Bab 16. Salah Sasaran
"Suara mobil siapa itu? Aku takut!" batin Mona yang terkesiap lalu refleks memeluk jenny, dia takut kalau-kalau Brian yang datang lagi.
Kemudian Lala segera mengecek dari jendela, untuk melihat siapa yang datang.
"Tenang Mona, itu suamimu. Bukan Brian!" ucap Lala yang seakan tahu apa yang ada di pikiran sahabatnya itu.
"Mona! Mona! Kamu dimana Mona?" teriak Ahmad mencari-cari Mona, sesaat setelah dia masuk ke dalam rumah.
"Iya Mas, ada apa?" ucap Mona mempercepat langkahnya dari arah dapur menuju pada Ahmad dan meninggalkan teman-temannya di dapur.
"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Ahmad memegang kedua lengan Mona sambil melihatnya ke kanan dan ke kiri.
"Aku nggak kenapa-kenapa kok Mas, ada apa sih?" tanya Mona bingung.
"Syukurlah, kamu tidak kenapa-kenapa!" desah Ahmad bernapas lega.
"Apa kamu ...?" Mona menggantung kalimatnya, dia takut jika seandainya Ahmad tahu kejadian buruk yang hampir menimpanya tadi.
"Tadi ada orang yang menelepon ku, dia bilang katanya sedang menculik kamu dan dia minta uang tebusan lima ratus juta!" tukas Ahmad, lalu dia melihat penampilan Mona dari atas ke bawah.
"Aaaarrrgggg si*l! Naysila. Mona aku pergi dulu, kamu jangan pergi kemana-mana oke?" perintah Ahmad seraya beranjak pergi.
"Mas, mau kemana? MAS!" teriak Mona memanggil Ahmad sambil mengikuti keluar rumah, tapi Ahmad tak menghiraukannya dan langsung pergi bersama mobilnya.
Entah kenapa, sikap Ahmad serta ucapan Ahmad yang menyebut sebuah nama wanita lain membuat hati Mona terasa perih. Sehingga tanpa diminta air matanya pun mulai mengalir, melihat Ahmad pergi menjauh dari pandangan.
Lala dan Jenny yang mendengar teriakan Mona pun bergegas mendatanginya, dan hanya mendapati Mona yang tengah menangis.
"Mona! Kamu kenapa? Apa yang dilakukan Ahmad padamu?" tanya Lala.
"Apa Ahmad menyakitimu?" Jenny menimpali.
Mona hanya menggeleng pelan dan menghapus jejak air matanya, lalu masuk kedalam rumah dan menghempaskan tubuhnya di sofa.
"Ceritakan apa yang terjadi tadi Mona!" ujar Lala sambil memeluk Mona yang masih membisu.
"Mas Ahmad!" gumam Mona semakin terisak.
"Ahmad kenapa? Coba jelaskan pada kami, apa masalahnya?" tanya Lala yang masih bingung.
"Aku! Tidak tahu dia kenapa! Setelah bertanya keadaanku, lalu ...!" Mona pun kembali menangis terisak-isak.
"Ceritakan pelan-pelan apa yang terjadi, kami akan mendengarkan kamu!" kata Jenny mengusap punggung Mona.
"Sebentar ya," ucap Lala berlalu pergi, lalu datang dengan segelas air dan memberikannya pada Mona.
"Ini, kamu minum dulu biar tenang!" ujar Lala.
"Iya, terimakasih!" Mona pun menyambut segelas air pemberian Lala lalu meminumnya sedikit, dan meletakkannya di meja.
"Sekarang, ceritakan pelan-pelan apa yang tadi terjadi di antara kalian!" ucap Lala kemudian.
"Tadi saat Mas Ahmad masuk, dia langsung tanya keadaanku kan! Apa aku baik-baik saja, kata dia ada orang yang menelepon dia dan mengatakan kalau mereka tengah menculik aku. Makanya tadi dia pulang tergesa-gesa. Akan tetapi, setelah dia melihat penampilanku dia lalu buru-buru pergi!" terang Mona.
"Aneh banget!" sahut Jenny.
"Tadi juga, samar-samar aku mendengar dia menyebut nama Naysila!" imbuh Mona.
"NAYSILA?!" ucap Lala dan Jenny menatap Mona, lalu keduanya saling pandang.
"Eh, tunggu-tunggu. Ini Naysila mana? Apa Naysila yang sama, yang sejak dulu di taksir Ahmad?" tanya Lala menggenggam tangan Mona.
"Aku nggak tahu!" ujar Mona tertunduk lesu.
"Yang sabar ya Mona. Ahmad lelaki yang bertanggung jawab, tidak mungkin dia akan bermain api dengan wanita lain. Meskipun itu Naysila sekalipun, Naysila juga bukan gadis yang akan merusak rumah tangga orang lain demi kebahagiaannya sendiri!" tutur Lala berusaha menenangkan Mona.
** Sementara itu di apartemen Brian, disitu sudah ada Mariska. Dia bagaikan benalu yang tak tahu malu, meski sudah ditampar Brian, namun dia kembali lagi.
Lalu tiba-tiba ponsel Brian berbunyi. Terlihat di layar benda pipih itu, tertera nomor tidak dikenal dan Brian pun mengangkatnya.
"Halooo saudara Brian!" seru pria asing bersuara serak itu.
"Ini siapa ya?" tanya Brian merasa aneh, tak biasanya ada telepon nyasar ke ponselnya.
"Tidak penting siapa saya, yang penting adalah kabar yang akan saya sampaikan!" jawab pria asing itu.
"Apa maksudmu? Jangan macam-macam ya sama saya!" sergah Brian.
"Wah! Belum-belum sudah emosi, tidak mau nih dengar kabar tentang Monalisa Permana?" timpal pria itu.
"Ada apa dengan Mona!" teriak Brian.
"Sekarang masih baik-baik saja, nggak tahu deh nanti. Kalau kamu tidak ...."
"Tidak apa? Hah! Cepat katakan!" hardik Brian.
"Jangan teriak, mau nih si cewek cantik ini pulang tak bernyawa?" imbuh si pria asing.
"Apa mau mu bang**t!" tukas Brian.
"Mau ku? Gampang... Siapkan uang lima ratus juta cash, kalau tidak nyawa dia taruhannya."
"Oke! Tapi apa aku mau mendengar suaranya dulu?" tukas Brian.
"Tidak bisa, tapi aku akan kirimkan fotonya!" ujar si penculik.
Tak berapa lama masuk pesan yang berisi foto seorang wanita mengenakan gamis dan hijab, dengan penutup mulut juga mata.
"Baik, aku akan siapkan uangnya. Kirimkan alamatnya, aku akan mengantarkannya dan jangan sampai dia terluka!" tukas Brian melunak, karena takut Mona disakiti oleh penculik itu.
"Nah, gitu dong. Gitu kan enak, aku jadi senang!" jawab si penculik mengakhiri panggilan.
Si penculik itu pun mengirim alamat pada Brian, dan Brian akan bergegas pergi.
"Brian, kamu mau kemana sayang?" tanya Mariska.
"Bukan urusanmu!" tukas Brian.
Brian pun meninggalkan Mariska sendiri, setelah Brian berlalu. Mariska tersenyum menyeringai dan menelepon seseorang.
"Sayang, Brian terpancing! Sekarang dia sedang menuju ke sana, bagaimana dengan suami Mona?" tanya Mariska kepada Jerry.
"Sama sayang, sepertinya dia juga akan segera kesini. Kita akan kaya jika dapat uang dari mereka, sebentar lagi anak buah ku akan datang membawa Mona!" tukas Jerry kemudian.
"Oke sayang, aku tutup dulu ya teleponnya. Kalau ada apa-apa, hubungi aku!" tukas Mariska.
"Tentu, jaga dirimu!" jawab Jerry mengakhiri panggilan.
Akhirnya, aku akan segera dapat uang satu miliar. Nanti aku akan kabur dengan Jerry keluar negeri, asik! batin Mariska dengan senyum menyeringai.
**
Di tempat lain, para penculik yang tadi membawa kabur Naysila. Telah sampai di markasnya, dari kejauhan terlihat mobil Adi yang sedari tadi mengikuti.
Tapi Adi tidak langsung mendekat, karena dia sadar kalau kalah jumlah. Maju pun tak akan bisa menyelamatkan Naysila, dia pun segera menghubungi Ahmad lewat pesan singkat. Dia menunjukkan lokasi tempat Naysila di culik, lalu juga menghubungi kepolisian setempat untuk meminta bantuan.
Di dalam markas seorang pria berpakaian rapi dan maskulin namun menggunakan masker, menunggu dua orang anak buahnya yang membawa Naysila lalu mendudukkannya pada sebuah kursi dengan sandaran, dengan tangan terikat. Sesaat kemudian....
"Bos, ini ceweknya!" ujar pria berbadan kurus. Dan hanya di balas anggukan oleh Jerry, sebab dia tak mau jika Mona tahu bahwa dia dalang di balik penculikannya.
Namun saat Jerry mengamati wajah wanita yang dibawa anak buahnya, dia sangat terkejut dan murka.
"Boh, tol kalian, siapa yang kalian bawa ini? Dia bukan Mona, lantas kenapa kalian membawanya!" teriak Jerry pada dua orang anak buahnya.
"Maaf Bos, kita kan nggak tahu. Bos nggak kasih lihat fotonya si cewek itu, Bos hanya bilang bawa cewek yang pakai gamis dan sedang bersama Ahmad Jaelani. Malah foto dia yang Bos tunjukkan ke kita, iya kan Ndul?" ujar pria kurus pada temannya.
"Iya Peng!" jawab temannya.
"MASIH BISA JAWAB KALIAN? KALIAN MAU TIDAK KU BAYAR HAH?" teriak Jerry murka.
"Ngelakuin hal gitu aja nggak becus! Gagal kita dapat duit kalau kayak gini!" tukas Jerry meremas rambutnya.
"Lalu apa yang akan kita lakukan pada dia sekarang? JAWAB!" pekik Jerry penuh emosi
Sementara itu Naysila hanya bisa menangis, tidak tahu nasibnya akan seperti apa. Sayup-sayup dia mendengar nama Ahmad disebut, juga nama seorang wanita bernama Mona yang seharusnya ada di posisinya saat ini.
Dan sekarang dia bingung bagaimana cara melepaskan diri dari penculikan yang salah sasaran ini, sementara matanya di tutup kain. Mulutnya di tutup lakban, sedangkan tangannya terikat ke kursi. Dia hanya bisa berdoa, semoga ada keajaiban yang membawa seseorang untuk datang menolongnya.
Dua penculik itu hanya menunduk, Jerry yang merasa stres karena rencananya gagal. Lalu ... Dari luar sayup-sayup terdengar suara sirene di polisi.
Raut muka Jerry pun semakin pucat pasi, bayangannya melayang bagaimana kalau dia di tangkap polisi dan di penjara. Dia bingung harus berbuat apa. Lalu ....