"Kak-"
Arsen langsung berbalik, wajahnya yang tegang langsung melembut. "Iya, sayang? Kamu butuh sesuatu? Mau minum?"
Emma menggeleng pelan. Matanya yang sayu menatap lurus ke arah Arsen, sebuah pertanyaan besar menggantung di sana. "Pernikahan tadi itu-" Ia berhenti, seolah mencari kata-kata yang tepat.
"Tadi itu pernikahan seperti apa?"
Arsen mendekati ranjang, berlutut di sampingnya agar tatapan mereka sejajar. Ia meraih kedua tangan Emma, menggenggamnya dengan kehangatan yang kontras dengan dinginnya kebohongan yang akan ia ucapkan.
"Itu... seperti yang kamu mau dari awal, sayang," ujar Arsen, suaranya diatur selembut dan setenang mungkin.
"Itu adalah pernikahan siri. Kita memanggil seorang ustad yang kami kenal, bukan penghulu resmi dari KUA. Papa dan dr. Haryo hanya menjadi saksi untuk menguatkan. Semuanya sah secara agama, agar kamu tenang, agar hubungan kita diridhoi. Tapi belum ada pendaftaran resmi ke negara."
Setiap kata adalah tusukan bagi hati Arsen sendiri. Ia baru saja meremehkan kesakralan janji yang ia ucapkan dengan lantang beberapa jam lalu. Janji yang ia iringi dengan penyerahan seluruh aset pribadinya.
"Oh..." bisiknya, membiarkan sedikit kelegaan palsu terdengar dalam suaranya. Ia menunduk, menatap tangannya dalam genggaman Arsen.
"Syukurlah, terima kasih, Kak. Terima kasih sudah mau mengerti." Emma berkata sembari tersenyum sangat tipis.
"Sekarang kamu istirahat, ya?" kata Arsen, merapikan selimut Emma. "Jangan pikirkan apa-apa lagi. Aku akan urus sisanya."
Emma mengangguk patuh. "Boleh aku minta tolong? Aku ingin sendiri dulu sebentar. Kepalaku masih sedikit pusing."
"Tentu, sayang," jawab Arsen tanpa curiga. "Aku akan menunggu di luar. Kalau butuh apa-apa, pencet saja belnya."
Arsen melangkah keluar, menutup pintu pelan di belakang mereka. Begitu pintu tertutup, topeng ketenangan Emma langsung luruh. Ia menarik tangannya, menatap cincin di jarinya dengan tatapan ngeri.
Arsen dan Diandra masih berdiri di koridor yang sunyi, di luar kamar tempat Emma.
"Kamu yakin ini hal yang benar untuk dilakukan, Sen?" tanya Diandra pelan, memecah keheningan. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding, lengannya terlipat di dada. "Berbohong padanya seperti itu?"
Arsen mengusap wajahnya kasar, jejak kelelahan terukir jelas di sana.
"Aku tidak tahu lagi mana yang benar, Di. Sungguh. Tapi aku melihat wajahnya tadi. Pertanyaannya soal KUA, soal saham... kepanikan di matanya nyata. Jika aku bilang yang sebenarnya, aku takut dia akan kembali histeris. Semua usaha kita hari ini akan sia-sia."
"Tapi kebohongan ini-" Diandra menggelengkan kepala. Tak sanggup melanjutkan ucapannya.
"Rasanya seperti membangun rumah di atas fondasi yang retak. Cepat atau lambat akan runtuh, Sen. Dan saat itu terjadi, kehancurannya akan lebih parah."
"Aku tahu," desah Arsen. "Tapi aku butuh waktu. Aku hanya butuh dia tenang dulu. Stabil. Setelah itu, setelah kakaknya kembali, kita bisa ceritakan semuanya pelan-pelan. A-ku … aku hanya mencoba memadamkan emosinya, sekarang."
"Bagaimana jika kebohonganmu itu justru membuatnya nanti akan semakin emosi?" balas Diandra tajam, tatapannya menusuk.
"Bagaimana jika dia tahu kau berbohong? Kepercayaannya akan hancur total."
"Dia tidak akan tahu," kata Arsen, lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri. "Dia percaya padaku."
Diandra terdiam, tidak setuju tapi memilih untuk tidak berdebat lebih jauh. Ia tahu Arsen berada di posisi yang mustahil. Ia hanya bisa berharap keputusan sahabatnya itu tidak menjadi bumerang yang fatal.
"Lalu, bagaimana dengan Erlan?" tanya Diandra, mengalihkan topik. "Masih belum ada kabar sama sekali?"
Arsen menggeleng. "Nihil. Aku sudah menghubungi beberapa teman kantornya. Tidak ada yang melihatnya sejak kemarin siang. Aku sudah meminta salah satu orangku untuk mencoba melacak sinyal ponsel terakhirnya, tapi hasilnya belum ada. Ini aneh, Di. Sangat aneh."
Keduanya kembali terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Mereka memutuskan untuk memberikan Emma waktu lima belas menit untuk menenangkan diri sebelum masuk kembali. Lima belas menit yang akan mengubah segalanya.
Di dalam kamar, begitu pintu tertutup, topeng ketenangan Emma langsung luruh. Ia menarik tangannya dari selimut, menatap cincin berlian di jarinya dengan tatapan ngeri. Benda indah itu terasa membakar kulitnya, sebuah tanda kepemilikan, sebuah segel takdir yang tak bisa ia hindari.
Mereka berbohong.
Arsen berbohong. Diandra berdiri di sana, diam, artinya ia juga terlibat dalam kebohongan ini. Mereka melakukannya karena cinta, untuk melindunginya. Tapi mereka tidak tahu kalau karena cinta mereka yang telah menjadi alasan bagi para penculik. Mereka, dengan niat paling tulus, telah menyempurnakan perangkap itu.
Apa selanjutnya? Menunggu gaun itu diantar ke sini? Menunggu mereka menjemputnya di depan mata suaminya, keluarganya, sahabatnya? Tidak. Itu terlalu berisiko. Jika Arsen atau Diandra melihat sesuatu yang aneh, mereka akan bereaksi. Dan jika mereka bereaksi, nyawa Erlan taruhannya.
Ia harus pergi ke tempat di mana ia bisa menerima instruksi selanjutnya tanpa ada yang mengawasi. Keputusannya sudah bulat. Panik memberinya kekuatan yang tak terduga. Ia harus bergerak cepat. Lima belas menit. Mungkin kurang.
Dengan gerakan cepat yang terasa menyakitkan bagi tubuhnya yang lemah, ia menyibakkan selimut. Matanya memindai ruangan. Tas. Ia butuh tas. Di sudut ruangan, tergeletak tas jinjing yang dibawakan Diandra beberapa hari lalu, berisi beberapa potong pakaian ganti dan perlengkapan mandi. Sempurna.
"Akh!" desisnya tertahan. Darah segar langsung merembes keluar, menodai kulitnya. Ia menekan bekas tusukan jarum infus yang baru saja dia cabut itu dengan kapas dari meja nakas sekuat yang ia bisa, menahannya selama beberapa detik sebelum membalutnya asal-asalan dengan plester baru. Rasa sakit berdenyut di tangannya, tapi adrenalin menutupi segalanya.
Emma beringsut turun dari ranjang, kakinya terasa seperti jeli. Ia bersandar pada dinding sejenak, mengatur napasnya yang terengah-engah. Ia meraih tas Diandra, membukanya dengan kasar. Di dalamnya ada kaus lengan panjang berwarna gelap, celana training hitam, dan sebuah jilbab instan berwarna senada. Pakaian yang sempurna untuk menyamar dalam kegelapan malam.
Dengan tergesa-gesa, ia melepaskan gaun rumah sakit yang tipis itu, membiarkannya jatuh ke lantai. Udara dingin ruangan langsung menggigit kulitnya. Ia mengenakan kaus dan celana itu secepat yang ia bisa. Gerakannya kaku dan canggung.
Kemudian Ia melihat sekeliling. Di atas sofa kecil tempat Arsen biasa duduk, tergeletak sebuah topi baseball berwarna biru dongker. Topi Erlan. Kakaknya pasti meninggalkannya saat terakhir kali menjenguk. Hatinya mencelos. Ia mengambil topi itu, sebuah kenang-kenangan pahit yang kini menjadi alat untuk menyelamatkan pemiliknya. Ia juga menemukan masker medis sekali pakai di laci nakas.
Dompet dan ponsel dan semua pernik ada di dalam tas kecilnya sendiri. Ia meraihnya, membuka dompet untuk memastikan ada cukup uang tunai. Ada beberapa lembar ratusan ribu. Cukup untuk beberapa hari. Ia lalu mengambil ponselnya. Dengan jari gemetar, ia menekan dan menahan tombol power hingga layar itu mati total. Tidak ada pelacakan. Tidak ada panggilan masuk yang bisa membuatnya ragu.