Bab 11. Super Perhatian
Di meja makan, seperti biasa Mona, Ahmad dan Pak Andi sedang menyantap makan malam mereka.
"Ini Mas," ucap Mona mengambilkan nasi untuk Ahmad dengan lemah lembut.
"Sudah, cukup Mona. Jangan banyak-banyak!" kata Ahmad sambil mengerutkan alisnya, lagi.
Dia dibuat heran dengan tingkah Mona, apa tadi dia salah makan atau kepalanya terbentur sesuatu hingga berubah begini. Padahal ia ingat betul jika pagi tadi sikap Mona masih jutek seperti biasanya, entah apa yang terjadi sebelum pertemuan mereka kembali yang membuat istrinya itu berubah.
Sedangkan Pak Andi tersenyum senang dengan pemandangan yang dilihatnya malam ini, memang tak salah dia menikahkan putrinya dengan Ahmad.
"Lauknya mau apa Mas? Ini ya?" Mona pun meletakkan ayam goreng, telur balado dan capcay ke piring Ahmad tanpa banyak bertanya kepada suaminya itu.
"Ya ampun, ini kamu mau aku habisin semuanya? Ini terlalu banyak Mona!" tukas Ahmad keberatan karena piringnya penuh.
Lagi, Ahmad dibuat keheranan dengan tingkah Mona yang melayaninya di meja makan. Ahmad ingat tadi pagi bahkan Mona menggerutu ketika Pak Andi meminta gadis itu untuk menyajikan sarapan untuknya.
"Tidak apa, Nak. Kamu harus banyak makan. Kamu kan sudah capek seharian kerja di kantor!" imbuh Pak Andi.
"Dengerin tuh, Mas kata Ayah!" Mona pun senyum penuh kemenangan, senyum yang selama ini tak pernah Ahmad lihat.
Akhirnya Ahmad pun mulai makan, dia merasakan masakan yang berbeda. Tidak seperti biasanya, rasanya mirip masakan Ibu Lisna istri Pak Andi, Ibu Mona.
"Ayah juga harus banyak makan ya, ini juga kan spesial. Aku lho yang masak," ucap Mona sambil mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Ayahnya.
"Jangan banyak-banyak Mona, Ayah sudah tua tidak kuat makan banyak."
"Ini cuma sedikit Ayah! Bagaimana rasanya, Yah? Enak nggak?" tanya Mona mengedip-ngedipkan mata ke sang Ayah.
"Enak nggak ya? UMM ...!" ujar Pak Andi memegang dagu dan menjentikkan telunjuk sambil memejamkan mata seolah berpikir.
"Ih Ayaaaaah!" tukas Mona manja pada Ayahnya.
"Hahaha.... Ayah cuma bercanda, masakan kamu enak kok. Persis masakan Ibumu!" sahut Pak Andi yang seketika raut wajahnya berubah muram, dia teringat mendiang sang istri.
"Ayah, kenapa sedih?" tanya Mona menggenggam dan mengelus sebelah tangan Ayahnya yang ada di atas meja.
"Tidak sayang, Ayah tidak sedih. Ayah hanya merasa, jika Ibumu melihat kamu yang sekarang telah menikah dengan Ahmad. Pasti dia akan merasa senang, sejak dulu dia ingin Ahmad menjadi menantunya."
"Uhuk... Uhuk..." Tiba-tiba Ahmad tersedak.
"Ini Mas minum dulu, pelan-pelan kalau makan biar nggak tersedak lagi ya!" Mona memberikan air minum kepada Ahmad.
Ada perasaaan menyesal yang dirasakan Ahmad, saat diperlakukan dengan baik oleh Mona. Dan Ahmad pun merasa berdosa telah memikirkan wanita lain, padahal dia telah beristri. Tapi apa mau di kata, pernikahannya hanya tulisan hitam di atas putih semata. Meski kini Mona sedikit berubah dan lebih perhatian kepadanya, tetapi ini semua masih terasa tiba-tiba untuknya.
"Ayah sudah selesai, Ayah istirahat dulu ya, Ahmad, Mona!" tutur Pak Andi.
"Iya, Ayah!" jawab Ahmad dan Mona berbarengan, Mona melihat ke arah Ahmad dan dia menjadi salah tingkah.
Setelah mereka selesai bersantap malam, Ahmad langsung menuju kamar. Sedangkan Mona membereskan meja makan, dia juga mencuci piring bekas makan malam mereka.
Hari ini Mona bersikap sangat aneh, tak hentinya Ahmad memikirkan itu. Saat Ahmad merebahkan tubuhnya di sofa, seperti malam sebelumnya. Hingga matanya mulai terpejam, dia mendengar suara Mona yang membuka pintu. Kemudian...
"Mas! Mas!" ucap Mona memanggil Ahmad.
"CK ada apa sih? Hei disini sudah tidak ada siapapun, tak perlu kamu bersandiwara!" tegas Ahmad memposisikan tubuhnya untuk duduk.
"Sandiwara apa, Mas? Aku nggak ngerti kamu ngomong apa?" tanya Mona bingung.
"Itu, dari tadi kamu selalu memanggil aku Mas-mas terus. Kamu salah minum obat?" jawab Ahmad mulai kesal.
"Jahat banget sih kamu Mas! Aku hanya ingin jadi istri yang baik!" tukas Mona dengan mata yang nampak sedikit berembun.
Mona pun sadar jika mungkin ini terlalu mendadak untuk Ahmad, perubahan dirinya terlalu awal untuk suaminya itu. Dia sadar akan hal itu, meski kini dia ingin mencoba untuk menjalani hubungan mereka dengan lebih serius.
"Hah, istri yang baik? Mana ada istri yang baik, mengajukan kontrak pernikahan sejak malam pertama pernikahan," cibir Ahmad.
"Maaf, aku khilaf. Aku ingin kita mulai dari awal," ucap Mona memelas.
"Apa maksudmu?" tanya Ahmad bingung.
"Ya aku akan merobek kertas perjanjian kita, dan kita mulai dari awal hubungan pernikahan kita. Layaknya suami-istri normal pada umumnya!" jelas Mona.
"Suami-istri yang normal itu yang seperti apa menurutmu? Bahkan awal pernikahan kita saja tidak normal, aku hanya suami pengganti lelaki yang tidak bertanggung-jawab itu. Sekarang, jangan ganggu aku. Cepat tidur ke tempatmu, sana!" tukas Ahmad, lalu kemudian berbaring miring menghadap tembok dan mulai memejamkan mata.
Mona pun segera menuju ranjangnya, padahal dia ingin berubah dan memperbaiki segalanya. Termasuk hubungannya dengan sang suami, tapi sikap angkuhnya pada lelaki tampan yang kini menjadi suaminya itu menghancurkan harapannya.
"Mas, apa kamu sudah tidur?" tanya Mona parau.
"Hmm, jangan ganggu aku, Mona. TIDUR!" bentak Ahmad tanpa melihat ke arah Mona.
Baru kali ini ada orang yang membentaknya begitu keras, dan itu adalah Ahmad. Orang yang dulu pernah singgah di hatinya, itu membuat Mona merasakan sakit pada hatinya. Apa selama ini, itu yang di rasakan Ahmad kala Mona sering membentaknya? Tak terasa mata Mona yang berembun pun lantas meneteskan cairan hangat ke pipinya. Seketika malam itu, Mona menangis dalam diam di balik selimutnya.
Sementara Ahmad, dalam diam dia menyesal telah membentak Mona. Kenapa dia begitu jahat, hingga menyakiti hati gadis itu. Padahal dalam lubuk hatinya yang terdalam, sempat terukir nama Mona sejak masa-masa SMA.
Namun sekarang, dia selalu merasa kesal ketika melihat Mona. Dia selalu teringat, jika Mona sedang mengandung anak dari Brian.
Malam itu, menjadi malam yang panjang bagi mereka. Dua hati yang tersakiti, karena ego masing-masing di masa lalu.
**
Sementara itu di tempat lain, seorang pria terlihat emosi dan marah. Dia menghancurkan apapun yang ada di depannya, membanting apa yang bisa di banting.
"Sil, kenapa dia tidak merasa sedih saat ku tinggalkan. Dan kenapa dia malah terlihat bahagia dengan Sopir itu? Bregs*k!" umpat Brian menghantam tembok, hingga jemarinya berdarah.
"Sayang! Kamu kenapa sih, lihat tanganmu berdarah," ucap Mariska pura-pura panik dan peduli, lalu memegang tangan Brian yang terluka.
"Kamu ngapain sih menyiksa diri seperti ini? Emang si Mona bakal mikirin kamu? Dia sudah bahagia dengan Sopir Ayahnya," ucapnya mengompori.
"Diam kamu Mariska, ini semua gara-gara kamu. Aku jadi meninggalkan Mona dan bayi kami!" sentak Brian sembari menepis tangan Mariska.
"Kok gara-gara aku sih, kok kamu sekarang jadi kasar ke aku?" tanya Mariska cemberut ke Brian.
"Lagian, apa kamu yakin jika bayi yang dikandung Mona itu anak kamu?" cibir Mariska menimpali.
Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi Mariska, dia tidak menduga jika Brian akan menamparnya. Seketika pipi gadis itu memerah, dengan mata yang mulai basah.
"Brian! Kamu tega nampar aku? Hanya demi Mona? Dia yang meninggalkanmu dengan pria lain?" ucap Mariska meninggikan suaranya.
"Tutup mulutmu, Mariska! Atau aku akan menamparmu lagi! Kau tahu, kenapa aku menamparmu? Kamu bilang yang tidak-tidak tentang kehamilan Mona. Kamu dan Mona sangat berbeda, MARISKA!" teriak Brian dengan emosi yang memuncak.
Mata Brian menatap tajam ke arah Mariska, dia benar-benar merasa marah pada gadis dihadapannya itu. Sebab selama ini gadis itu yang telah mempengaruhi pikirannya untuk meninggalkan Mona.
"Kamu jahat, Brian," Mariska pun berlalu pergi sambil menangis dan meninggalkan Brian, sendirian dalam apartemennya.
Sementara Brian menyesali keputusannya meninggalkan Mona, ternyata dirinya begitu mencintai Mona. Lalu sekarang, dia bingung dengan apa yang akan dilakukan kedepannya untuk mendapatkan Mona kembali.
** Di luar gedung apartemen. Mariska langsung menghapus tangisan palsunya. Lalu mengeluarkan gawainya dan terlihat menelepon seseorang.
"Halo. Ini gawat, tabungan berjalan kita ingin balikan lagi dengan kekasih hatinya. Tadi dia juga menamparku dan membela Mona. Bagaimana langkah kita selanjutnya?" ucapnya berbicara dengan orang yang ada di seberang telepon.