Ani-ani Yes, Simpanan No

Penulis MeySora
18 October 2025

Butik itu tidak ramai, seperti biasa. Hening, harum parfum mahal, dan semua pelayan bicara setengah berbisik. Tempat seperti ini bukan sekadar menjual pakaian tapi menjual gengsi, dan aku pelanggan tetapnya.

Aku melangkah masuk dengan kacamata hitam yang belum kubuka, high heels Louboutin 12 cm yang membuat setiap langkahku terdengar seperti ketukan percaya diri. Rambutku sudah disetting blow sempurna, make-up flawless, bibirku merah menyala. Aku mengenakan dress putih ketat dari brand yang bahkan namanya saja banyak orang tak mampu eja.

Hari ini aku mau satu hal, koleksi tas terbaru. Limited edition. Barang rebutan. Dan aku akan jadi yang pertama memilikinya.

Begitu aku masuk, semua mata menoleh. Ada yang menatapku dengan kagum, ada yang berbisik-bisik. Aku bisa mendengar jelas komentar mereka meski lirih.

“Itu kan Jeni… Dengar-dengar, dia jadi ani-aninya gadun kaya.”

“Cantik sih, tapi oplas semua. Norak.”

“OKB banget gayanya. Nggak salah sih kalau jadir ani-ani, mana mungkin bisa hidup glamor kalau nggak dapat dari hasil membuka kaki.”

Aku tersenyum tipis, mengabaikan. Mereka bisa bilang apa saja, tapi pada akhirnya, mereka tetap menatapku. Ada iri, ada cemburu, ada benci. Semua campur aduk.

Aku melangkah menuju etalase, sengaja mengayunkan tas Hermès yang sudah tergantung di lenganku. Edisi lama, tapi harganya masih cukup untuk bikin orang biasa menjual rumah.

“Selamat pagi, Miss Jeni.” Manajer butik tersenyum sopan. Dia tahu siapa aku, dan lebih penting lagi, tahu siapa yang membayarku. "Tas yang Anda pesan sudah datang. Koleksi terbaru, hanya ada dua di Indonesia.”

Aku menjentik rambut ke belakang dengan satu gerakan malas. “Kirimkan ke ruang fitting. Aku cuma punya satu jam.”

Beberapa pengunjung lain menoleh. Dua perempuan muda di pojok kiri. Entah siapa, mungkin istri baru pejabat kelas dua, berbisik sambil melirik ke arahku. Aku menangkap tatapan mereka lewat kaca.

Penuh rasa ingin tahu. Dan iri, tentu saja.

Kupandangi mereka balik, pelan, lalu tersenyum kecil. Senyum seorang Jeni, angkuh, dingin, dan sedikit menyindir.

Manager butik membuka kotaknya. Kilau kulitnya membuat semua orang di sekitar terpana. Aku bisa merasakan tatapan iri menusuk dari berbagai arah. Dan aku suka itu.

Satu tas Hermès baru berwarna perak mengilap diletakkan di meja depan. Aku mendekat, meraba teksturnya. “Yang ini aku ambil. Kirim ke apartemen, besok siang harus sudah sampai.”

Manajer butik mencatat. “Baik, Miss. Pembayaran—?”

“Tagihkan ke Mr. Robert, seperti biasa,” ucapku ringan, sambil melihat kuku tanganku yang baru dipoles semalam.

Aku suka sensasi ini. Kartu hitam, tatapan hormat, pintu mobil yang dibukakan sopir, dan perempuan-perempuan yang diam-diam ingin jadi aku. Puas sekali saat dunia seolah hanya berputar untukku.

Saat aku baru saja menandatangani nota pembelian ketika ponselku bergetar. Nama “Robert ❤️” muncul di layar. Senyumku langsung melebar.

“Hello, baby,” suaraku manja.

Suara beratnya terdengar dari seberang. “Jeni, where are you?”

“I’m shopping,” jawabku ringan, sambil memeriksa kuku yang baru saja kutouch up kemarin. “Kenapa, Sayang? Udah kangen lagi ya?” ucapku manja.

“No, Baby. Aku ada meeting penting siang ini. Ketemu klien dari luar negeri. I want you to be there with me.”

Aku menaikkan alis, tersenyum puas. Lihat kan? Bahkan istri sahnya tidak pernah diajak, tapi aku, yang dicibir cuma simpanan tak berguna, malah diminta jadi pendamping di urusan bisnis. Itu bukti nyata siapa yang benar-benar penting buat Robert.

“Of course, sayang. Aku siapin diri sekarang.”

“Good girl. Jemputan aku kirim. Thirty minutes, okay?”

“Okay, baby.”

Begitu telepon ditutup, aku menatap pantulan diriku di cermin butik. Dress putihku, heels Louboutin, tas limited edition yang baru saja kudapat. Semua sudah sempurna.

Orang-orang boleh bilang aku hanya ani-ani, tapi coba lihat kenyataannya. Aku bukan perempuan murahan. Aku adalah pendamping seorang pria kaya raya. Dan hari ini, aku akan duduk di sebelahnya, membuat semua orang tahu siapa Jeni sebenarnya.

Aku melangkah keluar butik dengan kepala tegak, membiarkan tatapan iri dan cibiran mengikuti dari belakang. Hak sepatuku beradu dengan lantai marmer, iramanya penuh kemenangan.

**

Ruang meeting full kaca, dengan pemandangan kota Jakarta yang megah. Aku melangkah masuk di samping Robert, heels-ku beradu lantai, dress putih ketat menonjolkan lekuk tubuhku. Semua mata menoleh, dan tentu saja aku tahu mereka menilai. Kagum, iri, ada juga yang sinis.

Seorang klien asing, pria berkacamata tebal, menatapku sejenak, lalu bertanya kepada Robert, “Excuse me… who is she?”

Aku menahan napas sebentar, menunggu jawaban.

Robert tersenyum santai, matanya menatapku sebentar sebelum berkata, “Ah, she’s just my girlfriend. Nothing more… hanya untuk kesenangan saja.”

Aku menelan ludah. Dalam hati aku mendidih. Hanya untuk kesenangan? Apa-apaan ini? Seluruh usaha, seluruh perhatian, semua yang aku lakukan untuk membuat diriku terlihat sempurna, katanya cuma untuk hiburan?

Aku mencondongkan badan sedikit, tersenyum tipis, menatap klien itu. “Nice to meet you,” suaraku manis, tapi hatiku panas.

Robert menepuk bahuku, senyumnya tetap tenang. Seolah memberi sinyal, tahan diri, Jeni.

Aku menegakkan punggung, tersenyum lagi, tapi kali ini lebih dingin. Aku tidak akan menunjukkan kemarahanku. Tidak di sini, di depan klien dan orang-orang penting.

Robert memintaku untuk duduk di sofa ruang tunggu, kaki menyilang, tas terbaru di pangkuan. Robert masuk dan keluar dari ruang meeting beberapa kali, tapi aku tetap tenang. Dari pintu kaca, aku bisa mendengar percakapan mereka, meski sebagian bahasa Inggris, tapi aku bukan yang bego-bego amat.

“And then, I don’t know… she’s just fun,” suara Robert terdengar, diikuti tawa klien.

“Yeah… hot girls everywhere, but nothing serious,” jawab klien.

Aku menegakkan punggung, napas tertahan. Mereka membahas cewek-cewek lain, sambil menertawakan “pacarku” yang hanya mereka anggap mainan. Aku ingin bangkit, ingin membentak, tapi tetap menahan diri.

"Sial!" geramku pelan.

Tak lama, meeting selesai, Robert keluar dari ruangannya, wajahnya tetap tersenyum. Tapi aku? Aku kesal setengah mati. Hati kecilku menjerit. Aku hanya mainan? Kalau bosan nanti, dibuang begitu saja?

“Jeni…” suaranya lembut, sambil menepuk lenganku.

Aku menoleh, mata berbinar marah.

“You’re mad, huh?” tanyanya sambil tersenyum.

“Mad? You think I should smile while you just… play with words like that?” aku menyeringai, tapi tetap duduk.

Robert meraih tanganku, lembut tapi tegas. “Don’t be mad, baby. Aku cuma bercanda sedikit. Kamu tahu aku nggak pernah bisa jauh dari kamu.”

Aku menatapnya, tetap kesal, tapi hatiku sedikit luluh. Dia melanjutkan, “Tonight… aku mau kamu ikut ke pesta sama aku. Gaun dan perhiasan akan dikirim ke apartemenmu. Kamu harus datang. Just us, okay?”

Aku menahan napas, menatap matanya. Sekejap, semua kemarahan dan rasa tersinggung itu perlahan mencair. Pesta, gaun mewah, perhiasan, siapa yang bisa menolak rayuan Robert?

“Fine,” jawabku akhirnya, mencondongkan tubuhku sedikit. “Tapi aku masih marah, lho.”

Robert tertawa kecil, menekan bibirku dengan ciuman ringan di pelipis. “That’s my girl.”