Suara gebrakan pintu membuat Ezra dan Celeste menoleh cepat. Kael, dengan wajah kusut dan rambut berantakan melangkah cepat. Ezra segera melompat berdiri, wajahnya tegang.
“Bagaimana Aurora??” tanyanya, tanpa basa-basi. Celeste yang baru menyesap teh panasnya pun ikut berdiri—dengan memeluk bantal sofa kecil.
Suara Kael bergetar, tak seperti biasanya. “Bersama Luther. Dia… keguguran.”
Ezra terdiam. Celeste benar, Aurora hamil.
Ia tahu, cemburu ataupun rasa tidak terima yang tengah ia rasakan bukanlah haknya. Namun sebagai seorang yang memiliki perasaan pada Aurora, ia tak menyukai kenyataan bahwa hubungan antara Aurora dan Kael lebih dalam daripada yang ia kira.
“Dia baik-baik saja?” Ezra bertanya dengan mata nanar menatap lantai.
“Baik.” Kael menghela napas. “Dia masih dalam pengaruh obat bius. Aku segera pergi begitu dia dipindah ke ruang perawatan. Di mana dua orang itu?”
Ezra mengepalkan kedua tangannya. “Tetap di ruangan tadi. Aku dan Celeste mengikatnya di sana.”
Kael tak menjawab. Langkahnya cepat menuju ke ruangan tempat Nick dan Kira berada. Meskipun sebenarnya ia enggan meninggalkan Aurora, tapi ada urusan yang harus diselesaikan segera.
“Kau masih berutang penjelasan padaku, Ezra,” geram Kael dalam langkahnya.
Celeste menatap gelisah pada Ezra. Ia khawatir dengan tindakan Kael jika mengetahui apa yang telah menjadi rencana Ezra selama ini.
“Kael… ini bukan waktu yang tepat untuk membahasnya.” Celeste berusaha melindungi.
Namun ucapannya itu justru membuat Kael menghentikan langkah. Tatapannya dingin, mengiris keberanian perempuan itu perlahan. “Jangan bilang kau ikut campur dalam urusan ini, Celeste.”
Celeste meneguk ludahnya cepat. Tenggorokannya tercekat, ia kesusahan untuk memberi alasan. Namun Ezra dengan sigap merentangkan tangan di hadapannya, membuat perempuan itu kembali berdebar.
“Jangan libatkan dia. Kalaupun Celeste terseret dalam masalah ini, itu karena aku yang memaksanya.” Ezra mengatakannya dengan tegas. “Semuanya akan kuceritakan setelah kita mengurus Nick dan Kira.”
Kael kembali menatap tajam pada Celeste, lalu dengan cepat melemparkan pandangannya kembali ke arah Ezra. “Pastikan untuk menepati ucapanmu, atau aku tidak akan segan melenyapkanmu!”
“Fair enough.” Ezra mengangkat kedua tangannya sebatas dada. “Aku tidak akan kabur, kau bisa percaya padaku kali ini.”
Dengusan kasar lolos sebelum Kael kembali mengayun langkah. Dadanya bergemuruh hebat, tapi ia berusaha menurunkan egonya sekali ini untuk memilih percaya pada Ezra—meskipun pilihan itu sama saja dengan berjudi.
Pintu ruangan terbuka. Nick dan Kira yang masih terikat segera menatap ke arah itu bersamaan. Kael sedikit terkejut dengan rupa mereka saat ini. Entah apa yang telah dilakukan oleh Ezra dan Celeste, tapi rupa dua antek-antek Bastien itu terlihat sangat kacau.
Darah kering menjejak di pelipis, lebam di wajah mulai berubah warna menjadi ungu kehitaman. Kael semakin merasakan amarah ketika menyadari bahwa ia telah kelolosan banyak hal. Pertama Ezra, kedua tetangga sebelah.
Sialan!
“Oh… Tuan Muda Vireaux.” ujar Nick, dengan suara parau dan seringai menjijikkannya. “Apa kabar istrimu itu?”
“Brengsek!”
Ucapan Nick sangat memicu ledakan amarah Kael. Ezra dan Celeste dengan cepat menahan lengan pria itu agar tak kembali menyerang Nick. Napasnya terengah, sambil menepis tangan Ezra dan Celeste dari lengannya.
“Jangan bertindak bodoh.” Ezra mengingatkan.
Dengusan kasar terdengar lagi dari Kael. Mati-matian ia berusaha mengatur napasnya, menahan emosi agar tak semakin mengacaukan situasi.
Perlahan, ia mendekat pada Nick. Tangannya mencengkeram rahang pria itu dengan kasar. Nick berusaha menyentak wajahnya, tapi cengkeraman Kael lebih kuat. “Katakan, apa yang diinginkan Bastien?”
“Really?” Nick tertawa, matanya menyipit—mengejek pertanyaan Kael. “Tentu saja untuk menjatuhkanmu. Aku tidak menyangka pimpinan utama Vireaux Group akan setolol ini.”
Rahang Kael semakin mengetat, giginya saling menggigit. Tangan yang tadi terus mengepal, dengan cepat dilontarkan tepat pada tulang rahang Nick. Bunyi bug teredam mengawali merah yang menjejak. Semburat darah menyembur kecil dari mulut pria itu.
“Kael,” ucap Ezra, berusaha kembali menenangkan. “Nick benar. Tujuan awal Bastien dari awal memang untuk menggulingkanmu. Dia melihat Aurora sebagai kelemahanmu, dan menyuruhku untuk mengacaukan hubungan kalian berdua. Tapi aku gagal, aku tidak bisa memisahkan kalian begitu saja, dan jika tebakanku benar… karena itulah Bastien mengirim Nick dan Kira untuk melenyapkan Aurora.”
Tawa melengking datang dari Kira. Jika saja tangannya tak terikat, pasti ia telah bertepuk tangan. “Tampaknya Ezra lebih cerdas daripada kau, Tuan Vireaux.”
Celeste yang dari awal geram dengan Kira, dengan cepat melempar bantal sofa yang didekapnya—tepat mendarat di muka. “Diam, Bitch!”
“Tenang semuanya!” sentak Ezra. “Kael, jangan terpengaruh. Kau hanya akan merusak semuanya kalau menuruti emosimu. Dan Celeste,” ucapnya sambil beralih menatap Celeste. “Tahan emosimu, jangan suka melempar barang, ok?”
Celeste menggeram, tak sepenuhnya setuju dengan ucapan Ezra, tapi mau tidak mau harus menuruti. Namun tidak dengan Kael. Napasnya memburu, kini ia menatap tajam pada Ezra.
“Kau menyuruhku menahan emosi pada orang yang telah membunuh anakku?!”
Ezra terdiam. Tangannya mengepal, tentu saja ia juga akan seperti Kael jika berada di posisi itu. Kehilangan anak yang bahkan belum sempat mereka ketahui kehadirannya.
Sialan! Rasanya Ezra ikut tak mampu menahan emosinya.
“Akan kulenyapkan kalian semua!” Kael menarik kerah baju Nick, dengan satu tangan lainnya bersiap menghantam tinjunya yang telah mengepal.
“Kurasa kau ingin mendengar kisah tentang ibumu, Tuan Muda.”
Ucapan Nick berhasil membekukan tangan Kael. Keningnya semakin berkerut. Apa yang diketahui oleh si brengsek ini?
“Lucien adalah dalang dari kematian Mireille Vireaux dan Isabelle Lambert.” Nick menyeringai. “Dan Bastien… adalah orang yang mengeksekusinya.”
Tangan yang sempat teratung, kini dihempas kencang ke rahang Nick. Darah kembali menyembur, tapi Nick hanya tertawa kencang, seolah menikmati keretakan pada seorang Kael Vireaux.
Di belakang, Ezra bergerak cepat. Ia menarik tubuh Kael, menahannya agar tak melakukan serangan lagi.
“Sadarlah! Yang kau butuhkan adalah bukti untuk melumpuhkan Bastien, kan? Ini adalah kesempatan!” desis Ezra geram.
Kael mendengus kasar. Ezra benar, kali ini ia tak boleh bertindak gegabah lagi. Celeste yang dari tadi berusaha keras untuk tidak berbicara, kini merogoh ponsel di kantong celananya, dan mengaktifkan fitur rekaman tanpa mengatakan apa pun.
“Katakan semuanya!” Kael menyentak, kedua matanya semakin memerah.
“Mireille tahu jika Lucien memperalat Isabelle untuk menghancurkan Mathhew Vallen. Tapi ketika itu, Isabelle melihat perlakuan buruk Lucien pada Mireille. Lebam yang mungkin saja kau lihat waktu ibumu masih hidup, itu adalah hasil dari kekerasan yang dilakukan oleh Lucien. Isabelle mengetahui itu, dan mencoba untuk membantu Mireille lepas dari Lucien.
“Secara tidak sengaja, Mireille dan Isabelle menjadi perempuan yang saling membantu dan melindungi. Dan ketika Isabelle mengetahui tentang tim pembunuh bayaran pada Vireaux Group, Lucien murka dan menyuruh Bastien untuk membunuhnya. Mireille sempat melindungi Isabelle, tapi pada akhirnya dia juga harus meregang nyawa di tangan Bastien—atas perintah Lucien.”
Kael tercekat. Tatapannya nanar, tubuhnya menguar panas. Dalam satu gerakan, ia lolos dari tangan Ezra dan menghimpit tubuh Nick—menghantam dinding di belakangnya dengan tangan tetap terikat pada kaki meja.
“Jangan berkata bohong!” sentak Kael.
“Lepaskan dia!” sentak Kira, tapi mulutnya kembali disumpal oleh Celeste dengan scarf yang sebelumnya terlepas.
“Semua yang kau katakan tadi tidak benar!” Kael berteriak, lengannya semakin menekan leher Nick, membuatnya tersengal.
“Kael, lepaskan dia!” Ezra menarik tubuh Kael, tapi tak satu inci pun bergeser. “Lepas! Kau bisa membunuhnya!”
Kael menggeram, tak mampu lagi berpikir rasional. “Dia memang akan mati di tanganku!”