Dinikahi Paman Mantan - Menjadi Pusat Perhatian - Bab 16

Penulis Nuvola
18 October 2025

Agam menatap Lily. Tatapan itu dalam, teduh, namun sulit ditebak apa yang tersembunyi di balik ketenangan matanya.

“Apa salahnya menghabiskan uang untuk istri?” ujarnya santai, suaranya stabil namun mengandung sesuatu yang lembut, nyaris hangat.

Lily terdiam sejenak. Ucapan itu sederhana, tapi nadanya… nadanya membuat dada Lily terasa aneh—hangat dan berdebar dalam waktu yang sama. Ia hanya bisa mengangguk pelan, mencoba menyembunyikan rona merah yang mulai muncul di pipinya. Memang benar, apa salahnya? Tapi tetap saja, di pikirannya sulit menerima bahwa seseorang bisa dengan mudah mengeluarkan uang sebesar itu hanya untuknya. Ia bahkan tak pernah membayangkan memiliki perhiasan senilai puluhan miliar.

“Agam, Lily! Akhirnya kalian datang juga!” suara ceria membuat mereka menoleh.

Diana—dengan gaun warna krem berpayet lembut—melangkah anggun menghampiri mereka. Wajahnya memancarkan kehangatan seorang ibu yang menyambut anak-anaknya.

Lily segera tersenyum, mendekat dan menunduk sopan sebelum memeluknya. “Ibu, apa kabar?” sapa Lily tulus.

Diana membalas pelukan itu erat, matanya menatap lembut. “Ibu baik, sayang. Kamu juga baik kan? Agam tidak menyusahkan kamu, kan?” tanyanya dengan nada setengah bercanda, setengah khawatir seperti biasa.

“Lily baik, Bu,” jawab Lily sambil tersenyum. “Om Agam juga jaga Lily dengan baik, kok.”

Senyum di wajah Diana melebar, matanya berbinar. “Ibu senang mendengarnya.”

Agam yang berdiri di sisi Lily menatap mereka dengan lembut. Ia mengangkat ponselnya sebentar, menandakan panggilan masuk. “Ibu, aku titip Lily sebentar ya,” katanya sopan.

Diana mendengus kecil, tapi tersenyum juga. “Kebiasaan anak ini… kerja terus, bahkan di pesta,” gerutunya sambil menggeleng.

Agam tersenyum tipis, lalu menepuk lembut punggung Lily—gerakan kecil yang hangat dan protektif—sebelum ia melangkah pergi. Lily hanya bisa membalas dengan anggukan halus, matanya mengikuti sosok pria itu hingga menghilang di antara tamu-tamu yang berbalut busana glamor.

“Maaf ya, Bu,” ucap Lily cepat, mencoba mengalihkan perhatian. “Tadi pagi kami nggak sempat datang.”

Diana mengibaskan tangan. “Tidak apa-apa. Agam sudah cerita kok.” Senyumnya berubah menggoda. “Ibu paham… mungkin kalian tadi sibuk kangen-kangenan karena beberapa hari nggak ketemu, ya?”

Lily langsung menunduk, pipinya memanas. Ia tidak menjawab, tapi diamnya justru menjadi jawaban paling jujur.

Benar, meskipun Agam sibuk, pria itu tetap berusaha selalu di dekatnya. Ia membawa laptopnya ke mana pun Lily pergi, mengetik di sudut ruangan sambil sesekali menatap Lily dengan tatapan lembut. Ia tak pernah mengatakan apapun, tapi sikapnya seolah mengatakan jika dia tak ingin menjauh dari Lily.

Baru sekarang Lily benar-benar menyadarinya.

“Lily, kamu datang sendirian?” suara yang familiar—tapi tidak diinginkan—tiba-tiba terdengar dari belakang. Nada manis tapi penuh basa-basi.

Lily menoleh dan menemukan Iris berdiri di sana, tersenyum anggun dengan gaun merah tua yang memeluk tubuhnya sempurna.

“Oh, Tante Iris,” ucap Lily sopan, tetap menjaga ekspresi tenang. “Sama suamiku, Tante. Tapi dia lagi keluar sebentar.”

“Oh begitu,” balas Iris dengan senyum yang terlalu ramah untuk terasa tulus. Ia kemudian menoleh pada Diana. “Nyonya Diana juga di sini rupanya. Apa kabar? Tadi pagi kita belum sempat mengobrol.”

“Hm, baik,” jawab Diana datar. Tatapannya singkat sebelum kembali teralih pada Lily—jelas ia tahu arah pembicaraan Iris tidak sepenuhnya tulus.

Iris tertawa kecil, lalu menatap Lily lagi. “Saya sangat senang malam ini, Nyonya. Pesta Rafael dan Emma begitu indah, ya? Romantis, mewah… benar-benar pesta impian.” Nada suaranya terdengar ringan, tapi maksudnya jelas. Membandingkan.

Belum sempat Lily menanggapi, suara lain menyela dengan nada lembut namun berisi. “Kak Iris benar sekali,” ujar Bella yang baru datang sambil tersenyum samar. Ia berdiri di sisi Lily, seolah memberi dukungan, meski Lily sendiri sempat ragu karena insiden di masa lalu. “Pestanya memang luar biasa. Aku dengar menghabiskan hingga lima puluh miliar, ya?”

Iris tampak puas mendengar itu, dagunya terangkat sedikit. “Benar. Rafael rela menghabiskan puluhan miliar hanya untuk pernikahan yang layak bagi Emma.”

Lily menggenggam ujung dress-nya kuat-kuat di sisi kanan, mencoba menahan diri agar tidak menunjukkan kegelisahan. Semua yang terjadi seolah membuatnya menjadi pusat perbandingan tanpa ia minta.

Tapi kemudian Bella kembali bicara—dan nada suaranya berubah lembut namun tajam seperti belati berbalut sutra.

“Tapi, Kak Iris,” katanya ringan sambil memegang tangan Lily, “di keluarga kami, jumlah seperti itu bukan sesuatu yang luar biasa. Bahkan Agam yang tidak mengadakan pesta besar pun menghabiskan puluhan miliar hanya untuk cincin pernikahan Lily.”

Ruangan tiba-tiba terasa lebih tenang. Beberapa pasang mata melirik ke arah mereka.

Bella melanjutkan dengan senyum manis. “Lihat saja cincinnya, begitu berkilau. Dan kalung yang dia kenakan malam ini—itu kalung zamrud dari pelelangan kemarin, harganya sekitar delapan puluh miliar, kalau aku nggak salah.”

Iris membeku sesaat. Matanya membulat kecil, jelas tidak menyangka. Diana yang sejak tadi hanya memperhatikan akhirnya menimpali dengan nada tenang, tapi cukup nyaring untuk terdengar oleh beberapa tamu di sekitar mereka.

“Aku juga mendengarnya dari Dion,” katanya, “katanya Agam menunda kepulangannya hanya untuk datang ke pelelangan itu sendiri.”

Suasana di sekitar mereka berubah. Bisikan-bisikan kecil mulai terdengar, kali ini bukan membandingkan, tapi mengagumi.

Lily terpaku. Rasanya sulit bernapas mendengar semua itu. Ia tidak pernah tahu bahwa Agam melakukan sejauh itu, menawar sendiri, mengeluarkan uang sebanyak itu—hanya untuk sebuah kalung yang kini melingkar di lehernya.

Ia menunduk pelan, menyentuh liontin zamrud itu dengan jemari gemetar. Kilau hijau lembutnya berpendar di kulitnya, dan di pantulan cermin dinding ballroom, Lily melihat dirinya sendiri—dan di belakangnya, Agam yang kini telah kembali, menatap dengan ekspresi lembut tapi dalam, seolah ingin berkata tanpa suara.

Pria itu semakin sulit ia tebak. Tapi di balik sikap tenangnya, Lily tahu—setiap hal yang Agam lakukan, sekecil apapun, selalu memiliki makna yang lebih dalam daripada yang terlihat di permukaan.

“Kalian membicarakan apa?” tanya Agam yang menggeser posisi Bella dan langsung melingkarkan tangannya di pinggang Lily.

“Aku mengagumi kalung Lily, aku nggak tahu kalau Kak Agam ternyata pintar memilih perhiasan,” ucap Bella.

“Pilihanku tak pernah salah, selalu istimewah,” ujar Agam yang menoleh ke arah Lily memberikan senyuman hangatnya.

“Maksud kak Agam, kakak nggak salah pilih istri karena Lily istimewa bukan?” Bella memperjelas ucapan Agam membuat Iris membisu.

“Mau sampai kapan kita berdiri, kaki ibu udah pegal,” potong Diana membuat Agam dan Bella tertawa.

“Ayo tante, Bella bantu,” balas Bella yang kemudian menggandeng Diana menuju ke kursi yang sudah disiapkan.

Agam pun membawa Lily untuk mengikuti Diana dan Bella, kursi untuk keluarga yang telah panitia sediakan. Mereka terlihat mengabaikan Iris yang masih berdiri disana.

Emma dari jauh melihat kejadian itu, meskipun dia tak dapat mendengar pembicaraan mereka. Namun bisa dilihat dari ekspresi para tamu yang terlihat kagum sekaligus iri kepada Lily. Hal itu membuat Emma mengepalkan tangannya, malam yang harusnya dirinyalah yang menjadi pusat perhatian, tapi justru Lily yang menjadi pusat perhatian semua orang.