Drama

Bab 5

Penulis Sabil_775
12 October 2025

Angin malam menyusup lewat celah jendela kamar sempit itu, menusuk hingga ke tulang. Di atas ranjang tipis, Azzam membuka sebuah buku usang berwarna coklat, buku harian ibunya. Kertasnya menguning, beberapa sudut terkoyak; namun setiap huruf masih jelas terbaca.

Ia mengusap foto yang terselip di halaman pertama: wajah ibunya ketika muda, tersenyum dengan mata berbinar. Sulit membayangkan, senyum itu pernah terkubur oleh fitnah dan luka yang tak terucap.

Azzam menarik napas panjang, membuka halaman pertama, dan membaca pelan-pelan.


20 Juni 2003

Hari pertama aku tiba di pesantren Al-Hidayah.

Aku kira ini akan menjadi awal hidup baru yang tenang.

Semua orang menyambutku ramah.

Begitu juga dengan pimpinan ia, tampak bijaksana … tapu ternyata bayangkanku salah.

Tulisan itu berhenti di sana. Azzam menelan ludah, lalu membalik halaman berikutnya, dan masa lalu itu pun mulai hidup di depan matanya.


Dua Puluh Tahun yang Lalu

Pesantren Al-Hidayah saat itu menjadi pusat ilmu di dataran tinggi Gayo. Dinding-dinding kayu baru dicat, asrama bergema suara tilawah, masyarakat menaruh hormat besar kepada pemimpinnya: Buya Zimraan.

Suatu pagi, seorang gadis berusia sembilan belas tahun datang dengan langkah ragu tetapi penuh semangat. Namanya Nur. Ia tiba sendiri dari Medan, membawa harapan sederhana untuk mengajar dan menebar ilmu. Ayahnya seorang montir, sedangkan ibunya, hanya sebagai ibu rumah tangga. Nur diterima sebagai ustadzah baru. Wajahnya teduh, suaranya lembut, bacaan Qurannya merdu.

“Anak itu istimewa,” bisik beberapa guru. “Bisa jadi penerus pesantren di masa depan.”

Nur hanya ingin mengajar. Ia tidak tahu bahwa langkahnya baru saja membawanya ke jurang yang tak pernah ia bayangkan.


Beberapa Bulan Berlalu

Nur mulai dekat dengan para santri dan guru. Namun, ada satu hal yang membuatnya gelisah, tatapan Buya Zimraan. Tatapan itu bukan seperti guru pada murid, bukan pula pemimpin pada bawahannya. Tatapan itu... membuat Nur ingin lari.

Suatu malam di perpustakaan, saat Nur hendak mengembalikan kitab, langkahnya terhenti. Ada suara lain di balik pintu. Ketika ia menoleh, Buya Zimraan berdiri di sana.

“Ustadzah Nur,” ucapnya pelan.

“Buya…” Nur menunduk sopan.

“Aku perhatikan engkau tekun. Engkau mengingatkanku pada masa mudaku,” katanya, melangkah mendekat.

Jantung Nur berdegup kencang. Ia mundur. “Afwan, Buya, saya hanya menjalankan kewajiban.”

Tangan kasar Buya menyentuh ujung jilbab Nur. “Engkau masih muda... indah bila selalu di sisi Buya.”

Nur tersentak, mundur beberapa langkah. “Astaghfirullah, Buya!” serunya bergetar. Ia berlari keluar, meninggalkan perpustakaan.

Malam itu Nur menangis diam-diam di kamar asramanya. Ia ingin melapor, tapi kepada siapa? Semua orang menaruh hormat pada Zimraan. Siapa yang akan percaya?


Fitnah yang Menyembelih Nama

Hari-hari berikutnya berubah menjadi siksaan. Buya kerap memanggil Nur dengan alasan rapat guru, kadang menyentuh tangannya ketika menyerahkan kitab, kadang menggoda dengan kata yang disamarkan dalam tawa. Tekanan itu semakin kuat ketika Nur menolak permintaannya untuk memijat punggung.

Puncaknya terjadi satu malam. Nur dipanggil ke rumah kediaman Buya. Saat itu Farah, istrinya, tidak di rumah. Di kamar itu Nur melawan, menjerit, menangis — namun tenaganya kalah. Kehormatannya direnggut dalam kesunyian yang menyayat.

Dengan baju robek dan wajah basah air mata, Nur berhasil kabur dari rumah itu. Ia berjalan gontai di lorong pesantren, tubuhnya bergetar hebat. Suara isakannya menarik perhatian beberapa santri.

Dua santri, Syakira dan Fatimah, mendekatinya.

“Ustadzah, kenapa? Cerita pada kami,” tanya mereka hati-hati.

Butuh waktu lama sebelum Nur akhirnya berkata dengan suara parau, menceritakan segalanya. Syakira dan Fatimah saling berpandangan, bukan karena tak percaya, tapi karena mereka seolah sudah menduga.

“Apa Buya berbuat hal yang sama, seperti yang dia lakukan pada Ustadzah Miftah?” bisik Syakira, pucat.


Keesokan Harinya

Kabar itu menyebar cepat, tapi kebenaran tidak pernah mudah menang.

Farah berdiri di hadapan para guru dengan mata pura-pura basah.

“Ustadzah Nur ingin menjerat suamiku. Dia memfitnah Buya. Buya hanya menasihatinya.”

Zimraan sendiri meneteskan air mata di hadapan santri.

“Saya tidak tahu mengapa anak ini tega. Demi Allah, saya hanya membimbingnya.”

Nur mencoba membela diri. “Demi Allah, beliau telah merenggut kehormatanku.”

Namun siapa yang mau percaya pada gadis muda dari Medan dibanding pemimpin pesantren yang mereka puja?

Nama Nur jatuh. Bisikan-bisikan menjadi racun. Para guru menjauh. Santri yang dulu menaruh hormat kini menatap dengan jijik.


Pengorbanan Zaki

Di tengah badai itu, muncul Zaki, abang ipar Buya dan kakak kandung Farah. Diam-diam, ia menyukai Nur. Melihat Nur dihina membuatnya remuk.

Suatu malam, ia menghadap dewan guru. “Semua benar. Sayalah yang melakukannya. Zimraan tidak bersalah.”

Dengan pengakuan itu, Nur diusir dari pesantren. Bukan dengan kehormatan, melainkan dengan hinaan. Zaki hanya ditegur, karena ia masih keluarga Buya.

Nur berjalan pulang ke Medan dengan air mata bercucuran. Tak seorang pun membela. Tapi di dadanya, ia bersumpah: suatu hari kebenaran akan terbuka.


Kembali ke Azzam

Azzam menutup buku harian itu dengan tangan gemetar. Setetes air matanya jatuh di atas halaman terakhir.

“Ibu…” bisiknya lirih. “Mereka merampas kehormatanmu, lalu menutupinya dengan jubah agama. Tapi aku... tidak akan biarkan mereka tertawa selamanya.”

Ia menatap celah dinding tempat ia menyimpan catatan pengamatannya. Suara jangkrik di luar jendela seakan menjadi saksi sumpahnya malam itu.

Azzam bersujud di atas sajadah tipis.

“Ya Allah… jika dendam ini salah, ampuni aku. Tapi jika kebenaran harus ditegakkan, kuatkan langkahku. Aku akan buka semuanya, meski harus hancur di jalan ini.”

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Azzam tahu, perang antara doa dan dendam baru saja dimulai.