Bab 18 - Telpon Aneh

Penulis JanaIndria
15 October 2025

Terdengar suara Diandra di seberang, terdengar sedikit terkejut. "Iya, Sen? Ada apa? Apa semuanya lancar? Kamu sudah bicara dengan Kak Erlan?"

"Justru itu masalahnya, Di," jawab Arsen, suaranya berat. "Setelah kamu pergi, Erlan tidak pernah muncul di rumah sakit."

Terdengar keheningan sesaat di ujung sana. Keheningan yang bisa di pastikan sarat akan keterkejutan.

"Apa maksudmu tidak muncul?" tanya Diandra, nadanya berubah tajam, setelah sempat terdia, tadi sesaat.

"Aku bicara dengannya tadi siang. Dia setuju dengan rencana yang aku usulkan kok. Dia sendiri yang bilang akan langsung ke sana dan lagi pula dia sempat meneleponmu kan?!"

"Dia memang meneleponku, tapi dia tidak pernah sampai di sini," jelas Arsen.

"Aku sudah menghubunginya berkali-kali, tapi ponselnya tidak aktif. Emma sangat khawatir. Aku dan dia khawatir. Apa ada hal lain yang dia katakan padamu? Ke mana dia akan pergi? Atau apa pun?"

Lagi-lagi hening. Arsen bisa membayangkan Diandra di seberang sana sedang memutar otaknya, mencoba mencari kepingan puzzle yang hilang.

"Tidak ada," jawab Diandra akhirnya, suaranya terdengar cemas. "Dia hanya bilang setuju dan akan mengurus bagiannya untuk bicara denganmu. Setelah itu kami tidak bicara lagi. Ya Tuhan, Arsen... ke mana dia?"

Percakapan itu tidak memberikan pencerahan, malah menambah pekat kabut misteri. Erlan, sang pembawa kunci solusi, kini justru menjadi pusat dari masalah yang baru.

Arsen menutup telepon setelah berjanji akan saling memberi kabar. Ia menatap Emma yang masih bersandar padanya, wajahnya pucat pasi. Ia kemudian menatap ke luar jendela. Langit Jakarta sudah berubah warna menjadi jingga gelap. Senja telah tiba, membawa serta bayangan-bayangan panjang yang seolah menelan harapan.

"Sekarang kita bagaimana, Sen?" bisik Emma.

Arsen mengeratkan pelukannya. "Sekarang, kamu harus tenang. Itu yang paling penting. Biar aku yang memikirkan ini."

"Tapi bagaimana aku bisa tenang?" balas Emma, suaranya sedikit meninggi karena frustrasi dan takut. "Kakakku hilang, Sen! Dia tidak bisa dihubungi! Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk padanya?"

"Sssst, jangan bicara seperti itu," potong Arsen lembut namun tegas. Ia melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Emma dengan kedua tangannya, memaksa wanita itu menatapnya.

"Dengar. Erlan itu pria yang cerdas dan kuat. Dia bisa menjaga dirinya. Mungkin ada penjelasan yang sangat sederhana untuk semua ini."

"Penjelasan sederhana apa? Ponsel mati dan terjebak macet selama berjam-jam tanpa bisa mengabari siapa pun? Itu bukan Kak Erlan yang aku kenal!"

"Aku tahu, sayang, aku tahu," kata Arsen, mencoba terdengar lebih yakin daripada perasaannya yang sesungguhnya. "Mungkin... mungkin dia sengaja menghindar."

Emma mengerutkan kening. "Menghindar? Kenapa?"

"Aku tidak tahu. Mungkin rencana yang dia dan Diandra susun... mungkin dia tidak sanggup melakukannya dan butuh waktu sendirian. Mungkin dia merasa tertekan."

Itu adalah sebuah kemungkinan, tetapi keduanya tahu itu terasa lemah. Erlan bukan tipe orang yang lari dari tanggung jawab, seberat apa pun itu.

"Lalu kita harus menunggu sampai kapan?" desak Emma.

"Sampai besok pagi? Bagaimana kalau... bagaimana kalau kita lapor polisi?"

Arsen menghela napas panjang. "Sayang, polisi baru akan bergerak setelah seseorang hilang selama dua puluh empat jam. Kalau kita melapor sekarang, mereka hanya akan menyuruh kita menunggu. Itu hanya akan menimbulkan kepanikan yang tidak perlu. Beri aku waktu. Aku akan coba hubungi beberapa teman kantornya, mungkin ada yang tahu sesuatu."

"Baiklah," jawab Emma lirih, menyerah. Ia terlalu lelah untuk berdebat. Terlalu takut untuk sendirian, namun juga terlalu cemas untuk bisa tenang.

Arsen kembali duduk di sampingnya, satu tangannya tak pernah lepas menggenggam tangan Emma. Ia sibuk mengirim beberapa pesan singkat, wajahnya serius di bawah cahaya ponsel. Ruangan itu kembali hening, hanya diisi oleh suara napas mereka yang berat dan detak jam di dinding yang terasa seperti hitungan mundur menuju sesuatu yang tidak diketahui.

Tiba-tiba, keheningan itu pecah. Bukan oleh suara ponsel Arsen atau Emma.

Kriiing... Kriiing...

Suara itu terdengar parau dan asing. Keduanya sontak menoleh ke sumber suara ponsel milik Emma yang berwarna krem. Benda itu sangat jarang di perhatikan bahkan entah kenapa tidak pernah berdering selama Emma dirawat di sana.

Arsen dan Emma saling berpandangan, alis mereka bertaut.

Arsen beranjak lebih dulu. "Biar aku yang angkat."

Ia meraih ponsel itu, pomsel yang terasa dingin dan berdebu.

"Halo, selamat malam."

Hening sesaat di ujung sana. Hanya terdengar suara napas yang samar.

"Halo?" ulang Arsen, sedikit tidak sabar. "Dengan siapa saya bicara?"

"...Saya ingin bicara dengan Emma," jawab sebuah suara. Suara itu rendah, serak, dan terasa datar tanpa emosi. Seperti suara mesin. Arsen yakin ia belum pernah mendengarnya seumur hidup.

"Anda siapa? Ada perlu apa dengan istri saya?" tanya Arsen, nada protektifnya langsung muncul.

"Saya tidak punya urusan dengan Anda," balas suara itu, tetap dingin. "Berikan teleponnya pada Emma. Ini menyangkut keselamatan kakaknya, Erlan."

Jantung Arsen serasa berhenti berdetak sesaat. Darahnya seketika berdesir saat mendengar nama yang di sebut. Tanpa pikir panjang, tanpa pilihan lain, ia berbalik dan menyodorkan gagang telepon itu pada Emma.

Wajahnya pias, matanya menyiratkan perintah dan ketakutan dalam waktu bersamaan.

Emma menatap ponselnya dengan pandangan berbeda, seolah benda itu adalah seekor ular berbisa. Dengan tangan gemetar, ia mengambilnya dari tangan Arsen.

"Ha... halo?" bisiknya.

"Emma ….?" tanya suara itu, memastikan.

"Iya... ini saya. Anda siapa? Di mana kakak saya? Apa yang terjadi padanya?" rentetan pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Emma.

"Kakakmu aman bersama kami," jawab suara itu. Kata 'aman' diucapkan dengan cara yang membuatnya terdengar seperti ancaman.

"Dia baik-baik saja, untuk saat ini. Nasibnya selanjutnya, ada di tanganmu."

Napas Emma tercekat di tenggorokan. "Apa... apa maksud Anda? Apa yang Anda inginkan? Uang?"

Terdengar tawa kecil yang kering dan mengerikan dari seberang.

"Kami tidak butuh uangmu. Kami butuh dirimu."

"Saya... saya tidak mengerti."

"Dengarkan baik-baik, Emma. Karena aku tidak akan mengulanginya," kata suara itu, nadanya berubah menjadi tajam dan mengancam.

"Sebuah pernikahan akan dilangsungkan. Kamu akan menjadi pengantinnya. Kamu akan dirias, mengenakan gaun pengantin, dan berdiri di pelaminan." Dunia Emma serasa berputar.

"Pernikahan? Pengantin? Omong kosong apa ini?!"

"Kamu tidak akan menikah sungguhan. Kamu hanyalah pengantin pengganti. Di saat-saat terakhir, posisimu akan ditukar dengan pengantin yang sebenarnya. Anggap saja ini sebuah pertunjukan drama. Dan kamu adalah aktris utamanya."

"Ini gila! Saya tidak mau! Lepaskan kakak saya!" pekik Emma tertahan, air matanya mulai mengalir deras.

"Pilihan yang salah," desis suara itu.

"Jika kamu menolak, atau jika kamu mencoba berbuat bodoh... anggap saja kakakmu tidak akan pernah pulang ke rumah. Paham?"

Tubuh Emma menegang. Ancaman itu begitu nyata, begitu dingin, menusuk langsung ke jantungnya. Nyawa Erlan.

"Ada satu syarat lagi, dan ini yang paling penting," lanjut suara itu.

"Rahasiakan ini dari semua orang. Dari tunanganmu yang berdiri di sampingmu itu, dari sahabat-sahabatmu, dari siapa pun. Jika ada satu orang saja yang tahu, kesepakatan batal. Dan kamu tahu apa artinya itu untuk Erlan."

Lidah Emma terasa kelu. Ia melirik Arsen yang menatapnya dengan cemas, berusaha membaca setiap perubahan di wajahnya. Bagaimana mungkin ia menyembunyikan hal sebesar ini dari Arsen?

"Kenapa ... kenapa harus aku?" bisik Emma, pertanyaan terakhir yang sanggup ia keluarkan.

"Karena kamu adalah kelemahannya. Sama seperti Erlan yang sekarang menjadi kelemahanmu," jawab suara itu, sebelum menambahkan kalimat terakhir yang membekukan darahnya.

"Tunggu instruksi selanjutnya."