Pintu kantin rumah sakit terbuka, menyambutnya dengan aroma kopi, roti, dan desinfektan yang samar. Matanya langsung memindai setiap sudut ruangan yang remang-remang itu, mencari satu sosok yang menjadi kunci dari rencananya.
Di sana, di meja sudut yang paling jauh, Erlan duduk sendirian. Kakak kandung Emma itu menatap cangkir kopinya yang sudah dingin dengan pandangan kosong, bahunya merosot, menunjukkan beban yang sama beratnya.
Diandra berjalan menghampirinya. "Kak Erlan."
Erlan mengangkat kepala. Wajahnya sama lelahnya dengan wajah Emma. "Diandra. Ada apa? Emma baik-baik saja?" tanyanya cepat, nada cemas langsung terdengar.
"Tidak, Kak. Dia tidak baik-baik saja," jawab Diandra langsung ke pokok permasalahan, tanpa basa-basi. Ia menarik kursi di hadapan Erlan dan duduk.
"Dan kita berdua tahu itu."
Erlan mengusap wajahnya kasar. "Aku tahu. Aku sudah bicara dengan dokter tadi. Tekanan darahnya tidak stabil. Dia kurang nutrisi. Semua karena stres."
"Tepat," kata Diandra. "Dan kita juga tahu apa sumber stresnya."
Hening sejenak. Hanya suara denting sendok dan percakapan sayup-sayup dari meja lain yang mengisi kekosongan.
"Pertentangan konyol antara dia dan Arsen," desis Erlan, lebih pada dirinya sendiri. "Aku sudah coba bicara dengan Emma, tapi dia seperti batu. Keras kepala."
"Karena dia ketakutan, Kak. Dan Arsen terus menekan karena dia juga takut akan masa depan anaknya," potong Diandra. "Mereka berdua terjebak dalam lingkaran setan. Dan yang jadi korban adalah Emma dan bayinya."
"Lalu kita harus bagaimana, Diandra?" tanya Erlan, suaranya terdengar putus asa. "Memaksa Arsen menyetujui nikah siri? Itu sama saja membahayakan keponakanku sendiri. Memaksa Emma? Kau lihat sendiri kondisinya."
Diandra mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap lurus ke mata Erlan. Inilah saatnya. "Aku punya ide. Mungkin ini gila. Mungkin ini salah. Tapi aku tidak melihat ada jalan lain."
Erlan mengangkat alis, menunggu.
"Kita turuti kemauan Emma," kata Diandra perlahan, menguji setiap kata. "Kita katakan padanya bahwa kita akan melangsungkan nikah siri."
Erlan mengerutkan kening dalam-dalam. "Apa? Kamu serius? Setelah semua perdebatan ini, kita menyerah begitu saja?"
"Tidak," jawab Diandra cepat. "Kita tidak menyerah. Justru kita melakukan apa yang seharusnya. Kita lakukan pernikahan antara Emma dan Arsen. Pernikahan yang sah. Sah di mata agama, dan sah di mata negara."
Kebingungan di wajah Erlan semakin menjadi. "Aku tidak mengerti, Di. Tadi kau bilang kita turuti kemauannya untuk nikah siri, sekarang kau bilang pernikahan sah. Mana yang benar?"
"Dua-duanya," sahut Diandra. "Kita siapkan semuanya secara resmi. Kita panggil penghulu dari KUA. Kita siapkan wali, saksi, semua dokumen yang diperlukan. Kita lakukan akad nikah yang sesungguhnya. Namun ...."
Ia berhenti sejenak, mengambil napas dalam-dalam. "Kita tutupi semua itu dari Emma. Kita bilang padanya bahwa ini hanyalah prosesi nikah siri sederhana yang kita atur di salah satu ruangan rumah sakit agar dia tenang. Kita bilang penghulu itu hanyalah seorang ustad yang diundang khusus. Kita bilang saksinya hanyalah kita-kita saja. Kita ciptakan ilusi nikah siri untuknya." Erlan terdiam. Rahangnya mengeras saat ia mencerna ide radikal itu. Matanya memicing, menatap Diandra seolah sedang melihat orang asing.
"Kamu... kamu mau kita berbohong?" tanya Erlan, suaranya pelan dan berat. "Kamu mau kita membohongi adikku sendiri di hari pernikahannya?"
"Aku mau kita menyelamatkan nyawanya, Kak!" balas Diandra, nadanya naik satu oktaf, sarat akan frustrasi. "Ini bukan lagi soal prinsip atau kejujuran idealis! Ini soal dua nyawa yang ada di ujung tanduk! Apa gunanya kejujuran jika Emma dan bayinya kenapa-kenapa?"
"Kebohongan tetaplah kebohongan, Diandra. Sekali kita memulai, akan ada kebohongan lain untuk menutupinya. Bagaimana kalau nanti Emma tahu? Dia akan merasa dikhianati oleh kita semua. Oleh suaminya, oleh kakaknya, oleh sahabatnya. Kepercayaannya akan hancur." Erlan menggelengkan kepalanya dengan tegas.
"Tidak. Aku tidak bisa. Itu akan lebih menyakitinya."
"Lebih menyakitkan daripada kehilangan bayinya? Lebih menyakitkan daripada mempertaruhkan nyawanya sendiri?" desak Diandra, tak mau kalah. Ia menunjuk ke arah koridor di luar kantin, ke arah di mana kamar Emma berada.
"Dia di sana, Kak. Setiap jam, setiap menit, dia menyakiti dirinya sendiri dengan pikirannya. Stres itu racun. Dan kita harus mengeluarkan racun itu secepatnya. Anggap saja ini prosedur medis darurat."
"Ini bukan prosedur medis, ini penipuan!" sergah Erlan.
"Lalu apa solusimu?" tantang Diandra. "Duduk di sini sambil minum kopi dingin dan berharap keajaiban datang? Berharap Emma tiba-tiba sadar dan berubah pikiran? Atau berharap Arsen yang mengalah dan mengorbankan masa depan anaknya? Mana, Kak? Katakan padaku!"
Erlan terbungkam. Ia tak punya jawaban. Semua jalan terasa buntu. Ia kembali menatap cangkir kopinya, seolah mencari petunjuk di dasar ampas yang mengendap. Diandra benar. Mereka sudah kehabisan pilihan. Tapi gagasan untuk menipu adiknya sendiri terasa begitu salah, begitu melanggar prinsip yang selama ini ia pegang sebagai seorang kakak pelindung.
Diandra melembutkan suaranya, menyadari bahwa paksaan tak akan berhasil. Ia harus menyentuh sisi logis dan kasih sayang Erlan.
"Kak, dengarkan aku," bujuknya pelan. "Ini bukan kebohongan untuk keuntungan pribadi. Ini adalah kebohongan putih. A white lie. Sebuah kebohongan yang kita lakukan demi kebaikan yang jauh lebih besar. Kita tidak menipunya untuk menyakitinya, kita melindunginya dari dirinya sendiri."
Ia melanjutkan, "Pikirkanlah. Begitu akad nikah terlaksana, sumber stres utamanya hilang. Dia akan merasa 'masalah'-nya selesai sesuai keinginannya. Dia akan tenang. Dia akan mulai makan. Tekanan darahnya akan stabil. Bayinya akan aman. Bukankah itu yang kita semua inginkan?"
"Dan ketika dia sudah cukup sehat, sudah pulih setelah melahirkan, kita bisa ceritakan yang sebenarnya. Pelan-pelan. Saat itu, sambil menggendong bayinya yang sehat dan memiliki akta kelahiran yang sah, aku yakin dia akan mengerti. Dia mungkin akan marah sesaat, tapi pada akhirnya dia akan sadar bahwa semua ini kita lakukan karena kita sangat menyayanginya."
Erlan mengangkat wajahnya. Ada pergulatan hebat di matanya. Antara prinsip dan pragmatisme. Antara kejujuran dan kasih sayang. Ia menatap Diandra lama, mencari celah dalam argumen gadis itu, namun tak ia temukan.
Logika Diandra, meskipun bengkok, terasa lurus dalam situasi darurat ini.
Ia menghela napas yang begitu berat, seolah melepaskan seluruh beban idealismenya. Pandangannya beralih lagi ke arah koridor, membayangkan wajah pucat adiknya. Wajah itu adalah argumen final yang tak bisa dibantah oleh prinsip apa pun.
"Baiklah," ucap Erlan akhirnya. Suaranya serak dan nyaris tak terdengar. Keputusan itu terasa pahit di lidahnya. "Lakukan."
Diandra merasakan gelombang kelegaan yang luar biasa, namun ia menahannya. Ini bukan kemenangan. Ini adalah sebuah pertaruhan.
Erlan melanjutkan, menatap Diandra dengan tatapan yang tajam dan penuh syarat. "Tapi semua persiapan... kamu yang urus. Kontak KUA, siapkan dokumen Arsen, atur semuanya. Aku tidak mau terlibat dalam detail kebohongan ini. Aku... aku akan bicara dengan Emma. Meyakinkannya adalah bagianku."
Diandra mengangguk mantap. "Serahkan padaku, Kak. Aku yang akan urus semuanya."
Erlan bersandar di kursinya, memijat pelipisnya. Keheningan yang baru kini terasa lebih berat dari sebelumnya. Bukan lagi keheningan karena kebingungan, melainkan keheningan karena sebuah konspirasi baru saja disepakati.
"Semoga Tuhan mengampuni kita," gumam Erlan pelan.
"Tuhan tahu niat kita, Kak," balas Diandra, mencoba meyakinkan Erlan dan dirinya sendiri.
Ia berdiri, merasa langkahnya jauh lebih ringan namun hatinya menanggung beban yang lebih berat. Sebuah kebohongan putih baru saja lahir di kantin rumah sakit yang remang itu, demi menyelamatkan dua nyawa. Dan Diandra tahu, perjalanan mereka baru saja dimulai.