Bab 20. Sahabat Sejati
"Aku mau kamu cari tahu siapa yang telah berani menculik Naysila!" tegas Ridwan.
"Apa, Bang?! Kak Nay di culik orang? Kapan?" tanya Hasan panik juga heran.
"Katanya sih kemarin, waktu aku tinggalin dia di kantin dekat kantornya. Saat aku tiba-tiba muntah darah, lalu hubungin kamu." Ucap Ridwan dengan raut muka sedih.
"Jadi kejadiannya setelah itu, Bang?" tanya Hasan lagi.
"Iya, dan itu semua salahku, jika saja aku tidak sakit. Pasti aku bisa menjaga Naysila, dan aku tak harus meninggalkannya sendirian seperti kemarin!" ujar Ridwan menyalahkan dirinya.
"Tenang, Bang. Jangan emosi, emosi tidak akan menyelesaikan masalah, ingat kesehatan Abang!" tutur Hasan.
"Tapi, ini memang benar salahku. Aku tidak bisa menjaga Naysila, padahal Naysila sudah tidak memiliki siapapun kecuali aku!" timpal Ridwan.
"Iya, Bang. Aku ngerti. Tapi tolong, kontrol emosi. Aku nggak mau, penyakit Abang semakin parah kalau Abang begini. Andai kak Nay tahu, dia pasti akan sangat sedih!" tukas Hasan menguatkan sang kakak.
"Jadi! Kamu mau kan, membantuku mencari tahu siapa dalang dibalik penculikan Naysila?" imbuh Ridwan lagi.
"Baik kalau begitu Bang, aku nanti akan cari tahu siapa orangnya. Sekarang Abang yang tenang dan sarapan dulu ya, aku mau pergi ngajar!" pamit Hasan.
"Iya, hati-hati!" ucap Ridwan.
Hasan pun pergi keluar dari ruangan rawat inap, setelah sebelumnya saling mengucap salam dengan Ridwan.
** Sementara itu di kantor Pak Abdul setelah mendengar nama Nadira Nadiva, Ahmad pun pamit untuk kembali ke kantornya. Tapi dia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Pak Abdul adalah Ayah kandungnya, sampai dia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu.
Mobil Ahmad pun melaju pergi menjauh dari kantor JN Grup, dalam perjalanan menuju kantornya entah mengapa dia kepikiran Mona.
Semalam setelah dia pulang dari menyelamatkan Naysila, Mona pun jadi lebih pendiam dari biasanya. Sepulang dari kantor nanti dia akan mencoba bicara kepada Mona, perihal sikap diam Mona.
Jam didinding menunjukkan waktunya makan siang, tapi Ahmad tak kunjung keluar dari ruangannya. Adi yang menunggu pun rasanya telah cukup bosan, sementara cacing yang berada di dalam perutnya telah meronta-ronta ingin segera diberi makan.
"Sayaaaang!" ucap Adi setelah membuka sedikit daun pintu ruangan Ahmad, dengan kepala sedikit menyembul ke dalam ruangan.
"Aahhhh!" teriak Ahmad terkejut.
"Ish, kayak cewek aja kalau teriak!" ujar Adi mencibir, lalu melenggang masuk ke ruangan Ahmad.
"Kamu sih, ngagetin!" timpal Ahmad.
"Kenapa? Kaget? Dikiranya aku Mona ya?" goda Adi.
"Apaan sih!" ucap Ahmad dengan wajah memerah.
"Cieee! Ada yang lagi jatuh cinta!" goda Adi mengedipkan sebelah matanya.
"Nggak!" tukas Ahmad.
"Nggak salah!" cibir Adi.
"Terserah!" ujar Ahmad membuang muka.
Ahmad pun hanya diam, tak bisa menjawab atau membalas pernyataan Adi. Bahkan dia tidak tahu bagaimana perasaan dia sesungguhnya, entah pada Mona atau Naysila.
"Hei! Malah bengong!" pukul Adi pada lengan Ahmad.
"Apaan sih, Di?" Ahmad berusaha fokus pada layar laptop di hadapannya.
"Ayo makan siang?" ajak Adi pada sahabatnya itu.
"Kamu ajalah sendiri, aku nggak lapar!" ujar Ahmad diiringi suara dari dalam perutnya.
Adi yang mendengar hal itu pun sontak tersenyum, kemudian mencibir sahabatnya itu.
"Katanya nggak lapar, tapi itu perut bunyi Pak?" cetus Adi dengan senyuman yang masih menggantung di wajahnya.
"Berisik! Aku lagi nggak nafsu makan, aku pengen disini aja."
"Ada masalah apa sih? Cerita dong? Kamu lagi ada masalah apa?" ucap Adi menarik kursi, dan mulai duduk di depan Ahmad.
Meskipun tingkah Adi sedikit ajaib, tapi sebenarnya dia adalah orang yang sangat setia kawan dan merupakan teman yang baik juga pengertian.
"Adi ...."
"Iya?"
"Emm, Ayahku ternyata masih hidup!" ungkap Ahmad mulai bercerita, karena dia merasa tidak sanggup jika harus menyimpan hal besar itu sendirian. Dan Adi selama ini adalah sahabat baiknya, baik suka maupun duka.
"Apa?! Ayahmu masih hidup? Setelah semua yang kamu alami selama ini!" tukas Adi terkejut dengan perkataan Ahmad.
"Aku tak habis pikir!" Adi menggelengkan kepalanya. "Kemana saja dia selama ini?" ujar Adi heran juga sedikit emosi, mengingat bagaimana perjuangan Ahmad untuk ada di posisi sekarang ini.
"Kamu akan lebih terkejut, jika mengetahui siapa orangnya." Imbuh Ahmad.
"Memang siapa?" tanya Adi kemudian.
"CEO sekaligus pemilik JN Grup, Bapak Abdulah Jaelani." Jelas Ahmad.
"APA?! Pak Abdul? Ayahmu? Dia... Pak Abdul! Gi*a!" pekik Adi keheranan sambil mengusap kasar kepalanya lalu berdiri dari tempat dia duduk.
"Bagaimana bisa? Dia kemana saja selama ini, meninggalkan Istri juga Putranya untuk berjuang sendirian. Sementara dia, enak-enakan dengan jabatan juga kekuasaannya!" ucap Adi menggelengkan kepalanya sembari melipat kedua tangannya di dada.
"Katanya dia nggak bersalah!" terang Ahmad.
"Hah! Dan kamu percaya begitu saja?" tanya Adi.
"Nggak lah, makanya aku cerita ke kamu. Siapa tahu kamu bisa membantuku, untuk mencari kebenarannya!" jawab Ahmad.
"Oke, apa yang bisa aku bantu!" tukas Adi yang mulai duduk kembali di kursi.
Begitulah Adi, meski terkadang tingkah lakunya terkadang konyol dan tak biasa. Tetap bisa diajak serius, juga dapat diandalkan jika temannya membutuhkan bantuan.
"Kamu ingat nggak sama Nadira Nadiva itu siapa? Aku sepertinya pernah dengar, tapi aku lupa dia siapa!" ujar Ahmad.
"Nadira,,, Nadiva!" ucap Adi dengan pandangan matanya menerawang ke atas, sembari tangan terlipat di dada lalu sesaat dia memejamkan matanya.
"Ah aku ingat! Bukankah dia itu mantan model yang terkenal pada masanya? Ada apa dengan dia?" tanya Adi kemudian.
"Kata Pak Abdul, dia penyebab perpisahannya dengan Ibu. Adi, bisakah kamu membantuku untuk menyelidikinya bersama?" pinta Ahmad.
"Ck, macam sama siapa aja kamu. Nggak usah minta tolong juga, aku pasti mau bantu kamu. Kita kan sahabat bagaikan kepompong masalah kamu yang ini anggap sudah beres, terus ini kenapa kamu masih kelihatan banyak masalah?" imbuh Adi.
"Aku bingung, Di. Semalam Mona tuh diemin aku. Nggak tahu kenapa?" ujar Ahmad.
"Cie! Perhatian! Beneran jatuh cinta, Pak!" ledek Adi.
"Serius kenapa, Di!" gerutu Ahmad memalingkan wajah.
"Oke, awal mula masalahnya apa sampai dia diemin kamu?" tanya Adi kemudian.
"Emm, sejak aku pulang waktu Naysila diculik. Kan penculiknya telepon aku, bilang katanya dia menculik Mona."
"He-em, terus?"
"Terus aku buru-buru tuh pulang ke rumah, dan ternyata Mona di rumah baik-baik saja dan aku memperhatikan penampilan yang berubah memakai gamis dan hijab. Terus aku mengumpat, tanpa sengaja menyebut nama Naysila didepannya karena berfikir si penculik itu salah membawa orang."
"Ahmad, Ahmad. Kamu tuh ya dari dulu nggak pernah berubah. Memang sih kamu terbilang sempurna di akademis, tapi kamu nggak pernah peka kalau berhadapan sama yang namanya perempuan."
"Maksudnya?"
"Hadeh, kenapa sih aku punya teman kok gini banget. Tolongin Aim Ya Allah!" ucap Adi menengadahkan tangannya didepan wajahnya dengan raut muka lucu.
"Adi. Jelaskan!" Ahmad pun memelototinya.
"Si nona Angkuh cemburu kamu menyebut nama Naysila di depannya, begitu Bapak Ahmad suaminya Monalisa!" tukas Adi, yang membuat Ahmad begitu terkejut akan penuturannya.
"Kenapa dia cemburu? Kan kami menikah juga hanya perjanjian di atas putih," ujar Ahmad.
"Begini ya Bapak Ahmad. Hati orang tidak ada yang tahu. Mungkin dia jatuh cinta sama kamu, karena dia sudah mulai bisa menerima kamu menjadi suaminya."
Ahmad pun hanya terdiam dalam angannya, apakah benar bahwa Mona jatuh cinta dan juga cemburu kepadanya. Dia memikirkan itu semua dengan serius, dan melupakan jika di ruangan itu dia tidak sendiri.
"Woy! Aku masih disini lho, Pak. Cacing didalam perutku masih nangis ini minta diberi makan. Kamu nggak kasihan ya sama mereka?" tanya Adi.
"Kamu sendiri aja, Adi. Aku sedang tak ingin makan."
Lagi, suara perut Ahmad pun berbunyi yang sontak membuat Adi menggelengkan kepalanya. Dia tahu jika sahabatnya itu kehilangan selera makan karena banyak hal yang dipikirkannya, sehingga dialah yang harus memaksanya untuk makan.
"Tuh, cacing dalam perutmu juga lapar. Ayo!" ucap Adi sembari menggeret lengan sahabatnya menuju kantin dengan sedikit paksaan.
Mau tidak mau akhirnya Ahmad pun beranjak mengikuti langkah kaki Adi menuju kantin, meski dia merasa tidak ada keinginan untuk makan.
** Sementara itu di kediaman Pak Andi Permana, terdengar suara bel yang berbunyi. Mona yang tengah berada dalam kamarnya pun perlahan berjalan menuju pintu. Begitu di buka ....