Bab 20 - Wali Nikah

Penulis JanaIndria
15 October 2025

"Dengarkan dulu," potong ayahnya. "Papa tahu situasinya tidak ideal. Tapi ini keadaan darurat. Kesehatan mental dan fisik Emma, serta kesehatan cucu Papa, adalah prioritas absolut."

"Kita lakukan pernikahan secara agama dulu, di sini, di rumah sakit," kata Pak Wijaya, suaranya mantap seolah keputusan itu sudah final.

"Besok pagi juga. Kita panggil penghulu, siapkan saksi dari pihak kita. Kita laksanakan akad nikah yang sederhana tapi sah secara agama. Dengan begitu, Emma akan merasa tenang. Dia akan tahu bahwa dia tidak sendirian, bahwa dia sudah menjadi bagian utuh dari keluarga kita, bahwa anaknya punya ayah yang sah di mata Tuhan."

Arsen merasa kepalanya pening. Rencana itu, dalam logika normal, sangat masuk akal. Itu adalah solusi cepat untuk masalah yang berlarut-larut. Tapi hatinya menjeritkan hal lain. Sesuatu terasa sangat salah. Waktu yang terasa begitu kebetulan.

"Tapi, Pak, bagaimana dengan wali?" tanya Arsen, mencoba mencari celah. "Erlan adalah wali nasabnya. Tanpa dia..."

"Jika wali nasab berhalangan hadir karena alasan yang tidak diketahui atau mafqud," jawab Pak Andra cepat, menunjukkan bahwa ia sudah memikirkannya,

"Setelah ada upaya pencarian, posisinya bisa digantikan oleh wali hakim. Kita bisa konsultasikan ini dengan penghulu yang akan kita undang. Ini bukan untuk mengabaikan Erlan, tapi justru untuk melindungi adiknya selagi dia tidak ada."

"Benar kata Papamu, Sen," timpal bu Ratna , menggenggam tangan Arsen.

"Lakukan ini demi Emma. Demi anakmu. Mama tidak sanggup melihatnya terbaring seperti itu. Dia butuh suaminya ada di sisinya secara sah. Berikan dia ketenangan itu."

Arsen memandang kedua orang tuanya, lalu beralih menatap Emma yang terbaring diam. Mereka benar.

Dari sudut pandang mana pun, rencana ini adalah hal yang paling logis dan penuh kasih yang bisa mereka lakukan. Memberikan kepastian. Menghilangkan stres.

Tapi bisikan di hatinya tak mau hilang. Bagaimana jika telepon itu bukan iseng? Bagaimana jika hilangnya Erlan dan telepon itu saling berhubungan?

Di atas ranjang, Emma tidak tidur. Setiap kata dari percakapan di sudut ruangan itu masuk ke telinganya dengan jelas, menusuknya seperti ribuan jarum es.

Obat penenang itu hanya melumpuhkan tubuhnya, tidak dengan pikirannya yang kini bekerja liar dalam horor.

Pernikahan, besok pagi ....

Jadilah pengantinnya ....

Rencana para penculik itu, kini menjadi rencana keluarga Arsen.

Mereka, dengan niat paling tulus untuk melindunginya, justru sedang membangun panggung untuk drama mengerikan yang diminta oleh si penelepon. Mereka sedang menyiapkan dirinya untuk diserahkan.

Air mata panas mengalir dari sudut matanya yang terpejam, membasahi bantal. Ini bukan lagi pilihan. Ini adalah takdir yang sedang menyeretnya. Setiap jalan keluar yang ia bayangkan kini tertutup.

Jika ia menolak pernikahan ini, ia akan menyakiti hati keluarga Arsen dan menimbulkan kecurigaan yang lebih besar. Jika ia menerima, ia melangkah masuk ke dalam perangkap.

"Bagaimana, Arsen?" tanya Pak Andra, menuntut jawaban. "Kamu setuju? Ini demi kebaikan semua."

Arsen menatap Emma sekali lagi. Ia melihat jejak air mata di pipinya. Ia mengira itu adalah air mata kelelahan dan kesedihan. Ia tidak tahu itu adalah air mata keputusasaan murni.

Dengan berat hati, ia mengabaikan bisikan aneh di hatinya dan memilih logika yang ditawarkan orang tuanya. Ia memilih jalan yang terlihat paling benar.

"Baik, Pak," jawab Arsen, suaranya berat. "Saya setuju. Kita lakukan besok." Keputusan telah dibuat. Di sudut ruangan, Pak Andra dan bu Ratna merasa lega telah menemukan solusi. Arsen merasa telah membuat keputusan dewasa yang sulit.

Dan di atas ranjang, Emma merasa dunia di sekelilingnya telah runtuh total. Para pelindungnya baru saja menjadi algojonya. Mereka akan menikahkannya besok. Mereka akan menyerahkannya.

Dengan cinta.


Pintu kamar terbuka. Pagi itu Arsen masuk membawa nampan sarapan, senyumnya dipaksakan.

"Selamat pagi, sayang," sapanya lembut, meletakkan nampan di meja. "Bagaimana tidurmu?"

Emma hanya menatapnya. Bagaimana ia harus menjawab? Bahwa tidurnya adalah neraka yang diisi oleh suara-suara tanpa wajah dan bayangan kakaknya?

"Aku... baik," bisiknya.

Arsen duduk di tepi ranjang, meraih tangannya.

"Emma... dengar. Semalam Papa dan Mama datang. Kami sudah bicara, dan kami membuat sebuah keputusan."

Emma menahan napas, berpura-pura tidak tahu.

"Demi kebaikanmu, demi ketenanganmu, dan demi bayi kita," lanjut Arsen, matanya menatap Emma lekat-lekat, "kita akan melangsungkan akad nikah hari ini. Di sini. Secara agama dulu. Semuanya sudah diurus."

Emma menatapnya kosong. Ia harus memainkan perannya. Peran korban yang pasrah. "Menikah... hari ini?" tanyanya dengan suara serak.

"Iya, sayang. Hanya akad yang sederhana. Agar kamu tidak lagi merasa sendirian. Agar statusmu jelas. Kamu setuju, kan?" bujuk Arsen.

Ini bukan pertanyaan. Ini adalah pernyataan yang menuntut persetujuan. Menolak berarti membuka kotak Pandora kecurigaan. Menolak berarti membahayakan Erlan.

Emma mengangguk pelan, air mata mulai menggenang. "Aku... aku ikut saja, kak Sen. Mana yang terbaik menurut kalian."

Arsen menghela napas lega, senyumnya kini lebih tulus. Ia mengira air mata itu adalah air mata haru dan kelegaan. Ia memeluk Emma erat. "Terima kasih, sayang. Kamu tidak akan menyesal."

Di dalam pelukan itu, Emma memejamkan mata. Aku takkan menyesalinya, kak Sen, jeritnya dalam hati. Karena kamu aku terhindar dari Ibra dan adiknya.

Satu jam kemudian, ruangan itu berubah sibuk. Bu Ratna datang bersama seorang perias wajah dan membawa sebuah kotak berisi kebaya putih sederhana namun sangat elegan, terbuat dari bahan brokat dengan detail mutiara yang halus.

"Selamat pagi, calon menantu Mama," sapa Bu Ratna ceria, mencium kening Emma tanpa sungkan padahal ini adalah pertemuan pertama dirinya bertemu dengan Emma.

"Jangan kaget ya. Kita buat kamu jadi pengantin tercantik hari ini."

Emma hanya bisa tersenyum tipis saat perias mulai memoleskan kuas dingin ke wajahnya.

Tak lama kemudian, Diandra, Lely, Ida, dan Devi masuk ke kamar. Wajah mereka menampilkan campuran antara keterkejutan, kebingungan, dan kebahagiaan yang dipaksakan.

"Emma!" pekik Lely. "Ya Tuhan, ini benar-benar terjadi?"

"Kami dapat telepon dari Arsen tadi pagi. Kami langsung lari ke sini," tambah Ida, matanya berkaca-kaca. "Selamat ya, Ma."

Diandra berdiri sedikit di belakang, mengamati semuanya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia menarik Arsen ke sudut ruangan.

"Sen, apa ini?" bisik Diandra tajam. "Apa yang terjadi dengan rencana kita? Rencana yang aku susun dengan Erlan? Kenapa tiba-tiba jadi seperti ini?"

"Ini keputusan darurat, Di," jawab Arsen sama pelannya, wajahnya tampak frustrasi.

"Keputusan Papa. Mereka melihat kondisi Emma kemarin dan merasa ini satu-satunya cara untuk menenangkannya. Aku tidak bisa menolak."

"Menolak? Ini hidupmu! Ini hidup Emma!" desak Diandra.

"Bagaimana dengan Erlan? Bagaimana kalau dia tiba-tiba muncul dan melihat semua ini? Pernikahan ini bahkan tanpa walinya."

"Papa sudah mengurusnya. Wali hakim. Diandra, tolonglah mengerti," mohon Arsen.

"Aku juga bingung. Aku tidak tahu mana yang benar dan salah lagi. Yang aku tahu, aku harus melakukan apa pun agar Emma tenang."