"Kami pulang dulu ya, Ma," ucap Lely sambil merapikan tasnya. Sudah hampir jam dua siang. Mereka sudah menemani Emma sejak pagi buta.
"Besok kami ke sini lagi setelah kelas."
"Pudingnya dimakan, jangan diliatin aja," timpal Devi, mencoba bercanda meskipun matanya tak bisa menyembunyikan kekhawatiran. "Biar dedeknya ikut manis."
Emma hanya tersenyum tipis. "Iya. Terima kasih ya, kalian semua."
Diandra yang baru datang, mendekat untuk terakhir kali, tangannya mengusap lembut lengan Emma.
"Kak Erlan sebentar lagi datang. Aku sudah bicara dengannya. Semuanya akan baik-baik saja, oke? Percaya sama aku."
"Iya, Di," bisik Emma. Ada sebersit ketenangan dalam suaranya, buah dari keyakinan penuh yang ia letakkan pada sahabatnya itu. "Hati-hati di jalan."
Keempat sahabatnya pun pamit, meninggalkan Emma dalam kesendirian yang kini terasa sedikit lebih ringan. Ia percaya pada Diandra. Ia percaya pada kakaknya, Erlan. Mungkin memang ada jalan keluar dari labirin rumit yang membelenggunya ini. Ia meraih puding itu, namun hanya menatapnya. Nanti, pikirnya. Aku akan memakannya bersama Kak Erlan.
Waktu merayap dengan lambat, seperti tetesan infus yang masuk ke pembuluh darahnya. Satu jam berlalu. Pintu kamarnya tetap tertutup rapat. Suara derit troli makan siang suster terdengar di koridor, lalu menghilang. Emma menatap jam dinding. Sudah jam tiga. Kemana sang Kakak, kenapa belum kembali?
Setengah jam berikutnya, seorang perawat masuk untuk memeriksa tekanan darahnya.
"Siang, Bu Emma. Gimana perasaannya?" sapa perawat itu ramah.
"Sudah sedikit lebih baik, Sus."
"Makan siangnya kok masih utuh?" tanya perawat itu, melirik nampan makanan yang nyaris tak tersentuh.
"Saya belum lapar, Sus. Menunggu kakak saya," jawab Emma pelan.
Perawat itu tersenyum maklum. "Jangan lama-lama ya, Bu. Kasihan dedek bayinya butuh nutrisi. Kalau begitu saya permisi."
Pintu kembali tertutup. Kesunyian kembali memeluk ruangan. Jarum jam terus berputar tanpa peduli. Pukul empat sore. Sinar matahari yang tadi menyelinap malu-malu lewat jendela kini berubah warna menjadi keemasan, menandakan senja mulai menjelang. Rasa tenang yang tadi sempat mekar di hati Emma perlahan layu. Kecemasan yang familiar mulai merayap naik, dingin dan pelan.
Di mana Kak Erlan? Bukankah Diandra bilang dia akan segera datang? Apa terjadi sesuatu?
Tepat ketika pikirannya mulai berkelana ke arah yang tidak-tidak, pintu kamarnya terbuka. Jantung Emma berdebar sedikit lebih kencang, berharap melihat sosok kakaknya yang tinggi dan menenangkan.
Namun, yang berdiri di ambang pintu adalah Arsen.
Wajahnya tampak lelah, kemeja kerjanya sedikit kusut, namun matanya langsung terkunci pada Emma, memancarkan kelembutan dan kekhawatiran yang dalam.
"Sayang-" sapanya lembut sambil melangkah masuk dan meletakkan tas kerjanya di sofa. "Bagaimana keadaanmu hari ini?"
"Arsen," balas Emma, berusaha menyembunyikan kekecewaan tipis di suaranya. "A-ku... aku baik-baik saja. Kukira kamu masih di kantor."
Arsen mendekat, meraih tangan Emma dan mengecup punggung tangannya. "Aku tidak mungkin tenang di kantor kalau tahu kamu di sini sendirian." Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, tatapannya mencari-cari. "Kak Erlan mana? Dia tidak ada di sini?"
Pertanyaan itu membuat jantung Emma berdesir tak nyaman. "Kak Erlan? Dia belum datang. Aku juga menunggunya dari tadi siang. Kukira... kukira dia bersamamu."
Arsen mengerutkan kening dalam-dalam. Kebingungan jelas terlukis di wajahnya. "Bersamaku? Tidak. Justru aku ke sini karena dia. Kak Erlan yang meneleponku tadi sekitar jam satu siang."
"Meneleponmu?" ulang Emma. "Apa katanya?"
"Tidak banyak," jawab Arsen, kini raut wajahnya berubah dari bingung menjadi cemas. "Dia hanya bilang ada hal sangat penting yang harus dibicarakan. Soal kamu, soal kita. Dia memintaku untuk langsung ke rumah sakit sore ini, katanya dia akan menungguku di sini untuk menjelaskan semuanya. Makanya aku langsung kemari begitu pekerjaan terakhirku selesai."
Keduanya saling berpandangan. Sepotong informasi dari Arsen tidak memberikan jawaban, malah membuka seribu pertanyaan baru.
"Aneh sekali," bisik Emma. "Diandra juga bilang Kak Erlan akan langsung ke sini setelah mereka bicara. Itu sudah dari sebelum jam makan siang."
"Diandra bicara dengannya?" tanya Arsen cepat. "Membicarakan apa?"
"Aku tidak tahu persisnya, Sen. Diandra hanya bilang dia punya solusi dan akan mendiskusikannya dengan Kak Erlan. Dia terdengar sangat yakin."
Arsen mengeluarkan ponselnya dari saku. "Sebentar, aku coba telepon dia."
Ia menekan nomor Erlan, mengaktifkan loudspeaker agar Emma bisa ikut mendengar. Nada sambung terdengar sekali, dua kali, lalu berganti dengan suara operator wanita yang monoton.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan..." Arsen mematikan panggilan dengan gusar. "Tidak aktif."
"Coba lagi, Sen. Mungkin tadi sinyalnya jelek," pinta Emma, nadanya mulai bergetar.
Arsen mencoba lagi. Hasilnya sama. Dan lagi. Tetap sama. Langsung masuk ke kotak suara.
"Sial," umpat Arsen pelan, lebih pada dirinya sendiri. Ia mulai mondar-mandir di ruangan sempit itu, jejak langkahnya seolah mengukur tingkat kecemasannya yang semakin tinggi. "Ini tidak seperti Kak Erlan. Kalaupun dia ada urusan mendadak, dia pasti akan mengabari. Paling tidak mengirim pesan."
"A-pa... apa dia bilang hal lain di telepon tadi?" tanya Emma, suaranya semakin lemah. Arsen berhenti berjalan dan mencoba mengingat-ingat. "Tidak ada yang spesifik. Hanya saja... suaranya terdengar aneh."
"Aneh bagaimana?"
"Terburu-buru. Sedikit tegang, mungkin? Aku tidak terlalu memperhatikannya tadi, kukira dia hanya sedang stres karena keadaanmu. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, dia seperti ingin cepat-cepat menutup telepon," jelas Arsen. "Dia hanya memastikan aku akan datang, lalu sambungan langsung diputus."
Hening. Kini hanya suara detak jam dinding yang terdengar dominan, setiap detiknya seolah mengetuk genderang kecemasan di dalam dada mereka. Skenario-skenario buruk mulai terbentuk di benak Emma.
"Dia tidak pernah seperti ini, Sen," lirih Emma. "Kak Erlan orang yang paling bertanggung jawab yang aku kenal. Kalau dia berjanji akan datang, dia pasti datang."
"Aku tahu, sayang, aku tahu," kata Arsen, kembali duduk di tepi ranjang dan menggenggam tangan Emma erat, mencoba menyalurkan kekuatan. Tangannya terasa dingin. "Kita jangan panik dulu. Mungkin ponselnya kehabisan baterai. Mungkin dia terjebak di rapat yang tidak bisa ditinggalkan."
"Tapi kenapa tidak mengabari? Dia bisa pinjam telepon teman atau siapa pun," sanggah Emma. Logikanya yang biasanya tertidur kini bangkit karena rasa takut. "Dan kenapa teleponnya tidak aktif? Bukan hanya tidak diangkat."
"Bisa saja dia sedang di basement atau di tempat yang tidak ada sinyal," Arsen mencoba mencari alasan yang paling masuk akal, meskipun ia sendiri tidak terlalu yakin. "Kita tunggu setengah jam lagi. Kalau tidak ada kabar juga, aku akan coba hubungi teman-teman kantornya."
"Aku takut, Sen," aku Emma akhirnya, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Aku takut terjadi apa-apa dengannya."
"Sssttt... sudah," Arsen menarik Emma ke dalam pelukan hati-hati, membiarkan kepala Emma bersandar di bahunya.
"Jangan berpikir yang macam-macam. Itu tidak baik untukmu dan bayi kita. Kak Erlan pasti baik-baik saja. Dia pria dewasa yang bisa menjaga diri."
Meskipun kata-katanya menenangkan, Emma bisa merasakan detak jantung Arsen yang sedikit lebih cepat dari biasanya. Dia juga takut.
"Coba telepon Diandra," pinta Emma di sela isak tangisnya yang tertahan. "Tanya padanya, apa persisnya yang mereka bicarakan. Mungkin ada petunjuk."
Arsen mengangguk. Ia meraih ponselnya lagi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap mendekap Emma. Ia mencari nama Diandra dan meneleponnya.
"Halo, Di? Ini Arsen."