Tiba-tiba Cinta _Anemia Aplastik _ Bab 9

Penulis MIA
17 October 2025

“Dia sudah menunggu lama di luar, apa kau yakin tidak akan membiarkannya masuk?”

Sean mengambang di pintu bersama kursi rodanya. Lelaki itu juga berusaha membujuk Maya yang ia kenal cukup keras kepala.

Sean memang tidak tahu apa yang terjadi pada Maya dan Adrian hingga membuat mereka bertengkar, sebab beberapa waktu lalu ketika dirinya memergoki Maya bertukar pesan di grup chat-nya dan mendapatkan sesuatu dari ponselnya, Maya memilih menyembunyikannya dari Sean. Tetapi melihat kenyataan bahwa Adrian sangat serius dan melakukan apapun demi dapat bertemu Maya, rasa iba pun perlahan menggerogoti hati Sean. Dan saat ini dia turut membujuk Maya agar berbaikan dengan Adrian.

Adrian berdiri di luar pintu dengan buket bunga mawar merah besar di pelukannya, sementara di belakangnya ada Jode yang juga berdiri dengan berbagai perintilan tas warna-warni memenuhi kedua lengan dan tangannya.

Mereka sudah berdiri sekitar 5 jam yang lalu, dan Maya tak kunjung keluar untuk memberi izin masuk pada mereka.

Tentu saja, kalau Adrian mau, dirinya bisa saja meminta para bodyguardnya datang dengan membawa gerinda ataupun bor dan meminta mereka membobol rumah Maya, supaya dia bisa masuk tanpa penghalang apapun. Tetapi dia tidak ingin membuat Maya ketakutan.

Adrian telah berusaha susah payah melembutkan sikap hampir setengah bulan ini, hanya demi membuat Maya nyaman berada di dekatnya. Memperlakukan dirinya sebagai teman dan berkembang ke tahap selanjutnya. Tentu saja, dirinya harus menahan diri lebih banyak untuk tidak menampakan sisi kekejamannya yang sebenarnya cukup setara dengan sang ayah.

Maya hanya diam ketika menoleh pada Sean. Membuat lelaki itu mendekat dan mengelus pelan ujung kepala Maya.

“Kau bisa bercerita padaku kalau mau, kenapa kau menyimpannya sendiri? Ayah dan ibu akan sangat mengkhawatirkanmu kalau begini, Maya. Apakah Adrian melakukan sesuatu padamu?” bujuk Sean.

Entah kenapa, dalam hati, Sean yakin Adrian tidak melakukan apapun. Karena bila itu benar, lelaki itu tidak akan repot-repot mengemis di luar. Sean tahu betul sisi gelap Adrian dan tuan Walikota jauh sebelum mereka datang untuk melamar.

“Apa bibi sudah menelpon? Kapan mereka akan pulang?” Maya mengalihkan pembicaraan, berpikir untuk bertanya berapa banyak uang yang sudah dihabiskan mereka untuk membuka usaha. Karena Maya berniat mengembalikannya pada Adrian. Tetapi yang membuatnya tidak mengerti adalah ekspresi wajah Sean yang tetiba panik saat mendengar pertanyaan itu.

“Be-belum,” jawab Sean terbata.

Maya terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk beranjak dan keluar dari kamarnya.

Sebenarnya ia sama sekali tak ingin melihat wajah Adrian, tetapi dia juga harus memikirkan paman dan bibinya. Jangan sampai mereka celaka di luar sana hanya karena dia membuat Adrian semakin marah.

Maya membuka pintu itu, dan wajah Adrian tampak sumringah walaupun sedikit terkejut.

“Maya,” panggilnya dengan senyum seribu pesona. Hanya saja, Maya tak mau repot melihatnya. Dan langsung pergi begitu saja setelah pintu itu dibuka.

Adrian tahu dia telah meluluhkan hati Maya walau hanya sedikit. Dia pun mengikuti Maya di belakang, mengejar untuk berbicara.

“Maya aku membawakanmu bunga, apa kau suka?” katanya sambil membujuk.

Maya hanya diam dan terus melangkah menjauhi Adrian. Ia pergi ke dapur dan membuka tudung saji di sana. Adrian mengira, Maya pastilah sedang lapar.

“Aku juga membawakan makanan untukmu, apa kau ingin mencobanya?” Adrian merebut sebuah tas dari tangan Jode. Dan itu menginterupsi Maya dari apa yang dilakukannya.

Maya membuang napas kasar. “Apa kau sungguh akan memainkan drama ini sampai akhir, Tuan?”

Adrian terdiam. Tangannya yang hampir membuka kotak dari tas itu terhenti, dan matanya menatap lekat ke dalam mata Maya. Sangat dalam, seolah dia ingin menyelami pikiran gadis itu.

“Maya, sebenarnya apa yang terjadi padamu? Bisakah kita bicara baik-baik dan kau jangan terus menghindar dariku,” bujuk Adrian lagi dengan kelembutan yang tentu saja hanya Maya yang mendapatkannya. Adrian tak pernah melakukan itu sebelumnya.

Ekspresi Maya masih datar. Walaupun ia harus mengangkat dagu tinggi-tinggi untuk dapat melihat wajah Adrian, tetapi tatapan itu teramat merendahkan.

“Apa tujuanmu ingin menikahiku?” Maya bertanya dengan sikap pongah kali ini. Terlihat sangat yakin bahwa Adrian tidak akan dapat menjawabnya.

“Karena aku mencintaimu,” jawab Adrian tegas, yang tentu saja tidak pernah disangka oleh Maya.

Tetapi Maya hanya mengulas senyum miring. Masih dengan sikapnya yang merendahkan.

“Hhm! Pembohong!” celetuk Maya.

“Kenapa kau mengira aku berbohong? Aku serius dengan yang aku katakan, Maya.” Adrian meletakan tas cokelat itu dan menarik tangan Maya.

“Tentu saja. Apa kau pikir aku tidak tahu yang sebenarnya?”

Adrian semakin bingung. Tetapi dia akan memilih diam untuk kali ini. Untuk menggali lebih dalam, apa yang ada di dalam hati Maya.

“Kenapa kau tidak mengatakan padaku bahwa kau menderita Anemia Aplastik? Apakah lucu, jika aku tahu dari orang lain? Atau …. Kau memang punya rencana buruk terhadapku?” Maya menarik tangannya dari genggaman Adrian. Benar-benar muak bermain kucing tikus yang tidak jelas begini.

“Apa maksudmu?” Adrian mulai terpancing, membuat kedua alisnya hampir menyatu.

“Tentu saja, kau hanya ingin menjadikanku alat untuk mendapatkan bayi, bukan? Dengan begitu kau bisa terbebas dari penyakitmu itu. Apa aku benar?” tukas Maya dengan tajam.

Sangat menusuk, hingga Adrian merasakan nyeri yang bukan hanya mengenai hatinya. Tetapi juga telah menjalar ke seluruh tubuhnya. Sampai-sampai kakinya terasa ngilu.

Adrian tidak pernah merencanakan apapun untuk menyakiti Maya. Dia sungguh-sungguh telah jatuh cinta pada Maya pada pandangan pertama. Dia sungguh menginginkan Maya. Bukan karena alasan apapun dan bukan dengan tujuan apapun.

Dijalari rasa nyeri, Adrian tersenyum miris. Dia mengangguk-anggukan kepalanya, akhirnya dia tidak perlu bertanya-tanya kenapa Maya menghindarinya bahkan memutuskan untuk tidak jadi menerima lamarannya.

Adrian tersenyum penuh misteri. “Tanpa bertanya padaku, kau tiba-tiba menjatuhiku hukuman mati, Maya. Apakah aku benar-benar tidak layak? Bahkan hukuman mati juga harus menunggu proses, tapi kau … –”

Adrian tidak melanjutkannya, dia tidak mampu berpikir harus mengatakan apa. Perasaannya sendiri pun, tak mampu ia telaah. Sebuah kenyataan bahwa Maya tidak memilih untuk percaya padanya, itu sungguh menyakitkan. Dan masih belum cukup, gadis itu menatapnya penuh tuduhan.

Melihatnya, Maya juga semakin bingung. Masih belum mengerti apa yang dikatakan Adrian, dan tidak pula menjawabnya.

“Mengenai Anemia Aplastik yang aku derita, kurasa seluruh kota juga sudah mengetahuinya. Dan aku yakin kau termasuk salah satunya. Kenapa kau bilang aku berbohong? Semua tentangku, bahkan kehidupan pribadiku, bukankah seluruh kota telah mengulitinya? Apa yang bisa ku sembunyikan darimu, Maya?”

Saat berkata, Adrian sangat tenang. Bahkan senyum di bibirnya seolah sengaja dipasang untuk mencerminkan semua luka. Suaranya mengalun lembut, menyertakan tak ada privasi lagi yang harus ia tutupi. Semua sudah digali habis-habisan tanpa sisa.

“Tidak apa kalau kau marah padaku, tetapi kau sungguh tidak boleh menyiksa dirimu sendiri.” Adrian masih dengan senyumnya yang mengembang, mengelus kepala Maya dan berlalu kemudian.

Lelaki itu dengan cekatan mengambil teflon dan memasangnya di atas kompor. Membiarkan Maya terdiam di sisi meja makan sementara dirinya bergerak cepat memanaskan makanan yang dibawanya dengan memanggang di atas teflon.

Setelah usai, lelaki itu menatapnya di atas piring dan meletakkannya di meja di depan Maya.

“Makanlah! Kau butuh tenaga untuk menjauh dariku,” katanya tanpa dosa.

Walaupun hanya diam dan tampak kebingungan, Maya hanya bisa patuh. Saat ini, otaknya dipenuhi dengan kata-kata Adrian barusan.

Semua privasi lelaki itu telah dikuliti habis di kota ini, itu memang benar. Tidak ada barang sedikitpun tentang Adrian yang tidak diketahui di kota ini. Dan seharusnya, Maya sudah tahu sejak lama! Kenapa Maya malahan baru tahu penyakit lelaki itu? Apakah itu berarti Mayalah yang tidak peduli?

“Kau … apa kau–” Maya hendak bicara, tetapi Adrian telah berdiri dari tempatnya duduk dan berkata.

“Memastikan mu baik-baik saja, aku sudah tenang. Makanlah yang banyak, aku tidak ingin kau sakit.” Lelaki itu pergi begitu saja setelah mengusap lembut pipi Maya.

Dan Maya hanya bisa diam membeku.

Tidak mendapatkan kesempatan untuk bicara, ternyata sesakit ini! Dan Adrian telah mendapatkan penolakan darinya berhari-hari.

Pantaslah! Lelaki itu sampai membeli rumah makan tempat Maya bekerja, dan memberhentikan Maya sebagai pembersih toilet. Hanya untuk mendapatkan kesempatan bicara!

“Tuan, kita akan pulang?” tanya Jode, yang langsung mengintil di belakang Adrian.

Bersambung ….