Drama

9. Malam di Paris

18 October 2025

Sienna menatap Arden dengan mata membulat tak percaya. Ucapan pria itu menancap tajam di dadanya, seperti pisau yang menyayat rasa hormat dan kesabaran yang selama ini ia pertahankan. Ia bukan marah karena kata-katanya, tapi karena nada yang digunakan Arden tajam, menantang, seolah sedang menguji sesuatu yang seharusnya tidak perlu diuji.

“Arden ….” Suaranya lirih, tapi bergetar menahan emosi. Ia menggenggam ujung serbet di pangkuannya, berusaha tetap tenang. Namun, sebelum ia sempat bicara lebih jauh, Arden justru tertawa pelan.

Tawa itu awalnya terdengar ringan, tapi cukup untuk membuat suasana kembali bergerak dari tegang menjadi aneh.

“Astaga, wajahmu itu …,” katanya sambil menggeleng kecil, nada suaranya berubah lagi menjadi menggoda. “Aku bercanda, Sienna. Kenapa kamu jadi gugup kayak gitu?”

“Kamu pikir itu lucu?” tanyanya. “Membicarakan hal seperti itu seolah nggak ada batas? Aku tahu Kamu suka bercanda, Arden, tapi tolong … jangan tentang hal itu.”

Sienna tampak kecewa. Arden sempat terdiam, senyum di wajahnya perlahan memudar. Ia tidak menyangka reaksinya akan seperti itu. Sienna bukan hanya tersinggung, tapi terlihat benar-benar terluka.

“Baiklah,” katanya akhirnya. “Aku minta maaf. Aku nggak bermaksud membuatmu nggak nyaman.”

Sienna mengangguk singkat, lalu menunduk menatap piringnya yang mulai kehilangan daya tarik. Suasana yang tadinya hangat dan penuh tawa kini berubah menjadi dingin dan sunyi. Hanya suara lembut gesekan biola di kejauhan yang terdengar, seakan mencoba menambal kesunyian di antara mereka.

Pelayan datang mengganti piring mereka dengan hidangan penutup, tapi tidak ada dari keduanya yang benar-benar menikmati. Sienna hanya menatap puding cokelat di depannya tanpa selera, sementara Arden memainkan sendok di tangannya, tampak berpikir.

Dalam hatinya, Arden tahu ia kelewatan. Ia memang terbiasa menggoda Sienna hanya untuk melihatnya marah atau salah tingkah, tapi kali ini berbeda. Ucapannya barusan menyentuh sesuatu yang sensitif, harga diri, perasaan, dan mungkin batas yang seharusnya ia hormati.

“Kamu nggak perlu meminta maaf terus-menerus, Arden. Aku hanya ingin kita bisa berbicara seperti dua orang dewasa, tanpa saling menyakiti.”

Arden menatapnya lama, mata kelamnya tampak redup oleh penyesalan yang tidak ia ucapkan.

“Kamu benar,” katanya lirih. “Aku… kadang lupa kalau nggak semua hal bisa dijadikan bahan lelucon.” Arden mengakui.

Sienna tidak menjawab. Ia hanya menunduk lagi, memainkan garpu di tangannya sambil menghela napas kecil. Malam yang seharusnya indah, penuh kenangan, kini terasa hambar.

Udara malam di Paris terasa lembap dan sejuk ketika mereka keluar dari restoran. Langit penuh awan tipis, dan angin membawa aroma bunga yang samar dari taman di sekitar menara Eiffel. Sienna melangkah di belakang Arden dengan langkah pelan, masih memikirkan percakapan mereka tadi. Hatinya campur aduk antara marah, sedih, tapi juga anehnya … ada perasaan hangat yang tak mau hilang.

Arden berhenti sejenak di tepi jalan, menatap ke langit yang perlahan mulai gelap sempurna. Ia menoleh ke arah Sienna.

“Kamu mau … jalan-jalan sebentar?” tanyanya hati-hati.

Sienna mengangkat wajahnya, menatap Arden sebentar, lalu mengangguk kecil. “Boleh,” jawabnya pelan.

Arden menekan tombol kecil di sisi kursi rodanya, dan kursi itu mulai bergerak perlahan ke arah taman yang menghadap menara Eiffel. Sienna berjalan di sampingnya, sesekali menyesuaikan langkahnya agar tetap sejajar. Mereka tidak banyak bicara, hanya membiarkan suara langkah kaki dan roda kursi menyatu dengan gemerisik dedaunan malam.

Dari kejauhan, cahaya menara Eiffel berpendar keemasan, berkilau di bawah langit malam Paris. Begitu mereka mendekat, suasana berubah lebih hidup. Ada turis yang tertawa, pasangan yang berfoto, anak-anak berlari membawa balon. Semua tampak bahagia dan untuk sesaat, Sienna lupa akan kegelisahan di dadanya.

Mereka berhenti di tepi taman, di mana menara Eiffel menjulang megah di depan mata. Sienna menatapnya dengan mata berbinar.

“Indah sekali…” gumamnya lirih.

Tiba-tiba, langit malam pecah oleh letusan cahaya. Kembang api pertama menyala merah muda, lalu disusul ungu, biru, dan emas. Orang-orang di sekitar mereka bersorak kecil, beberapa bertepuk tangan. Sienna menatap ke atas, matanya membesar penuh kekaguman.

“Wah … indah sekali,” ucapnya sambil tertawa kecil, tanpa sadar menatap ke arah Arden.

Arden menatapnya, bukan ke langit. Senyum kecil muncul di wajahnya, tulus dan hangat. “Ya,” katanya pelan. “Sangat indah.”

Sienna menoleh ke arahnya, mendapati Arden sedang menatapnya begitu lembut hingga ia tak sanggup menahan degup jantungnya. Tatapan itu berbeda, tidak lagi sinis atau menggoda, tapi penuh ketenangan dan pengertian.

Selama beberapa detik, keduanya hanya saling menatap dalam diam, sementara warna-warni kembang api meledak di langit Paris.

Sienna lalu tersenyum pelan, membiarkan dirinya larut dalam keindahan malam itu. Hatinya yang tadi penuh kekesalan kini perlahan luluh, tergantikan oleh rasa hangat yang mulai tumbuh tanpa ia sadari.

Arden menghela napas lega, kembali menatap ke langit. Lalu ia menoleh pada Sienna. Wajah wanita itu diterangi cahaya lampu taman, matanya memantulkan warna-warni langit seperti sepotong cermin kecil yang hidup.

“Kamu menyukai hal-hal seperti ini, Sienna?”

Sienna mengerjap, menatapnya dengan ekspresi bingung. “Hal-hal seperti ini?” ulangnya pelan.

“Ya, seperti … pemandangan malam, lampu-lampu, kembang api. Hal-hal kecil yang romantis,” ucap Arden.

Sienna menatap menara Eiffel lagi, lalu menggeleng perlahan. “Aku nggak tahu,” jawabnya jujur. “Aku hanya merasa … pemandangan malam ini indah. Entah kenapa rasanya seperti sedang bermimpi.”

Arden tersenyum kecil, menatapnya lekat-lekat. “Kalau begitu,” katanya pelan, “ayo kita mendekat. Biar Kamu tahu seperti apa rasanya berdiri tepat di bawah menara itu.”

“Baiklah.”

Mereka pun bergerak perlahan di antara keramaian turis. Arden dengan kursi rodanya, Sienna berjalan di sisi kirinya sambil sesekali melirik sekeliling. Suara tawa, obrolan berbagai bahasa, dan aroma manis makanan jalanan bercampur jadi satu. Suasana Paris malam itu hidup dan hangat, seolah seluruh dunia sedang tersenyum.

Di antara kerumunan, mata Arden tertarik pada satu hal seorang penjual gula kapas di dekat taman.

“Kamu mau makan itu?” tanyanya spontan.

“Gula kapas?” Ia mengerutkan kening, lalu menatap Arden lagi. “Kamu mau membelinya?” tanyanya balik, sedikit menggoda tapi dengan nada canggung.

Arden mengangkat alisnya, menahan senyum. “Mungkin,” katanya santai, lalu tanpa menunggu jawaban, ia menggerakkan kursi rodanya ke arah penjual.

Penjual itu tersenyum ramah. “Bonsoir, monsieur! Mau bentuk apa? Kami bisa buat bunga, hati, atau hewan kecil,” katanya dengan logat Prancis yang kental.

Arden menatap aneka contoh gula kapas yang tergantung di stand, lalu menjawab cepat, “Apa saja.”

Penjual itu tertawa kecil, tangannya lincah memutar tongkat di atas mesin hingga membentuk kelopak demi kelopak dari gula berwarna merah muda. Tak sampai semenit, ia menyerahkan hasilnya sebuah gula kapas berbentuk bunga mawar yang cantik.

Arden menatapnya sebentar sebelum memutar kursi rodanya ke arah Sienna.

“Untukmu.”

Sienna membelalak kecil, tidak menyangka. Ia menatap bunga gula kapas itu dengan takjub, lalu menerima perlahan.

“Aku … nggak tahu gula kapas bisa dibentuk seperti ini,” ucapnya kagum.

“Kamu baru tahu sekarang,” katanya ringan. “Paris selalu punya cara membuat hal sederhana jadi luar biasa.”

Sienna tersenyum kecil, menatap bunga gula kapas itu lama.