Di bawah cahaya biru lembut yang memantul dari lampu gantung kristal, Lily berdiri anggun di tengah ruangan yang berbalut keheningan. Gaun panjang berwarna biru laut membalut tubuhnya dengan sempurna—warna favoritnya, warna yang selalu membuat matanya tampak lebih dalam dari samudra. Kainnya jatuh mengikuti lekuk tubuhnya dengan elegan, setiap lipatan tampak seperti hasil karya seorang perancang yang mengerti betul bagaimana keindahan bisa berbicara tanpa suara.
Lipit-lipit halus di bagian pinggang membentuk siluet yang ramping dan menawan, sementara lapisan tulle tipis di bagian bawah bergoyang lembut setiap kali ia menggeser langkah. Setiap gerakan Lily seolah menari bersama angin yang menyusup lewat jendela besar di belakangnya.
Tali bahu yang ramping menonjolkan bahu jenjang dan kulit lembutnya, sementara potongan leher berbentuk V menambahkan sentuhan sensual yang tetap menjaga kesopanan. Gaun itu bukan sekadar pakaian—ia seperti perwujudan dari ketenangan dan keanggunan itu sendiri, membuat Lily tampak seperti lukisan hidup yang terlahir dari ketulusan dan keindahan yang sunyi.
Dari sisi lain ruangan, Agam berdiri terpaku. Tatapannya tak berpaling sedikitpun sejak Lily muncul dari balik pintu kamar ganti. Suara nafasnya terasa berat, bukan karena lelah, melainkan karena terpesona. Bahkan MUA dan hairstylist yang baru saja selesai bekerja pun saling pandang, tersenyum tipis, lalu perlahan mundur keluar, membiarkan dua sosok itu tenggelam dalam momen yang seolah berhenti di waktu.
Agam melangkah perlahan, suaranya tak terdengar, tapi langkahnya cukup membuat jantung Lily berdetak lebih cepat. Ada ketegangan lembut di udara, sesuatu yang tak diucapkan, namun begitu terasa. Saat akhirnya ia berdiri di hadapan Lily, jarak di antara mereka hanya tinggal beberapa helaan napas.
“Kamu… sangat cantik,” ucap Agam dengan suara rendah dan tulus.
Nada suaranya berat, penuh makna, membuat senyum kecil menghiasi bibir Lily. Senyum itu tidak dibuat-buat—senyum yang muncul karena hatinya bergetar.
Agam menatapnya beberapa detik, lalu melangkah perlahan mengitari tubuh Lily. Saat ia berhenti di belakangnya, Lily menatap pantulan mereka di cermin besar di hadapannya. Lelaki itu mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya—sebuah kotak beludru kecil berwarna hitam. Dengan gerakan lembut, Agam membuka kotak itu, menampakkan sebuah kalung zamrud berkilau, cahaya hijau toscanya memantul sempurna di bawah lampu biru ruangan.
Tangannya terangkat pelan, menyibak rambut Lily ke satu sisi, dan Lily refleks menahan napas ketika jemari hangat Agam menyentuh kulit lehernya. Suara kait kalung yang mengunci terdengar begitu pelan, tapi bagi Lily, bunyi itu seperti denting waktu yang membuat seluruh dunia berhenti berputar.
“Om?” bisiknya pelan, nyaris tak terdengar, antara terkejut dan gugup.
Agam tersenyum kecil di balik pantulan cermin. “Kalungnya memang cocok untukmu,” ujarnya lembut.
Lily menatap pantulan dirinya di cermin—gaun biru itu, cahaya yang jatuh di pipinya, dan kilauan zamrud di lehernya. Semuanya begitu serasi.
“Kapan Om membelinya?” tanyanya, berusaha terdengar santai meski dadanya masih berdebar.
Agam menatap pantulan matanya lewat cermin, lalu menjawab dengan tenang, “Kemarin. Aku tak sengaja melihatnya… dan aku rasa akan cocok untukmu.”
Lily mengangguk, senyum kecil terukir di wajahnya. Namun sebenarnya, pria itu sengaja datang ke pelelangan semalam—menawar dengan harga yang nyaris tak masuk akal—hanya demi kalung itu. Kalung zamrud yang konon dulunya milik seorang bangsawan, yang dipercaya membawa keberuntungan bagi siapa pun yang memilikinya. Dan tanpa Lily tahu bahwa zamrud melambangkan cinta sejati.
“Ayo, kita berangkat,” ucap Agam lembut sambil mengulurkan tangannya.
Suara baritonnya terdengar tenang, namun cukup dalam untuk membuat Lily menegakkan punggungnya secara refleks.
Lily sempat ragu sejenak sebelum akhirnya menyambut uluran tangan itu. Jemarinya yang halus menyentuh telapak tangan Agam yang hangat dan kokoh. Meski kontak itu berlangsung singkat, detak jantung Lily tak bisa berbohong—masih ada rasa canggung yang belum sepenuhnya sirna setiap kali mereka berdekatan. Namun Lily pandai menutupi semuanya dengan senyum kecil yang nyaris sempurna.
Begitu mereka berada di dalam mobil, Lily menatap keluar jendela. Langit senja mulai berubah menjadi malam, dan lampu-lampu kota berpendar seperti bintang-bintang yang menunduk di bumi. Wajahnya tampak tenang, tapi hanya di permukaan—di balik itu, pikirannya masih dipenuhi kegelisahan yang ia sembunyikan rapat-rapat.
Rasa sakit di dadanya belum sepenuhnya hilang. Luka lama tentang Rafael dan Emma masih meninggalkan bayang-bayang yang menyesakkan. Ia takut… takut akan bisikan orang-orang, takut dibanding-bandingkan, takut dianggap sebagai pengganti.
Rafael, dengan kharismanya yang memesona, selalu menjadi pusat perhatian. Sedangkan Agam—meskipun berwibawa dan berpengaruh—terkenal dingin dan sulit tersentuh. Namun di sisi lain, Lily tahu… di balik tatapan tegas dan sikap tenangnya, Agam menyimpan kelembutan yang nyata, yang hanya ia perlihatkan padanya.
Tapi dunia luar tak pernah benar-benar adil. Ucapan orang bisa lebih tajam dari pisau, dan Lily tahu betul itu.
Mobil berhenti di depan gedung ballroom megah yang dipenuhi cahaya keemasan. Seorang valet segera membukakan pintu, namun Agam lebih dulu keluar dan bergegas ke sisi lain. Dengan sopan ia membukakan pintu untuk Lily, disertai senyum kecil yang begitu tulus hingga membuat Lily sedikit lupa pada kegelisahannya.
Begitu langkah mereka menapaki karpet merah di pintu masuk, semua kepala perlahan menoleh. Tatapan-tatapan itu datang seperti gelombang—kagum, heran, iri, bahkan menilai. Gaun biru Lily berkilau lembut di bawah cahaya chandelier, sementara tangan Agam yang menggenggam miliknya menambah kesan elegan sekaligus memaksa semua orang untuk tahu, bahwa wanita ini adalah miliknya.
Namun bagi Lily, perhatian itu terasa menyesakkan. Ia bisa merasakan bisikan-bisikan kecil berdesir di antara kerumunan tamu. Ia menunduk, meneguk napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya.
“Nggak perlu takut,” bisik Agam di telinganya. Suaranya lembut, dalam, tapi penuh keyakinan. Ia menggenggam tangan Lily lebih erat, seolah ingin mengatakan bahwa selama ia di sisi Lily, tak ada yang perlu dikhawatirkan.
Tapi bahkan dalam keheningan itu, kata-kata orang tetap menembus.
“Bukankah itu kalung di pelelangan kemarin?” terdengar suara seorang pria di dekat meja samping.
“Benar,” sahut seorang lain dengan nada kagum. “Kalung yang nyaris aku dapatkan. Tapi tentu saja… tak ada yang bisa menyaingi Tuan Agam.”
“Dia menghabiskan delapan puluh miliar hanya untuk sebuah kalung,” bisik pria lain setengah tak percaya.
Lily berhenti melangkah sejenak. Angka itu membuatnya menoleh perlahan. 80 miliar? Untuk kalung di lehernya?
“Wah, bukankah Nona Lily sangat beruntung,” tambah seorang tamu wanita dengan tawa kecil.
Suara-suara itu berputar di kepala Lily. Ia menatap bayangan dirinya di dinding kaca yang berkilau—gaun biru, zamrud di lehernya, dan sosok Agam di sisinya. Semua tampak sempurna, tapi hatinya justru bergetar hebat.
Ia menoleh ke arah Agam, matanya sedikit membulat, penuh rasa tak percaya. “Om…” suaranya pelan, nyaris bergetar. “Apa yang mereka katakan itu benar?”