dan ketidakpedulian. Itu adalah benturan antara dua cara pandang yang berbeda tentang cinta dan tanggung jawab.
"Jadi... aku harus bagaimana?" bisik Emma, lebih pada dirinya sendiri daripada pada teman-temannya.
Mbak Devi tersenyum tipis. "Tidak ada yang harus kamu putuskan sekarang juga, Em. Sekarang, makan dulu bubur ini selagi hangat. Tenangkan dirimu, pikirkan kesehatanmu dan bayimu. Masalah ini besar, tidak akan selesai dalam satu malam."
Leli mengangguk setuju, menyodorkan sekantong keripik. "Betul! Nanti kalau pikiran sudah jernih, baru bicara lagi sama si Bos Kaku itu. Kalau perlu, kami ikut gerebek dia di kantor!"
Sebuah senyum kecil akhirnya terbit di bibir Emma, yang pertama kali sejak pagi tadi. Ia menatap ke empat temannya—Leli yang heboh, Mbak Devi yang keibuan, Ida yang berisik dan Diandra yang bijaksana. Ia tidak sendirian. Mungkin jalannya masih terjal dan penuh ketidakpastian, tapi setidaknya, ia memiliki orang-orang yang berjalan di sampingnya. Pilihan antara tawaran Arsen dan Erlan masih ada, namun kini, ada kemungkinan jalan ketiga yang mulai terlihat: jalan kompromi, yang dibangun di atas pondasi pengertian.