Drama

Bab 4

Penulis Sabil_775
12 October 2025

Angin pagi di dataran tinggi Gayo menusuk lembut ke kulit. Azzam berdiri di halaman belakang pesantren, matanya menatap gugusan kabut yang menggantung di antara pepohonan kopi. Dingin yang menusuk tidak membuatnya menggigil. Ia sudah terbiasa dengan udara pagi, bahkan menikmatinya. Suasana pesantren Al-Hidayah ini membuatnya sedikit lengah, ia nyaris lupa dengan tujuan awal datang ke pesantren ini. Bukan sekadar membawa luka, tapi mengungkap kebenaran selama dua dekade silam.

Sejenak, pandangannya tertuju pada bangunan utama pesantren. Dinding-dindingnya tua, berlumut, seolah menyimpan rahasia dari masa lalu yang enggan dibuka. Azzam menarik napas dalam, mengingat percakapan dengan Shanum kemarin. Gadis itu memang terlalu lugu untuk pandai menyembunyikan rahasia.

“Ustadz Azzam.”

Sebuah suara lembut mengagetkannya. Azura berdiri tak jauh darinya, mengenakan gamis biru langit dan kerudung putih yang tertiup angin pagi. Senyumnya menghangatkan, tapi matanya menyimpan kelelahan.

“Sendiri aja, Ustadz?” suara itu yang membutakan lamunan Azzam, Azura mendekat sambil membawa dua gelas teh panas.

Azzam tersenyum kecil. “Iya. Menikmati pagi. Di Banda Aceh jarang bisa melihat kabut begini.”

Azura menyerahkan secangkir teh, lalu duduk di bangku panjang tak jauh darinya. “Di sini setiap pagi seperti ini. Tapi nanti jam sembilan, cuacanya sudah mulai normal,” katanya sembari tersenyum tipis.

Mereka terdiam cukup lama. Azzam memperhatikan Azura dalam diam. Gadis itu tak banyak bicara, tapi sorot matanya tenang. Cara duduknya, cara ia menyeruput teh, seolah semua kebiasaannya telah menyatu dengan kesunyian pesantren ini.

“Santrinya banyak juga ya,” kata Azzam akhirnya, memecah hening.

“Lumayan, Ustadz. Walau pesantren ini nggak sebesar dulu,” balas Azura sambil memutar gelas di tangannya. “Beberapa tahun terakhir banyak santri yang pindah ke tempat lain.”

“Oh ya?” Azzam mencoba menanggapi ringan, walau pikirannya langsung

Bertanya-tanya. “Kenapa bisa begitu?”

Azura tampak ragu menjawab. Ia menatap lurus ke arah pohon cemara di kejauhan. “Entahlah. Mungkin karena perubahan zaman. Sekarang orang tua lebih suka pesantren yang modern. Karena ada materi pembelajaran umum.”

Azzam mengangguk pelan. Ia tahu itu bukan jawaban sebenarnya. Tapi ia tak ingin memaksa. Ia justru beralih pada pertanyaan lain yang sudah mengendap sejak ia menginjakkan kaki di pesantren ini.

“Boleh saya tahu ... biasanya pesantren ini buka perekrutan guru dari mana saja?” tanyanya hati-hati.

Azura menoleh padanya dengan pandangan sedikit heran. “Maksudnya?”

“Ya, apakah semua pengajar berasal dari Gayo? Atau ada yang dari luar?”

Azura kembali menunduk, kali ini lebih lama. “Sebenarnya ... sudah lama pesantren ini nggak menerima pengajar dari luar. Hampir semua ustadz dan ustadzahnya dari sekitar sini.”

Azzam mengernyit. “Lalu ... saya ini pengecualian?”

Azura tersenyum tipis. “Mungkin ini keajaiban. Atau mungkin memang waktunya pesantren ini membuka diri lagi.”

Azzam menatap gadis itu dengan alis terangkat. “Tapi kenapa sempat tertutup, kalau boleh tahu?”

Azura tampak ragu menjawab. “Itu... saya sendiri kurang tahu pasti. Ustadz.”

Azura menggigit bibir bawahnya. Seperti sedang memilih kata. “Tapi, yang saya tahu, Ummi Farah pernah bilang, pernah ada kejadian memalukan yang membuat pesantren ini heboh pada masanya. Kejadian itulah yang membuat pesantren ini berhenti membuka pintu bagi pengajar dari luar. Tapi setiap kali saya tanya, beliau selalu menghindar. Cuman, saya sudah tau jawabannya. Hanya saja …”

“Hanya saja apa?” Azzam penasaran, kedua matanya menatap Azura penuh dalam. Hatinya ingin sekali tahu apa yang sebenarnya saat itu terjadi.

Tapi Azura cepat menggelengkan kepala “Tidak ada, Ustadz.” Lalu menjaga jarak dari duduk awalnya.

“Hmm…” Azzam menahan diri untuk tidak bertanya lebih jauh. Ia sadar, tidak semua rahasia bisa dipaksa untuk terkuak sekaligus.

Azura melanjutkan dengan suara pelan, seolah berbicara lebih pada dirinya sendiri. “Tapi saya percaya, semua orang punya alasannya masing-masing. Bahkan pesantren ini ... yang terlihat damai, mungkin punya luka yang tidak terlihat. Keburukan yang ditutupi, suatu hari nanti pasti akan terkuak. Seperti mana bangkai yang disimpan rapi, akan tercium juga aromanya.”

Azzam menatapnya lebih lama dari seharusnya. Kata-katanya sederhana, tapi mengandung kedalaman yang mengejutkan. Azura bukan hanya guru biasa. Dia seperti menyimpan luka, tapi tak berani bersuara.

“Apa kamu pernah merasa ... seperti dinding-dinding di tempat ini menyimpan sesuatu?” tanya Azzam tiba-tiba.

Azura menatapnya. “Dinding?”

“Ya. Seolah mereka pernah menjadi saksi sesuatu yang tak terucapkan. Kamu tahu... seperti ruangan yang terlalu sunyi, bukan karena tak ada suara, tapi karena terlalu banyak rahasia.”

Azura mengangguk pelan. “Saya rasa begitu. Kadang saya merasa pesantren ini seperti punya dua wajah. Satu yang terlihat semua orang, dan satu lagi... yang hanya bisa dirasakan.”

Azzam menunduk, menahan desakan pertanyaan dalam dadanya. Ia ingin bertanya lebih jauh tentang masa lalu pesantren, tentang kenapa seorang ustadzah dari Medan pernah dipulangkan, tentang alasan pesantren ini begitu tertutup. Tapi ia tahu, bukan Azura yang akan membantunya membuka pintu-pintu itu. Bukan sekarang.

Disisi lain, dari ujung pesantren, Shanum melihat Azzam dan Azura yang tengah tampak asyik mengobrol. Entah kenapa melihat itu, hatinya sakit. Seperti goresan pisau yang mengiris dengan perlahan.

Wajahnya cemberut, dalam hati ia berkata. “Ada apa dengan hatiku? Mengapa rasanya sakit sekali. Apa aku sedang cemburu?”

Hari-hari berjalan dengan perlahan. Azzam mulai mengajar beberapa kelas tambahan dan membantu di perpustakaan.

Shanum sering muncul tiba-tiba, menawarkan teh atau sekadar duduk diam sambil membaca. Tapi bukan kehadiran Shanum yang mengusiknya.

Melainkan cara Azura mulai menunjukkan perhatian-perhatian kecil. Entah itu memberinya jilid buku pelajaran yang lebih rapi, atau menyelipkan sepotong kue saat istirahat. Azzam mulai merasa ... takut. Bukan takut pada Azura, tapi pada hatinya sendiri.

Ia datang kesini karena ada tujuan. Cinta bukan bagian dari rencana.

Suatu sore, saat langit mulai menguning, Azzam kembali ke kamar kecilnya. Ia menarik nafas saat melihat jendela yang menghadap ke kebun kopi, lalu melangkah ke dinding tua di dekat lemari kecil. Dinding itu retak sedikit, cukup untuk menyisipkan selembar kertas. Ia mengambil lembaran baru dari tasnya dan menulis:

“Semakin dekat aku dengan mereka, semakin kabur garis dendam dan rasa iba. Azura terlalu polos tapi penuh kehati-hatian. Sedangkan, Shanum … ia terlalu jujur. Tapi diantara itu semua, hanya bayang wajah Zimraan selalu kembali. Senyumnya menenangkan, tapi aku tahu itu senyum serigala.”

Ia melipat kertas itu dan menyisipkannya di celah dinding. Tempat ia sembunyikan seluruh jurnal pengamatannya.

Sementara itu, di dapur santri putri, Shanum sedang mengaduk adonan kue sambil mendengarkan percakapan dua santri yang sedang menyapu.

“Kamu tahu nggak, ternyata Ustadz Azzam itu dari Banda Aceh.”

“Masa? Pantesan bahasanya beda dari logat sini. Tapi juga beliau gak terlihat seperti orang Banda Aceh. Soalnya logatnya beda. Lebih seperti orang, Medan.”

“Katanya dia pindahan. Ana sih dengar dari Ummi, dia ini spesial. Padahal dulu mah nggak sembarangan pengajar luar boleh masuk.”

Shanum menunduk, pura-pura tak mendengar. Tapi hatinya tak bisa diam. Ia masih ingat kalimat yang diucapkan ke Azzam beberapa hari lalu. Tentang ustadzah dari Medan yang dipulangkan karena ‘memfitnah Buyya’. Ia tidak tahu apa yang membuat mulutnya begitu ringan waktu itu. Tapi sekarang ... ia merasa bersalah.

Apalagi saat melihat cara Azura mulai sering mencari Azzam dan kedekatan mereka. Meskipun begitu, Azzam selalu sopan, selalu menjaga jarak, tampak lebih sering tersenyum saat berbicara dengan Azura dari pada dirinya.

Hati Shanum tergores. Ia tahu siapa dirinya. Ia anak bungsu Zimraan, calon penerus di mata Ummi. Tapi entah kenapa, keberadaan Azzam membuat dirinya merasa kecil. Apakah ini perasaan cinta?

Malam itu, Azzam berbaring di ranjang tipisnya. Lampu kamar temaram, suara jangkrik di luar berdengung pelan. Ia membuka Al-Qur’an yang selalu dibawanya, warisan dari sang ibu. Di dalamnya, terselip foto lama. Wajah seorang perempuan saat masih muda. Wajah yang sama dengan kenangan dan luka.

Ia mengecup lembut tepi foto itu, lalu memejamkan mata. Dalam keheningan, suara Shanum bergema di benaknya.

“Dulu ada ustadzah dari Medan … dia dipulangkan karena memfitnah Buya telah melecehkannya…”

Kalimat itu bagaikan paku yang menancap di kepalanya. Mungkin ini awal dari benang yang bisa ditarik. Tapi siapa yang bisa membantunya menariknya lebih jauh?

Dan apakah Azura... akan tetap berdiri di sisinya saat kebenaran mulai diungkapkan?