Drama

8. Paris yang Indah

18 October 2025

Langit Paris sore itu tampak lembut, biru pucat dengan semburat oranye keemasan yang mulai menyentuh atap-atap gedung klasik. Dari jendela pesawat yang perlahan menurunkan ketinggian, Sienna bisa melihat hamparan kota yang menakjubkan, sungai Seine yang berkelok indah, deretan bangunan bergaya Eropa yang tertata rapi, dan menara logam raksasa yang berdiri anggun di kejauhan.

Matanya membesar, napasnya tertahan.

“Menara Eiffel?” pikirnya tanpa sadar. Ia menatap pemandangan itu lama, seolah tak ingin berkedip, takut semuanya hanya mimpi.

“Pertama kalinya melihat Paris dari atas?” tanya Arden yang duduk di sampingnya. Terdengar sedikit menggoda.

Sienna menoleh cepat, tersenyum kikuk. “Iya. Aku masih nggak percaya … kita benar-benar ke Paris.”

“Aku bilang kan, ini liburan. Bukan sekadar jalan-jalan.”Arden menanggapi dengan tersenyum puas.

Pesawat akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Charles de Gaulle. Suara roda pesawat beradu dengan landasan disertai getaran halus, sementara pramugari mengucapkan sambutan dalam bahasa Prancis yang terdengar elegan di telinga. Sienna memeluk tas kecil di pangkuannya, masih menatap jendela dengan senyum yang belum hilang.

Setelah melewati pemeriksaan imigrasi dan mengambil bagasi, mereka keluar ke area kedatangan. Angin dingin khas musim semi langsung menyapa wajah mereka. Udara Paris berbeda, lembut, sedikit harum, dan entah mengapa terasa romantis bahkan di antara keramaian bandara.

Arden tampak santai di kursi rodanya. Ia mengenakan coat hitam panjang dan kacamata gelap, membuatnya tampak seperti bangsawan muda yang misterius. Lucas yang ikut menemani tampak sibuk memesan mobil hotel.

Ketika mobil mereka akhirnya meluncur di jalanan Paris, Sienna tak bisa berhenti memandangi jendela. Matanya menelusuri setiap detail, toko-toko roti dengan jendela besar, kafe di tepi jalan dengan meja bundar dan kursi besi, orang-orang berjalan dengan anjing kecil mereka, dan aroma roti panggang yang samar-samar tercium ketika mobil berhenti di lampu merah.

“Cantik sekali,” gumamnya lirih.

Arden menatapnya sekilas dari kursinya, senyum samar muncul di wajahnya. “Aku tahu Kamu akan menyukainya.”

Sienna menoleh, senyum malu-malu tersungging di bibirnya. “Aku nggak pernah berpikir akan datang ke sini … apalagi untuk liburan.”

“Kalau begitu, anggap ini sebagai awal baru,” jawab Arden tenang, tapi nadanya lembut. “Nggak ada masa lalu di sini, Sienna. Hanya kita.”

Kata-kata itu membuat dada Sienna bergetar aneh. Ia memalingkan wajah, pura-pura melihat ke luar lagi, padahal pipinya mulai memanas.

Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah hotel mewah yang menakjubkan. Bangunannya bergaya klasik dengan pilar-pilar tinggi dan balkon yang dipenuhi tanaman gantung.

Di kejauhan, di balik langit sore yang mulai berwarna merah muda, berdiri dengan megahnya Menara Eiffel, tidak jauh dari hotel mereka, bahkan bisa terlihat jelas dari halaman depan.

Sienna terpaku, langkahnya terhenti ketika keluar dari mobil. “Astaga! Itu … begitu dekat.”

Arden menatap ke arah menara yang sama, lalu tersenyum kecil. “Kamu bisa melihatnya setiap hari dari balkon kamar kita nanti.”

Sienna menoleh cepat, wajahnya masih memancarkan kekaguman yang polos.

“Serius? Dari kamar kita bisa lihat Menara Eiffel?”

“Ya,” jawab Arden singkat, tapi matanya menunjukkan kepuasan melihat ekspresi kagum wanita itu. “Kupikir Kamu akan menyukainya.”

Lucas segera membantu mengurus check-in, sementara Sienna dan Arden menunggu di lobi. Sienna duduk di samping Arden, matanya masih sibuk menatap ke luar jendela besar yang mengarah ke taman hotel.

Begitu mereka naik ke kamar, Arden menunjuk ke arah balkon berpintu kaca besar.

“Pergilah, lihat sendiri.”

Sienna membuka pintu balkon perlahan, dan begitu ia melangkah keluar, cahaya keemasan senja langsung menyambutnya. Di hadapannya, Menara Eiffel berdiri megah, hanya berjarak beberapa blok.

Angin sore berhembus lembut, membuat rambutnya sedikit berantakan. Ia menatap pemandangan itu lama, lalu menoleh ke Arden yang duduk di ambang pintu dengan tatapan lembut.

“Terima kasih …,” katanya tulus.

Arden hanya tersenyum, tapi dalam hati ia tahu, melihat Sienna bahagia seperti itu, mungkin adalah pemandangan paling indah yang pernah ia lihat di Paris.

Sore di Paris berganti malam dengan lembut. Langit berubah menjadi biru tua berlapis cahaya keemasan dari ribuan lampu kota. Dari balkon kamar hotel, Sienna menatap pemandangan itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan kagum, bahagia, tapi juga sedikit gugup. Ia masih belum terbiasa berada di kota yang selama ini hanya ia lihat di film atau medsos saja.


Arden menatap Sienna yang sudah berganti pakaian.

“Kamu sudah siap?” tanyanya.

Sienna berbalik, sedikit gugup. “Sudah… tapi apa kita benar-benar akan makan di luar? Aku pikir cukup di hotel saja.”

Arden tersenyum tipis. “Kita di Paris, Sienna. Masa hanya makan di kamar hotel? Aku sudah pesan tempat di restoran yang katanya punya best view ke Menara Eiffel.”

Sienna menelan ludah pelan. “Restoran mewah?”

“Ya. Jangan khawatir, aku nggak akan memesan yang aneh-aneh,” ujar Arden, suaranya menggoda.

Tak lama, mobil hotel membawa mereka menuju restoran yang dimaksud. Jalanan Paris di malam hari begitu indah, lampu jalan berkelip, orang-orang berjalan dengan mantel panjang, dan dari kejauhan, Menara Eiffel bersinar dengan ribuan cahaya, seolah berdansa di langit malam.

Restoran itu berada di lantai atas sebuah gedung kaca dengan interior modern bercampur sentuhan klasik Prancis. Pelayan menyambut mereka dengan sopan, lalu menuntun mereka ke meja di dekat jendela besar yang langsung menghadap ke Menara Eiffel yang berkilau di malam hari.

Sienna terpaku sesaat. “Ini … luar biasa,” katanya pelan.

Arden menatapnya dengan senyum samar. “Kamu bilang belum pernah liburan. Maka biarkan aku mengubah itu.”

Pelayan datang, menyajikan menu dalam bahasa Prancis dan Inggris. Sienna memandangi daftar nama makanan yang sebagian asing di telinganya. Ia membaca pelan, “Coq au vin … Bouillabaisse… aku bahkan nggak tahu yang mana ayam, yang mana ikan.”

Arden terkekeh kecil. “Kalau begitu biar aku yang pesan. Percayalah, lidahmu nggak akan nyesel.”

Beberapa menit kemudian, hidangan mereka datang ayam rebus dengan saus anggur merah dan jamur yang harum, serta roti hangat dengan mentega Prancis yang lembut. Sienna memandang piringnya ragu sebelum mencicipi, lalu matanya membulat.

“Ini … enak sekali.”

Arden tersenyum puas. “Aku bilang juga apa? Nggak semua yang mahal hanya untuk gaya.”

Sienna mendengus kecil tapi tersenyum juga. Ia mulai menikmati makanannya perlahan, mengamati suasana di sekeliling. Cahaya lilin di meja memantul di gelas wine, sementara musik lembut mulai mengalun dari biola yang dimainkan oleh musisi di pojok ruangan. Semua terasa romantis, hangat, dan nyaris tak nyata.

“Rasanya seperti benar-benar sedang bulan madu,” ucap Sienna dengan hati yang berdebar.

Arden mengelap sudut bibirnya dengan serbet, meminum winenya dan menatap Sienna dengan tatapan penuh arti.

“Apa kau menantikan malam pertama kita?” tanyanya dengan nada menggoda.

Sienna yang sedang minum air putihnya tersedak dan terbatu-batuk mendengar itu.

“Kamu gila! Mana mungkin aku memikirkan itu?” sontak Sienna melotot tajam.

Arden hanya tertawa kencang, tapi satu detik kemudian ia terdiam dengan wajah yang muram.

“Apa kamu pikir aku nggak bisa melakukannya?” tanya Arden tajam membuat suasana menjadi mencekam. “Karena kakiku seperti ini, apa kamu pikir aku nggak sekuat itu?” lanjutnya menantang Sienna yang terpaku dalam duduknya.