Kabut masih tebal ketika azan Subuh berkumandang dari masjid kecil di tengah pesantren. Dataran tinggi Gayo belum sepenuhnya terbangun. Angin yang turun dari bukit membawa dingin yang menembus hingga ke tulang, tapi justru itulah yang membuat tempat ini terasa damai. Seolah waktu berjalan lebih lambat di sini.
Pondok Pesantren Al-Hidayah berdiri di antara kebun kopi dan tanaman kol yang hampir siap di panen. Dindingnya tidak lagi mulus, banyak cat yang terkelupas di sana-sini, tapi dari celah-celah retaknya mengalir suara-suara hafalan Qur’an yang tak pernah putus. Tempat itu bukan hanya lembaga pendidikan. Namun, ia juga adalah rumah bagi puluhan jiwa yang percaya bahwa hidup adalah perjalanan menuju ridha-Nya.
Di ruang belajar santri putri, Azura tengah menulis di papan tulis dengan spidol hitam. Suaranya pelan namun jelas, membacakan contoh bacaan tajwid kepada dua belas santriwati yang duduk bersila dan mencatat di buku-buku tipis mereka.
“Kalau ada mad jaiz munfashil, apa tandanya?” tanyanya, membalikkan badan dengan senyum kecil.
Seorang santriwati bernama, Syakira mengangkat tangan, agak ragu. “Kalau ada mad thobi’i yang ketemu hamzah, Ustazah?”
Azura mengangguk, “Benar. Panjangnya berapa harakat?”
“Empat sampai lima,” jawab yang lain.
“Bagus. Ingat ya, jangan buru-buru kalau membaca ayat. Al-Qur’an bukan untuk dikejar, tapi untuk diresapi.”
Wajah Azura lembut. Usianya masih muda, belum dua puluh. Kulitnya sawo matang bersih, sorot matanya tenang, dan setiap gerak tubuhnya menunjukkan wibawa tanpa paksaan. Sudah hampir dua tahun ia mengajar di Al-Hidayah. Ia penduduk asli Gayo, tempat ini bukan hanya sekedar tempat tinggal, tapi juga tanah tempat akarnya tumbuh.
Setelah pelajaran selesai, ia keluar menuju dapur utama untuk mengambil air panas. Di dapur itu, beberapa santri sedang membantu menyiapkan sarapan. Di pojok ruangan, seorang wanita paruh baya duduk di bangku pendek, mengupas bawang merah sambil sesekali mengarahkan anak-anak pondok.
Ummi Farah, istri pimpinan pondok pesantren, Al-Hidayah
“Azuraaa,” sapanya dengan senyum lebar. “Lagi rajin ya pagi-pagi begini?”
“Lagi ingin minum air teh, Ummi,” jawab Azura, tersenyum. Ia memanggilnya ‘Ummi’ seperti panggilan sayang yang tulus, berbeda dari panggilan resmi santri lain.
Ummi Farah menepuk-nepuk lututnya. “Besok insyaAllah akan ada ustadz baru datang ke pesantren ini.”
Azura mengangkat alis, “Oh, iya? Ustadz dari mana, Ummi? Terus ngajar bagian apa?”
“Kalau, Ummi tidak salah beliau mengajar Tahsin. Jadi nanti dia disuruh ustadz untuk fokus di santri putra. Masih muda juga.”
Azura mengangguk. “Abuya yang cari ya, Ummi?”
“Bukan, Abuya. Tapi Ustadz, Elzhan yang cari. Ummi juga tidak tau dari mana. Tau-tau aja besok sudah datang kemari.” Jelasnya.
“Oh...” Azura menunduk sebentar. Elzhan, putra sulung Abuya, jarang bicara soal guru baru. “Apa orangnya dari luar daerah?”
Kemudian ia mengucap salam dan kembali ke kamar guru. Di jalan, ia berpikir sebentar tentang Ustadz baru tersebut, entah mengapa seperti ada beban yang bakal ia tanggung di belakang hari nanti.
Tapi ia cepat melupakannya. Hari itu berjalan seperti biasa. Kelas-kelas berjalan, para santri sibuk dengan hafalan, dan hujan turun sebentar menjelang sore.
Ruang pertemuan kecil di sisi utara sudah disiapkan. Karpet hijau tua terbentang. Teh manis dan roti kering terhidang di meja kecil.
Siang itu, terdengar suara mobil masuk ke pekarangan pesantren, semua mata tertuju. Terlihat, Elzhan sedang memarkirkan mobilnya di halaman pesantren, tak lama kemudian dari dalam mobil, keluar seorang pria muda. Wajahnya teduh, kulitnya putih, hidungnya mancung, alisnya tegas, namun, sorot matanya justru terasa menyimpan sesuatu. Dia menenteng satu tas ransel hitam dan sebuah kitab lusuh yang digenggam erat.
Kemudian mereka berjalan ke arah ruang pertemuan kecil itu. Lalu duduk di antara barisan para guru lainnya. Tak berapa lama, Elzhan mulai berbicara.
“Perkenalkan, ini ustadz, Azzam. Beliau lulusan dari pesantren Nurul Musthofa, Banda Aceh.”
“Mulai besok beliau akan bantu mengajar bahasa Arab dan tahfidz, saya harap … kalian bisa menjadi rekan yang baik untuk memajukan pesantren kita ini.” Lanjutnya.
Beberapa guru saling pandang. Azura mengangguk sopan sambil menunduk. Laki-laki itu tampak tersenyum tipis, tak berkata apa-apa.
Namun saat seorang lelaki tua berwibawa keluar dari ruang utama, semua menjadi sunyi.
Dia adalah, Abuya Zimraan. Pimpinan pesantren Al-Hidayah. Ayah dari pada Ustadz, Elzhan.
Langkah lelaki tua itu pelan, tapi setiap injakan seolah memaku bumi. Sorban putih menggantung di pundaknya, dan tatapannya menusuk. Azzam berdiri tegak, tubuhnya tak bergerak sedikit pun. Tapi dalam dadanya, ada gelombang yang mulai mengguncang.
“Ustaz Azzam,” suara Zimraan berat dan datar. “Selamat datang di pesantren kami. Semoga membawa berkah.”
Azzam menunduk dalam. “Terima kasih, Ustad.”
Waktu berhenti sejenak. Hanya suara angin dan daun-daun kopi yang bergesek di kejauhan.
Nama itu.
Nada suara itu.
Azzam merasakan sesuatu yang aneh.
Dalam hatinya, dia berbisik lirih: “Apakah ini… dia?”
Selama ini, ia hanya tahu satu nama dari buku harian ibunya: Zimraan.
Nama itu yang selalu ditulis berulang-ulang dengan goresan tinta yang menggigil.
Nama yang selalu membuat sang ibu menangis dalam tidur.
Tapi tidak ada wajah. Bahkan tidak ada satupun foto yang bisa ia bisa kenali.
Semua tentang lelaki itu hanyalah bayangan buram.
Tapi hari ini, di hadapannya berdiri seorang lelaki tua, dan hatinya tak mau diam.
“Beliau adalah Pimpinan pesantren ini, Ustaz,” kata Elzhan pelan di sampingnya.
“Namanya… Abuya Zimraan.”
Deg.
Azzam menelan ludah. Ia tidak salah dengar. Zimraan!!
Nama itu nyata sekarang. Bukan sekadar tinta dalam buku harian. Bukan sekadar luka di masa lalu. Tapi… apakah ini benar orangnya?
Matanya menatap wajah lelaki tua itu tanpa berkedip, namun tetap dalam sopan.
Ia mengamati garis-garis keriput, sorot mata, bahkan caranya menyebut nama Tuhan.
Ada sesuatu yang dingin di dada Azzam. Bukan udara Gayo, tapi sejenis luka yang seperti dibangkitkan dari kubur.
“Tapi aku tak boleh yakin begitu saja,”batinnya.
Tidak cukup hanya nama. Aku butuh bukti yang jelas. Aku harus hati-hati. Dendam ini harus dituntun oleh kebenaran, bukan prasangka.
Zimraan tersenyum tipis, lalu menepuk bahu Azzam. Sentuhan itu membuat darah Azzam berdesir. Jantungnya berdetak cepat.
“Silakan menyesuaikan diri dulu. Nanti malam bisa ikut ngaji bareng para santri,” ucap Zimraan.
“InsyaAllah,” jawab Azzam pendek.
Setelah semua kembali ke ruangan masing-masing, Azzam berdiri sendirian di pelataran. Ia membuka kitab lusuh yang selalu dibawanya. Di balik sampulnya, terselip secarik foto lama. Foto seorang wanita muda, mengenakan jilbab coksu. Senyumnya pudar karena waktu, tapi tatapan matanya tetap hidup.
“Ibu,” gumamnya lirih, “Aku sudah tiba. Di tempat yang kau benci seumur hidupmu. Di tempat lukamu tak pernah sembuh.”
Ia meremas foto itu perlahan, lalu menyelipkannya kembali.
Di dalam hati Azzam, sesuatu mulai berdenyut perlahan. Ia berdiri di tempat yang selama ini hanya hidup dalam cerita ibunya. Tempat yang menjadi alasan mengapa ia tumbuh dengan luka diam-diam. Dan kini, dia ada di sini.
Dikelilingi oleh wajah-wajah masa lalu yang belum ia kenali.
Ia belum tahu siapa yang bersalah. Tapi ia yakin, benang awalnya dimulai dari tempat ini. Dan ia sudah siap untuk mulai menariknya, satu per satu.
Langit Gayo mulai mendung. Hujan tipis turun, seolah ikut menyambutnya ke medan dendam yang perlahan mulai terbuka.