“Adrian, tunggu!”
Maya sudah terlambat ketika dirinya membuka pintu utama rumahnya dan hendak mengejar Adrian. Entah dengan kecepatan apa, Adrian sudah menghilang dari sana, hanya aroma tubuhnya yang tersisa yang masih dapat Maya hirup dengan samar.
Maya membuang napas. Sudah berhari-hari Adrian dia abaikan. Tetapi baru saja ketika mereka dapat berbicara empat mata, sepertinya dia telah melukai perasaan lelaki itu dengan sangat dalam. Hingga lelaki itu memilih pergi dengan cepat.
“Apa yang kau cari?” Sean sudah berada di belakang Maya. Melihat Maya yang tampak celingukan dalam keputusasaan.
“Tidak ada,” jawab Maya.
“Dia … sudah pergi?” tanya Sean lagi sedikit ragu.
“Iya. Sepertinya aku bersalah,” ucap Maya lirih.
Gadis itu melangkah perlahan kembali ke meja makan. Menatap beberapa makanan yang sudah disiapkan Adrian untuknya yang ternyata masih hangat. Cukup menggugah selera dari tampilannya.
Daging panggang dengan saus lada hitam itu bahkan masih mengepulkan asap. Menyeruak dan masuk ke dalam penciuman Maya, hingga membuat mulutnya dibanjiri air liur.
Tak ingin menyia-nyiakan kan apa yang sudah Adrian lakukan, Maya segera melahap makanan itu. Bahkan lupa, bahwa Sean juga adalah manusia yang seharusnya butuh makan juga.
Usai menghabiskannya, Maya kembali ke kamar. Ingin rasanya ia mengulang adegan saat dirinya berbicara dengan Adrian di dapur tadi. Seharusnya, dia tidak berkata sekasar itu dan mendengarkan Adrian lebih dulu. Tetapi semua sudah terjadi, dan dia benar-benar telah melukai hati Adrian.
Benar kata Adrian, seharusnya Maya bertanya lebih dulu, sebelum menjatuhinya hukuman mati.
Maya duduk termenung di teras rumahnya. Terdiam melamun dengan ponsel di atas meja bersandingkan kue beras cokelat dan secangkir kopi late sisa semalam. Dirinya benar-benar tak ada kegiatan semenjak dirinya mengundurkan diri dari rumah makan yang telah dibeli oleh Adrian, demi menjauhi Adrian.
Sudah sejak semalam, setelah meninggalkan rumah Maya, Adrian tidak dapat dihubungi. Perasaan bersalah semakin menggayuti hati Maya sampai hari ini. Semakin membuatnya ingin berlari dan mendatangi lelaki itu sekarang juga. Tetapi ironisnya, dia bahkan tidak tahu di mana Adrian berada saat ini. Terlalu sedikit yang dia tau tentang Adrian!
“Kau murung lagi.” Sean menghampiri dan menyerahkan sebuah kotak hitam dengan pita ungu membingkai bungkusnya.
“Ini apa, Kak?” tanya Maya penasaran.
“Hadiah. Untukmu.”
Sean berhenti, membuang napas sebelum kemudian melanjutkan ucapannya. “Adrian memberikannya untukmu. Walaupun sebenarnya aku ingin membuangnya saja, tetapi aku tidak tega.”
Mendengarnya, Maya segera merobek bungkusnya Dan membuka kotak itu. Ada dua gelas hitam dan putih di sana, dilengkapi dengan tatakan seperti piring kecil dengan warna yang serupa. Di sampingnya terdapat pula alat lukis dan satu pack cat dengan berbagai warna yang cukup lengkap. Melihat dari bungkusnya, Maya tahu itu tidak murah.
Maya ingat, saat mereka menghabiskan waktu terakhir kali, sebelum Adrian kolaps, mereka pergi ke sebuah taman hiburan. Mereka memainkan sebuah permainan lempar gelang saat itu dan sama sekali tidak mendapatkan apapun.
Sepertinya Adrian tahu bahwa saat itu, Maya mengincar gelas berpasangan dengan gambar lucu yang terpampang di bagian paling belakang dari semua hadiah yang tersedia. Karena itulah di mengirimkannya gelas itu. Dan untuk alat lukis ….
Sejak kapan Adrian tahu Maya sangat suka melukis?
“Kak, sejak kapan kau tahu Adrian menderita Anemia Aplastik?” Maya tiba-tiba bertanya. Pun gelagatnya seolah ia sedang terburu.
Walaupun terkejut setengah mati, Sean tetap berusaha menjawab dengan tenang.
“Tentu saja sejak lama. Sejak kami berada di sekolah yang sama.”
“Sekolah yang sama? Kalian bukan teman sekelas ‘kan?” Maya melebarkan matanya dengan sempurna.
“Tentu saja. Memangnya kenapa?”
Maya menjatuhkan dirinya bersandar dan bertopang sepenuhnya pada bangku di teras itu. Tubuhnya lemas, lunglai tak berdaya, menyesali sesuatu yang tak bisa ia katakan.
“Apa kalian semua tahu, Adrian menderita penyakit itu?” Maya bertanya lagi dengan lirih dan putus asa.
“Ya. Karena itulah, kubilang dari awal tidak setuju kau menerimanya. Kau tidak boleh mengorbankan masa depanmu, Maya. Kau … kau tidak mungkin tidak tahu ‘kan? Itu … kurasa itu bukan rahasia lagi. Dia bukan lelaki yang tepat untukmu,” jelas Sean perlahan.
Ya, Maya menyadari bahwa hanya dirinyalah yang terlalu tidak peduli dengan orang lain. Bahkan tidak tahu bahwa Sean merupakan teman sekelas Adrian sewaktu sekolah dulu.
Kemana saja dirinya selama ini?
Apa karena waktunya telah dihabiskan untuk belajar dan mengenang orangtuanya sejak kecil, sehingga sesuatu informasi seremeh temeh itu bahkan ia tidak tahu.
Adrian tidak merahasiakan apapun darinya. Hanya dialah yang tidak tahu. Dan kalau sesuatu seperti itu saja tidak lagi menjadi rahasia, artinya Adrian benar-benar tidak punya privasi, apalagi niat seburuk yang disebutkannya yang tidak Maya sadari.
“Dia … ada di mana?”
Akhirnya Maya dapat menghubungi Jode dan menemukan di mana Adrian berada.
Setelah berjam-jam hanya berkutat dengan ponselnya, Maya akhirnya menemukan nomor ponsel Jode dan berhasil menghubunginya. Pun, lelaki itu menuntun Maya untuk sampai di rumah terpencil yang ditempati Adrian saat ini.
“Tuan ada di dalam, Nona. Masuklah, dia pasti akan sangat senang dengan kedatangan Anda,” kata Jode menghela Maya masuk ke dalam rumah itu.
“Dia … dia tahu aku kemari?” Maya bertanya ragu. Lagi-lagi dia tidak yakin untuk mendatangi Adrian.
“Tidak, Nona. Saya rasa Anda lebih suka memberinya kejutan.”
Sudah sampai di ruang tengah, Jode menunjukan jalan agar Maya pergi sendiri ke tempat Adrian berada. Maya hanya menurut tampak seperti kerbau yang dicucuk hidungnya yang hanya bisa patuh tanpa menolak.
Setelah lama, Maya pun menemukan ruangan itu. Di mana Adrian memang sedang berada di sana.
Adrian sedang melakukan push-up ringan dilantai yang dialasi matras tipis. Lelaki itu tampak berkeringat bahkan tubuh bagian atasnya yang telanjang telah basah kuyup seakan dirinya usai diguyur hujan. Sementara celana pendeknya yang tak sampai lutut juga telah setengah basah dari rembesan keringat di tubuhnya, menandakan sudah lama waktu yang dilewatinya untuk berolahraga.
Adrian masih fokus menghitung waktu, hingga ia tak menyadari bahwa Maya telah berdiri lama di belakangnya, sampai ketika Maya memanggilnya pelan.
“A-Adrian ….”
Sudah tentu hal itu membuat Adrian terkejut, dan langsung menolah ke asal suara.
Adrian sendiri hampir tak bisa berkata-kata walaupun mulutnya terbuka. Hanya kecanggungan sebab dirinya berpakaian yang seperti itu.
“Maya … kau … sejak kapan kau di sini?” Sedikit gelisah, Adrian mengedarkan pandangannya mencari bajunya yang entah kemana dia melemparnya tadi. Dia tahu Maya pasti tidak nyaman dengan penampilannya kali ini. Namun dia hanya bisa mengutuk dirinya sendiri di dalam hati. Kenapa tadi dia harus melepas bajunya? Bagaimana kalau dia membuat Maya takut?
“Emm … aku … aku akan keluar dulu,” ucap Maya berpamit. Gadis itu sudah menjejakan kakinya beberapa langkah, sebelum tiba-tiba Adrian menariknya keras hingga membuatnya terpekik dan terjatuh dalam pangkuan lelaki itu.
“Eh, tunggu!” Tanpa basa-basi Adrian menarik Maya. Memeluknya erat ketika gadis pujaannya telah duduk di pangkuannya.
Belum pernah Maya sedekat ini dengan seorang lelaki, apalagi dalam posisi yang seintim ini. Tentu saja hal itu membuat jantung Maya berdebam kuat seolah hendak melompat dan terlepas dari tangkainya.
“Kenapa wajahmu memerah?” bisik Adrian dengan suara setengah parau, ketika lelaki itu mendongakkan wajah Maya supaya menghadapnya. Sementara itu ibu jarinya telah bergulir, mengusap lembut bibir mungil Maya dengan penuh keinginan.
Bersambung aja lah ….