Bab 8. Pengkhianatan

Penulis regular20
12 October 2025

Bab 8. Pengkhianatan

"Sebenarnya Mariska ...!" ucap Lala menggantung.

"Mariska kenapa?" tanya Mona lagi.

"Kamu aja Jen yang jelasin, aku nggak kuat!" tukas Lala.

"Ada apa sih ini sebenarnya!" tanya Mona.

"Begini Mona, sebenarnya Mariska ada main di belakang kamu dengan Brian!" jelas Jenny.

"Maksud kalian apa? Bermain di belakang yang bagaimana?" tanya Mona bingung.

"Mereka selingkuh di belakang kamu!" tukas Jenny kemudian.

"Apa?! Nggak mungkin. Mana mungkin mereka melakukannya! QIni nggak mungkin, bagaimana bisa dia begitu tega kepadaku. Padahal dia tahu, kalau aku sudah memberikan segalanya untuk Brian dan dia malah melakukan ini padaku!" kata Mona lemas, terduduk kursinya.

"Itu kenyataannya Mona, dan sekarang mereka berdua kabur ke luar negeri. Itu kabar terakhir yang aku terima dan itu juga alasan kenapa tiba-tiba Brian membatalkan pernikahannya sama kamu, itu pasti ulah Mariska yang mempengaruhi Brian!" terang Jenny.

"Maaf, kami baru memberitahumu sekarang. Kami pun baru tahu semalam, dari ibunya Mariska yang tiba-tiba meneleponku!" imbuh Jenny.

Begitu hancur hati Mona mengetahui, bahwa orang yang dicintainya bermain api di belakangnya. Bahkan itu dengan orang terdekatnya, sahabatnya sendiri, Mariska.

Dia menyesal telah memberikan segalanya untuk Brian, termasuk kehormatannya. Sampai dia menanggung beban itu sendiri sekarang, sedangkan Brian malah kabur dengan Mariska.

Hatinya memanas, sakit, menyesal sudah begitu mempercayai Brian. Hingga menyerahkan miliknya yang paling berharga, hingga sekarang tumbuh benih dalam rahimnya. Mona merutuki nasibnya, betapa bodohnya dia kala itu.

Begitu rendah kelakuan kalian, Brian, Mariska. Betapa jahat dan teganya mereka melakukan ini semua padaku! rutuk Mona membatin.

"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?" ucap Mona dengan suara bergetar.

Bulir-bulir bening di anak matanya pun mulai mengalir, dia mulai terisak sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Sabar ya Mona, disini masih ada kita yang akan selalu ada buat kamu!" ucap Lala.

"Iya, masih ada kita kok!" imbuh Jenny sambil berpelukan dengan Mona dan Lala.

"Mulai sekarang, lupakanlah Brian!" imbuh jenny.

"Aku tidak bisa Jenny. Bagaimana aku bisa melupakannya? Ini berat, aku bahkan sudah memberikan segalanya, dan sekarang ini yang aku dapatkan!" sesal Mona, seraya menangis dalam pelukan Lala.

"Mulai sekarang, cobalah cintai suamimu Mona!" ujar Lala kemudian.

"Aku nggak bisa!" tukas Mona mengusap air matanya.

"Kenapa?" tanya Jenny.

"Aku nggak cukup baik untuknya, aku ini manusia kotor. Seperti sampah, bahkan Brian pun telah meninggalkanku, habis manis sepah dibuang!" ucap Mona parau.

"Tapi, bagaimana jika nanti Ahmad mau mencintaimu dan menerimamu apa adanya?" ucap Lala.

"Hmmm... Mana mungkin, aku sudah cukup lama hidup seatap dengannya. Dan dia ...." Mona pun terdiam.

"Dan apa!" ucap Lala dan Jenny kompak.

"Udahlah, lupain aja sopir itu. Dia nggak mungkin mencintaiku, aku cukup mengenal dia!" ucap Mona ingin mengakhiri obrolan tentang Ahmad.

"Maksud kamu?" tanya Jenny.

"Cukup Jenny, mungkin nanti aku akan berusaha menjadi istri yang lebih baik untuknya saja. Meski dia tidak mencintaiku, karena aku selalu menyakitinya setiap saat dengan tingkah dan ucapanku!" terang Mona.

"Iya Mona, kami paham dan akan selalu mendukung kamu. Mungkin nanti, jika kamu sudah menjadi istri yang baik, cepat atau lambat Ahmad akan mulai mencintai kamu!" tukas Lala.

"Terimakasih Lala, semoga saja. Meskipun aku tidak berharap banyak, hal itu akan terjadi!" imbuh Mona kemudian.


Sementara itu di tempat lain, di ruang metting yang baru saja selesai. Ahmad sedang membereskan berkas-berkas, dia merasakan telinganya yang memanas. Entah kenapa, tak lama kemudian Adi datang.

"Bro gimana?" tanya Adi sambil mengangkat kedua alis matanya ke arah Ahmad.

"Apanya yang gimana?" tanya Ahmad heran dengan tingkah sahabatnya itu.

"Semalem tuh!" Adi menyelidik.

"Nggak ada apa-apa tuh!" sahut Ahmad mengangkat bahu.

"Yaaah, nggak seru ah!" kata Adi mencibir.

"Apa yang nggak seru, menurutmu pernikahan terpaksaku seru?" sungut Ahmad.

"Ya, kan kamu jomblo sejak lahir. Dan kamu juga selalu bersikap dingin ke semua cewek, kaki aja dengan menikah kamu bakal berubah!" ujar Adi.

"Si*lan kamu Di, aku jomblo bukan karena nggak laku, tapi aku menunggu seseorang!" sahut Ahmad.

"Yang di tunggu nggak tahu ada di mana! Mungkin dia masih di negeri antah berantah, ngapain masih di tunggu sih!" tanya Adi kemudian.

"Jodoh nggak ada yang tahu Adi, entah kapan akan bertemu!" sahut Ahmad kemudian.

"Jodoh adalah rahasia Sang Maha Kuasa, siapa tahu jodohmu itu adalah Mona!" ujar Adi.

"Nggak mungkin dan nggak akan pernah!" tukas Ahmad.

"Jangan bicara begitu, nanti kamu kemakan omonganku sendiri baru tahu rasa!" cibir Adi menimpali.

"Nggak lah!" jawab Ahmad.

"Kayak nggak ingat yang dulu pernah di taksir pas jaman kuliah!" gumam Adi.

"Apa katamu?" tanya Ahmad memastikan kata-kata Adi.

"Ah nggak kok, kita lihat nanti. Kamu bakal jatuh cinta lagi sama Mona, atau nggak!" ucap Adi kemudian.

"Nanti aku akan kasih kamu 10 JT, jika hal itu benar-benar terjadi!" timpal Ahmad percaya diri.

"Baiklah, jadi semalam tidak ada yang terjadi di antara kalian?" tanya Adi lagi.

"Nggak! Semalam tidak terjadi apa-apa antara Aku dan Mona, dan tidak akan pernah ada yang akan terjadi!" jawab Ahmad.

"Bagaimana kamu bisa yakin begitu?" tanya Adi lagi.

"Semalam, Mona memintaku menandatangani kontrak perjanjian pernikahan!" tukas Ahmad kemudian.

"Apa?! Kontrak perjanjian pernikahan? Kenapa? Dan apa isinya?" tanya Adi penasaran.

"Intinya, aku dan Mona tidak akan ada cinta di antara kami. Lalu, setelah Mona melahirkan. Kami akan berpisah!" terang Ahmad.

"Berpisah? Maksudnya cerai?" tanya Adi lagi.

"Iya!" jawab Ahmad singkat.

"Lalu, bagaimana dengan Pak Andi? Apa beliau tahu?" sahut Adi.

"Tidak, dan jangan sampai beliau tahu. Aku nggak mau jika nanti beliau sampai tahu, dan terkena serangan jantung!" timpal Ahmad.

"Kenapa kamu tidak beritahu Mona, kalau ayahnya menderita sakit jantung?" tanya Adi lagi.

"Pak Andi melarangku, dan aku juga nggak tega untuk bicara padanya!" ucap Ahmad, menghela napas panjang.

"Jadi benar, semalam tidak terjadi apa-apa?" tanya Adi lagi.

"Masih juga bertanya!" sahut Ahmad.

"Kasihan! Tapi kok telingamu merah gitu, kenapa? Di gigit semut? Atau di gigit Mona?" gurau Adi.

"Nggak tahu tuh, dari tadi panas gini!" ucap Ahmad mengusap telinganya.

"Ada yang ngomongin kamu kali tuh, kata orang tua dulu mah gitu!" ucap Adi duduk dan meneguk kopi di meja hingga tandas.

"Masih aja percaya mitos!" kata Ahmad mencibir.

"Kan menghargai orang tua dulu, Bapak Ahmad!" tukas Adi.

"Iya deh, terserah kamu. Sekarang aku mau lanjut kerja lagi, Bapak Adi!" ucap Ahmad kemudian.

"Baiklah Bapak Ahmad, saya permisi dulu kalau begitu!" tukas Adi berlalu pergi meninggalkan ruangan Ahmad.

** Cukup lama Ahmad berkutat dengan pekerjaannya, setelah beberapa jam yang lalu mengobrol dengan Adi. Begitulah Ahmad jika sedang bekerja, dia sering kali lupa segalanya, lupa waktu, lupa makan, bahkan lupa untuk jatuh cinta, eh ....

Tok tok tok .... Suara ketukan dari luar ruangan Ahmad.