Bab 15. Kabar Buruk

Penulis regular20
14 October 2025

Bab 15. Kabar Buruk

"Iya, Ridwan yang itu. Tapi sekarang dia nggak seperti itu tahu," ujar Naysila.

Tak berapa lama seorang pria tampan mendekat ke arah mereka.

"Nah itu dia, orangnya datang!" ucap Naysila.

"Hai, Ahmad, Adi. Apa kabar kalian?" kata pria tampan yang di sebut Naysila adalah tunangannya yang bernama Ridwan.

Ahmad melirik pria itu sambil memainkan ponselnya, dia merasa tidak tertarik mengobrol dengan pria tersebut.

"Aku baik!" ucap Ahmad tanpa ekspresi.

"Kamu masih sama seperti dulu ya, Ahmad. Masih dingin seperti es, pantesan semua wanita nggak ada yang mau sama kamu," cetus Ridwan, yang sedikit mengusik ego Ahmad.

"Apa maksudmu bicara begitu Ridwan?" sergah Ahmad seraya berdiri dari duduknya, dan langsung memegang kerah baju Ridwan.

Dia merasa emosi dengan apa yang dikatakan oleh pria itu, Ahmad merasa jika harga dirinya terluka sebab dikatakan tidak ada wanita yang mau dengannya.

"Hei! Sudah-sudah. Kalian ini, baru ketemu kok sudah begini sih. Apa sih yang kalian ributkan?" ucap Adi menengahi.

Akhirnya mereka pun duduk tenang, tapi mereka masih saling menatap tajam satu sama lain.

"Emm kita pesan camilan yuk!" ujar Naysila memecah keheningan.

"Kamu mau apa, Mas?"

"Terserah!" ucap Ahmad dan Ridwan kompak.

"Ciiiee, kompak niyeeee...! Jangan-jangan kalian jodoh!" celetuk Adi.

Ahmad dan Ridwan pun langsung melihat Adi lalu memelototinya, Adi pun langsung menutup mulut dengan kedua telapak tangannya.

"Mulut nakal, mulut ember, kenapa nggak bisa ngerem kalau ngomong!" ucapnya sambil memukul mulutnya sendiri.

"Sudah ah, kalian ini seperti anak kecil saja!" ujar Naysila.

Akhirnya mereka pun diam, lalu Naysila segera memesankan beberapa menu camilan untuk mereka.

"Nay, aku mau ke toilet dulu ya sebentar!" tukas Ridwan berdiri dari tempat dia duduk.

"Iya, Mas. Jangan lama-lama lho, nanti aku kangen!" ucap Naysila tersenyum. Lalu Ridwan membalas tersenyum dan mengusap lembut kepala Naysila yang terlindungi hijabnya.

Sementara itu Ahmad yang dari tadi mengawasinya, wajahnya merah padam. Dia bingung akan perasaannya sendiri, darahnya berdesir saat melihat Mona. Tapi dadanya bergemuruh, melihat Naysila dekat dengan pria lain.

Setelah beberapa waktu akhirnya makanan yang mereka pesan pun datang, sementara Ridwan tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Padahal sudah lama dia pergi ke toilet, tak berselang lama handphone Naysila berbunyi.

"Nay, maaf ya barusan klien aku menelepon. Dia mengajak meeting mendadak, maaf aku nggak bisa nemenin kamu!" tukas Ridwan di seberang telepon beberapa saat setelah menghubungi gadis itu.

"Iya, Mas. Tak apa, bukannya memang selalu begitu!" sahut Naysila dengan wajah lesu.

"Sudah ya. Aku sayang kamu!" ucap Ridwan mengakhiri obrolan.

"Ya!" jawab Naysila malas.

Ahmad dan Adi saling berpandangan, mereka bingung dengan apa yang mereka lihat.

"Nay, kamu kenapa?" tanya Adi membuka suara.

"Aku tak apa!" jawab Naysila dengan wajah menunduk, terlihat buliran bening mulai mengalir di pipinya.

"Kenapa, Nay? Ceritakan pada kami apa masalahmu, siapa tahu kami bisa membantu!" ucap Ahmad menenangkan Naysila, tangannya ingin merengkuh tubuh gadis itu. Tapi dia ingat batasannya, tangan yang tadi terangkat, dia turunkan kembali.

"Maaf, aku belum bisa menceritakannya pada kalian." Naysila pun menghapus jejak air matanya, lalu berdiri.

"Baiklah kalau kamu tidak mau cerita, tapi sekarang kamu mau kemana?" tanya Ahmad.

"Aku mau balik ke kantor, Ahmad!" jawab Naysila akan beranjak pergi.

"Jangan pergi sendiri!" ujar Ahmad yang refleks mencekal pergelangan tangannya.

"Oh maaf!" imbuhnya, lalu melepaskan tangan Naysila.

"Iya, Nay. jangan pergi sendirian. Biar Ahmad yang mengantar kamu!" sahut Adi.

"Aku tidak apa, aku akan pergi sendiri Adi. Terimakasih!" tolak Naysila seraya berlalu pergi.

Ahmad dan Adi pun tidak bisa memaksa Naysila, mereka pun hanya menatapnya dari dalam kantin yang mayoritas dindingnya terbuat dari kaca yang besar.

Tiba-tiba mereka melihat ada dua orang lelaki berpakaian serba hitam menarik dan memaksa Naysila untuk masuk ke dalam sebuah mobil berwarna hitam, Naysila pun terlihat meronta-ronta dan berusaha memberontak tapi tenaganya tak cukup kuat untuk melawan tenaga dua orang lelaki dewasa itu. Sementara orang-orang disekitarnya hanya bisa melihat, mereka tidak cukup berani untuk membantu Naysila.

Ahmad langsung meletakkan beberapa lembaran berwarna merah di meja untuk membayar makanan yang mereka pesan. Lalu secepatnya dia dan Adi keluar dari kantin, tapi jarak antara tempat duduk mereka sampai luar kantin cukup jauh. Mereka terlambat sampai di sana, Naysila sudah di bawa pergi komplotan itu. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang mereka inginkan dari Naysila. Mereka pun tidak tahu akan hal itu, mereka berniat mengejar tapi tiba-tiba telepon Ahmad berbunyi.

Terlihat nomor yang tidak di kenal, Ahmad pun segera mengangkatnya. Setelah sebelumnya meminta Adi segera mengikuti mobil yang membawa Naysila.

"Haloooo, Bapak Ahmad!" ucap suara di seberang telepon.

"Siapa kamu? Dan ada urusan apa menghubungiku?" jawab Ahmad yang merasa aneh dengan telepon tersebut.

"Wah, jangan galak-galak begitu dong!" jawab pria diseberang telepon.

"Cepat jawab, aku tak punya banyak waktu!" pekik Ahmad.

"Lho marah? Jangan begitu ah! Apa mau terjadi yang tidak-tidak pada Istri anda?" Ancam pria itu.

"Apa maksudmu? Apa yang kau lakukan pada Istriku?" sergah Ahmad.

"Yaah, sekarang sih baik-baik saja. Tapi nggak tahu deh kalau nanti ...." Ucap pria misterius itu.

"Cepat! Katakan apa maumu?" tanya Ahmad kemudian.

Ahmad merasa khawatir dengan keadaan Mona saat ini, dan dia juga tidak tahu dengan siapa dia berbicara sekarang. Meski dia belum yakin dengan apa yang diucapkan oleh pria tersebut.

"Wah! Aku suka ini, langsung ke permintaan. Oke! Aku mau uang lima ratus juta cash. Bagaimana?" cetus pria misterius itu.

"Apa kau sudah gil*! Lima ratus juta? Aku tidak akan memberimu sepeser pun!" sergah Ahmad.

"Yakin?" timpal pria itu.

"Tentu saja!" sahut Ahmad.

"Oke, sedikit info saja untukmu Pak Ahmad. Orang suruhan ku telah berhasil menculik Istrimu, dan mereka sekarang sedang dalam perjalanan!" tutur pria itu tenang.

"Aku tidak percaya!" tukas Ahmad yakin.

Dia masih belum percaya jika saat ini Mona sedang diculik,sebab ia tahu jika istrinya itu kini sedang berada di rumah dan tidak pergi kemana-mana.

"Jika tidak percaya, coba sekarang kamu telepon dia. Apa bisa di hubungi? Aku akan kasih waktu sampai tengah malam nanti, aku akan menghubungimu lagi!" sambung pria itu menutup teleponnya.

"Apa benar Mona diculik? Aku harus cepat-cepat pulang untuk mengecek keadaannya!" tukas Ahmad beranjak pergi menuju parkiran dan melajukan mobilnya untuk pulang menuju rumah.

Meski Ahmad juga tidak bisa membiarkan orang yang membawa Naysila pergi, tetapi tanggung jawabnya kepada Mona lebih utama. Jadi dia meminta Adi untuk mengikuti mobil orang yang membawa Naysila pergi, sementara dirinya mengecek keadaan Mona.

** Disisi lain Naysila yang ada di mobil yang membawanya pergi, dia masih tidak bisa diam dan berusaha memberontak.

"Lepaskan aku! Siapa kalian!" teriak Naysila.

"Kamu tidak perlu tahu siapa kami!" jawab salah satu penculik itu.

"Tolong!" teriak Naysila, berharap akan ada orang yang mendengar suaranya dan memberikan bantuan untuknya.

"Hei perempuan! Bisa diam gak sih? Mau di gampar!" bentak pria botak berwajah sangar itu.

Naysila yang ketakutan pun hanya bisa menangis, sementara mereka sibuk dengan Naysila. Mereka tidak sadar jika sedang di ikuti oleh Adi dari belakang, tak lama orang yang berperawakan kurus dan berkumis tipis sedang menelepon seseorang.

"Bos, ini ceweknya udah kita bawa. Ceweknya pakek kerudung pan? Kulitnya putih, dia juga sedang bersama orang yang bos kasih lihat fotonya ke kita kemarin!" ujarnya.

"Bagus, segera bawa ke markas. Tapi ingat, jangan sampai dia terluka barang secuil pun!" ucap orang yang di panggil Bos itu.

"Beres Bos, siap. Kita meluncur ke markas!" tukas pria kurus menutup teleponnya.

**

Sementara itu di rumah Mona, Jenny dan Lala membantu Mona membuat kue. Karena Mona ingin belajar menjadi istri yang baik, dan ingin bisa membuat kue untuk anak-anaknya kelak. Tak lama, terdengar suara derum mobil memasuki halaman rumah Mona.

"Suara mobil siapa itu? Aku takut!" batin Mona yang terkesiap lalu refleks memeluk lengan Jenny, dia takut kalau-kalau Brian yang datang lagi.

Lalu Lala segera mengecek dari jendela, untuk melihat siapa yang datang juga bersiaga jikalau Brian yang datang.