Bab 19. Kebenaran Yang Terkuak
"Anakku," ucap seorang pria yang ada dalam video.
"Pak Abdul," ujar Ahmad lirih dan mengerutkan kening.
"Anakku, Ahmad Jaelani. Maafkan Ayahmu ini, Nak!" ujar Pak Abdul menunduk sedih.
"Anak? Ayah?" tukas Ahmad heran dengan kata-kata Pak Abdul.
"Apa kamu bingung, Nak? Sudah jelas. Apa kamu tidak sadar dengan kemiripan nama dan wajah kita, Nak?" ucap Pak Abdul lagi yang membuat Ahmad semakin bingung dibuatnya.
Ahmad pun masih tidak mengerti apa yang terjadi, dia putuskan untuk menonton kelanjutan video itu.
"Ahmad Jaelani, dan Abdulah Jaelani."
Ahmad pun merasa nama dan wajah mereka mirip saat pertemuan pertama kali, namun Ahmad tidak menaruh curiga sedikitpun. Sebab sang Ibu tidak pernah menceritakan perihal sang Ayah kepada Ahmad. Ibunya hanya mengatakan bahwa Ayahnya telah tiada, lalu kenyataan yang dia terima saat ini. Apa? Dia tidak mengerti ini semua.
"Mungkin kamu tidak mengetahui apapun tentang Ayah, tapi Ayah sedikit banyak tahu tentangmu. Maaf, Ayah hanya bisa mengamati kamu dari jauh!" tutur pria itu dengan mata yang mulai berembun.
Dada Ahmad pun serasa bergemuruh, mengetahui perihal ini. Bahwa ternyata dirinya adalah anak dari seorang pengusaha yang kaya raya dan berjaya, itu membuatnya bingung dan seakan tak percaya akan kenyataan yang baru saja diterimanya.
Segera Ahmad mematikan laptopnya, dia terdiam dengan pikiran yang melayang entah kemana. Dengan langkah gontai, dia melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Tanpa banyak bicara dia membuka pintu kamar lalu menutupnya kembali, dan dia pun langsung membaringkan tubuhnya di sofa tempatnya biasa tidur. Mencoba memejamkan mata, namun pikirannya menolak untuk tidur.
**
Hingga pagi menjelang, mata Ahmad pun sama sekali tak dapat terpejam. Dan dia pun memutuskan untuk menemui Pak Abdul, untuk meminta kejelasan perihal isi video yang semalam ditontonnya.
Selepas dia menunaikan ibadahnya, dia pun segera bersiap-siap. Sementara itu dia melihat Mona yang masih tidur, terlihat mata Mona yang terlihat sembab. Kemungkinan semalaman dia menangis, tapi Ahmad tak begitu memperhatikan karena semalam hanya memikirkan tentang kebenaran tentang dirinya dan Pak Abdul.
Sebelum pergi dia sempat membelai kepala Mona, dan tanpa sadar dia kemudian mengecup pucuk kepala istrinya itu. Dia merasa menyesal sebab membuat wanita yang berstatus istrinya itu menangis semalaman.
"Maaf atas sikapku kemarin, Mona. Meski aku tidak tahu apa yang telah menyakitimu!" kata Ahmad setengah berbisik.
Ahmad sama sekali tidak sadar jika perbuatannya yang menyebut nama Naysila telah membuat Mona terluka, bahkan dia juga belum mengetahui perasaan istrinya itu pada dirinya.
Lalu dia pun bergegas pergi meninggalkan Mona, karena dia tak mau menunda-nunda pertemuannya dengan Pak Abdul. Dia tidak sabar untuk meminta kejelasan tentang statusnya, yang menurut Pak Abdul adalah putranya.
Sementara itu Mona yang ternyata sedari tadi ternyata sudah terbangun pun merasa aneh akan tingkah suaminya tersebut. Bahkan dia merasa sedikit tersentuh saat Ahmad mengecup keningnya.
Ternyata semalam, Mona pun juga tidak bisa memejamkan mata. Dia hanya menangis dalam diam, dan memperhatikan Ahmad yang terlihat begitu gelisah. Sebenarnya apa hal yang membuat suaminya gelisah, itu juga membuat Mona penasaran.
**
Beberapa jam berlalu, Ahmad yang sedari tadi memperhatikan kantor YP grup dari kejauhan. Dia menunggu kedatangan Pak Abdul, tak berapa lama kemudian terlihat dari kejauhan mobil Pak Abdul mulai memasuki halaman kantor. Ahmad pun langsung keluar dari mobilnya, lalu bergegas menghampiri Pak Abdul.
"Ah-mad!" ucap Pak Abdul terbata, kala melihat kedatangan Ahmad.
Dia tidak menyangka jika sang putra akan langsung mendatanginya setelah melihat video yang ia berikan kemarin, meski dia merasa bahagia sebab Ahmad mendatanginya sepagi itu.
"Selamat pagi, Pak Abdul!" ujar Ahmad menyapa pria paruh baya dihadapannya
"Selamat pagi, Nak. Ayo masuk. Kita bicara di dalam saja!" tukas Pak Abdul mengajak Ahmad masuk ke dalam kantornya, sebab dia ingin berbicara berdua dengan putranya tanpa gangguan.
Beberapa saat kemudian, setelah mereka sampai di dalam ruangan Pak Abdul. Ahmad pun mulai membuka suara dengan rasa penasaran yang sudah semalaman ia tahan hingga membuatnya kesulitan untuk memejamkan mata.
"Jadi,,, apa semua yang saya lihat di dalam video itu benar adanya?" tanya Ahmad meminta kejelasan dengan raut wajahnya yang nampak serius.
"Benar, Nak. Semua itu benar adanya. Aku adalah Ayah kandungmu, Ahmad. Maafkan Ayahmu ini, Nak!" ucap Pak Abdul dengan suara bergetar.
"Lalu! Kenapa selama ini anda menelantarkan kami? Kenapa membiarkan kami selalu hidup dalam kekurangan?" Cecar Ahmad bertanya dengan hati yabg terluka.
Dia ingat apa saja yang telah ia lalui bersama sang ibu, bahkan Ahmad ingat jelas betapa ibunya begitu menderita dan bekerja keras membesarkannya seorang diri.
"Bukan seperti itu, Nak. Ayah tidak bisa berbuat apa-apa. Ibumu Ningsih, dia menolak apapun semua pemberian Ayah, bahkan Ayah tidak di perkenankan untuk menemui kamu." Pak Abdul berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi kepada putranya, berharap jika Ahmad akan mempercayai ucapannya.
"Apa alasan Ibu melakukan semua itu? Tidak mungkin Ibu melakukannya, tanpa alasan yang jelas!" tukas Ahmad menimpali. Dia masih tidak percaya dengan perkataan pria yang mengaku sebagai ayah kandungnya itu.
"Ya, semuanya salah Ayah, Nak. Ayah terlalu percaya pada wanita itu," ujar Pak Abdul memulai.
"Wanita! Siapa?" tanya Ahmad merasa penasaran.
"Nadira Nadiva!" jawab Pak Abdul menyebut satu nama.
"Nadira Nadiva? Seperti pernah dengar?" ucap Ahmad mengernyitkan alis matanya.
** Sementara itu di tempat lain, Naysila yang sedang berbaring di kamarnya. Karena kejadian penculikan kemarin yang membuatnya shock, Naysila mendapatkan cuti selama sepekan untuk memulihkan kondisinya.
Di atas nakas ponsel pintar milik Naysila tak henti-hentinya berdering. Terlihat di layar yang lumayan lebar itu, tertera nama Mas Ridwan. Ya, itu adalah telepon dari Ridwan.
Entah kenapa Naysila begitu malas mengangkat panggilan itu, dia begitu kesal dengan kelakuan Ridwan yang tak pernah perhatian padanya lagi.
Beberkan saat kemudian ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk pada aplikasi berwarna hijau.
("Nay! Kamu marah sama Mas?")
Ternyata itu pesan dari Ridwan, Naysila pun hanya melihatnya di layar ponsel itu tanpa membukanya.
("Nay, bales dong sayang! Jangan marah, maaf aku kemarin nggak hubungin kamu sama sekali.")
"Alasan aja terus," gumam Naysila kesal.
("Sayang, aku telepon ya. Tolong diangkat, please!")
Tak berselang lama, handphone Naysila pun kembali berdering. Dengan malas, Naysila pun mengangkatnya. Meski rasa kesal masih menyelimuti dirinya.
"Assalamualaikum!" ucap suara di seberang telepon.
"Wa'allaikumsalam ...." jawab Naysila.
"Kamu masih marah, Say?" tanya Ridwan.
"Menurutmu, Mas!" jawab Naysila ketus.
"Maafkan aku, Sayang. Aku sibuk banget kemarin. Kan Aku sudah bilang, klienku tiba-tiba meneleponku."
"Tidak tahukah kamu, Mas. Aku hampir saja dalam bahaya kemarin? Apa kamu tahu?" teriak Naysila dengan suara bergetar.
Wanita itu mencurahkan isi hatinya yang dalam kegundahan, ada rasa marah serta kecewa yang ia rasakan. Ia merasa jika pria yang menyatakan diri mencintainya, sama sekali tidak pernah perhatian padanya.
"Apa yang terjadi padamu? Aku sungguh tidak tahu!" ungkap Ridwan yang langsung merasa khawatir dengan keadaan Naysila.
"Aku kemarin begitu ketakutan, ada dua orang yang menculikku. Namun kamu tidak ada di sisiku, dan aku hanya bisa menangis karena ketakutan!" ucap Naysila lirih dan terdengar dia mulai terisak.
"APA?! Kamu diculik? Terus sekarang bagaimana keadaanmu? Apa baik-baik saja?" tanya Ridwan khawatir.
"Ya, aku baik-baik saja. Dan semua itu berkat Ahmad, dia tepat waktu menyelamatkanku saat itu."
"Maaf aku tidak ada di sisimu Nay!" ucap Ridwan lirih.
"Aku sadar, kamu akhir-akhir ini banyak berubah Mas. Kamu tak lagi peduli padaku, bahkan kamu jarang menghubungiku." ucap Naysila yang masih terdengar tengah menangis.
"Sudah ya, Mas. Assalamualaikum ...!" ucap Naysila mengakhiri panggilan.
"Tunggu... Nay... Nay...." ujar Ridwan memanggil Naysila, tapi percuma. Naysila telah mematikan teleponnya, Ridwan pun berusaha untuk menelepon kembali. Namun usahanya sia-sia, Naysila tak ingin lagi bicara dengannya.
** Di rumah sakit, di kamar tempat Ridwan menjalani rawat inap. Terlihat Hasan yang baru datang, dia masuk ke dalam kamar dengan membawa bungkusan di dalam kantong plastik berwarna putih.
"Hasan, kebetulan kamu sudah datang!" tukas Ridwan.
"Ada apa, Bang?" tanya Hasan sembari duduk di kursi samping ranjang pasien, lalu kemudian membuka bungkusan yang dibawanya.
"Aku mau kamu ...."