Bab 17. Kebenaran Ridwan
Dua penculik itu hanya menunduk, Jerry yang merasa stres karena rencananya gagal. Lalu ... Dari luar sayup-sayup terdengar suara sirene di polisi.
Raut muka Jerry pun semakin pucat pasi, bayangannya melayang bagaimana kalau dia di tangkap polisi dan di penjara. Dia bingung harus berbuat apa. Lalu ....
Di luar markas penculik, Ahmad yang baru saja datang langsung menghampiri Adi. Keduanya lantas ingin menunggu polisi sampai.
"Lho, itu bukannya Brian?" ucap Adi yang melihat Brian yang baru saja datang dan memarkirkan mobilnya.
"Iya, itu dia. Jangan-jangan dia orang di balik dalang penculikan ini?" ujar Ahmad kemudian.
Sesaat setelah Brian keluar dari pintu mobilnya, Ahmad langsung menghampirinya.
Buuuugh ....
Ahmad langsung menonjok wajah Brian, hingga dia tersungkur.
"Jadi kamu, dalang di balik penculikan ini hah?" kata Ahmad.
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti?" tanya Brian berdiri dan bingung, lalu mengusap bibirnya yang sedikit berdarah akibat tonjokan Ahmad.
"Jangan pura-pura bod*h ya kamu!" teriak Ahmad.
"Hei, aku datang kesini juga dapat panggilan telepon dari si penculik. Tidak percaya terserah, tapi ini aku bawa uang lima ratus juta di dalam mobil yang diminta penculik untuk uang tebusan!" jelas Brian.
"Lihat dirimu sendiri, Suaminya tapi malah tidak bawa apa-apa, cih! Tapi nggak mungkin lah ya kamu punya uang lima ratus juta, secara kamu kan cuma supir!" ejek Brian dengan tatapan meremehkan Ahmad sambil menyilangkan tangan di dada.
"Hei! Sudah-sudah, kita harus menyelamatkan Naysila!" ujar Adi melerai debat yang tak kunjung usai itu.
"Apa? Naysila? Siapa Naysila? Bukannya Mona yang diculik?" tanya Brian bingung.
"CK, udahlah. Kamu diam saja di sini dan jangan mengganggu kami!" tukas Ahmad akan bersiap masuk ke dalam markas penculik.
"Adi, di Handphone mu masih ada ringtone suara mobil polisi? Cepat nyalakan, terlalu lama kalau kita nunggu polisi!" tukas Ahmad.
"Masih, oke siap!" Adi pun bersiap menyalakan ringtone itu.
**
Sementara itu di Rumah Sakit, di situ ada Ridwan yang tengah berbaring lemah di bangsal rawat inap Rumah sakit bagian penyakit dalam.
"Bang, kenapa sih Abang tidak bilang kepada Kak Naysila kalau sedang sakit begini?" ucap seorang pria dengan baju Koko putih dan celana bahan berwarna hitam.
"Aku tidak mau membuatnya khawatir Hasan, aku hanya ingin melihat dia bahagia!" jawab Ridwan kepada pria yang tak lain adalah adiknya yang bernama Hasan.
"Tapi, Bang!" protes Hasan.
"Sudahlah Has, sekarang Aku mau tahu bagaimana penelusuran kamu tentang Ahmad. Pria yang bertahun-tahun di cintai Naysila itu, dan apa hasilnya?" tanya Ridwan.
"Emm itu Bang, gimana ya jelasinnya!" tukas Hasan.
"Sudah, ceritakan saja semuanya!" putus Ridwan kemudian.
"Jadi. Setelah aku telusuri, ternyata Ahmad itu sudah menikah Bang!" tukas Hasan.
"Lalu? Apalagi?" tanya Ridwan penasaran.
"Dia menikah dengan Monalisa Permana, anak dari atasannya sendiri. Selebihnya Aku tidak bisa mengatakannya Bang, Aku takut berdosa jika membicarakan aib orang!" jelas Hasan, lelaki yang berprofesi sebagai guru ngaji di sebuah pesantren itu.
"Baiklah, itu sudah cukup. Terimakasih Has, sudah mencari tahu tentang itu!" jawab Ridwan menepuk pundak adiknya.
"Tidak masalah Bang, sudah selayaknya Aku membantu Abang!" jawab Hasan.
Ridwan menghela nafas, pikirannya membayangkan. Bagaimana dia bisa meninggalkan Naysila, sedangkan pria yang di cintainya telah menikah dengan wanita lain.
Sedangkan dirinya menderita penyakit kanker sumsum tulang belakang stadium akhir, dan mungkin waktunya tidak akan lama lagi.
"Hasan, bisakah kamu membantuku!" pinta Ridwan kepada sang adik.
"Kalau bisa, Aku akan melakukannya Bang!" jawab Hasan.
"Minta tolonglah pada Rina temanmu, untuk kesini!" tukas Ridwan, yang membuat Hasan kebingungan
"Abang mau apa?" tanya Hasan kemudian.
"Kemari." Ridwan memerintahkan Hasan untuk mendekat, lalu kemudian membisikkan sesuatu ke telinganya.
"APA?! Aku nggak mau Bang, kasihan Kak Naysila nanti!" protes Hasan.
"Ini semua demi kebaikannya, tolonglah... Turuti permintaan terakhir Abang mu ini, hidupku sudah tak lama lagi Has!" ujar Ridwan dengan wajah sedih.
"Abang pasti bisa melewati ini semua, Abang pasti sembuh!" tukas Hasan.
"Tidak mungkin Has, Aku merasakan sudah tidak kuat lagi!" sahut Ridwan.
"Abang tidak boleh berkata begitu, jangan mendahului kuasa Allah Bang. Hanya Abang yang Aku punya di dunia ini, terus Abang mau meninggalkanku?" tegas Hasan.
"Ini adalah takdir, mungkin sudah jalanku seperti ini!" jawab Ridwan.
"Sudahlah, Aku tidak mau dengar lagi!" ucap Hasan pergi meninggalkan Ridwan, sendirian di Rumah Sakit.
**
Kembali ke markas penculik, Ahmad tengah bersiap mendobrak pintu setelah sebelumnya Adi membunyikan ringtone sirine polisi yang ada di handphone nya.
"Braaaak"
Pintu pun berhasil di dobrak, namun di dalam tidak ada penculik ataupun Naysila.
"Adi, bener mereka tadi membawa Naysila kemari? Kok sepi?" tanya Ahmad memandang menyusuri semua penjuru ruangan.
"Bener kok!" tukas Adi celingukan.
"Ah, di sana bro ada gang. Mungkin mereka kabur lewat sana!" ujar Adi menunjuk ke arah belakang kardus-kardus bekas yang di tumpuk.
"Ayo kejar!" ucap Ahmad.
Tak berapa lama, terdengar suara ribut dari belakang gudang tua itu.
"JANGAN BERGERAK, KALIAN SUDAH DIKEPUNG!"
Terdengar teriakan Pak Polisi, tak lama terdengar suara tembakan.
Dor ... Dor ... Dor ....
Ahmad dan Adi pun segera bergegas ke arah suara tembakan berasal, lalu mereka berdua mendapati dua orang yang telah menerima tembakan di kakinya.
"Pak, apa yang terjadi?" tanya Ahmad.
"Mereka tidak mau mendengar kan peringatan kami saat berusaha kabur, jadi kami melumpuhkan mereka. Tapi yang satu berhasil melarikan diri," ucap Pak Polisi.
"Jadi mereka bertiga Pak? Tadi saya melihat yang membawa teman kami ada dua orang!" tukas Ahmad.
"Mereka bertiga Pak, kemungkinan yang kabur itu adalah otak dari penculikan ini." Terang Pak Polisi.
"Sekarang di mana teman kami berada Pak? Apa dia baik-baik saja?" tanya Ahmad.
"Syukurlah teman anda baik-baik saja, dia hanya shock saja. Sekarang dia ada di dekat mobil kami."
"Baik, kami akan membawa kedua tersangka untuk dimintai keterangan dan di proses lebih lanjut. Lalu! Apa Bapak-bapak dan korban bisa menyusul untuk memberikan keterangan dan menjadi saksi?" ujar Pak Polisi membawa dua orang yang tadi membawa Naysila.
"Kami tidak bersalah Pak, kami hanya di suruh Bos besar. Lepasin kami Pak!" ucap si pria kurus.
"Tolong lepaskan kami Pak, bagaimana keluarga kami nanti!" Si pria botak menimpali.
"Sudah, DIAM! Jelaskan saja semuanya di kantor!" ujar Pak Polisi garang.
"Baik Bapak-bapak, kami permisi."
"Baik Pak, terimakasih." Ucap Ahmad mengangguk hormat.
Lalu mereka berdua bergegas menuju ke tempat Naysila, terlihat Naysila yang tengah menutup wajah dengan kedua tangannya. Ahmad dan Adi pun menghampirinya, lalu Ahmad menepuk pelan pundak Naysila.
"Aaakkkkhhhh, lepasin!" teriak Naysila.
"Nay, ini aku Ahmad."
Seketika Naysila membuka tangannya, melihat Ahmad lalu berhambur ke pelukan Ahmad sambil menangis. Ahmad hanya bisa diam dan mengangkat kedua tangannya, tanpa bisa membalas pelukan Naysila.
"Nay... Bisa kamu lepasin pelukannya sekarang? Kita bukan mahram!" ujar Ahmad mengingatkan.
"Ah, maaf. Aku nggak sengaja!" tukas Naysila seraya melepaskan pelukannya.
"Tidak apa, ayo kita ke kantor polisi dulu untuk memberikan laporan. Setelah itu baru aku akan mengantarkan mu pulang," ujar Ahmad.
"Udah deh, Adi Satya yang lucu, imut, gemesin di lupakan deh!" tukas Adi menggoda Ahmad.
"Adi!" kata Ahmad dengan mata melirik dan melotot ke Adi.
"Iihhhh, nggak suka gelaaaay!" Suara Adi yang di buat manja, yang membuat Naysila tertawa terpingkal-pingkal akan tingkah konyolnya.
"Nah gitu dong, ketawa. Gitu kan cantik!" ucap Adi.
Mereka pun akhirnya masuk kembali ke dalam mobil, Adi di mobilnya seorang diri. Sementara Naysila, ikut di mobil Ahmad.
Sebelum pergi Ahmad mengedarkan pandangannya ke sekitar gudang tua itu, namun dia tak menemukan lagi sosok Brian ada di sana. Apa benar Brian tidak ada hubungannya dengan kasus penculikan ini, atau tadi dia tengah bersandiwara. Entahlah, Ahmad tak ambil pusing dan mulai melajukan mobilnya menuju kantor polisi.
** Sementara itu di kediaman Mona, hati Mona yang masih tak tentu arah. Sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponselnya.
["Mona, apa kamu baik-baik saja. Ku mohon, maafkan sikapku kepadamu tadi."]
Begitu isi dari pesan itu, namun siapa pengirimnya? Kita akan tahu di part selanjutnya....