“Kamu selalu pakai parfum yang sama,” katanya. Suaranya serak, jari-jarinya menyusuri rambut legamku dengan ujung yang menggantung indah, seperti menghafal sesuatu yang bukan miliknya.
Sementara itu, bibirku hanya bisa melengkungkan senyum manis. Tidak semua kebiasaan harus dijawab. Kadang, diam lebih aman daripada kata-kata yang akhirnya bisa menyakiti.
"Sayang, aku suka kamu pakai baju merah kayak begini." Pria paruh baya dengan hidung bangir itu semakin menurunkan tangannya. Menyusuri punggung lalu bertengger di pinggang rampingku yang tersembunyi di balik gaun malam tipis merah menyala.
Di balkon apartemen mewah ini, aku duduk bersandar di dada Robert, seorang pengusaha kelas kakap yang begitu terkenal seantero negeri. Siapa yang tak kenal dengan pria berparas bule tersebut? Namanya sudah melanglang buana, wara wiri di majalah bisnis maupun stasiun televisi.
Bibirku terkatup rapat. Sesekali aku menyunguhkan senyum terbaikku di depan Robert. Begitulah diri dan hidupku. Robert butuh kesenangan, sementara aku, tentu saja butuh uang. Barang mewah, pun juga hidup nyaman.
"Tubuhmu selalu bikin aku tergoda," gumam Robert.
Darahku berdesir hebat saat ujung jari-jari pria itu menyentuh permukaan kulit pahaku yang mulus bak porselen. Aroma parfum mahal menguar saat Robert mendekatkan wajahnya padaku. Bayangan kami yang saling menempel memantul di dinding apartemen. Sementara diluar, lampu-lampu kota menyala seolah hubungan kami bukan lagi suatu rahasia.
“Aku suka kamu diam begini. Nggak ribet, nggak banyak nuntut,” katanya lagi, menyesap rokok yang tak pernah benar-benar dia hisap sampai habis.
Gumaman Robert cukup menggelitik, membuatku tertawa sarkas. Lucu? Tentu saja. Aku segera memalingkan wajah, lalu menatap tajam kearah hingar bingar jalanan ibukota dengan pandangan kosong. “Aku memang nggak ditakdirkan untuk menuntut. Diam, tenang dan melayanimu sampai puas. Bukan begitu, Sayang?”
Jawaban sarkas dariku rupanya berhasil membuat Robert tertawa pelan, lalu memeluk pinggangku dari belakang. Tangannya begitu hangat. Wangi tubuhnya mahal. Tapi bagiku, semuanya palsu. Semua tentangnya tetap terasa seperti pinjaman.
“Aku bakal ajak kamu ke Bali bulan depan. Jangan ke mana-mana, ya. Kita nikmati waktu berdua.”
Janji seperti itu sudah jadi langganan. Bali, Paris, atau bahkan Amerika sekalipun. Semua hanya kata-kata yang menempel di bibirnya ketika sedang terlalu nyaman.
"Kemana pun, Sayang. Aku selalu suka tiap kamu ngajakin aku jalan-jalan." Aku mengulurkan tangan, mengusap wajahnya dengan lembut, penuh perhatian. "Asalkan aku bisa belanja barang-barang branded kesukaanku. Aku nyaman, kamu pun bakal puas. Bukankah semua itu ada harganya?"
Bibir yang sengaja ku poles dengan lipstik merah mengecup ujung bibirnya. Ah, aku memang sangat pandai memerankan peran. Jari-jariku yang lentik dengan hiasan nail art mahal menyusuri dada bidangnya. Memberikan rasa nyaman baginya hingga tanpa sadar, pria itu memejamkan mata.
"Aku selalu suka sama pelayananmu, Sayang," ujarnya di sela-sela rasa nyaman yang ku berikan.
"Bagaimana? Apa kita akan bermain sekarang?" Mataku mengerling manja, sengaja menggoda. Tentu aku tahu, hal itu sangat disukai oleh Robert.
Napasnya berat di leherku, hangat, membuatku mendesah pelan. Tangannya yang berotot, hasil latihan gym yang masih rutin dia jalani meski usianya sudah enam puluh pun menarik tubuhku makin rapat. Bule tua ini memang tidak bisa diremehkan. Dengan rahang tegas, dada bidang, kulit putih yang terawat, dia jauh lebih menggoda daripada pria lokal seumuran anaknya.
“Jeni…” suaranya parau, lidahnya melafalkan namaku dengan aksen asing yang masih tersisa meski sudah lama tinggal di Jakarta.
Robert mendorong tubuhku ke sofa, matanya tajam menatapku seolah aku adalah satu-satunya hal yang dia mau di dunia ini. Nafasnya panas di wajahku, dan aku suka bagaimana dia selalu terlihat lapar, bahkan setelah sekian lama.
Tangannya meremas pinggangku, menarikku lebih dekat, membuatku terjepit di antara tubuhnya yang kekar dan sandaran sofa. Aku membiarkan bibirku kembali ditaklukkannya, kali ini lebih dalam, lebih rakus.
“Aku gila sama kamu, Jeni…” suaranya berat, bergetar di telingaku.
Aku tersenyum, menggeliat manja di pelukannya. “Of course you are,” bisikku, lalu menuntunnya untuk bermain lebih jauh.
Setiap gerakannya mengingatkanku bahwa aku masih berkuasa. Dia mungkin bule, kaya raya, lebih tua dariku puluhan tahun, tapi di momen seperti ini, dia sepenuhnya milikku. Nafasnya tercekat, tubuhnya menegang, sementara aku yang mengatur iramanya.
Robert menarikku bangkit, bibirnya masih menempel rakus di bibirku. Aku tertawa kecil di sela ciumannya, membiarkan dia menggiringku ke balkon. Angin malam kota Jakarta menerpa kulitku, dingin tapi cepat tersapu panas tubuhnya yang menempel erat.
Di bawah sana, lampu-lampu jalan berkelip. Dari atas sini, dunia seperti tak berarti. Aku menengadah, membiarkan Robert mencumbu leherku, meninggalkan jejak merah di kulitku.
“Kamu gila…” desahku, tapi aku sama sekali tidak menolak.
“Only for you, Jeni,” jawabnya dengan suara parau.
Aku bersandar pada pagar balkon, tubuhku terhimpit olehnya. Tangannya tidak berhenti menjelajahi, membuat nafasku tersengal. Ada bagian diriku yang suka, bahkan bangga, mengetahui kalau pria berusia enam puluh, masih tampan dan perkasa, bisa tergila-gila padaku.
Namun dia belum selesai. Robert mengangkat tubuhku, seolah usianya tak pernah mengurangi kekuatannya. Aku sempat terkejut, tertawa kecil, lalu merangkul lehernya erat. Dari balkon, dia membawaku masuk lagi, tubuh kami terus saling menempel, napas kami berpacu.
Punggungku terbentur dinding ruang tamu, tapi aku tak peduli. Mataku menatap lurus ke matanya, mata biru yang menyala penuh nafsu dan obsesi. Dia menekan tubuhku lebih keras ke dinding, ciumannya makin dalam, makin panas dan menuntut.
“Ah, Robert,” aku hanya bisa menyebut namanya, setengah desahan, setengah tantangan.
Punggungku menempel pada dinding yang dingin, tapi tubuh Robert membakarku habis-habisan. Bibirnya tidak berhenti melumat, lidahnya menuntut lebih dalam, tangannya tak sabar menelusuri lekukku. Nafasku terputus-putus, tapi aku tertawa kecil di sela desahan.
“Sayang, kamu emang nggak pernah puas,” bisikku, sengaja menantangnya.
Dia menatapku dengan mata liar, lalu mengangkatku begitu saja. Kakiku melingkar di pinggangnya, tubuhku benar-benar terperangkap. Aku mendesah keras ketika akhirnya dia menekan penuh ke dalamku, tanpa ampun, membuat kepalaku terhempas ke dinding.
Sensasi itu membanjiri tubuhku. Panas, mendebarkan, menyakitkan sekaligus nikmat. Aku mencengkeram rambutnya, menariknya makin dekat, membalas dengan liar. Setiap hentakannya membuatku kehilangan kendali, tapi aku tidak akan menunjukkannya meski kepalaku mulai terasa pusing. Aku harus terlihat berkuasa, bahkan saat tubuhku diguncang habis-habisan.
“You’re mine, Jeni,” gumamnya berat di telingaku.
Aku terengah, senyum sinis terbit di wajahku. “No, Sayang… you’re the one who can’t live without me.”
Permainan itu semakin cepat, semakin panas, sampai tubuhku bergetar hebat. Suara desahan bercampur dengan dentuman dinding, udara malam yang masuk dari balkon pun tak lagi terasa dingin.
Dan ketika akhirnya tubuhnya menegang, nafasnya pecah kasar di leherku, aku menutup mata, merasakan gelombang klimaks merambat hingga ke ujung jari.
“You drive me crazy,” gumamnya dengan napas tersengal-sengal.
Aku tersenyum miring, membiarkan bibirku masih menempel di bibirnya. "Itu alasannya kamu nggak bisa membuangku seenaknya, Sayang."
Dia terkekeh, lalu kembali melumat bibirku dengan lembut. Aku membalas ciumannya, membiarkan bibir kami beradu untuk yang kesekian kalinya. Tidak ada rasa jijik. Tidak ada rasa bersalah. Hanya ada kepuasan.
Bagaimana tidak? Lihat sekelilingku, apartemen mewah di pusat kota, champagne dingin di meja, tas-tas branded berjejer di lemari, mobil sport yang terparkir di basement. Semua ini bukti. Bukti bahwa aku bukan perempuan biasa.
Orang bisa bilang aku simpanan. Murahan. Sampah. Tapi coba tanyakan pada diri mereka sendiri, siapa yang lebih bodoh? Aku yang dipeluk bule kaya tujuh turunan, atau mereka yang desak-desakan di KRL dengan wajah lelah dan dompet tipis?
Tubuhku masih melekat di dadanya ketika akhirnya kami terjatuh ke sofa. Nafas Robert berat, memburu, tapi senyumnya puas. Aku hanya menatap ke langit-langit, merapikan helaian rambutku yang berantakan.
“Nanti aku transfer, ya,” ucapnya enteng. Pria itu berdiri dan mulai merapikan kemejanya, seperti seseorang yang baru saja menunaikan dosa dengan cara yang terlalu sering.
“Nggak usah buru-buru,” jawabku pelan sambil memungut gaun malamku yang teronggok di lantai. "Aku bisa menunggu, Sayang."
Jawaban dariku membuat Robert berhenti sejenak, menatapku dengan rasa penasaran. Aku tahu, ada sesuatu di matanya, tapi bukan cinta, tentu saja. Tapi semacam iba yang ditutupi oleh arogansi.
“Kamu tuh aneh, ya,” katanya. “Perempuan lain biasanya rewel soal uang. Tapi kamu malah minta nanti-nanti saja.”
Aku tersenyum tipis, lalu mengambil segelas champagne di meja. Kaca gelas itu berkilau memantulkan lampu kristal. Aku meneguknya pelan, menatap Robert yang masih terengah di sofa.
“Karena sekarang,” ujarku sambil menyilangkan kaki, “aku cuma mau kamu. Bukan uangmu.”