Bab 18. Diamnya Mona
("Mona, apa kamu baik-baik saja. Ku mohon, maafkan sikapku kepadamu tadi.")
Kira-kira begitu isi pesan yang di kirimkan oleh Brian, setelah sebelumnya dia berusaha melecehkan Mona. Untung saja ada Lala yang langsung datang dan menghajarnya, kalau tidak entah apa yang terjadi pada Mona.
Meski Brian adalah Ayah dari bayi yang di kandungnya sekarang, Mona tidak ingin mengulang kembali kesalahan yang dulu pernah dia lakukan bersama Brian.
Sekarang yang ada dalam pikirannya hanyalah Ahmad, yang sekarang entah berada di mana bersama siapa dan sedang apa. Mengingat Ahmad menyebut nama Naysila sebelum pergi entah kemana.
Mona merasa jika cinta lamanya kepada Ahmad nyatanya masih belum padam sepenuhnya, meski selama ini dia mencoba untuk mengalihkan hatinya kepada Brian.
Hingga pukul delapan malam, Ahmad tak kunjung pulang. Mona sedang berusaha untuk menjadi istri yang baik, dia dengan sabar menunggu Ahmad di ruang makan. Bahkan Mona belum makan apapun sejak kejadian dengan Brian tadi, meski Lala dan Jenny menyuruhnya makan. Mona tetap tidak mau.
Cukup lama Mona menunggu kedatangan Ahmad, tapi masih belum ada tanda-tanda Suaminya pulang. Sampai Mona merasakan kantuk yang teramat sangat, sesaat dia nyaris tertidur. Hingga... Sayup-sayup dia mendengar suara mobil memasuki garasi, sudah dapat dipastikan itu adalah Ahmad, Suaminya.
Tak berselang lama, terdengar pintu depan dibuka dan ditutup lalu diikuti langkah kaki dengan suara sepatu pantofel yang khas menandakan jelas itu adalah sang Suami.
Mona dengan cepat memanaskan rendang yang di masaknya tadi, lalu segera menatanya di meja. Dia seperti tahu jika sang Suami belum makan malam, di siapkan nya juga teh panas untuk Ahmad.
"Makan malam dulu, Mas?" ucap Mona saat Ahmad melewati ruang makan.
"Iya!" jawab Ahmad berjalan lalu duduk di depan Mona.
"Minum dulu, Mas," kata Mona memberikan teh panas kepada Ahmad, kemudian Ahmad menerimanya dan meminumnya seteguk lalu meletakkannya di atas meja.
Dengan cekatan Mona mengambilkan nasi juga lauk pauk untuk Ahmad, lalu meletakkannya di depan Ahmad. Meski sedari tadi wajah suaminya nampak lesu dan tidak bersemangat.
Ahmad pun mulai makan, sedangkan Mona hanya meminum air mineral dan tak banyak bicara seperti biasanya. Ahmad memperhatikannya, dalam hati kecilnya dia merasa bersalah kepada Mona. Hingga ....
"Mona! Kamu tidak makan?" tanya Ahmad membuka suara.
"Aku tak lapar!" jawab Mona acuh.
Sesaat kemudian perut Mona berbunyi, hingga membuat pipinya bersemu merah karena merasa malu. Wajah Mona memerah menahan malu, kenapa perutnya tidak mau diajak kompromi ketika dia mengatakan tidak lapar.
"Nah itu perutmu bunyi, kamu pasti belum makan. Ayo makan juga!" tawar Ahmad akan mengambilkan nasi untuk Mona.
"Aku lagi nggak nafsu makan!" tukas Mona ketus dengan wajah datar.
"Jangan egois, Mona. Bayimu juga butuh asupan gizi!" jawab Ahmad yang membuat Mona tak bisa membalas lagi, lalu menurut untuk di ambilkan makan.
Baru satu suapan, Mona meletakkan sendok dan ingin pergi meninggalkan meja makan. Namun Ahmad mencekal pergelangan tangannya.
"Mau kemana? Makananmu belum habis, duduk!" perintah Ahmad.
Mona pun menurut, namun dia hanya diam duduk disitu dengan tatapan kosong. Dia merasa jika Ahmad sama sekali tidak memiliki perasaan untuknya, sama seperti di masa lalu.
"Mona, kamu kenapa?" tanya Ahmad yang heran dengan sikap Mona.
"Tidak apa."
"Makan lagi ya?"
"Nggak mau."
"Kasihan bayimu, Mona!"
"Biarin, bukan bayimu juga!" jawab Mona ketus.
Ahmad pun menghela nafas, dia harus bertanya dengan baik-baik agar Mona mau bercerita. Ahmad pun akhirnya berinisiatif, dia mengambil piring Mona dan ....
"Mona, buka mulutmu!" titah Ahmad.
Mona hanya melirik tanpa mau peduli kepada Ahmad, tapi Ahmad tidak menyerah sampai disitu. Dia harus berhasil membuat Mona makan.
"Ayah, Mona tidak mau makan nih!" ucap Ahmad berpura-pura ada Pak Andi datang.
Mona pun langsung membuka mulutnya dan memakan nasi dari sendok yang di pegang Ahmad.
"Nah gitu dong, pinteeer!" seru Ahmad tersenyum puas sambil mengelus kepala Mona yang terbungkus hijab.
Wajah Mona bersemu merah saat Ahmad mengelus kepalanya, ada perasaan hangat menjalar dalam dadanya. Lalu akhirnya Mona pun mau makan disuapi Ahmad, tanpa terasa nasi di atas piring telah dia habiskan dan setelah keduanya sama-sama kenyang.
Mereka pun masuk ke dalam kamar, Ahmad pun segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Mona langsung duduk diam membisu di pinggir ranjangnya dan bersikap acuh kepada Ahmad.
Setelah ritual bersih-bersih selesai, dan Ahmad sudah berganti pakaian. Dia pun mendekati Mona, lalu ....
"Mona!" ujar Ahmad ketika duduk di samping Mona yang saat itu duduk di tepian ranjangnya.
"Iya," ucap Mona datar.
"Kamu kenapa?" tanya Ahmad.
"Menurutmu?" Mona balik bertanya.
"Kamu marah? Kenapa?" tanya Ahmad seperti orang bodh. Ya, sangat bodh.
Begitulah Ahmad jika berhadapan dengan mahkluk yang bernama wanita, sangat tidak peka. Lain halnya jika dia berhadapan dengan klien bisnisnya, dia begitu cekatan dan cepat sekali memenangkan hati kliennya.
"Ngomong-ngomong, kamu terlihat lebih cantik jika memakai pakaian seperti ini. Daripada menggunakan baju yang kurang bahan seperti biasanya!" tutur Ahmad yang membuat wajah Mona bersemu merah, sementara Ahmad ....
"CK bo**h, kenapa mulutku mengatakannya. Bagaimana jika dia salah paham dan berpikir aku menginginkan lebih," gumam Ahmad merutuki perbuatannya tadi.
"Kenapa?" tanya Mona heran melihat tingkah Ahmad yang jadisalah tingkah akibat ucapannya sendiri.
"Ah, tidak. Jadi kenapa sih dari tadi kamu marah?" tanya Ahmad lagi.
"Siapa yang marah?" sanggah Mona.
"Kamu lah, dari tadi diemin aku!" tukas Ahmad kemudian.
"Siapa sih yang marah sama kamu, BAPAK Ahmad!" tukas Mona mulai kesal.
"Tuh kan marah, nggak biasanya kamu begini!" ucap Ahmad heran.
"Tau ah, kamu pikir aja sendiri. Aku mau tidur, dan jangan ganggu aku!" tukas Mona langsung merebahkan tubuhnya, dan menarik selimutnya. Menutupi seluruh tubuhnya, juga kepalanya.
Dalam hatinya, Mona merasakan hatinya bergetar kala Ahmad memuji dirinya. Tapi Mona masih belum bisa melupakan rasa kecewanya, saat Ahmad menyebut nama Naysila tadi siang.
Ahmad pun menghela nafas, lalu mengelus kepala Mona dari balik selimutnya. Dia bingung dengan sikap Mona hari ini, kenapa tiba-tiba menjadi mendiamkannya seperti itu.
Di balik selimut, Wajah Mona memanas dengan semua perlakuan Ahmad hari ini. Meski dia masih kesal, tapi dia senang saat Ahmad memuji dan mengelus kepalanya. Apakah Mona mulai jatuh cinta lagi kepada Ahmad, jantungnya pun mulai berdebar kala dekat dengan Ahmad.
Sementara Ahmad akhirnya berdiri lalu meninggalkan Mona sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, tidak paham dengan kesalahan apa yang telah dia perbuat hingga membuat Mona marah.
Dan anehnya, kenapa Ahmad peduli? Bukankah pernikahan mereka hanyalah sebuah perjanjian hitam di atas putih, entahlah. Ahmad masih belum tahu perasaannya sendiri, dan dia kemudian teringat akan sebuah flashdisk yang diberikan oleh Pak Abdul tempo hari, dia pun segera bergegas menuju ruang kerjanya meninggalkan Mona sendirian di kamar.
**
Setelah sampai di ruang kerjanya, Ahmad mulai menyalakan sebuah laptop dan memasang flashdisk tadi untuk melihat apa isinya. Ahmad merasa penasaran. Kenapa secara khusus Pak Abdul memintanya untuk melihat isi flashdisk itu saat sedang sendirian.
Betapa terkejutnya Ahmad melihat isi yang ada di dalam flashdisk itu, dia bertanya-tanya dalam hatinya. Apakah ini semua kebenaran tentang dirinya, dan kenapa baru sekarang dia mengetahui kebenaran ini.
Terlihat di situ seorang bocah kecil laki-laki yang sedang bersenda gurau dengan seorang pria, di situ juga ada Ibunya. Mereka terlihat begitu bahagia, Ahmad tahu betul siapa bocah laki-laki itu. Itu adalah dirinya dua puluh tahun yang lalu, saat dia berumur lima tahun.
Tapi Ahmad tidak ingat siapa pria dalam video itu, kemudian setelah mengamati lagi dia berpikir pria itu begitu mirip dengan Pak Abdul. Kliennya dari JN Grup, tapi lebih muda. Atau ... Jika benar, apa hubungan antara Pak Abdul dengan keluarganya. Ahmad pun bingung akan hal itu, tubuhnya sudah lelah dengan kejadian penculikan Naysila tadi.
Sesaat ketika Ahmad ingin mematikan laptopnya, tiba-tiba ....
"ANAKKU!" ucap seorang pria yang ada dalam video.
Gimana adegan suap-suapan nya? Kurang manis gak, nanti saya kasih gula dua kilo kalau kurang manis...