Bab 13. Rahasia Besar
"Siap, laksanakan."
Telepon pun ditutup. Si pria berbadan tegap pun segera pergi mengikuti mobil yang dikendarai Ahmad dan Adi.
Beberapa menit mobil yang di kemudikan Adi melaju meninggalkan kantor YP Grup menuju JN Grup, sementara mobil sedan hitam itu masih terus mengikuti mereka yang tidak menyadarinya.
Tibalah mereka di JN Grup, keduanya lalu masuk ke kantor yang memiliki gedung tinggi itu dan menuju ke meja resepsionis.
"Permisi, Mbak. Saya dari perusahaan YP Grup mau ketemu CEO perusahaan JN Grup. Sudah ada janji sebelumnya!" kata Ahmad kepada wanita dengan rambut sebahu itu, di bajunya tertulis nama Gita.
"Baik. Silahkan tunggu sebentar ya, Pak!" ucap mbak-mbak resepsionis itu dengan ramah.
️"Halo! Selamat pagi Bu Wina. Ini ada tamu untuk Pak Abdul, tolong sampaikan pada Pak Abdul bahwa mereka baru saja tiba. Oh begitu, baik Bu. Akan saya sampaikan, baik. Terimakasih!" ucap Gita menutup teleponnya.
"Bapak Ahmad, mohon tunggu sebentar ya! Sebentar lagi Anda akan di jemput oleh Bu Wina, selaku sekretaris Pak Abdul. Silahkan duduk dulu ya Pak Ahmad dan Pak ...?" ucap Gita menggantung kata-katanya.
"Adi!" sahut Adi menimpali.
Gita pun mempersilahkan Ahmad dan Adi di ruang tunggu, dan meninggalkan mereka, kembali menuju meja resepsionis.
Tak berselang lama seorang wanita dengan usia yang cukup matang datang menghampiri mereka, dia memperkenalkan diri sebagai sekretaris Pak Abdul.
Setelah itu Ahmad dan Adi diminta mengikuti Wina, lalu Wina pergi menuju lift dan menekan tombol angka 20 tempat sang atasan sekaligus pemilik perusahaan. Mereka berdua pun masuk mengikuti Wina, tak berapa lama mereka sampai.
Pintu lift terbuka, Wina mengantarkan mereka ke ruangan Pak Abdul. Lalu dia pun mengetuk pintu dari ruangan tersebut.
"Permisi, Pak. Ini ada orang-orang dari YP Grup sudah sampai!" ujar Wina kemudian.
"Iya! Langsung ajak masuk saja, Wina!" jawab pria di balik pintu dengan suara berwibawa.
"Silahkan masuk, Pak!" ujar Wina dengan sigap sambil membukakan pintu untuk mereka.
"Selamat datang di JN Grup, silahkan duduk Pak Ahmad dan Pak Adi!" sapa Pria paruh baya, dengan tubuhnya masih terlihat bugar di usia yang tak lagi muda.
Terlihat beliau mengamati Ahmad dari atas ke bawah, saat itu Ahmad menggunakan kemeja putih dan jas hitam. Dengan potongan rambut undercut, dan juga sepatu pantofel yang menambah pancaran aura pada Ahmad.
"Mau minum apa?" tawarnya kemudian sambil tersenyum.
"Tidak usah repot-repot Pak!" jawab Ahmad, yang kemudian duduk berbarengan dengan Adi.
"Ah tidak merepotkan, kalian berdua kan tamu di sini."
"Wina!" panggil Pak Abdul.
"Iya, Pak!" jawab Wina.
"Siapkan kopi untuk kami, juga Snack dan segera antar kemari." Perintah Pak Abdul pada Wina, sang sekretaris.
"Baik, Pak." Jawab Wina membungkukkan tubuhnya kemudian berlalu pergi ke pantry.
Sementara itu Pak Abdul memulai rapat, dan semuanya berjalan lancar. Kedua pihak pun menandatangani kontrak, lalu saat Ahmad dan Adi akan pamit. Pak Abdul memberikan sebuah flashdisk kepada Ahmad, dan mengatakan untuk memutarnya saat sedang sendirian.
Setelah perjanjian bisnis mereka selesai, akhirnya mereka pun pamit untuk kembali ke kantor YP Grup.
"Baik. Terimakasih atas kerjasamanya, Pak Abdul!" ucap Ahmad menjabat tangan Pak Abdul.
"Sama-sama, senang bekerjasama dengan anda. Dan hati-hati dijalan!" jawab Pak Abdul tersenyum.
Ahmad dan Adi pun turut membalas senyuman pria parubaya tersebut sebelum akhirnya mereka segera meninggalkan kantor Pak Abdul dan bergegas kembali ke kantor mereka.
"Pak, maaf. Kenapa bapak tadi tidak menjelaskan kepada Pak Ahmad, jika anda adalah Ayah kandungnya?" tanya sang sekretaris merasa penasaran sembari merapikan berkas-berkas di meja atasannya itu.
"Aku tidak sanggup mengatakan sendiri padanya, Wina. Makanya tadi aku menyerahkan flashdisk yang berisi semua tentang dia di masa kecil, biar dia tahu ketika melihat rekaman itu. Saat masih bersamaku dan sebelum aku pergi meninggalkan dia dan Ibunya!" tutur Pak Abdul dengan raut wajah sedih.
Sebuah rahasia yang sungguh mengejutkan, bahwa Ahmad Jaelani yang dikenal sebagai seorang sopir, ternyata adalah anak dari seorang CEO perusahaan terbesar di negeri ini. Dan Pak Abdul menyimpan rahasia sebesar itu sendiran, hanya beberapa orang kepercayaannya yang mengetahui hal itu.
** Sementara itu Ahmad dan Adi yang baru saja sampai di kantor, dan baru saja Adi selesai memarkirkan mobilnya. Tiba-tiba Brian datang entah dari arah mana, lalu kemudian langsung memukul wajah Ahmad yang baru saja turun dari mobil. Ahmad yang belum ada persiapan pun langsung tersungkur, tepian bibirnya pun berdarah.
"Apa masalahmu denganku Brian?" hardik Ahmad berdiri, lalu mengangkat kerah baju Brian dengan wajah marah dan penuh emosi.
"Kamu telah merebut Mona dariku!" teriak Brian emosi.
"Hei! Kamu nggak punya kaca ya di rumah? Bukannya kamu meninggalkannya begitu saja, dan tak bisa di hubungi saat hari pernikahan kalian!" bentak Ahmad tak mau kalah.
Dia merasa emosi dengan pria di hadapannya, karena pria itu telah bersikap pengecut di hari pernikahannya dengan meninggalkan Mona sendirian di pelaminan.
"Ahmad, Brian, cukup. Nggak enak dilihat orang banyak!" sela Adi berusaha melerai.
"DIAM!" teriak Ahmad dan Brian bersamaan.
Mereka berdua, yang saling terbakar emosi pun melanjutkan baku hantam. Lalu seorang pria paruh baya yang sejak tadi mengawasi Ahmad pun mendekati mereka, dan berusaha melerai.
"Cukup, saya harap Bapak meninggalkan tempat ini!" tegasnya pada Brian, yang membuat nyalinya menjadi ciut.
"Cih!" decak Brian pergi menjauh.
Sementara Ahmad, menatap tajam kepergian Brian. Dari wajahnya, masih terlihat ada emosi di sana.
"Awas kau nanti Ahmad, tunggu pembalasanku!" teriak Brian mengacungkan jari tengahnya ke arah Ahmad, lalu berlari menuju mobilnya dan pergi meninggalkan tempat itu.
"Terimakasih, Bapak sudah membantu melerai teman saya!" ucap Adi menjabat tangannya.
"Tidak masalah, sudah tugas saya. Baiklah, saya permisi. Mari!" pamit Bapak itu kembali menuju mobilnya.
Setelah masuk ke mobilnya, dia pun menghubungi seseorang yang kemungkinan adalah atasannya.
"Pak, sepertinya anak Bapak punya musuh. Tadi, baru saja saya melerai orang yang memukul anak Bapak!" paparnya kemudian.
"Tapi Anak saya tidak apa-apa kan Pak Rahmat?" tanya orang di seberang telepon yang ternyata adalah Pak Abdul, jadi selama ini beliau mengamati dan memperhatikan Ahmad dari jauh tanpa sepengetahuannya.
"Tidak ada masalah serius Pak, dia hanya terluka sedikit di sudut bibirnya karena di tonjok pria tadi!" jelas pria yang bernama Rahmat itu.
"Coba nanti kamu selidiki, siapa pria yang memukul anak saya!" cetus Pak Abdul.
"Baik, siap PAK!" jawab Pak Rahmat tegas.
"Terimakasih Pak Rahmat, silahkan kembali bertugas!" imbuh Pak Abdul, mengakhiri panggilan telepon.
"Baik Pak!" jawab Pak Rahmat menutup teleponnya, dia pun segera pergi meninggalkan tempat itu.
Sementara itu Ahmad bingung kenapa tiba-tiba Brian ada di depan kantor menunggunya, bukannya beredar kabar dia kabur ke luar negeri dengan selingkuhannya. Pikiran Ahmad pun berputar-putar, lalu dia heran dengan pria misterius yang melerai perkelahiannya dengan Brian tadi.
** Sementara itu di tempat lain, Mariska dan kekasihnya yang bernama Jerry sedang merencanakan sesuatu.
"Gimana ini Jer? Brian sudah susah buat di rayu, uangnya susah buat keluar. Uangku juga sudah mulai menipis lagi, aaakkhhh! Aku harus gimana sayang?" gerutu Mariska mengerucutkan bibir sambil bersandar di bahu Jerry.
"Hmm, apa kita culik aja si Mona Yang? Terus nanti kita minta tebusan ke Suaminya, juga ke Brian. Tapi nanti kita nyuruh orang lain yang melakukannya, gimana?" tukas Jerry dengan ide liciknya.
"Waah, ide bagus tuh Say. Aku setuju, kita bakal punya banyak uang. Kita minta tebusan berapa nanti?" Mariska tersenyum menyeringai.
"Gimana kalau lima ratus juta?" imbuh Jerry tersenyum licik.
"Oke, aku setuju say. Tapi apa kamu nggak terlalu jahat ke Brian? Dia sahabat kamu lho!" Mariska pun memeluk sang kekasih.
"Emang Mona bukan sahabatmu juga?" tukas Jerry kemudian
"Iya juga ya!" ucap Mariska menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Hahahaha!" Mereka berdua pun tertawa bersama.
** Sementara itu Mona yang sedang bersantai di teras belakang rumah sambil memainkan gawainya, tiba-tiba mendapat pesan dari aplikasi hijau.
["Mona, aku merindukanmu. Maafkan aku yang telah meninggalkanmu, aku menyesal. Bisakah kita kembali lagi seperti dulu?"]
Siapakah pengirim pesan itu? Tunggu part selanjutnya....