Diandra menatap sahabatnya yang kini duduk diam di depan cermin, di pakaikan lipstik berwarna pucat oleh perias membuat semakin terlihat memikat di wajah Emma yang memang cantik, tapi matanya kosong.
Seperti boneka porselen yang indah namun tak bernyawa. Diandra tahu, ada sesuatu yang sangat salah. Tapi seperti Arsen, ia pun tak punya bukti, hanya firasat buruk.
"Kamu cantik sekali, Ma," puji Devi, mencoba mencairkan suasana.
“Pantas saja Arsen cinta mati di pandangan pertama, la wong canmtik seperti ini kok!” timpal Ida dari belakang punggung Emma, ia hanya bisa menyaksikan wajah Emma dari pantulan cermin di hadapannya.
Emma menatap pantulan dirinya di cermin. Ia memang terlihat seperti pengantin. Pengantin yang akan di korbankan tanpa tahu siapa pelakunya.
"Terima kasih," bisiknya, dengan senyum yang terlihat jelas kalau di paksakan oleh pemiliknya.
Upacara akan di langsungkan di sebuah ruang serbaguna di lantai atas yang telah di sulap dalam waktu singkat.
Beberapa rangkaian bunga putih di letakkan di sudut-sudut ruangan, dan selembar karpet putih di gelar di tengah, menghadap sebuah meja kecil yang akan menjadi tempat akad. Terlihat sederhana, namun terasa khidmat.
Pihak rumah sakit memberikan izin dengan mudah. Direktur rumah sakit, dr. Haryo, seorang pria paruh baya yang berkharisma, ternyata adalah teman baik Pak Andra. Beliau bahkan bersedia menjadi salah satu saksi.
"Ini pertama kalinya rumah sakit kami menjadi tempat akad nikah," ujar dr. Haryo sambil tersenyum pada Pak Andra saat mereka menunggu di luar ruangan perawatan Emma.
"Tapi untuk kebaikan pasien, terutama untuk menunjang kesehatan psikisnya, kami akan dukung sepenuhnya. Selamat ya, Andra."
"Terima kasih banyak, Haryo. Bantuanmu sangat berarti pada keluarga kami," balas Pak Andra, menepuk bahu temannya. Emma, dengan kebaya putihnya dan kerudung sederhana yang menjuntai, di dorong perlahan di kursi roda oleh Arsen. Sedangkan Diandra dan teman-teman yang lain berjalan di sampingnya.
Setiap putaran roda terasa seperti langkah menuju tiang gantungan bagi Emma, menatap nanar tiap sudut ruangan yang menurutnya terlihat sedikit menakutkan walau sebenarnya indah.
Ruangan itu sudah terisi. Ada keluarga inti Arsen, seorang penghulu berpeci putih, dan dr. Haryo sebagai saksi dari pihak rumah sakit. Saksi dari pihak keluarga adalah Pak Andra sendiri.
Arsen membantu Emma untuk duduk di kursi yang telah di sediakan. Tangan Emma terasa sedingin es di dalam genggamannya.
"Kamu tidak apa - apa?" bisik Arsen dengan sangat hati hati. Emma hanya menggeleng pelan, dirinya tak sanggup berkata - kata.
Penghulu memulai upacara. Suaranya yang tenang dan berat mengisi ruangan, membacakan lebih dulu ayat - ayat suci dan memberikan nasihat pernikahan. Bagi yang lain, kata - kata itu adalah berkah. Bagi Emma, kata - kata itu terasa seperti mantra kutukan yang mengikatnya pada takdir yang mengerikan.
Tiba saatnya untuk ijab kabul. Sang penghulu menatap Arsen.
"Saudara Arsen Keanu Adhianata, apakah sudah siap?" tanya pak penghulu yang menatap mata Arsen, penuh selidik.
Arsen menarik napas dalam-dalam. Ia menoleh ke arah Emma, mencoba mencari kekuatan dari wajah pucat itu, dan mendapatkan senyum yang dia anggap sebagai penguat untuk melakukannya. Ia kemudian mengangguk mantap pada penghulu.
"Saya siap, Pak."
Penghulu itu kemudian membacakan kalimat ijab.
"...saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Arsen Keanu Adhianata bin Andra Adhianata, dengan seorang perempuan bernama Emma Fariza Artaya binti almarhum Doni Artaya, yang walinya telah berwakil kepada saya, dengan mas kawin-"
Di sini, sang penghulu berhenti sejenak, melihat catatan kecil di depannya, lalu menatap Arsen dengan tatapan yang sedikit terkejut sebelum melanjutkan.
“Maap saya ulangi –“ pinta pak penghulu dengan membenarkan posisi duduknya yang sebenarnya tak ada masalah.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Arsen Keanu Adhianata bin Andra Adhianata, dengan seorang perempuan bernama Emma Fariza Artaya binti almarhum Doni Artaya, yang walinya telah berwakil kepada saya, dengan mas kawin seperangkat alat sholat, emas murni seberat seratus gram, dan seluruh saham atas nama Arsen Keanu Adhianata di PT A’ Kencana Digital, di bayar tunai."
Seketika, keheningan di ruangan itu pecah oleh desah napas kaget. Lely dan Devi saling pandang dengan mulut ternganga. Diandra membeku, matanya membelalak tak percaya.
Seluruh saham? Itu bukan hanya mas kawin, itu adalah penyerahan seluruh aset pribadi Arsen. Sebuah mahar yang nilainya mungkin triliunan rupiah.
Pak Andra tersenyum tipis, bangga dengan kemurahan hati putranya. Bu Ratna meneteskan air mata haru. Arsen tidak memedulikan reaksi orang lain. Matanya hanya tertuju pada Emma, sebuah pernyataan cinta yang total dan tanpa syarat.
Dengan satu tarikan napas, Arsen mengucapkan kalimat kabulnya dengan suara yang mantap dan jelas.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Emma Fariza Artaya binti almarhum Doni Artaya dengan mas kawin tersebut, di bayar tunai."
"Bagaimana para saksi?" tanya penghulu.
"SAH!" jawab Pak Andra dan dr. Haryo serempak.
"SAH!"
Doa pun di panjatkan. Semua orang tersenyum lega. Misi penyelamatan ini, menurut mereka, telah berhasil.
Arsen berbalik menghadap Emma, yang kini secara resmi adalah istrinya. Ia meraih tangan Emma untuk memasangkan cincin.
"Sekarang kamu adalah istriku, Ma," bisiknya penuh perasaan. "Tidak ada lagi yang perlu kamu takutkan."
Emma menatap cincin yang kini melingkar di jarinya. Dingin, berat, dan terasa seperti belenggu. Ia mengangkat wajahnya menatap Arsen. Ia mencoba tersenyum, namun yang keluar hanyalah getaran di bibirnya.
Semua orang menghampiri mereka, memberikan selamat.
"Selamat ya, Nyonya Arsen Adhiatama," goda Lely, mencoba menghibur.
"Selamat, Ma, Sen. Kami ikut bahagia," kata Ida tulus.
Bu Ratna memeluknya erat. "Sekarang kamu sudah sah jadi menantu Mama. Jangan cemas lagi ya, Sayang. Semuanya akan baik-baik saja."
Setiap ucapan selamat terasa seperti ucapan belasungkawa bagi Emma.
Diandra mendekat terakhir. Ia menatap lekat ke dalam mata sahabatnya.
"Ma," bisiknya pelan, hanya untuk mereka berdua.
"Kamu baik-baik saja? Kamu terlihat..." Ia tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Terlihat ketakutan sampai mati?
"Aku... hanya lelah, Di," jawab Emma, menggunakan kebohongan yang sama, yang kini terasa lebih kuat karena dibentengi oleh status barunya.
Kembali di kamar rawatnya, Emma didudukkan di ranjang. Kebaya putihnya terasa menyesakkan. Arsen duduk di sampingnya, tidak pernah melepaskan tangannya, wajahnya berseri-seri penuh harapan baru.
"Lihat," kata Arsen lembut. "Semuanya sudah selesai. Sekarang kita fokus pada kesembuhanmu dan anak kita."
Emma menatap wajah pria baik hati yang baru saja menyerahkan seluruh hartanya untuknya. Pria yang sama yang baru saja, tanpa sadar, menyerahkannya sebuah kepastian yang menanggung nyawa sang kakak.
Para penculik itu menginginkannya menjadi pengantin. Dan kini, ia sudah menjadi pengantin. Pengantin dengan mas kawin yang luar biasa besar, membuatnya menjadi aset yang jauh lebih berharga.
“Kak …. Aku meridukanmu!”