Bab 14. Mona Berhijrah
"Mona, aku merindukanmu. Maafkan aku yang telah meninggalkanmu, aku menyesal. Bisakah kita kembali lagi seperti dulu?"
Seketika air mata menetes, mengingat kejadian waktu akad nikah yang hampir gagal. Karena Brian pergi meninggalkannya bersama Mariska, hatinya masih begitu sakit. Meski sekarang dia berusaha mencoba untuk membuka hatinya untuk Ahmad, tapi dia masih merasakan sakit itu.
"Mona, apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi? Apa kamu sudah menyerah dengan cinta kita, kenapa kamu tidak membalas pesanku?"
Mona hanya membaca pesan itu, lalu cepat-cepat mematikan handphone nya. Dia tidak ingin lagi mengenang Brian, yang baginya sekarang adalah masa lalu. Yang penting sekarang dia belajar menjadi istri yang baik untuk Ahmad. Tak lama kemudian ....
"PAKET!"
Terdengar teriakan kurir antar barang dari luar rumah, Mona menghapus jejak air mata yang tadi menetes di pipinya. Lalu segera menuju ke pintu utama rumahnya.
Mona pun lantas membuka pintu.
"Paket atas nama Monalisa Permana!" ujar kang paket.
"Iya saya sendiri!" jawab Mona.
"Silahkan tanda tangan di sini!" ucap kang paket, seraya meminta Mona untuk menandatangani bukti terima barang di selembar kertas.
"Iya."
"Ini mbak, sudah di terima ya paketnya!" tukas kang paket kemudian.
"Iya Pak, terimakasih."
"Sama-sama mbak, mari!" pamit kang paket pergi.
"Iya!" sahut Mona tersenyum simpul.
Mona pun segera masuk ke dalam rumah, dan menuju kamarnya. Lalu di bukalah kotak paket yang ukurannya lumayan besar itu, setelah terbuka terpampang lah isinya. Beberapa set gamis beserta hijabnya, dengan warna-warna yang terkesan kalem.
Ya, Mona ingin merubah penampilannya. Keterpurukan membuatnya sadar, bahwa dia kurang mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Kemudian dicoba lah satu gamis berwarna coral dan mematut diri di depan cermin, dia terlihat begitu berbeda. Entah apa nanti yang akan di pikirkan Ayah dan Suaminya, saat pulang nanti dan melihatnya seperti ini.
Tak berselang lama, bel rumah berbunyi kembali.
"Itu pasti Lala dan Jenny! Akhirnya mereka sampai juga!" tukas Mona senang, lalu bergegas membukakan pintu.
"Lala, Jenny kalian lama banget sih sampai sini nya ... Brian?! Kamu! Kamu ngapain kemari? Bukannya kamu ada di luar negeri?" tanya Mona terlihat bingung dan terkejut, ada perasaan takut pada dirinya saat Brian mulai mendekat.
Awalnya dia menduga jika yang datang adalah Lala dan Jenny, dan ternyata dugaannya salah sebab yang datang ternyata adalah Brian.
"Mona, kamu kenapa jadi semakin cantik begini. Aku kangen kamu, Sayang!" ucap Brian mendekat dan ingin memeluk Mona.
"Stop, Brian. Jangan dekat-dekat!" tukas Mona mundur perlahan dan menjauh.
"Ayolah, Sayang. Apa kamu tidak merindukanku? Masa-masa indah kita bersama?" sahut Brian terus mendekat, dengan nafas mulai memburu.
"CUKUP! Jangan macam-macam kamu. Aku ini istri orang, nggak sepatutnya kamu seperti itu ke aku!" hardik Mona berusaha menjauhi Brian, namun Brian terus mendekat dan mendesak Mona.
"CK, kenapa kamu begitu membanggakan suamimu yang hanya seorang sopir itu Mona. Ayolah, kita lari saja. Aku punya segalanya, aku akan menyayangimu dan memberikanmu segalanya!" timpal Brian dengan tatapan yang tak biasa.
Tangan Mona melayang dan lantas menampar pipi Brian untuk pertama kalinya, entah kenapa dia merasa tidak senang ketika pria dihadapannya menghina Ahmad yang kini berstatus suaminya tersebut.
"CUKUP! Jangan kamu menghina suamiku, dia lebih baik dari kamu. Yang habis manis, sepah kau buang. Bukannya kamu sudah membuangku Brian Pradana, sekarang keluar dari rumahku dan pergi jauh dari hidupku untuk selamanya!" teriak Mona emosi.
"Jangan begitu, Sayang. Ayolah!" Brian semakin mendekati Mona, lalu mendorongnya ke sofa dan hendak melecehkannya.
"TIDAK! TOLONG!" teriak Mona berharap seseorang datang menolongnya.
Tiba-tiba seseorang datang dan menarik baju Brian dari belakang, lalu... Sebuah bogem mentah melayang ke pipi Brian, dia pun meringis kesakitan hingga nampak sudut bibirnya mengeluarkan dar*h.
"WOI! Berani ya kamu datang ke sini!" teriaknya sosok itu emosi melihat pria di hadapannya.
"Jangan ikut campur urusanku!" pekik Brian mulai emosi.
"Apa tadi yang mau kamu lakukan pada Mona? HAH! Dasar buaya, jangan berani-berani ya kamu ganggu Mona lagi!" hardik seseorang yang tadi memukul Brian lagi.
"Emang kenapa? Apa itu masalahmu? Jangan ikut campur ya kalian!" sungut Brian melotot tak suka dengan kedatangan dua gadis itu.
"Jelas itu urusan kami. Kami sahabat Mona yang sebenarnya. Tidak seperti Mariska, cewek sundal itu!" tegas Lala, ternyata Lala dan Jenny datang tepat pada waktunya.
Orang yang meninju wajah Brian adalah Lala, dia memang berbeda dari gadis lain. Lala sedikit tomboi, setia kawan dan tidak takut pada siapapun. Sementara Jenny, dia langsung memeluk Mona yang sedang ketakutan dan menangis. Dia begitu membenci dirinya sendiri, kenapa dulu dengan mudah memberikan segalanya untuk lelaki bre*sk seperti Brian.
Mona jadi teringat ucapan Ahmad, tentang Brian saat hari pertama pernikahan mereka, sedang dia tidak mempercayainya kala itu. Meski ternyata semua itu akhirnya terbukti dengan pernyataan kedua sahabatnya yang membenarkan hal tersebut
Tangan Brian segera bersiap akan menampar Lala, kemudian dengan sigap Lala langsung memegang tangan itu lalu memelintirnya hingga Brian meringis kesakitan. Sesaat Lala melepaskan cekalan tangannya, lalu tiba-tiba Brian akan melawan kembali dengan tinjunya. Dengan cepat Lala menangkisnya, dan menendang Brian hingga terjengkang ke belakang hingga kepalanya membentur daun pintu.
"Masih belum menyerah?" tantang Lala yang masih dalam pose kuda-kudanya.
Akhirnya tanpa banyak bicara Brian meninggalkan rumah Mona, mengingat dia tidak akan pernah bisa menang melawan Lala yang notabene pemegang sabuk hitam Taekwondo.
"Lihat saja kau Mona, hidupmu tak akan pernah bahagia dengan sopir itu. Aku tidak akan semudah ini menyerah padamu, kau milikku selamanya Mona!" gumam Brian menjauh dari rumah Mona, lalu menuju mobilnya dan mobil itu pun melesat pergi menjauh dari pandangan.
Sementara itu di kejauhan ada yang sedang mengawasi kegaduhan yang baru saja terjadi di rumah Mona, orang tersebut menganggukkan kepalanya dan tersenyum menyeringai lalu pergi meninggalkan tempat itu.
"Mona, kamu tidak apa-apa?" tanya Lala khawatir.
"Aku tidak apa-apa, untung kalian datang tepat pada waktunya. Terimakasih!" tutur Mona dengan mimik wajah yang masih ketakutan dengan mata yang nampak berembun.
Sejenak tadi Mona merasa ketakutan hingga membuatnya sedikit menangis, dia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya jika kedua sahabatnya tidak datang pada waktu yang tepat.
"Aku tidak menyangka, Brian melakukan hal yang begitu hina seperti ini!" tukas Jenny.
"Ya sudah, yang penting Mona baik-baik saja sekarang. Mulai sekarang jangan pernah tinggal di rumah atau pergi kemanapun sendirian, kamu harus sewa jasa bodyguard mulai sekarang Mona. Aku khawatir Brian akan bertindak nekat lagi nanti!" timpal Lala kemudian.
"Iya!" jawab Mona lesu.
"Tunggu! Mona, kamu cocok sekali menggunakan gamis. Cantik sekali, iya kan Jenny!" tukas Lala kepada Jenny sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Iya, cantik banget sahabatku yang satu ini. Aaaaah ... Jadi sayang!" ucap Jenny manja seperti biasa.
Mona pun tersenyum dengan tingkah sahabatnya itu, sementara Lala dan Jenny tersenyum sambil saling mengangguk. Mereka berhasil membuat Mona tersenyum lagi.
** Sementara itu seperti biasa Ahmad dan Adi makan siang bersama di kantin kantor, di sana juga ada Naysila. Ternyata kantor tempat kerja Naysila tidak jauh dari situ, makanya Naysila sering makan di kantin itu. Mereka pun makan sambil mengobrol dan mengenang masa-masa kuliah mereka dulu, sampai Adi bertanya pada Naysila tentang hal yang bersifat pribadi.
"Jadi Nay, kamu sudah menikah?" tanya Adi terang-terangan.
"Uhuk, uhuk." Ahmad pun jadi tersedak mendengar pertanyaan Adi pada gadis yang panggilannya Nay itu.
"Aku belum menikah Adi!" jawab Naysila.
"Yes!" ucap Ahmad setengah berbisik, dengan tangan di bawah meja yang mengepal penuh semangat.
"Kenapa Ahmad? Kamu bilang sesuatu?" tanya Naysila.
"Tidak, itu lho ada lalat. Hush, hush!" jawab Ahmad berkilah.
"Ooooh, tapi aku punya tunangan Adi. Namanya Ridwan, kalian masih ingat nggak?" tanya Naysila kemudian.
"Ridwan!" ujar Ahmad dan Adi kompak.
"Ridwan si anak culun, anak Ibu kantin kita itu? UPS! sorry. Kelepasan!" cerocos Adi sambil menutup mulutnya, sementara Ahmad melotot ke arahnya.
"Iya, Ridwan yang itu. Tapi sekarang dia nggak seperti itu tahu," ujar Naysila.
Tak berapa lama seorang pria tampan mendekat ke arah mereka.