Sienna berdiri di depan lemari besar yang terbuat dari kayu mahoni, pintunya terbuka lebar menampilkan deretan pakaian yang tersusun rapi. Gaun-gaun berwarna lembut menggantung berdampingan dengan kemeja dan blus kasual. Di rak bawah, beberapa sepatu baru yang bahkan belum sempat ia pakai tampak berbaris sempurna. Namun, justru pemandangan itu membuatnya bingung.
Tangannya terulur, menyentuh salah satu dress berwarna krem yang lembut di kulit. Ia menatapnya lama, lalu memindahkan pandangan ke koper besar di atas tempat tidur yang masih kosong.
“Berapa banyak pakaian yang sebaiknya kubawa ya,” gumamnya sendiri.
Sudah hampir setengah jam ia berdiri di sana, tapi belum satu pun pakaian benar-benar ia masukkan. Kepalanya penuh tanda tanya ke mana tepatnya mereka akan pergi? Berapa lama? Dan kenapa tiba-tiba Arden ingin liburan? Semua terasa terlalu mendadak.
Suara roda yang berdecit pelan memecah keheningan. Sienna menoleh, dan mendapati Arden sudah berada di ambang pintu, duduk di kursi rodanya. Tatapan matanya lembut, sedikit geli melihat Sienna yang tampak kebingungan di depan lemari pakaian yang penuh sesak itu.
“Kamu sudah menatap lemari itu sejak tadi,” ujar Arden datar tapi dengan nada menggoda. “Apa Kamu berencana membawa seluruh isi lemari?”
Sienna memutar tubuhnya, menatap Arden dengan sedikit jengkel. “Aku cuma… bingung. Aku nggak tahu harus bawa apa saja. Aku nggak tahu ke mana kita akan pergi.”
Arden tertawa kecil. “Nggak perlu bawa banyak pakaian,” ujarnya sambil menggerakkan kursinya mendekat. “Kalau nanti kurang, kita bisa beli di sana.”
Sienna mendengus pelan, memutar matanya. “Kamu selalu membuat semuanya terdengar mudah.”
“Memang mudah,” balas Arden ringan. “Liburan itu seharusnya membuatmu santai, bukan stres memilih baju.”
Sienna menatapnya lama, kemudian menarik napas panjang. “Baiklah, Tuan Santai. Aku akan pilih asal saja, kalau begitu.”
Ia membuka salah satu laci, menarik beberapa pakaian tanpa terlalu memikirkannya. Semuanya ia lipat seadanya dan masukkan ke koper.
Arden memperhatikan dari tempatnya, senyum tipis masih menempel di wajahnya. Ada sesuatu yang menyenangkan melihat Sienna begitu apa adanya, tanpa topeng formal seperti biasanya.
“Kalau terus seperti itu, bisa-bisa kamu bawa piyama dan lupa bawa pakaian jalan,” ujar Arden lagi, kali ini sambil menahan tawa.
Sienna menoleh, menatapnya dengan wajah pura-pura kesal. “Kamu mau bantu pilih, atau hanya mau duduk di sana dan mengomentari semuanya?”
Arden mengangkat tangan, pura-pura menyerah. “Baik, baik. Aku diam.” Tapi senyumnya tidak juga hilang. Ia justru menatap Sienna dengan lebih lembut. “Tapi serius, jangan terlalu khawatir. Aku cuma ingin kita pergi tanpa beban. Nggak ada urusan keluarga, nggak ada orang lain. Hanya … kita berdua.”
Ucapan itu membuat Sienna terdiam. Ada nada ketulusan yang dalam di balik kalimat sederhana itu. Ia menatap Arden yang kini memalingkan wajah ke arah jendela, seolah menyembunyikan sesuatu di balik nada suaranya.
“Kalau begitu… Aku akan bawa pakaian yang ringan-ringan saja.”
Arden mengangguk tanpa menatapnya, tapi ada senyum kecil yang kembali muncul di bibirnya. Dan saat Arden kembali berbalik menuju pintu, ia sempat menoleh dan berkata lembut.
“Kamu nggak perlu bingung, Sienna. Aku hanya ingin Kamu merasa santai. Itu saja.”
Sienna menatap punggungnya yang perlahan menjauh, lalu menunduk pada koper yang kini setengah terisi. Entah kenapa ia merasa jika Arden perlahan mulai berubah menjadi lebih ... ramah?
Di dalam mobil, Sienna duduk di kursi samping Arden, menatap keluar jendela. Di pangkuannya, tangannya saling menggenggam, mencoba meredam kegugupan yang tak jelas sebabnya. Ini pertama kalinya ia bepergian bersama pria. Itu pun bukan untuk urusan keluarga atau paksaan siapa pun, tapi karena Arden sendiri yang memintanya.
Arden terlihat santai di kursi rodanya yang sudah terpasang di dalam mobil. Kacamata hitam menutupi sebagian wajahnya, tapi Sienna tahu pria itu sedang memperhatikannya lewat pantulan kaca depan.
Setelah beberapa menit diam, Arden akhirnya membuka suara. “Sienna,” panggilnya, membuat wanita itu menoleh seketika.
“Ya?” jawab Sienna pelan.
Arden menoleh sedikit, bibirnya terangkat membentuk senyum kecil. “Apa ini pertama kalinya kamu ke luar negeri?”
Sienna sempat terkejut dengan pertanyaan itu, lalu tertawa pendek. “Tentu saja nggak mungkin begitu. Aku sudah pernah ke luar negeri sebelumnya.”
Arden menaikkan alis, sedikit tertarik. “Oh? Ke mana?”
“Beberapa negara di Asia dan Eropa,” jawab Sienna santai. “Tapi semuanya karena urusan kerja atau beasiswa. Jadi … aku nggak benar-benar sempat menikmati perjalanannya.”
Arden mendengus pelan sambil bersandar lebih nyaman. “Jadi kamu belum pernah liburan ke luar negeri?”
Sienna memutar bola matanya, menatapnya sekilas dengan ekspresi jengkel. “Kalau pun belum, memangnya kenapa?”
“Nggak apa-apa,” sahut Arden, senyum kecil kembali terbit di bibirnya. “Aku hanya heran. Kamu itu selalu tampak kaku, seperti orang yang nggak tahu caranya bersenang-senang.”
Sienna langsung memalingkan wajahnya ke jendela, pura-pura tidak mendengar.
“Aku nggak seformal itu. Hanya saja aku tahu kapan harus serius.”
Arden tertawa pelan, menikmati bagaimana Sienna mencoba mengabaikannya.
“Kamu tahu, Kamu terlihat lucu kalau sedang berusaha menahan kesal.”
“Dan Kamu menyebalkan kalau sedang terlalu banyak bicara,” balas Sienna cepat tanpa menatapnya, membuat Arden tertawa lebih keras kali ini.
Canda kecil itu membuat suasana di dalam mobil sedikit mencair. Meskipun Sienna masih bersikap kaku, dalam hatinya ia merasa aneh, Arden yang biasanya kasar dan mudah marah kini justru terdengar lebih tenang, bahkan menyenangkan.
Perjalanan berlanjut tanpa banyak percakapan. Sesekali Arden menatap Sienna diam-diam, memperhatikan bagaimana wanita itu sesekali tersenyum kecil ketika melihat pemandangan di luar.
Ada sesuatu yang berbeda pada dirinya hari ini.
Setelah hampir satu jam, mobil akhirnya memasuki area bandara internasional. Dari kejauhan, gedung kaca besar terlihat berkilau diterpa cahaya matahari.
Beberapa pesawat tampak tengah bersiap lepas landas, sementara para penumpang berlalu-lalang dengan koper di tangan.
Mobil berhenti di area khusus keberangkatan VIP. Lucas, yang duduk di depan, segera keluar dan membantu membuka pintu.
“Kita sudah sampai, Tuan Muda,” katanya dengan hormat.
Arden menoleh pada Sienna yang masih diam memperhatikan suasana di luar. “Kamu siap?”
Sienna mengangguk pelan. “Tentu saja.”
Lucas membantu Arden turun dari mobil, sementara Sienna membawa kopernya sendiri. Mereka berjalan berdampingan menuju terminal keberangkatan, melewati pintu kaca otomatis yang terbuka lebar.
Arden sempat menatap ke sekeliling, lalu menoleh pada Sienna yang tampak terpesona menatap dinding kaca tinggi yang memperlihatkan landasan pesawat di kejauhan.
“Kamu pasti akan suka Paris,” katanya tiba-tiba.
Sienna menoleh, terkejut. “Paris?”
Arden mengangguk pelan, senyum tipis tersungging di wajahnya. “Ya. Itu tujuan kita. Liburan pertama kita, bukan begitu?”
Sienna nyaris tidak percaya. Paris kota yang dulu hanya ia lihat dari brosur dan layar televisi.
“Kamu serius?”
“Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?” jawab Arden santai. “Percayalah, setelah ini, kamu nggak akan melihat dunia dengan cara yang sama lagi.”
Sienna menahan senyum kecil, sementara Arden menatapnya dengan tatapan yang berbeda.