Bab 9. CLBK (Cinta Lama Belum Kelar)
Cukup lama Ahmad berkutat dengan pekerjaannya, setelah beberapa jam yang lalu mengobrol dengan Adi. Begitulah Ahmad jika sedang bekerja, dia sering kali lupa segalanya, lupa waktu, lupa makan, bahkan lupa untuk jatuh cinta, eh ....
Tok tok tok .... Suara ketukan dari luar ruangan Ahmad.
"Bro... Cari makan yuk!" suara Adi dengan kepala melongok dari balik pintu mengagetkan Ahmad.
"Astaga! Adi. Kamu bikin kaget saja, kamu mau buat aku kena serangan jantung? Dasar temen nggak ada akhlak!" pekik Ahmad terkejut dengan mata yang membulat setelah melihat sosok sahabatnya berada di hadapannya.
"Hehehe, ya maaf. Habisnya kamu, aku tungguin nggak keluar-keluar. Cacing yang ada di perutku udah laper nih, kasihan kan! Nanti gimana kalau perutku jadi sixpack kalau aku telat makan!" ucap Adi mengedip-ngedipkan matanya ke arah Ahmad.
"Geli deh, Ad. Emang aku ini pacar kamu apa?" kata Ahmad begidik.
"Aaahhhh, Bang Ahmad jahat. Huuuuu!" kelakar Adi menggoda Ahmad.
"Udah ah, ayo kita ke kantin!" ajak Ahmad pada akhirnya.
"Ihh, nggak suka gelay!" ucap Adi dengan nada manja.
"Ngomong gitu lagi aku ketok pakai sepatu nih kepalamu!" tukas Ahmad memegang kakinya.
"Jahat amat Pak Ahmad, suaminya Monalisa. Gimana nanti kalau aku hilang ingatan trus nggak inget lagi sama Shinta, kamu mau tanggung jawab?" ucap Adi dengan mulut mengerucut.
"Emang sudah pacaran sama Shinta?" tanya Ahmad kemudian.
"Ya ... Belum sih!" sahut Adi.
"Makanya, nanti kalau kamu hilang ingatan, Shinta bisa buat aku kalau begitu!" Ahmad mulai balik menggoda Adi.
"Waduh, aku nggak jadi hilang ingatan deh pak. Yuk ke kantin aja yuk!" ajak Adi mengajak Ahmad menuju kantin, dengan menarik tangannya.
Begitulah dua sahabat itu saling bercanda, tak pernah ada dendam di antara mereka. Ahmad selalu sabar menghadapi tingkah konyol Adi, sahabatnya itu. Karena mereka sudah berteman cukup lama, jadi mereka dapat memahami satu sama lain.
~ Sesampainya di kantin, mereka pun segera memesan makanan. Tak berapa lama makanan datang, mereka pun mulai menyantapnya karena perut yang sudah sangat keroncongan minta diisi.
Beberapa saat kemudian Adi melihat seseorang, sampai membuatnya tidak berkedip dibuatnya. Lalu Adi pun segera mencolek lengan Ahmad, untuk menunjukkan siapa yang datang untuk makan di kantin kantor mereka. Seseorang yang tidak di sangka akan datang ke kantin kantor mereka untuk makan siang.
"Eh, Bro-Bro. Coba lihat itu deh!" ucap Adi menunjuk ke arah seseorang yang dilihatnya.
"Lihat apa sih, Di?" tanya Ahmad masih sibuk dengan makanannya.
"Itu lho, coba lihat jauh di belakangmu. Itu bukannya Naysila, temen kita dulu!" ujar Adi kemudian.
Adi menunjuk ke arah kasir, tempat memesan dan membayar makanan di kantin itu. Terlihat sesosok perempuan yang menggunakan hijab panjang yang menutupi setengah bagian dari tubuhnya, dan terlihat begitu anggun sedang memesan makanan.
"Naysila?" jawab Ahmad mengerutkan alis.
"Itu Naysila, CLBK kamu. Cinta Lama Belum Kelar, kelarin gih!" ujar Adi mengangkat kedua alisnya naik turun menggoda Ahmad.
"Aku sudah menikah, Adi. Mana mungkin aku dekat dengan wanita lain!" jelas Ahmad, mencoba tak peduli dengan candaan sahabatnya itu.
Ahmad tahu jika di masa lalu, dia pernah tertarik kepada sosok Naysila. Adi pun tahu akan hal itu, makanya Adi kerap menggodanya.
"Siapa yang sudah menikah?" tanya wanita yang tadi di sebut sebagai Naysila, tiba-tiba ada di hadapan mereka.
"NAYSILA!" ucap Adi dan Ahmad kompak.
"Iya. Hai! Apa kabar kalian, aku tadi lihat dari jauh. Jadinya aku samperin, ternyata beneran kalian!" ucap Naysila tersenyum.
Naysila, sejak dulu memang adalah seorang wanita yang periang dan mudah bergaul. Dia pun menjadi primadona pada saat menempuh pendidikan di universitas, meski penampilannya berbeda dengan gadis-gadis lain. Pakaiannya selalu sopan, tertutup dan selalu menggunakan hijab, yang membuatnya memiliki daya tarik tersendiri bagi para pria yang mengenalnya.
"Silahkan duduk, Nay! Kalau aku baik, entah kalau Ahmad!" timpal Adi.
"Terimakasih. Memang ada apa dengan Ahmad?" tanya Naysila sembari duduk di kursi yang di hadapan Ahmad.
"Tidak ada apa-apa!" kilah Ahmad, seraya meminum air mineral yang ada di meja.
"Baiklah! Oh iya, tadi aku dengar ada yang sudah menikah?" tanya Naysila kemudian, yang membuat Ahmad sedikit tersedak.
"Oh itu Ah," Adi ingin menjawab namun secepat kilat tangan Ahmad membungkam mulut Adi.
"Maksudnya Annisa, temen kita di kantor. Dia baru menikah, eh nggak masuk-masuk kerja dia!" kilah Ahmad berbohong, entah kenapa dia ingin menyembunyikan status pernikahannya dari Naysila.
"Oooohh, kirain salah satu dari kalian. Kok nggak ngundang aku gitu kalau nikah!" ujar Naysila.
"Gimana mau ngundang, kontak kamu aja nggak punya!" celetuk Adi setelah berhasil melepaskan tangan Ahmad dari mulutnya.
"Oh iya, ini kontakku. Save ya!" ujar Naysila ramah sembari menunjukkan nomor telepon yang tertera di layar ponselnya.
"Terimakasih cantik!" jawab Adi, yang membuat gadis bernama Naysila itu tersipu malu.
Naysila adalah gadis dengan pribadi yang ramah sejak dulu, pada jaman kuliah Naysila dan Ahmad sering terlibat kerja kelompok dalam mengerjakan tugas kuliah. Teman-teman mereka pun sering menjodoh-jodohkan Ahmad dengan Naysila, dan Ahmad pun sempat sedikit menaruh hati pada Naysila kala itu.
"Ahmad, Adi! Aku balik duluan ya! Jam makan siangku sudah mau habis nih, kapan-kapan kita kumpul lagi kayak dulu. Dah Ahmad, dah Adi!" ucap Naysila tersenyum, lalu bangkit dari posisi duduknya. Kemudian melambaikan tangannya, serta berjalan menjauh dari Ahmad dan Adi.
"Daaahhh!" Ahmad masih melambai hingga Naysila tak terlihat lagi.
"Wooooy, haloooo!" teriak Adi, hingga pengunjung kantin melihat ke arah mereka.
"Hmm maaf-maaf, ini lho temen saya kesambet. Maaf sudah mengganggu!" tukas Adi cengar-cengir.
"Woy, Bro. sadar." Adi memukul lengan Ahmad yang masih belum bisa menguasai hatinya ketika melihat Naysila.
"Eh, iya kenapa?" ucap Ahmad kikuk.
"Hmm ada yang kesambet nih kayaknya. Kenapa, jatuh cinta lagi?" Adi bertanya penuh selidik sembari menatap mata Ahmad dengan tajam.
"Apaan sih!" kilah Ahmad mengalihkan pandangan matanya.
"Jawab aja, nggak usah malu-malu gitu." Timpal Adi tersenyum.
"Nggak lah,!" jawab Ahmad melanjutkan makan.
"Nggak lah, nggak salah!" Adi mencibir lalu menggeleng.
"Jujur aja lah, Bro!" imbuhnya kemudian.
"Hmm jujur aku masih ada rasa sedikit sama Naysila, tapi sekarang aku sudah jadi suami orang!" jelas Ahmad.
"Suami di atas kertas aja, Bro. Toh Mona nggak anggap kamu ini!" ujar Adi.
Adi memang sudah tahu apa yang telah terjadi diantara Mona dan Ahmad, dan sesungguhnya dia merasa kasihan kepada sahabat baiknya itu karena menikah tapi tanpa ada rasa cinta.
"Iya sih, tapi aku ini laki-laki yang bertanggung jawab. Mana mungkin aku bersama wanita lain, padahal aku sudah mempunyai istri!" tukas Ahmad sembari kembali melanjutkan makannya.
"Iya deh, Pak Ahmad suaminya Monalisa," ucap Adi langsung menutup mulutnya setelah melihat orang yang berdiri di belakang Ahmad.