Malam ini aku mendatangi pesta. Seperti biasa, pesta untuk kalangan sosialita kelas atas sepertiku, tentu saja. Pesta itu digelar di ballroom hotel bintang lima, lampunya menggantung rendah seperti bintang yang berkelip indah. Semua tamu memakai pakaian yang bersinar, berdiri tegak di atas sepatu-sepatu mahal sambil bicara soal bisnis yang tak mereka jalani sendiri.
Aku datang terlambat dua puluh menit. Cukup untuk membuat semua kepala menoleh.
Gaun merah beludru dari koleksi private Valentino. Anting berlian dua karat dari butik khusus di Singapura. Clutch Chanel edisi terbatas. Dan senyum tipis yang sengaja kuukir seperti ejekan halus.
“Jeni… Apa kabar?”
"Hai, Jeni."
Beberapa sosialita menyapaku dengan manis palsu. Mereka tahu siapa aku, tapi tak satu pun berani menyebutkannya. Aku hanya mengangguk pelan. Tak perlu basa-basi dengan mereka yang tak sekelas.
"Dimana Robert?" gumamku setengah berbisik.
Aku menatap sekeliling, mencari pria itu di antara tamu-tamu yang sibuk membicarakan bisnis-bisnis yang bahkan tak mereka jalani sendiri. Tangan ini otomatis memeriksa ponsel—sinyal telepon masuk beberapa kali.
“Robert…” gumamku pelan, nada suaraku setengah kesal.
Aku menekan tombol jawab beberapa kali, tapi panggilan tetap tidak diangkat. Jantungku berdebar sedikit lebih cepat. Bukan karena takut, tapi rasa penasaran bercampur sedikit kesal muncul di hatiku.
"Apa dia sengaja menghindar? Atau bohong? Sialan!"
Aku menghela napas, mencondongkan tubuh ke punggung kursi, mencoba tetap tenang. Senyum tipis tetap kusematkan di wajahku, tapi di balik itu ada sedikit rasa gusar. Robert, si bule perkasa, yang selalu membuatku merasa ratu di dunia ini, sekarang, tak ada kabar. Bahkan dia yang mengundangku datang.
"Kalau tahu kayak gini, mending aku tadi ke klub," ujarku kesal.
Aku menempati kursi di pojokan ballroom, kaki menyilang, heels masih menyentuh karpet tebal dengan anggun. Beberapa pria mendekat, menatapku dengan mata penuh niat.
“Hei, cantik… kamu sendirian?” salah satu dari mereka menyapa dengan nada genit.
Aku tersenyum tipis, mencondongkan badan sedikit, membiarkan rambutku menyapu bahu. “Iya, sendiri… tapi jangan khawatir, aku bisa diatur.”
Mereka terkekeh. Satu dari mereka lebih nekat, menatapku tajam. “Berapa harganya kalau aku mau kamu jadi simpanan? Bayar semua yang kamu mau,” katanya sambil setengah bercanda, setengah serius.
"Kamu mau apa? Jam tangan? Tas branded atau jalan-jalan ke luar negeri tiap bulan? Jangan khawatir, Sayang. Aku bisa mewujudkan itu semua."
Mata pria itu mengerling nakal kearahku. Tangannya perlahan bergerak, bahkan ujung jarinya berhasil menyentuh punggung tanganku. Sial!
"Asal, kamu mau jadi pacarku," ujarnya diselingi tawa yang membuat perutku terasa mual.
Menjadi pacar katanya? Huh?! Melihat tampangnya saja aku sudah merasa enggan.
Aku menatap matanya, bibirku melengkung tipis, senyum masam yang penuh ejekan. Tidak perlu menjawab. Senyum itu sudah cukup membuat mereka tahu, aku bukan perempuan murahan yang bisa dibeli begitu saja.
Mataku terpaku pada layar ponsel yang menyala. Sudah hampir tiga puluh menit aku duduk diam di tempat sialan ini, tapi kenapa Robert tak kunjung datang? Aku menghela napas berat, dadaku rasanya sesak.
"Apa dia bohong?" gumamku dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Ocehan para pria hidung belang di sekelilingku semakin membuatku muak. Cukup! Aku sudah tak bisa lagi menunggu. Saat aku hendak pergi, suara riuh dari para tamu membuatku penasaran, mataku secara tak sengaja bergerak ke arah pintu ballroom. Dalam sekejap, napasku tercekat.
"Perempuan itu?" gumamku pelan.
Aku mengenalinya. Dia Rosa, istri Robert, yang selalu terlihat anggun, tenang, senyum menenangkan yang selalu membuatku ingin menampar wajahnya. Aku mendengus pelan, menahan amarah.
Pria di sampingku mencondongkan badan, berbisik pelan, penuh cemoohan. “Pacarmu nggak datang bukan? Yang datang malah istri sahnya. Mendingan kamu sama aku saja. Daripada kamu kesepian.”
Aku menghela napas panjang, menatap matanya sebentar. Lalu aku membalas dengan senyum masam, tipis, penuh penghinaan terselubung.
“Thanks… tapi aku sudah sangat menikmati malam ini. By the way, nggak perlu menawarkan diri, karena aku yakin, uangmu bahkan nggak lebih banyak dari harga gaun yang ku pakai malam ini,” balasku.
Dalam hati aku tak peduli pada perempuan tua itu. Tapi rasa penasaran begitu menggelitik. Aku melihat dari ekor mataku, perempuan itu berjalan ke tengah ballroom, ngobrol santai dengan beberapa sosialita yang hadir. Aku duduk di pojok, masih dengan senyum tipis, tapi mataku tidak lepas dari mereka.
Seketika, semua sosialita perlahan-lahan mendekat pada Rosa. Mereka tersenyum manis, tertawa sopan, seolah Rosa adalah pusat perhatian yang seharusnya.
Aku menelan ludah, menahan napas sejenak. Apa-apaan ini? Bukankah aku yang seharusnya jadi pusat perhatian malam ini? Bukan perempuan tua yang katanya sudah tidak menarik lagi.
Aku mencondongkan tubuh ke kursi, menatap mereka satu per satu. Senyum tipisku tetap melekat, tapi di dalam hati aku mendidih. Setiap tawa mereka, setiap tatapan penuh kekaguman kepada Rosa, terasa seperti pisau kecil yang menusuk kesombonganku.
“Seriously?” bisikku pelan, hampir tak terdengar.
Tapi pria di sampingku, yang sebelumnya mencoba menggoda, hanya terkekeh pelan. Seolah dia pun bisa merasakan ketidaknyamanan ini, tapi tak berani berkata apa-apa.
Aku menegakkan punggung, menarik napas panjang. Jangan sampai perempuan sialan itu melihat kemarahanku.
Dengan senyum masam yang disengaja, aku menatap ruang ballroom dengan tajam.
Perempuan itu berdiri di dekat pilar, dikelilingi oleh lingkaran kecil wanita-wanita bergincu pucat. Gaunnya putih gading, potongan couture dari rumah mode yang bahkan aku belum bisa jangkau. Gelangnya berkilat, dan ketika ia bergerak, kalung safirnya memantulkan cahaya lampu seperti mimpi buruk yang mahal.
Dada kiriku berdenyut pelan.
Aku tak tahan, lalu sengaja berjalan ke arah bar, mengambil segelas anggur dan berdiri di dekat cermin besar. Dari sudut sana, aku bisa melihat pantulan kami berdua.
"Sangat jauh berbeda. Tubuhku seksi, sementara dia? Wajahnya udah penuh kerutan di mana-mana. Aku yakin, wanita itu udah nggak mampu lagi melayani Robert," cibirku sinis.
Dadaku tetap berdenyut nyeri. Aku memang muda, seksi dan tentu saja menjadi idaman para pria dan juga Robert tentunya, tapi aku tetap merasa kalah. Rosa tampak seperti perempuan yang tahu dia tidak perlu membuktikan apa-apa. Sementara aku, aku bahkan tampak seperti seseorang yang sedang mencoba terlalu keras. Miris sekali bukan?
“Bu Jeni, boleh saya ambil foto untuk majalah komunitas?”
Seorang fotografer amatir mendekat. Aku mengangguk tanpa senyum. Biarkan wajahku terpajang, biarkan namaku tercetak. Meski hanya samaran.
"Terserah saja," jawabku asal.
Aku memalingkan pandangan lagi ke arah perempuan itu. Dia tersenyum pada seseorang, lalu berjalan keluar ballroom dengan langkah yang anggun.
Aku menyesap anggurku cepat-cepat. Rasanya getir.
Robert pernah bilang, dia bosan dengan istrinya yang terlalu sibuk amal, terlalu kuno, terlalu kalem. Tapi jika dia begitu bosan, kenapa perempuan itu tetap memegang semua kartu?
Aku menghela napas pelan. "Ah, brengsek! Kenapa aku harus menangis buat pria tua sialan itu?! Dasar nggak berguna!" gumamku sambil menyeka air mata yang bahkan belum jatuh dari pelupuk.
Malam ini harusnya milikku. Tapi dia datang, dan tiba-tiba aku merasa seperti gaun merah ini tidak cukup mahal. Berlian di telingaku tidak cukup besar. Dan tentu saja, namaku terlalu palsu untuk disandingkan dengannya.
Aku lalu memutuskan untuk keluar lebih cepat dari yang kurencanakan. Langit malam masih terang oleh lampu kota, tapi di dalam dadaku, semuanya sudah mulai gelap.
"Aku pasti bakal kasih kamu pelajaran, Robert! Lihat saja nanti!"