Klik.
Sambungan terputus. Ponsel itu meluncur dari genggaman Emma yang lemas, jatuh ke pangkuannya, pelan. Matanya menatap kosong ke depan, wajahnya tak lagi hanya pucat, tetapi benar-benar putih seperti kertas. Wajah seseorang yang baru saja melihat hantu.
"Emma!" Arsen langsung membungkuk di hadapannya, mengguncang bahunya pelan.
"Emma, sadar! Siapa itu? Apa katanya?! Apa yang terjadi pada Erlan?!"
Emma tersentak. Perintah terakhir dari suara di telepon itu menggema di benaknya. Rahasiakan ini. Jika ada satu orang saja yang tahu ....
Ia menatap wajah Arsen yang panik. Wajah pria yang ia cintai. Dan untuk pertama kalinya, ia harus membangun tembok di antara mereka.
"Bu-kan ... bukan siapa-siapa," jawab Emma dengan suara gemetar yang parau. Kebohongan pertama terasa begitu janggal dan menyakitkan di lidahnya.
"APA MAKSUDMU BUKAN SIAPA-SIAPA?!" tanya Arsen, mencoba menguasai emosinya walau dengan kepala yang terasa akan meledak.
"Orang itu tahu namamu! Dia menyebut nama Erlan! Aku melihat wajahmu, Emma, jangan berbohong padaku!" pintanya kini dengan sangat hati-hati, nadanya melembut menjadi permohonan yang putus asa.
Melihat kebingungan dan ketakutan di mata Arsen, Emma tahu kebohongan sederhana tidak akan cukup. Ia harus berakting.
Dengan sisa tenaganya, ia membiarkan isak tangis yang sejak tadi ia tahan meledak sepenuhnya.
"Aku tidak tahu, Kak! Sungguh!" tangisnya histeris, tubuhnya terguncang hebat.
"Suaranya aneh, seperti suara rekaman. Di-a, dia cuma bilang, kalau Kak Erlan baik-baik saja dan menyuruhku untuk tidak khawatir .... lalu teleponnya langsung mati. A-ku ... aku kaget-" Itu adalah kebohongan yang lebih kompleks, lebih masuk akal untuk menjelaskan reaksinya. Sebuah kebohongan yang dirancang dalam sepersekian detik di bawah tekanan yang luar biasa.
Arsen menatapnya, napasnya memburu. Amarah di matanya perlahan meredup, digantikan oleh kebingungan dan rasa iba.
Ia melihat kondisi Emma yang begitu rapuh, terguncang hebat. Sebagian dari dirinya tahu ada yang tidak beres, ada yang disembunyikan. Tapi sebagian lagi tidak tega untuk terus menekannya. Mendorongnya lebih jauh dalam kondisi seperti ini bisa berbahaya.
"Kamu yakin... hanya itu yang dia katakan?" tanya Arsen, suaranya melunak, meskipun keraguan masih terdengar jelas.
Emma mengangguk di tengah isak tangisnya. "Iya, kepalaku pusing sekali, Kak. Aku lelah ...."
Ia menggunakan kelemahannya sebagai perisai. Arsen, dengan berat hati, mundur selangkah. Ia memanggil perawat, yang datang dan memberikan obat penenang dosis ringan untuk Emma.
Beberapa saat kemudian, Emma berbaring dengan mata terpejam, berpura-pura mulai tenang. Arsen duduk di kursi di sampingnya, tak melepaskan pandangannya dari wajah Emma, juga genggaman tangan mereka.
Ia mengamati setiap tarikan napas, setiap getaran kecil di kelopak matanya. Ia tahu Emma tidak menceritakan semuanya. Telepon Aneh itu, ditambah hilangnya Erlan, telah menempatkan sebuah rahasia gelap di antara mereka.
Dan di dalam keheningan yang tegang itu, Emma tidak sedang beristirahat. Pikirannya menjerit. Kata-kata si penelepon berputar-putar tanpa henti. Jadilah pengantin pengganti, nyawa kakakmu taruhannya, jangan katakan pada siapa pun.
Sebuah pilihan mustahil telah dilemparkan padanya. Menyelamatkan kakaknya dengan mengorbankan dirinya dalam sebuah skenario gila, atau meminta tolong dan mempertaruhkan nyawa Erlan. Dan beban mengerikan itu harus ia tanggung sendirian.
Arsen mengira ia sedang melindungi Emma dari dunia luar. Padahal, musuh yang sebenarnya kini telah menyelinap masuk dan bersembunyi di dalam hati Emma sendiri. Sebuah rahasia yang akan menguji cinta mereka dengan cara yang paling kejam.
Satu jam berlalu dalam keheningan yang menyesakkan itu. Arsen tidak beranjak, hanya sesekali membalas pesan dari Diandra dan teman-temannya yang lain dengan jawaban singkat bahwa Emma sedang istirahat dan belum ada kabar dari Erlan. Tepat ketika malam semakin larut, pintu kamar terbuka pelan.
Yang masuk bukan perawat, melainkan sepasang suami istri paruh baya yang raut wajahnya memancarkan otoritas dan kekhawatiran yang mendalam. Orang tua Arsen.
"Arsen," sapa ayahnya, Wijaya, dengan suara bariton yang tenang namun tegas. Mamanya, Ratna, langsung menghampiri putranya.
"Ya Allah, Nak. Kenapa tidak bilang kalau kondisi kekasihmu seburuk ini?" tanya bu Ratna, matanya langsung tertuju pada sosok Emma yang terbaring pucat dengan mata terpejam.
Arsen berdiri dan memeluk Mamanya singkat. "Maaf, Ma. Semuanya terjadi begitu cepat. Arsen tidak mau membuat Mama dan Papa panik."
"Tidak panik bagaimana?" sahut Pak Wijaya, melangkah lebih dekat. Ia mengamati Emma, lalu beralih menatap wajah lelah putranya.
"Mamamu meneleponmu berkali-kali tidak diangkat. Kami akhirnya menelepon Diandra, dan dia yang menceritakan semuanya. Tentang Erlan yang menghilang, dan Emma yang masuk rumah sakit."
Arsen menghela napas. "Maaf, Pak. Ponselku dalam mode senyap."
Entah sudah kebohongan yang ke berapa kali yang Arsen lontarkan untuk kedua orang tua di depannya ini, hanya agar mereka tidak ikut khawatir.
"Sudah, sudah," kata bu Ratna, menengahi. Ia mengusap lengan putranya.
"Sekarang jelaskan pada kami, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Emma bisa sampai seperti ini?"
Arsen ragu sejenak. Ia melirik Emma yang napasnya terlihat teratur, berharap obat penenang itu benar-benar bekerja. Ia memutuskan untuk tidak menceritakan detail kecurigaannya tentang telepon misterius itu. Itu akan terdengar gila dan hanya akan menambah beban pikiran orang tuanya.
"Stres, kecapekan Pak, Ma," jawab Arsen pelan. "Awalnya karena perdebatan kami soal pernikahan. Lalu diperparah dengan hilangnya Kak Erlan sejak siang tadi. Puncaknya, ada telepon Aneh ke kamar ini yang membuatnya histeris."
"Telepon aneh?" tanya Pak Wijaya, alisnya terangkat. Jelas saja dua orang tua di hadapan Arsen itu seketika mengubah raut wajah.
"Iya, Pak. Hanya orang iseng yang menyebut nama Erlan lalu menutup teleponnya. Mungkin hanya ingin menakut-nakuti." Arsen memaksa dirinya untuk terdengar yakin.
Bu Ratna menggelengkan kepala, matanya berkaca-kaca menatap Emma.
"Kasihan sekali calon menantuku. Dia pasti sangat terpukul. Sendirian, kakaknya tidak ada, ditambah lagi tekanan seperti ini. Ya Tuhan, ini berbahaya untuk kandungannya, Sen."
Pak Wijaya memberi isyarat agar mereka sedikit menjauh dari ranjang, berbicara di sudut ruangan agar tidak mengganggu Emma.
"Arsen, Papa mau bicara serius. Duduk."
Arsen menarik dua kursi, dan mereka bertiga membentuk lingkaran kecil. Suasana berubah menjadi rapat keluarga darurat.
"Apa akar masalah dari perdebatan kalian soal pernikahan?" tanya Pak Wijaya langsung ke intinya.
Arsen menunduk. "Emma... dia merasa belum pantas, merasa menjadi beban. Dia hanya mau nikah siri, tapi aku bersikeras kita harus menikah sah secara hukum demi anak kita."
"Dan pertentangan ini yang membuatnya stres sejak awal?"
"Iya, Pak."
Pak Wijaya mengangguk-angguk pelan, menyatukan kepingan-kepingan informasi.
"Baik. Lalu Erlan, sebagai satu-satunya wali sahnya, menghilang. Ini membuat posisinya semakin tidak pasti, semakin membuatnya merasa sendirian dan tidak punya pegangan."
"Benar, Pak," sahut Arsen.
Bu Ratna menyela. "Lalu kita harus bagaimana, Pak? Kita tidak bisa diam saja melihat mereka begini. Terutama Emma. Dia butuh kepastian. Dia butuh perlindungan kita."
Pak Wijaya menatap lurus ke arah Arsen, tatapannya tajam dan penuh perhitungan. "Kita tidak bisa menunggu Erlan ditemukan. Justru karena Erlan tidak ada, tanggung jawab itu jatuh ke pundak kita sebagai keluarga. Kita harus bertindak cepat untuk menenangkan jiwa Emma."
Arsen menunggu dengan napas tertahan. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini.
"Kita akan hilangkan sumber stres utamanya," lanjut Pak Wijaya.
"Kita berikan dia kepastian status yang selama ini dia ragukan. Kita akan nikahkan kalian."
"Papa, tapi..."