Pagi menyelinap perlahan lewat celah jendela kamar. Suara ayam jantan bersahutan dari kejauhan, disusul denting sendok dan piring dari dapur asrama. Azzam membuka matanya pelan. Ia sempat tertidur satu jam menjelang subuh, setelah semalaman pikirannya berkecamuk dan hatinya dihantam gelombang masa lalu.
Dingin masih menggigit. Ia bangkit, berwudhu, lalu ikut shalat berjamaah di masjid pesantren. Barisan santri lelaki mulai terisi. Beberapa menguap diam-diam. Azzam berdiri di shaf tengah. Matanya mencari-cari sosok Zimraan, tapi pagi ini lelaki itu tidak terlihat.
Usai salat, suara lembut terdengar dari arah belakang.
“Ustadz pengajar baru, ya, di sini?” tanya seorang santri. Anak remaja, mungkin usia enam belas.
“Iya,” jawab Azzam, tersenyum.
“Perkenalkan, Ustad saya Fahri. Kelas tiga Aliyah. Nanti Ustadz mengajar kami, kan?”
Azzam mengangguk. “Insya Allah. Senang bertemu kamu.”
Mereka berjalan keluar bersama. Azzam sengaja melambatkan langkah ketika melintasi rumah utama, berharap melihat pergerakan dari dalam. Tapi rumah itu sepi. Tirainya tertutup rapat. Hanya suara ember ditarik terdengar samar.
Selepas sarapan, Azzam duduk di serambi belakang bersama Elzhan dan beberapa santri yang tengah menyapu halaman.
“Berapa lama kamu sudah disini?” tanya Azzam pada Elzhan.
“Hampir tiga tahun. Awalnya bantu-bantu buya ngajar Tpa, lalu dipercayakan mengurus logistik. Sekarang malah jadi sering disuruh jemput tamu dari luar.”
Azzam mengangguk pelan. Ia berusaha menangkap informasi sekecil apa pun.
“Pesantren ini kelihatan tenang,” katanya, “tapi ada sesuatu yang terasa... berbeda.”
Elzhan menoleh cepat, lalu tertawa kecil. “Beda gimana, Ustadz?”
Azzam tersenyum samar. “Entahlah. Intuisi.”
Sebelum Elzhan menjawab, langkah kaki terdengar dari arah belakang. Azura muncul, membawa dua buku tebal di tangannya. Ia tampak terburu-buru, tetapi tetap sempat menatap Azzam.
“Assalamualaikum,” ucapnya datar.
“Waalaikumsalam,” balas Azzam dan Elzhan.
“Maaf ustadz mengganggu, saya mau tanya, nanti ustadz, Azzam mengajar kelas berapa?” tanya Azura tanpa basa-basi.
“Kata Ummi Farah, saya akan bantu di kelas tiga. Fiqih dan tafsir.”
Azura mengangguk. “Santri senior. Karakter mereka bermacam-macam. Tapi rata-rata patuh. Saya yakin insyaallah ustad bisa beradaptasi dengan mereka.”
Azzam mengangguk, lalu Elzhan pamit dan beranjak pergi meninggalkan dua insan di sana.
Sementara itu, Azzam mempunyai kesempatan untuk bertanya langsung pada Azura.
“Kalau boleh tahu,” Azzam menyelidik, “sudah lama tidak ada guru baru dari luar sini, ya?”
Azura diam sejenak. Matanya memicing.
“Iya. Sudah hampir sepuluh tahun. Biasanya yang mengajar itu alumni saja. Tapi kali ini … sedikit berbeda. Atau ... entahlah, mungkin ada sesuatu yang lain.”
“Maksudnya?”
Azura tak menjawab. Ia hanya menoleh sekilas, lalu melangkah pergi.
Azzam masih duduk di tempat. Perkataan Azura tadi seperti memiliki makna tersembunyi. Ia belum sempat mencerna, ketika Shanum tiba-tiba datang dari arah samping, membawa map berisi lembar absen santri.
“Assalamualaikum, Ustadz.”
“Waalaikumsalam. Ada apa, Shanum?”
Shanum duduk agak jauh, tapi cukup dekat untuk berbisik.
“Tadi saya dengar Ustadz nanya soal guru luar, ya?”
Azzam menoleh. “Iya, sekadar tanya.?”
Shanum menunduk. Sejenak ragu, tapi akhirnya berkata lirih.
“Dulu … pernah ada ustadzah dari Medan mengajar di sini, Ustadz. Adalah sekitar dua tahun ustadzah itu ngajar. Tapi tiba-tiba dipulangkan sama ummi dan Buyya karena ada masalah. Saya gak tau masalahnya kenapa, karena waktu itu saya masih kecil, Ustad. Yang saya tau, waktu itu saya ikut sama ummi dan buyya mengantar kan ustadzah itu ke Medan.”
Azzam menahan napas. Ia menyembunyikan keterkejutannya. “Masalah seperti apa?”
“Tidak tau, Ustadz. Cuman saya pernah coba tanya-tanya ke ummi. Tapi umi tidak mau kasih tau kejadian yang sebenarnya, umi hanya bilang, kalau ustadzah itu sudah berzina dan memfitnah Buya. Tapi sampai sekarang saya belum tau kejelasan nya seperti apa. Cuma dengar-dengar dari Ummi saja,” lanjut Shanum.
“Namanya siapa?”
Shanum menggigit bibir. “Saya lupa, Ustadz. Tapi kalau tidak salah ... namanya Nur.”
Darah Azzam berdesir kencang. Matanya menajam.
“Kamu yakin?”
“Nggak seratus persen. Tapi nama itu sering disebut. Ummi juga pernah kok cerita ke Azura.”
Azzam menatap lantai. Detik itu juga, puzzle di kepalanya mulai bergerak. Nur. Nama itu bukan hanya cerita. Ia nyata. Pernah ada, pernah diusir, difitnah. Dan pelakunya … mungkin tak pernah menyesal.
Hari itu, Azzam mulai mengajar. Ia masuk ke kelas tiga Aliyah. Murid-murid tampak sopan, beberapa bahkan terlihat antusias. Tapi Azzam tidak bisa sepenuhnya fokus. Ia sedang menilai, mencoba mengamati. Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Siapa yang bisa diajak bicara? Siapa yang diam tapi tahu segalanya?
Usai kelas, seorang santri perempuan datang menghampirinya di koridor. Tingginya sedang, wajahnya manis. Ia tampak gugup.
“Ustadz... saya Hilma. Sepupunya Shanum. Saya diminta Ummi untuk bantu Ustadz kalau butuh apa-apa.”
Azzam mengangguk. “Terima kasih. Kamu kelas berapa?”
“Saya sudah selesai, Ustadz. Saya biasanya bantu dokumentasi kegiatan pesantren. Foto, video, atau bikin laporan.”
“Kamu sering ke rumah utama?”
Hilma mengangguk. “Kalau ada rapat atau kegiatan. Kadang disuruh bantu Ummi juga.”
“Berarti kamu tahu sedikit banyaknya tentang pesantren ini.”
Gadis itu tampak ragu. “Tahu, Ustadz sedikit.”
Sore hari, Azzam kembali ke kamarnya. Ia membuka buku catatannya:
Catatan hari kedua:
Ustadzah itu memang benar ada
Dia dipulangkan karena fitnah terhadap Buya.
Shanum tahu sebagian cerita.
Azura mungkin tahu lebih banyak.
Sedangkan Hilma bisa jadi sumber informasi tambahan.
Malam itu, ia tidak tidur. Ia menatap jendela yang menghadap kebun. Angin membawa suara-suara samar dari arah dapur. Langkah kaki, tawa kecil. Seakan pesantren ini hidup dengan dua wajah: yang terang dan yang kelam.
Dan Azzam tahu, ia sedang masuk ke dalam wajah yang gelap itu, selangkah demi selangkah. Ia bukan hanya sedang mencari jawaban. Ia sedang menggali luka.
Ia berdoa dalam hati:
“Bimbing aku, Ya Rabb. Jangan biarkan aku tersesat dalam dendam. Tapi jangan pula biarkan kebenaran mati.”
Lalu ia memejamkan mata. Besok, ia akan mulai menggali lebih dalam.
Dan satu nama terus terngiang di benaknya:
Zimraan.