Drama #Merayu

Tiba-tiba Cinta _Membujuk_Bab 8

Penulis MIA
15 October 2025

Adrian sudah rapih dengan pakaian kasualnya dan berdiri bersandar pada mobil SUV-nya sambil menyilangkan kaki, menunggu Maya keluar dari rumah.

Tak seperti biasa, di mana lelaki itu akan menjemput Maya dengan setelan jas formal tiga potong, layaknya pegawai pemerintahan pada umumnya, kali ini Adrian tampak lebih santai dengan menggunakan sweater yang membungkus kemeja di dalamnya dan dipadukan dengan celana jeans yang sedikit longgar, seolah-olah dia akan bersantai sepanjang hari.

Ia terlihat lebih muda dengan style kali ini, lebih segar dengan rambut yang masih setengah basah dan disisir acak namun tertata. Tentu saja hal itu menambahkan pesona tersendiri pada dirinya. Ia berharap dapat memberi kesan lebih baik lagi saat bertemu Maya nanti.

Yang ditunggu-tunggu akhirnya keluar, membuat Adrian menegakan tubuhnya dan menghampiri Maya dengan segera.

Namun respon Maya tak seperti biasanya yang tersenyum dan langsung patuh masuk ke dalam mobil, hari ini raut wajah sempit itu tampak murung. Bahkan ketika Adrian mendekat, Maya menghindarinya.

“Maya … ada apa?” Adrian bertanya ragu, keanehan yang nampak pada Maya membuatnya tak nyaman.

“Aku naik taksi saja,” jawab Maya sambil lalu, menjauh dari Adrian sejauh-jauhnya.

Adrian semakin kebingungan, dia tak mengerti kenapa Maya bahkan tidak mau melihatnya.

“Maya, tunggu!” Adrian tak membiarkan Maya pergi begitu saja, lelaki itu menahan lengan Maya supaya berhenti. “Ada apa? Apakah aku melakukan kesalahan?” sambungnya lagi melontarkan pertanyaan.

Perlahan, Maya melepaskan tangannya yang digenggam Adrian. Ia mendongak, menatap Adrian dengan tatapan penuh kebencian. Tentu saja semua itu tak luput dari perhatian Adrian, dan malah membuat Adrian panik setengah mati, disertai kebingungan yang semakin menderanya.

Detik selanjutnya, Maya tersenyum seolah mengejek. “Kau yakin bahwa kau tidak melakukan kesalahan, Tuan muda?”

Ucapan Maya menusuk ke dalam hati Adrian, layaknya jarum kecil menyelusup tanpa jejak dan tiba-tiba menyakitkan.

Panggilan “Tuan Muda” akan memiliki makna yang baik, apabila yang melakukannya adalah para pegawai ayahnya juga para pelayan di rumahnya. Tetapi sangat menghinakan karena Maya yang menyuarakannya. Seperti sedang diejek, Adrian merasa sakit hati dengan panggilan itu.

Pria itu hanya bisa menatap Maya dengan beribu pertanyaan di benaknya. Apa yang salah dengannya, atau … apakah yang telah ia lakukan sehingga membuat Maya tidak suka?

“Maya, aku tidak mengerti–”

“Apa tujuanmu sebenarnya?” potong Maya, tak memberi kesempatan bagi Adrian untuk berkata lebih banyak. Mata bulat kecil itu memancarkan cahaya permusuhan yang kental dan tak repot untuk disembunyikan oleh Maya.

“Maya–” belum sempat Adrian berkata lagi, Maya sudah mengibaskan tangannya, seakan-akan berarti bahwa Adrian tidak perlu bicara lagi, karena apapun yang keluar dari mulutnya, itu tidak berguna, dan Maya tidak akan percaya.

“Kalau kau berharap aku akan memenuhi keinginanmu mendapatkan umpan meriam, maaf kau salah orang,” tuduh Maya penuh teka-teki. Meninggalkan Adrian begitu saja tanpa penjelasan yang bisa dipahami.

Adrian termenung, hanya bisa menyaksikan kepergian Maya menjauh lalu masuk ke dalam mobil taksi yang seakan sudah bekerjasama untuk menjauhkan Maya darinya, dengan penuh tanda tanya.

Sebenarnya, apa yang sudah terjadi pada Maya? Kenapa Maya tampak begitu membencinnya?

Beberapa waktu berlalu, Maya sudah keluar dari tempatnya bekerja. Gadis itu tampak sangat lelah, dengan mata sayu dan wajah yang cukup pucat, masih ditambah dengan bibirnya yang terlihat kering layaknya kekurangan cairan.

“Maya,” sambar Adrian menghampirinya.

Sebenarnya Maya telah melihat Adrian jauh sebelum dirinya keluar dari tempatnya bekerja tadi. Tetapi dirinya sengaja berpura-pura tidak tahu dan menghindar.

Siapa sangka, Adrian malah mengejarnya dan kini menghentikannya.

“Lepaskan!” ronta Maya menarik paksa tangannya yang digenggam Adrian.

“Maya, jangan seperti ini. Kalau aku melakukan kesalahan, tolong katakan padaku. Aku tidak bisa kau mengabaikanku,” ucap Adrian. Lelaki itu menatap Maya dengan lekat, menunggu Maya mau berbicara padanya.

“Kau menyembunyikan sesuatu dariku, dan masih berniat jahat ingin memanfaatkanku. Apa ini cukup? Jadi, menyingkirlah dari jalanku.” Maya mendorong Adrian, namun tubuh lelaki itu ternyata cukup kokoh, tak bergeser sedikit pun dari tempatnya menghalangi jalan Maya.

“Apa? Apa yang ku sembunyikan darimu?” Pertanyaan Adrian kali ini benar-benar membuat Maya merasa jengkel.

Lelaki itu masih tidak ingin mengakuinya?!

Maya memutar bola matanya, seolah sangat bosan berada di dekat Adrian. Dan dirinya benar-benar tidak ingin berdrama dengan lelaki itu.

“Kalau begitu katakan dengan jujur, kenapa kau memilih aku? Kenapa kau datang ke rumahku dan melamarku tiba-tiba?”

Adrian tercengang, diam dengan mulut sedikit terbuka karna kesulitan memahami Maya.

Waktu itu … dia juga sudah mengatakan yang sejujurnya, bahwa kedatangannya untuk melamar Maya dan menjadikan Maya sebagai istrinya, adalah karena dirinya tertarik pada Maya. Dia menginginkan Maya. Apakah alasan itu tidak cukup?

“Kau tidak bisa menjawab! Karena kau memang tidak ingin aku tahu tujuanmu yang sebenarnya–”

Maya belum menyelesaikan ucapannya, tetapi tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dan dirinya lebih memilih mengabaikan Adrian dan mengangkat telepon lebih dulu.

“Maya … ini bibi. Nak … mungkin sementara waktu paman dan bibi tidak bisa kembali ke negara kita. Ada sedikit kendala. Maya, bisakah kau menjaga Sean untuk kami?”

Maya terdiam. Entah kenapa, instingnya yang tajam membuatnya menoleh pada Adrian dan senyum kecut yang ironis terpasang di wajahnya.

Tentu saja, kecuali Adrian dan ayahnya, tidak ada yang lebih diuntungkan jika paman dan bibinya tidak dapat kembali ke negeri ini.

Maya menutup telepon setelah menyanggupi permintaan sang bibi. Dia lalu mendongak, menatap wajah Adrian yang tinggi di atasnya dengan penuh janji.

“Mahar yang sudah kau siapkan untukku, dan uang yang sudah digunakan keluargaku, aku akan mengembalikannya padamu. Tanpa kurang sepeser pun!” ucapnya berlalu begitu saja.

“Maya! Maya!” Adrian tidak bisa menahannya lagi. Suaranya telah berubah menjadi rongrongan amarah yang memenuhi gendang siapapun yang mendengarnya.

Baiklah, karena Maya tidak mau mendengarkannya sebentar saja, jangan salahkan jika Adrian berbuat sesuatu yang akan disesalinya!

Ditengah kemarahan Adrian yang mengepalkan tangan seolah meremas dunia dan isinya, tiba-tiba sosok Jode datang. Pria itu mengelus dada tuannya dengan persuasif. Dia tentu tidak menginginkan tuannya kembali kolaps. Tetapi, dia jauh lebih tidak ingin tuannya berbuat sesuatu yang akan disesalinya.

“Tuan, bagaimana kalau Anda merayunya lagi. Para gadis akan sangat senang bila Anda membawakan makanan kesukaannya dan juga buket bunga. Tuan, cobalah sekali lagi. Nona Maya sangat pengertian, dia pasti akan mendengarkan Anda,” katanya membujuk Adrian.

Adrian yang hampir meledak, rupanya mampu diluluhkan oleh bujukan Jode. Pria itu melemaskan tangannya dan membuang napas perlahan.

“Kau, cari tahu apa saja yang disukainya. Sekarang! Cepat!” perintah Adrian tak dapat dibantah.

“Ba-baik!” Jode pun segera kembali masuk ke dalam mobil, meskipun dia harus berpikir ulang bagaimana dia akan mencari tahu.

Dia memang separuh dari Adrian. Jadi, apa yang diinginkan Adrian, dia harus berusaha mendapatkannya!

Bersambung ….