Sampai kapan harus menenangkan diri?
Aurora menghela napasnya panjang. Jika ada seseorang yang menanyakan hal itu padanya, jawabannya adalah: sampai detik ini—Oh, well… sedetik yang lalu lebih tepatnya.
Ia telah menambah semalam untuk menjernihkan pikirannya. Sekarang saatnya untuk menghadapi Kael dengan segala dramanya—jika ada.
Aurora tak pernah tahu. Mungkin saja selama ia pergi, ternyata pria itu tak peduli sama sekali, bukan? Atau… justru tuan besar Vireaux itu malah menemukan ketenangan dalam jiwanya karena tak harus berurusan dengan wanita bebal yang tak bisa menuruti larangan untuk masuk ke dalam kamar itu.
Dan tentang hukuman ciuman yang dilakukan oleh Kael waktu itu… yah, well… Aurora mencoba untuk tidak mempersoalkannya. Dia anggap itu mimpi buruk yang membuat tubuhnya meremang tiap kali membayangkannya.
Bagaimana tidak? Sesapan dan lumatan dari pria itu seakan menghisap jiwanya perlahan. Ritmenya yang intens dan penuh amarah, seakan menantang Aurora untuk membalasnya dengan rasa yang sama, nyaris meledak antara marah dan penasaran.
Stop it, Aurora!
Aurora menggeleng pelan saat ia memasuki lift gedung apartemen tempat penthouse Kael berada. Sudah bersusah payah ia membuat pikirannya kembali menjadi ‘suci’, jangan sampai berantakan hanya karena ia tak bisa move on dari hukuman itu.
Dengungan halus menandakan lift telah naik. Aurora mengangkat rendah tangan kirinya, melirik sekilas pada jam tangan hitam yang melingkar di sana. Hampir jam tujuh malam. Jika beruntung, ia bisa segera masuk ke dalam kamarnya, mandi, dan tidur. Jam segini, seharusnya Kael belum kembali dari kantor.
Denting nyaring terdengar, disusul dengan terbukanya pintu logam itu perlahan. Langkah Aurora tak tergesa, kontras dengan hatinya yang berdebar. Pintu penthouse sudah di depan mata. Tak ada lagi pintu di lantai ini kecuali milik Kael. Aurora mendesah pelan saat membuka pintu.
Aroma bergamot kembali menyeruak pada hidungnya. Tak disangka… ia merindukannya. Penthouse yang bahkan bukan miliknya ini, entah kenapa seakan menjadi rumah baginya. Matanya terpejam sejenak saat menutup pintu, sambil menarik napas dalam-dalam, menjejalkan aroma bergamot banyak-banyak untuk disimpan di rongga hidungnya.
perlahan… sangat pelan… sampai…
“Aurora Vireaux!!”
Aurora tersentak. Suara berat Kael menggema di hadapannya, memaksanya untuk membelalakkan mata, nyaris menahan napas karena degup jantungnya semakin kencang tak beraturan. Tubuhnya menegang, seakan tertangkap basah karena telah melakukan sebuah kesalahan.
Kesalahan? Kesalahan apa yang telah ia lakukan?
Ah, benar. Ia telah melanggar aturan untuk tidak membuka pintu itu. Sesaat ia hampir melupakannya.
“Dari mana kau beberapa hari ini?!”
Tubuh Aurora masih menegang, ia tak mengira akan disambut dengan respon mengejutkan dari Kael.
“Aku… menenangkan diri,” ucapnya jujur.
Ia tak memiliki alasan lagi yang bisa dirangkai untuk meredakan emosi Kael saat ini—mungkin ada, tapi ia tak memiliki waktu.
Kael melangkah pelan, dengan sorot tajam yang tak diturunkan sedikit pun untuk Aurora. Pada jarak sejengkal, ia berhenti, sengaja menunjukkan kekuasaan pada nada arogan yang semakin terdengar tebal.
“Menenangkan diri? Apa yang membuatmu tidak tenang? Karena kau telah memasuki ruangan itu?!”
Aurora sampai berjingkat pelan karena bentakan Kael. Ia benci suara keras, terlebih jika itu berasal dari pria itu. “Bukan,” jawabnya pelan.
Kening Kael mengerut dalam. Aurora jelas sekali bisa melihat amarah di dalamnya. “Lalu? Kau menenangkan diri dari apa? Kau takut padaku?”
Aurora menggeleng cepat. “Tidak, aku hanya….”
“Jangan bertele-tele, Rora! Cepat katakan!”
Aurora menghela napasnya panjang. Sebisa mungkin ia tak ingin menyinggung hal ini sejak memutuskan untuk kembali ke penthouse. Tapi ia kesal karena Kael terus mendesaknya.
“Aku menenangkan diri dari ciumanmu!!”
Hening.
Kael mundur satu langkah, tampak menahan napas. Selanjutnya, ia menghelanya kasar dan berbalik. Langkahnya kasar menuju ke kamar. Namun sebelum tangannya meraih pintu, ia kembali menoleh ke arah Aurora yang masih terpaku di tempatnya.
“Masuk kamar!” sentaknya. “Dan jangan pernah punya pikiran lagi untuk kabur, atau aku akan benar-benar menendangmu dari penthouse ini, dan apartemen yang telah kujanjikan sebelumnya akan hangus!”
Tanpa menunggu jawaban dari Aurora, Kael menggenggam gagang pintu, menariknya kasar, lalu masuk ke dalam kamar dan membanting pintu kencang.
Aurora kembali berjingkat di tempatnya. Detik selanjutnya, ia berjongkok cepat dengan napas terengah. Ia tidak sedang jogging atau marathon, tapi rasanya baru saja melintasi ber mill-mill jauhnya.
“Sial, kenapa jantungku semakin berdetak cepat,” umpatnya pelan.
Rasanya seperti akan memasuki area pertempuran. Aurora berkali-kali mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya membuka pintu kamar. Langkahnya perlahan, bahkan menutup pintu pun nyaris seperti gerakan slow motion.
“Kau mau berniat kabur lagi?”
Aurora menoleh cepat. Sial, ia telah diserang, bahkan sebelum sempat untuk sarapan.
Kael duduk di balik meja makan—kursi paling ujung favoritnya—memperhatikan tablet di meja, dengan secangkir kopi yang baru saja ia sesap.
Bahkan aroma kopi yang gurih tak memberikan ketenangan bagi pagi Aurora. Meskipun begitu, ia tak akan pernah sudi untuk kalah dalam pertempuran.
“Kau lihat aku bawa tas? Kau kira aku akan kabur dengan mengenakan baju tidur seperti ini?”
Kael sedikit memiringkan wajahnya, memperhatikan dalam pada penampilan Aurora saat ini, kemudian mengangguk-angguk pelan. “Duduklah, ada banyak hal yang harus kita bicarakan.”
Aurora tak mendengarkan. Ia justru masuk ke dalam dapur, mengambil cangkir dan membuat latte pahitnya. Dengungan halus mesin kopi seakan menjadi jawaban atas perintah Kael yang mengatakan jelas, ‘Hei, baru aku waktu untuk hidup dulu!’
Meskipun begitu, ternyata Kael cukup sabar untuk menunggu sampai Aurora duduk di hadapannya—benar-benar dari ujung ke ujung meja makan persegi panjang itu—dengan tatapan berani, efek dari latte miliknya yang menguar.
“Apa yang ingin kau bicarakan?” Aurora menegaskan bahwa ia tidak sedang ingin basa-basi.
Kael tak segera menjawab. Tatapannya sibuk menilai—menembus dalam pada sorot Aurora—serta mempelajari raut ekspresif wanita itu. Pria itu baru menyadarinya sekarang.
“Kenapa kau menghindari ciumanku?”
Pertanyaan macam apa itu?!
Kening Aurora bertaut erat, matanya nyaris melotot dengan mulut yang bersiap untuk mengumpat. Namun, ia berhasil meredamnya dalam satu helaan napas.
“Kau menciumku sebagai… hukuman. Yah, i know, tapi… apa kau tidak pernah berpikir jika ciuman tetaplah ciuman meskipun itu sebuah hukuman?”
‘Apa yang kukatakan barusan??’ Aurora nyaris kehilangan kesadaran akibat mulutnya yang meracau bebas.
Seringai menyebalkan itu kembali tertarik di sebelah sudut bibir Kael—terlihat meremehkan—dan Aurora membencinya.
“Jadi… bisa kukatakan, kau memiliki pikiran lain ketika aku menciummu, huh?”
Sial! Aurora kalah.
“Ya! Tentu saja aku memiliki pikiran lain. Seperti… aku ingin sekali menarik lehermu saat itu, lalu memitingmu dengan kedua tanganku dan—”
Kael membungkam mulut Aurora dengan ciumannya lagi. Wanita itu bahkan tidak menyadari pergerakannya karena terlalu fokus dengan ocehan dan gerakan tangannya yang membayangkan benar-benar tengah memiting leher pria itu..
Oh, God! Apa yang harus kulakukan?
Kael menarik tubuhnya, seringai itu jelas masih ada. Kini matanya menatap penuh seringai licik pada Aurora. “So, kenapa kau tak mencoba memitingku, Rora?”