Bab 10. Mona Bertingkah Aneh
"Iya deh, Pak Ahmad suaminya Monalisa," ucap Adi langsung menutup mulutnya setelah melihat orang yang berdiri di belakang Ahmad.
"Mas!" ucap Mona yang berdiri tepat dibelakang Ahmad, yang membuat Ahmad tersedak makanan di mulutnya.
"Uhuuk uhuuk Mona, ngapain kamu disini?" tanya Ahmad, dengan ekspresi terkejut.
"Aku ingin bertemu kamu Mas. Kamu kan Suami aku! Ini Mas, kamu minum dulu," ucap Mona memberikan air mineral yang ada di depan Ahmad.
"Mas? Suami!" gumam Ahmad.
"Siang mbak Mona!" ucap Adi menyapa.
"Siang juga mas Adi!" balas Mona.
Ahmad bingung dengan sikap Mona yang aneh menurutnya, Mona memanggilnya Mas, juga Suami. Ahmad berpikir, apa mungkin Mona sudah kehilangan akal karena ditinggal Brian.
"Mas, Mas! Kok ngelamun sih!" tanya Mona, mengejutkan Ahmad.
"Oh iya mbak Mona, saya duluan ya. Silahkan temani sobat saya makan, silahkan duduk mbak." Ucap Adi beranjak berdiri.
"Mau kemana!" tanya Ahmad sedikit berbisik.
"Aku duluan bro!" ucapnya melirik ke Ahmad.
"Iya mas Adi, terimakasih!" jawab Mona.
"Oh iya, Mas Adi sudah selesai makan siangnya?" tanya Mona ramah.
"Sudah mbak, ya sudah mbak duluan ya!" jawab Adi seraya pergi dan melambai ke Ahmad sambil mengedipkan sebelah matanya. Sementara Mona, membalas lambaian tangan Adi.
Ahmad hanya bisa mendengus kesal dengan tingkah usil sahabatnya, yang pergi meninggalkan dirinya untuk berduaan dengan Mona. Walaupun sejatinya di kantin itu ramai orang yang sedang makan siang.
Sesaat kemudian Mona sudah duduk di depannya, lalu memanggil pelayan dan memesan makanan.
"Ngapain kamu kesini?" tanya Ahmad menyilang kan kedua tangannya di dada dan bersandar di kursi tempat dia duduk.
"Kenapa? Nggak boleh? Aku lapar!" jawab Mona.
"Bukankan di sebelah butik mu ada restoran, kenapa tidak makan di sana?" tanya Ahmad dengan nada tak suka.
"Lagi bosan, aku maunya disini. Sekalian ...."
"Sekalian apa?" tanya Ahmad penasaran.
"Sekalian ketemu kamu, oh iya tadi kenapa waktu aku baru datang. Aku dengar namaku di sebut-sebut?" tanya Mona kemudian.
"Mana mungkin, kamu hanya salah dengar. Kalau begitu nikmati makananmu, aku mau balik ke kantor. Pekerjaanku sudah menunggu!" tutur Ahmad beranjak, tapi Mona mencegahnya dengan memegang tangan Ahmad.
"Tak bisakah kamu menemaniku makan?" tukas Mona memohon.
"Wah! Apa yang terjadi, nona Mona yang angkuh ingin makan ditemani seorang Sopir?" cibir Ahmad, lalu kembali duduk.
"Jangan begitu, tak enak di dengar orang!" jawab Mona.
"Ada apa? Apa yang kamu mau?" cecar Ahmad.
"Aku hanya tak ingin makan sendiri!" jawab Mona kikuk dan memalingkan muka.
"Baiklah, jangan lama-lama. Aku masih banyak pekerjaan, setelah itu kamu harus pulang!" timpal Ahmad.
"Aku masih mau disini, ini kantor Ayahku. Kamu tidak ada hak mengusirku!" tutur Mona.
"Akhirnya! Nona Mona sudah kembali ke sifat aslinya, bisa runtuh dunia jika sikapmu berubah!" cibir Ahmad.
Mona hanya diam mendengar perkataan Ahmad, sebab dia ingin mencoba berubah dan menjadi istri yang baik untuk Ahmad. Sesuai saran teman-temannya, sebab tak ada lagi yang dia miliki kecuali Ahmad sebagai suaminya. Brian pun sudah membuangnya, dada Mona terasa sesak jika mengingat pengkhianatan Brian, yang membuat mata Mona sedikit berembun.
"Hei, kamu ngapain? Jangan menangis, nanti orang mengira aku menganiaya kamu!" sergah Ahmad yang gegas mengusap air mata Mona yang jatuh di pipinya.
Meski tak menyukai Mona, Ahmad tetap memperlakukan Mona dengan baik. Karena Ahmad sejatinya adalah pria baik, yang suka menolong orang, apalagi orang yang kesusahan. Seperti Mona, hanya saja sikap Mona yang angkuh membuat Ahmad jadi kesal dan tidak peduli.
Tak berapa lama pelayan datang membawa makanan, lalu meletakkannya di meja depan Mona.
"Silahkan, permisi."
"Terimakasih mbak," ucap Ahmad tersenyum, yang membuat wajah pelayan itu memerah dan pergi menjauh.
Mona yang melihat perlakuan Ahmad pun merasakan sedikit nyeri pada dadanya, apa dia sakit jantung? Apa dia mulai jatuh cinta pada Ahmad, lagi? Mana mungkin, dan jangan sampai terjadi.
Segala angan itu segera dia tepis, mana mungkin seorang Monalisa Permana jatuh cinta pada sopir. Dia hanya ingin jadi istri yang baik, tak kurang dan tak lebih.
"Hei! Cepat habiskan makananmu. Aku banyak kerjaan!" cecar Ahmad sedikit membentak gadis angkuh itu, tak sedikit orang yang melihat itu. Namun mereka tak berani untuk ikut campur urusan pasangan itu, karena sudah paham perangai keduanya macam tikus dan kucing jika bertemu.
"Eh, i-iya!" ucap Mona mempercepat makannya.
Setelah selesai, Ahmad beranjak pergi dan Mona mengikuti.
"Apalagi? Kenapa ngikutin aku?" tanya Ahmad kemudian.
"Aku masih mau disini."
"Ini kantor, bukan taman bermain. Pulang sana!" usir Ahmad, yang lagi-lagi membuat hati Mona terluka.
"Ini kantor Ayahku, kenapa aku tidak boleh disini!" ujar Mona cemberut.
"Baiklah, tapi jangan ganggu kalau aku sedang bekerja!" ucap Ahmad pada akhirnya.
"Yeay!" Sifat kekanakan Mona pun muncul, dia pun mengekor di belakang Ahmad.
Dari kejauhan ada seseorang yang sedang mengawasi mereka, tangannya mengepal menahan amarah melihat kebersamaan Ahmad dan Mona.
**
Sore hari kemudian, setelah Ahmad dan Mona sampai di rumah. Keanehan itu masih berlanjut.
"Mas, mau mandi sekarang?" tanya Mona kepada Ahmad yang berbarengan dengannya masuk ke dalam kamar.
"Iya," jawab Ahmad malas.
"Habis ini aku siapin makanan ya Mas?" ucap Mona.
"Terserah," ucap Ahmad kemudian berlalu pergi ke kamar mandi untuk membasuh tubuhnya yang lelah setelah seharian bekerja di kantor.
Di dalam kamar mandi Ahmad tak habis pikir kenapa Mona tiba-tiba bersikap aneh, tidak angkuh dan menyebalkan seperti biasanya. Apa Mona sedang berusaha membuka hati untuk Ahmad? Ah masa bodoh, pikir Ahmad. Di hatinya hanya ada nama seorang wanita, Naysila.
Sedang apa ya dia sekarang? Itu yang ada di pikiran Ahmad, selepas mandi dan memakai baju Ahmad kemudian mengambil handphone yang tadi dia letakkan di atas nakas sebelum mandi tadi.
Dia mulai mengetik nama gadis yang ada di pikirannya, terlihat foto gadis itu sedang mengenakan sebuah hijab yang warnanya senada dengan gamis yang tengah dipakainya. Terlihat begitu mempesona, tidak berubah sama seperti masa lalu.
Jarinya mulai mengetik pesan ke orang yang dituju.
["Assalamualaikum Naysila"]
Centang dua di ikuti warna biru yang berarti pesan tersebut sudah di baca oleh penerima pesan.
["Waalaikum salam Ahmad"]
["Kamu lagi apa?"] tanya Ahmad basa-basi
["Ini baru sampai rumah"]
["Oh, oke"]
["Hahaha, Ahmad Ahmad. Kamu masih nggak berubah ya, masih kaku aja."]
Balas gadis yang biasa di sapa Nay itu dengan tambahan emot ngakak, yang membuat Ahmad senyum-senyum sendiri.
"Mas!" Suara Mona mengejutkan Ahmad, yang membuatnya salah tingkah. Seperti percuri yang ketahuan sang pemilik rumah, segera dia mematikan handphone nya dan meletakkannya di lemari kecil di samping tempat tidur Mona.
"Eh iya, kenapa?" tanya Ahmad kikuk.
"Kamu kenapa sih Mas? Kok aneh gitu?" tanya Mona mengernyitkan keningnya.
"Tidak kenapa-kenapa, jadi ada apa?" tanya Ahmad lagi.
"Itu lho, makanannya sudah siap. Ayah sudah nunggu di ruang makan," jelas Mona.
"Iya, ayo."
Sesaat dada Ahmad berdebar seperti melakukan sebuah kesalahan, menghubungi wanita di masa lalunya. Padahal dia tahu, dia sudah menikah, meski tanpa cinta.
Di meja makan, seperti biasa Mona, Ahmad dan Pak Andi sedang menyantap makan malam mereka.