Bab 23 - Sekarang atau tidak ....

Penulis JanaIndria
15 October 2025

Ia mengenakan jilbabnya, lalu memakai masker dan topi Erlan, menariknya rendah hingga nyaris menutupi matanya. Ia menatap pantulan dirinya di layar televisi yang mati. Ia terlihat seperti orang asing. Pucat, ketakutan, tapi misterius, itu cukup.

Dengan jantung berdebar kencang, ia mendekati pintu. Ia menempelkan telinganya, mencoba mendengar suara dari luar. Sunyi. Mungkin mereka sudah pergi ke kafetaria? Atau mungkin mereka masih di sana, menunggu dalam diam? Ia tidak bisa mengambil risiko.

Ia membuka pintu dengan gerakan yang sangat pelan, hanya sepersekian senti, menciptakan celah kecil untuk mengintip. Koridor di depan kamarnya kosong. Lampu-lampu bersinar terang di atas lantai yang mengilap. Ia bisa melihat Arsen dan Diandra berdiri di ujung koridor dekat lift, punggung mereka menghadap ke arahnya, terlihat sedang dalam percakapan yang serius.

“Ini kesempatanku, sekarang atau tidak akan bisa lagi!!” bisik Emma dengan sedikit mengernyitkan wajah menahan sakit di pergelangan tangan dan pusing yang masih di rasakan sesekali.

Dengan napas tertahan, ia menyelinap keluar dari kamar, menutup pintu di belakangnya tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Ia tidak berani berjalan ke arah lift.

Ia berbalik, berjalan ke arah yang berlawanan, menuju tangga darurat yang jarang digunakan. Setiap langkah terasa berat. Setiap derit sol sepatunya di lantai terdengar seperti ledakan di telinganya. Ia terus menunduk, menarik topinya lebih rendah, berdoa agar tidak ada perawat atau dokter yang menyapanya.

Ia berhasil mencapai pintu tangga darurat. Pintu itu berat dan berderit saat ia membukanya. Ia masuk ke dalam, membiarkan pintu menutup dengan bunyi klik yang bergema di ruang tangga yang sempit dan berbau debu. Sendirian.

Ia menuruni anak tangga satu per satu, berpegangan pada pegangan besi yang dingin. Tubuhnya yang lemah protes. Napasnya memburu, kepalanya tiba tiba kembali pusing. Tapi bayangan wajah sang kakak yang amat dia sayangi, Erlan dan ancaman suara di telepon memberinya kekuatan. Ia tidak berhenti sampai mencapai lantai dasar.

Ia keluar di koridor belakang yang lebih sepi, koridor yang biasanya digunakan oleh staf dan untuk jalur servis. Bau desinfektan bercampur dengan bau makanan dari dapur rumah sakit. Ia terus berjalan, mengikuti tanda menuju 'Pintu Keluar Samping'.

Akhirnya, ia melihatnya. Pintu kaca yang mengarah langsung ke area parkir samping. Malam Jakarta menyambutnya dengan udara yang lembap dan panas, sebuah kontras dari dinginnya AC rumah sakit. Suara klakson mobil dan deru motor terasa asing setelah berhari-hari terkurung.

Ia berjalan cepat, menyusuri trotoar di tepi area parkir, menuju gerbang utama. Ia harus terlihat normal. Hanya seorang pengunjung yang hendak pulang. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang menggila.

Di gerbang, ia melambai pada sebuah taksi yang baru saja menurunkan penumpang. Taksi itu berhenti di depannya. Ia membuka pintu belakang dan masuk, membantingnya dengan sedikit terlalu keras.

"Jalan, Pak," ucapnya singkat, suaranya teredam oleh masker.

"Ke mana, Mbak?" tanya sopir taksi itu, meliriknya dari kaca spion.

Emma terdiam sejenak. Ia tidak bisa pulang ke kost atau rumahnya. Itu tempat pertama yang akan mereka cari. Ia butuh tempat yang tidak terduga. Tempat di mana ia bisa menghilang. Sebuah nama jalan terlintas di benaknya. Jalan di dekat kompleks perumahan tempat ia dan Erlan tumbuh dewasa.

"Jalan Kenanga, Pak. Dekat pertigaan yang ada toko kuenya," jawabnya, menyebutkan alamat di lingkungan lamanya.

Sopir itu mengangguk dan mulai menjalankan mobilnya, membawanya menjauh dari rumah sakit, menjauh dari suaminya, menjauh dari kehidupannya, dan semakin dalam masuk ke dalam permainan mematikan yang telah disiapkan untuknya.

Tujuannya sebenarnya bukan rumah lamanya. Tapi di dekat sana, ada sebuah tempat yang ia ingat dari masa remajanya. Sebuah hotel melati kecil yang sedikit kumuh, tempat para pelancong dengan budget terbatas atau orang-orang yang tidak ingin ditemukan biasa menginap. Hotel Bunga Kertas. Nama yang puitis untuk tempat yang begitu menyedihkan. Di sanalah ia akan bersembunyi.

Saat taksi melaju membelah malam, Emma bersandar di jendela, menatap lampu-lampu kota yang berkelip seperti bintang-bintang yang jauh dan tak terjangkau. Ia baru saja menikah beberapa jam yang lalu. Dan kini, ia adalah seorang istri yang melarikan diri. Bukan dari suaminya, tapi dari cinta suaminya yang telah menjadi senjata makan tuan.


Di koridor rumah sakit, Arsen melirik jam tangannya. "Sudah hampir dua puluh menit. Sebaiknya aku temani dia dulu."

Diandra mengangguk setuju. "Aku juga merasa tidak enak."

Mereka berjalan kembali ke kamar Emma. Namun tak menemukan sosok yang mereka cari,

Arsen mengetuk pintu kamar mandi yang tertutup dengan lembut. "Sayang? Emma? Aku masuk, ya?"

Tidak ada jawaban.

Ia mengetuk lagi, lebih keras. "Emma?"

Masih hening. Perasaan dingin mulai merayap di punggung Arsen. Ia mencoba membuka kenop pintu. Terkunci dari dalam? Tidak, pintu rumah sakit tidak bisa dikunci seperti itu.

"Ada yang tidak beres," desisnya pada Diandra. Ia menggedor pintu. "EMMA! JAWAB AKU!"

Seorang perawat yang lewat menoleh pada mereka dengan kaget. "Ada apa, Pak?"

"Istri saya tidak menjawab dari dalam!" kata Arsen panik. "Tolong, buka pintunya! Anda punya kunci master, kan?"

Perawat itu, melihat kepanikan di wajah Arsen, segera mengangguk dan berlari ke pos jaga. Beberapa detik kemudian ia kembali dengan seorang satpam yang membawa kunci master.

"Mohon tenang, Pak," kata satpam itu sambil memasukkan kunci ke lubang pintu.

Klik.

Pintu terbuka.

Arsen dan Diandra langsung menerobos masuk. Dan pemandangan di depan mereka membuat darah mereka seolah berhenti mengalir.

Kamar mandi itu kosong. Tiang infus berdiri sendirian, selangnya menjuntai tak berdaya, dan di ujungnya, ada noda darah kecil yang sudah mulai mengering.

Diandra melihat ke sofa. Topi Erlan yang ia ingat ada di sana, kini lenyap.

Arsen berdiri mematung di tengah ruangan, matanya terpaku pada ranjang kosong itu. Napasnya tercekat. Ia menoleh ke arah perawat dengan tatapan nanar. "Di mana istri saya?"

"Saya... saya tidak tahu, Pak," jawab perawat itu, sama-sama terkejut. "Terakhir saya periksa satu jam yang lalu, beliau sedang istirahat."

"Ponselnya!" seru Arsen tiba-tiba. Ia meraih ponselnya, mencoba menelepon nomor Emma. Panggilan itu bahkan tidak masuk. Langsung dialihkan ke pesan suara.

"Dia mematikannya," bisik Arsen, suaranya bergetar karena campuran antara amarah dan ketakutan yang luar biasa.

"Dia mematikan ponselnya."

IArsen mengulang ucapannya dnegan pelan namum penuh tekanan, menatap Diandra, dengan mata yang memancarkan kengerian dan sebuah kesadaran yang pahit. Kebohongannya. Percakapan mereka beberapa saat yang lalu. Permintaan Emma untuk sendiri. Semuanya adalah bagian dari sebuah rencana.

"Dia kabur," ucap Arsen, kata-kata itu terasa seperti racun di lidahnya. "Ya Tuhan, Di... dia kabur."