Suara langkah sandal jepit bersahutan di teras ruang guru. Beberapa santri baru saja keluar dari kelas tafsir sore, meninggalkan aroma kertas dan tinta yang samar. Di sudut ruangan, Ustadz Farhan memperhatikan sosok muda yang sedang menunduk di depan tumpukan kitab. Gerakannya tenang, tapi ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan—seolah setiap kata dari mulutnya selalu dipilih dengan sangat hati-hati.
Itu Azzam.
Sejak hari pertama, Farhan sudah merasa ada yang berbeda dari cara ustadz baru itu berbicara. Bukan karena sopan atau santun nya, tapi karena setiap kali ditanya tentang asal usulnya, dia menjawab seperti seseorang yang sedang menyembunyikan peta. Selalu setengah, selalu melenceng sedikit.
“Dari Banda Aceh, ya?” tanya Farhan sore itu, berpura-pura santai.
“Iya, ustadz,” jawab Azzam, tetap menunduk. “Dulu saya belajar di pesantren kecil di pinggiran kota. Tidak besar, tapi cukup banyak kenangan.”
Farhan mengangguk, matanya tidak lepas dari wajah Azzam yang tenang. Pinggiran kota mana? Siapa gurunya? Semua itu pernah ditanyakannya secara halus di kesempatan lain, tapi jawabannya selalu samar, selalu seperti bayangan yang menolak ditangkap cahaya.
“Saya lihat kamu belakangan hari suka belajar tentang sejarah pesantren ini, ya?” Farhan mencoba menggali.
Azzam menoleh, tersenyum kecil. “Ia, Ustadz. Saya tertarik karena Pesantren Al-Hidayah ini... punya sejarah yang panjang. Apalagi guru-guru yang sudah berhasil mendidik santri-santri ini.”
Nada suaranya terdengar biasa, tapi bagi Farhan dia tahu betapa kelamnya sebagian sejarah pesantren ini, sehingga pernyataan itu seperti duri kecil di bawah kulit. Jarang ada orang luar yang menyinggung masa lalu Al-Hidayah, apalagi guru baru yang bahkan belum sebulan di sini.
“Ya... panjang,” jawab Farhan pelan, “dan tidak semuanya layak diceritakan.”
Azzam hanya tersenyum lagi, lalu menunduk. Tapi dalam matanya, ada kilatan singkat, seperti seseorang yang baru saja menemukan arah.
Azzam tahu ia sudah mulai menarik perhatian orang yang salah.
Farhan bukan ustadz biasa. Ia pendiam, tapi tajam, tipe orang yang menyimak lebih banyak daripada berbicara. Beberapa hari terakhir, Azzam juga sering menangkap tatapan itu dari kejauhan,tatapan yang tidak lagi sekadar ramah, melainkan menyelidik.
Di kamarnya malam itu, Azzam membuka buku catatan kecil yang selalu ia simpan di bawah sajadah. Di halaman yang berisi nama-nama lama pesantren, ia menulis pelan:
***FARHAN ***
Tulisan itu bergetar sedikit. Azzam menatapnya lama. Ia ingat pesan ibunya: “Jangan datang dengan marah, datanglah dengan kebenaran.” Tapi di tempat ini, setiap kebenaran seolah dikubur dengan doa yang panjang.
Ia menatap langit-langit kamar yang remang. Suara jangkrik bercampur dengan dengung generator dari dapur belakang. Di kepalanya, bayangan wajah Zimraan muncul lagi, sosok yang dulu hanya ia kenal lewat buku harian ibunya. Sekarang, lelaki itu ada di depan matanya setiap pekan, memberikan ceramah seolah tak pernah berbuat dosa.
Azzam mengepalkan tangan.
Langkah pelan terdengar dari luar. Ia cepat-cepat menutup buku catatan itu dan menaruhnya di bawah bantal. Ketukan pelan menyusul.
“Ustadz Azzam?”
Suara lembut itu milik Azura.
Azzam berdiri, merapikan sorbannya sebelum membuka pintu. Azura berdiri di ambang dengan wajah sedikit canggung.
“Maaf mengganggu. Saya hanya ingin mengingatkan besok giliran antum mengisi pelajaran adab. Tadi Ummi Farah titip pesan,” katanya pelan.
“Oh, iya. Terima kasih, Ustadzah.”
Mereka sempat terdiam beberapa detik. Azzam bisa merasakan aroma wangi vanilla dari jilbab Azura. Tapi ada sesuatu di balik tatapannya, sebuah keingintahuan yang sama seperti milik Farhan, hanya saja lebih lembut.
“Kalau boleh jujur,” kata Azura pelan, “saya perhatikan antum sering sekali menanyakan hal-hal tentang masa lalu pesantren. Tentang pendiri, tentang guru-guru lama...”
Azzam mencoba tersenyum. “Saya hanya ingin memahami akar tempat ini, Ustadzah. Supaya bisa menyesuaikan cara mengajar dengan nilai-nilai yang sudah ada.”
Azura menunduk, jari-jarinya meremas ujung jilbab. “Saya paham. Tapi... di sini, tidak semua akar patut digali, Ustadz. Beberapa... terlalu dalam.”
Kalimat itu meninggalkan getar aneh di dada Azzam. Ia ingin bertanya lebih jauh, apa yang sebenarnya diketahui Azura? Tapi sebelum sempat bicara, gadis itu sudah mundur setapak, tersenyum sopan.
“Selamat malam, Ustadz. Istirahatlah. Besok pagi pasti padat.”
Ia berbalik, meninggalkan Azzam dalam diam yang menyesakkan.
Keesokan harinya, di ruang guru, Farhan sengaja menunggu Azzam selesai mengajar. Ia memperhatikan dari jendela kecil: para santri tertawa, sementara Azzam menulis ayat di papan tulis dengan tulisan rapi dan teratur. Gaya mengajarnya mengingatkan Farhan pada seseorang, pada perempuan muda yang dulu juga mengajar di tempat ini, sebelum semuanya berubah menjadi aib.
“Nur...” gumam Farhan tanpa sadar.
Saat kelas usai, Azzam keluar dengan membawa kitab tafsir di tangan. Farhan menegakkan tubuhnya.
“Ustadz Azzam, sebentar,” panggilnya.
Azzam berhenti. “Iya, ustadz?”
“Ada waktu? Saya ingin sedikit berbincang.”
Mereka duduk di bawah pohon kelapa di belakang musala. Angin siang membawa aroma tanah dan daun kering. Farhan membuka percakapan dengan nada ringan.
“Tadi saya dengar antum tertarik menulis artikel tentang sejarah Al-Hidayah?”
Azzam menatapnya. “Bukan artikel, ustadz. Hanya catatan pribadi. Saya tertarik bagaimana pesantren ini bisa berdiri di tengah daerah terpencil seperti ini.”
Farhan mengangguk, matanya menelusuri setiap ekspresi di wajah Azzam.
“Menarik. Tapi biasanya orang baru lebih sibuk menyesuaikan diri. Antum malah menggali sejarah.”
“Saya senang belajar hal-hal lama,” jawab Azzam. “Kadang masa lalu menyimpan hikmah yang bisa memperbaiki masa depan.”
Farhan terdiam sesaat. Kalimat itu terdengar terlalu matang untuk sekadar basa-basi.
“Benar,” katanya akhirnya. “Tapi masa lalu juga bisa jadi racun, kalau yang digali bukan hikmah... tapi dendam.”
Kata “dendam” itu meluncur perlahan tapi tajam, seperti pisau yang sengaja ditaruh di meja agar terlihat. Azzam menahan napas sepersekian detik sebelum menjawab, “Saya sepakat, ustadz. Tapi bukankah kebenaran juga sering lahir dari luka?”
Farhan menatapnya lebih lama dari seharusnya. Ada sesuatu di mata Azzam—bukan ketakutan, melainkan tekad yang aneh, seperti seseorang yang sudah lama mempersiapkan diri menghadapi risiko besar.
“Antum beneran dari Banda Aceh?” tanya Farhan lagi, seolah memastikan. Namun nada suaranya berubah datar. “Pesantren mana?”
Azzam tersenyum kecil, memalingkan pandang. “Nama pesantrennya kecil, ustadz. Tak terkenal. Saya tidak yakin antum pernah dengar.”
“Coba sebutkan,” desak Farhan lembut.
Azzam pura-pura mengingat. “Pesantren Al-Mahabbah. Di pinggiran Krueng Raya.”
Farhan menandai nama itu dalam pikirannya. Ia tahu hampir semua pesantren besar di Banda Aceh—dan nama itu tidak pernah ia dengar.
Tapi ia tidak menunjukkan reaksinya. Ia hanya tersenyum dan berdiri.
“Baiklah. Kalau begitu, semoga betah di sini. Dan... hati-hati memilih teman bicara. Di tempat seperti ini, dinding pun punya telinga.”
Azzam membalas senyuman itu. “Saya akan ingat, ustadz.”
Farhan berbalik, tapi dalam benaknya, benih kecurigaan tumbuh semakin besar.
Malam itu, Farhan tidak langsung tidur. Ia membuka laci kecil di kamarnya dan mengeluarkan selembar foto lama, foto guru-guru pesantren dua puluh tahun silam. Di antara mereka, ada wajah perempuan muda berkerudung putih dengan senyum lembut. Di bawahnya tertulis nama: Nur.
Wajah itu ... pikir Farhan. Entah kenapa, ada sesuatu dari Azzam yang mengingatkanku padanya. Tatapan matanya, caranya bicara ... terlalu mirip.
Ia menarik napas panjang, lalu menatap lagi foto itu.
“Kalau benar dugaan ini ...” bisiknya pelan, “mungkin dia datang bukan untuk mengajar. Tapi untuk membalas.”
Sementara itu, di kamar lain, Azzam duduk di tepi ranjang, membuka kembali catatannya. Ia menulis cepat, hampir tanpa suara:
“Sepertinya, Farhan mulai curiga. Azura juga sudah memperingatkan. Aku harus lebih hati-hati. Tapi satu hal pasti, akan aku pastikan nama Zimraan harus jatuh dengan cara yang tidak ia sangka.”
Tangannya berhenti menulis. Ia menatap nama itu lama sekali, lalu menutup buku itu rapat-rapat. Di luar, suara angin malam berdesir lembut, membawa aroma tanah dan hujan yang sebentar lagi turun.
Dan di pesantren yang tampak tenang itu, dua laki-laki duduk dalam diam di tempat yang berbeda
sama-sama memikirkan nama yang disembunyikan,
sama-sama menunggu waktu untuk membuka kebenaran.