Bab 12. Rencana Bulan Madu
"Halo! Ini gawat, tabungan berjalan kita ingin balikan lagi dengan kekasih hatinya. Tadi dia juga menamparku dan membela Mona. Bagaimana langkah kita selanjutnya?" ucapnya berbicara dengan orang yang ada di seberang telepon.
"Benarkah? Nanti kita susun rencana untuk mereka, apa kamu tidak kangen padaku?" tanya seseorang yang ada di seberang telepon.
"Iya sayang, aku juga kangen sama kamu. Ketemuan yuk, di tempat biasa ya? I love you." Mariska menutup teleponnya, lalu bergegas memesan taksi online dan pergi meninggalkan apartemen Brian menuju ke tempat kekasihnya berada.
** Di tempat lain ketika pagi menjelang, silau cahaya pagi menerpa wajah tampan Ahmad. Membuatnya silau dan Ahmad pun mengernyitkan kelopak matanya, Mona tersenyum memandang wajah suaminya.
"Kamu memang tidak berubah Mas, masih tampan seperti dulu. Andai kamu tahu, sebenarnya aku dari dulu menaruh hati padamu. Tapi egoku tak mengijinkannya, sekarang aku malah membuatmu terjebak dalam pernikahan palsu ini bersamaku. Maafkan aku Mas!" ucap Mona berbisik.
Tak lama Ahmad pun membuka mata lalu meregangkan tubuh serta kedua tangannya, lalu terkejut saat melihat Mona ada di depannya. Sedangkan Mona jadi salah tingkah dibuatnya, lalu Ahmad bangun dari tempatnya tidur.
"Sudah jam berapa ini?" tanya Ahmad menggeliat, meregangkan tubuhnya.
"Jam enam lewat sepuluh menit Mas!" jawab Mona.
"CK, kenapa nggak bangunin dari tadi sih!" ketus Ahmad.
Ahmad memang tidur lagi setelah menjalankan kewajibannya 2 rakaatnya tadi, sementara Mona sibuk dengan sketsa yang ada di laptop-nya.
"Kamu tidurnya begitu nyenyak, aku nggak tega bangunin kamu!" jawab Mona tertunduk.
"Harusnya kamu bangunin aku! Mana handphone ku belum aku charger. Gimana kalau ada klien penting yang menelepon?" tukas Ahmad panik.
"Handphone kamu sudah aku charger kok, itu ada di sana." Mona menunjuk ke arah nakas.
"Oh, terimakasih!" ucap Ahmad berlalu meninggalkan Mona menuju kamar mandi.
"Oh iya, kamu cepat siap-siap kalau mau berangkat bareng!" tukas Ahmad sebelum berlalu.
"Aku hari ini nggak kemana-mana Mas!" jawab Mona.
"Ya sudah kalau begitu, aku mau mandi dulu!" ujar Ahmad berlalu.
Setelah Ahmad masuk ke kamar mandi, Mona menyiapkan pakaian suaminya. Lalu dia letakkan di atas ranjangnya, kemudian Mona pergi menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.
Sesaat kemudian Ahmad terheran-heran kenapa Mona menyiapkan baju untuknya, padahal baru kemarin Mona memintanya menandatangani kontrak pernikahan dengannya.
"Aneh banget sikapmu nona angkuh," ucap Ahmad dengan dahi berkerut.
"Terserahlah, sudah bagus dia berubah dan nggak angkuh lagi." Segera Ahmad bersiap, lalu mengambil handphone nya dan bergegas menuruni tangga menuju ruang makan.
Bau nasi goreng menguar di seluruh ruangan, membuat siapapun merasa lapar akan aromanya.
Di dapur terlihat Mona sedang mengaduk-aduk nasi dalam penggorengan, dengan rambutnya yang digelung sambil sesekali dia mengusap dahinya yang berkeringat dengan menggunakan punggung tangannya. Ahmad memperhatikan jauh dari belakang, tepatnya di meja makan.
Terlihat wajah cantik Mona dengan sedikit keringat yang tidak mengurangi kecantikannya, juga tengkuknya yang tiba-tiba membuat darah Ahmad berdesir dan dadanya merasa sedikit berdebar yang membuatnya menelan saliva.
"Pagi Ahmad!" tepukan Pak Andi pada bahunya seketika membuyarkan semua lamunannya.
"Pa-pagi Ayah," ucap Ahmad tergagap, lalu mengalihkan pandangan yang tadinya mengarah ke Mona. Kemudian menuangkan teh ke dalam cangkir untuk Pak Andi, mertuanya.
"Mona, sayang! Kamu masak apa hari ini?" tanya Pak Andi sambil meminum teh yang di berikan Ahmad.
"Aku hari ini masak nasi goreng Ayah!" jawab Mona, tanpa melihat ke arah sang ayah
"Enak nggak tuh nasi goreng?" goda Pak Andi kepada putrinya.
"Pasti enak lah, siapa dulu dong yang bikin. Chef Mona gitu lho! Nah ini, sarapan sudah siap!" ujar Mona meletakkan dua piring nasi goreng di hadapan Pak Andi dan Ahmad. Lalu mengambil lagi satu piring, untuk dirinya sendiri.
"Enak kan Yah? Nggak keasinan kan?" tanya Mona.
"Pas kok sayang, iya kan Ahmad?" ucap Pak Andi meminta pendapat Ahmad.
"Iya, enak!" kata Ahmad yang berusaha fokus ke makanannya, dan berhenti membayangkan Mona.
"Jadi bagaimana rencana bulan madu kalian? Kemana tujuan bulan madu kalian? Mona, Ahmad?" Pak Andi memulai obrolan.
"Bulan madu?" tanya Ahmad kikuk.
"Iya, katanya Mona sudah menyiapkan semuanya!" imbuh Pak Andi.
Ahmad pun menatap mata Mona lalu memelototinya, sedangkan Mona malah meledeknya dengan menjulurkan lidahnya. Membuat darah Ahmad berdesir kembali, jantungnya pun mulai berdebar lagi.
Apa iya aku jatuh cinta lagi pada Mona? rutuk Ahmad dalam hati.
Tapi mana mungkin, Mona? Tidak-tidak, aku tidak boleh mencintai Mona. Lalu bagaimana dengan perasaanku kepada Naysila! batin Ahmad berperang dengan perasaannya sendiri, memilih antara Mona istri kontraknya atau Naysila cinta masa lalunya.
"Iya, aku sudah punya rencana Ayah. Tapi harus menyesuaikan jadwalnya Mas Ahmad dulu, baru bisa pergi." Jelas Mona.
"Bagaimana kalau lusa? Ahmad? Biar nanti Ayah yang pergi ke kantor, kamu bisa pergi bulan madu dengan Mona," ucap Pak Andi memberi solusi.
"Tapi!" Ahmad ingin menolak, mana mungkin dia akan pergi berbulan madu dengan Mona.
"Tidak ada tapi-tapian, kamu harus persiapkan semuanya besok. Ya anggap saja kalian sedang liburan, buat diri kalian lebih dekat kan tidak ada salahnya!" titah Pak Andi.
"Baiklah Ayah, besok saya siapkan semuanya!" kata Ahmad pasrah.
"Asiiiik, liburan!" Mona pun bersorak seperti anak kecil.
Tanpa sadar Ahmad menyunggingkan senyumnya melihat kelakuan Mona, selepas sarapan Ahmad pun pamit kepada Ayah mertuanya dan pada Mona. Ahmad tak menyangka tiba-tiba Mona mencium tangannya dengan takzim, yang membuat hatinya bergetar.
"Hati-hati di jalan Mas, jangan ngebut bawa mobilnya!" ujar Mona melambai hingga mobil Ahmad melaju pergi menjauh meninggalkan halaman rumah.
** Setibanya di kantor, Ahmad terlihat bengong di ruangannya. Sampai tidak sadar bahwa Adi tengah memperhatikannya, lalu menggeleng pelan dan duduk di kursi depan meja Ahmad.
"Temanku kenapa ini? Apa dia kerasukan, tolongin Aim ya Allah!" kelakar Adi kemudian.
Ahmad pun melirik dengan ekor matanya, lalu memukul lengan Adi.
"Auw!" jerit Adi.
"Apaan sih Di, kayak cewek aja kamu!" tukas Ahmad.
"Habisnya, kamu pagi-pagi udah bengong aja. Pikirin apaan sih?" tanya Adi penasaran.
"Aku bingung ada apa dengan Mona, dari kemarin siang dia aneh. Sampai tadi pagi aku mau berangkat kerja, tiba-tiba dia cium tanganku. Aneh kan?" terang Ahmad dengan ekspresi bingung.
"Ya mungkin dia sudah sadar kali bro, kalau kamu adalah suami yang tepat untuknya. Sudah kerjaan mapan, ganteng, kurang apa coba. Kalau aku cewek, mungkin aku bakal jatuh cinta kali sama kamu bang!" ucap Adi mengedipkan satu matanya ke Ahmad.
"Ih njs, amit-amit!" sahut Ahmad mengetok kepalanya dengan tangan lalu mengetok kan tangannya lagi ke meja.
"Serius Bro, di kantor kita banyak cewek-cewek yang naksir kamu. Cuma kamu nggak pernah melihat mereka, dan hanya fokus ke pekerjaan!" jelas Adi
"Biarlah, mereka suka aku atau tidak, itu hak mereka. Tetapi sekarang aku sedang bingung ini, dengan rencana bulan madu!" ungkap Ahmad kemudian, yang membuat Adi terkejut.
"Wow berita baru nih, ciyeee .... yang mau bulan madu!" goda Adi.
"Aku sebenarnya nggak mau pergi Di, Pak Andi yang pengen aku pergi. Jadi ya, mau nggak mau aku harus pergi!" jelas Ahmad.
"Kan asik bro, bisa mesra-mesraan sama istri?" Adi mengedip-ngedipkan matanya.
"Adi, haruskah ku perjelas lagi hubunganku dengan Mona? Dan karena apa kami terjebak dalam pernikahan ini!" tukas Ahmad.
"Iya, aku paham. Tapi bagaimana jika nanti kalian khilaf saat tengah bulan madu?" goda Adi.
"Semoga tidak, kamu tahu kan Mona sedang berbadan dua? Meski aku bukan lelaki ahli ibadah, tapi aku paham jika wanita yang hamil di luar nikah itu tidak boleh dig*uli. Dosa bro!" terang Ahmad.
"Iya juga ya, yang sabar deh bro. Kalau aku yang deket-deket mbak Mona, mungkin aku nggak bakal sekuat kamu!" ujar Adi menepuk pundak sahabatnya.
"Oh iya, hari ini bukannya kita ada rapat dengan klien di luar kantor?" ucap Ahmad.
"Iya, ayo berangkat sekarang. Mari Bapak Ahmad."
"Baiklah, mari Bapak Adi!" sahut Ahmad kemudian.
Keduanya pun tertawa lepas sambil keluar ruangan, dan berjalan melewati koridor kantor. Setelah itu mereka segera menuju parkiran, lalu bergegas ke tempat rapat menggunakan mobil Adi.
Di kejauhan ada seseorang yang mengendarai mobil sedan berwarna hitam memperhatikan mereka, mobil itu dikendarai seorang pria paruh baya. Berbadan tinggi besar, dan bertubuh tegap. Dia mengenakan jaket kulit berwarna hitam, bertopi, dan menggunakan kacamata hitam. Setelah mengamati cukup lama, hingga mobil Adi pergi. Pria itu mengambil ponsel yang ada di dalam jaketnya, lalu menelepon seseorang.
"Halo Pak, target meluncur ke lokasi. Tapi dia tidak sendiri, dia bersama seorang pria." Kata pria tegap itu.
"Baik, terimakasih infonya. Lanjutkan pemantauan, jangan sampai terlihat mencurigakan dan jangan sampai ketahuan." Ucap pria di seberang telepon.
"Siap, laksanakan."
Telepon pun ditutup, si pria berbadan tegap pun segera pergi mengikuti mobil yang dikendarai Ahmad dan Adi.
Siapakah pria itu? Apakah dia orang jahat? Nantikan part selanjutnya... Terimakasih sudah membaca....