Apartemenku harum bunga peony, seperti biasa. Tirai transparan melambai pelan diterpa angin malam, dan langit kota memantulkan cahaya seperti permukaan berlian palsu.
Robert duduk di sofa, mengenakan setelan kasual yang terlalu mahal untuk dibilang santai. Tapi wajahnya tidak santai. Dia diam, membuka kancing kemejanya satu-satu, seolah ingin melepaskan beban, bukan pakaian.
Aku berjalan mendekat. Gaun tipisku jatuh lembut di kulit, tapi langkahku penuh gemuruh yang kutahan sejak tadi malam.
"Aku ketemu dia di pesta. Ck! Kamu bahkan bilang kalau mau datang sama aku," kataku dingin. Mataku melirik sekilas. Sudut bibirku terangkat tipis. Tidak! Aku tidak sedang bercanda. Aku benar-benar merajuk padanya. "Tapi aku dibohongi. Mengenaskan sekali!"
Mendengar ucapanku, dia menoleh, sedikit terkejut, aku tahu itu. "Siapa?" tanyanya.
"Yang selalu kamu bilang ‘biasa aja’, yang sibuk urus charity itu," aku mencibir. "Dia pakai Van Cleef. Seri yang bahkan belum launching di sini."
Robert mengusap wajah. "Jen, kita sudah bahas soal ini, bukan?" desahnya malas.
"Belum," potongku cepat. "Kita belum bahas kenapa dia bisa pakai perhiasan miliaran, sementara aku, perempuan yang kamu peluk tiap malam, masih harus minta dulu untuk beli satu jam tangan."
Tanganku menengadah. Bibir indahku sengaja aku poles dengan lipstik merah menyala keluaran brand terkenal. Suaraku mendayu manja, begitu lah caraku merayu Robert. Dia selalu menyukai sisi manjaku, begitu juga dengan sisi liarku saat memuaskannya di ranjang.
"Apa kamu nggak cukup dengan semua yang aku kasih? Kamu juga punya perhiasan bagus dan mahal, Jen," ucapnya, suaranya mulai naik satu oktaf.
Aku tertawa pendek, lalu duduk di pangkuannya, membelai lehernya perlahan.
"Sayang," bisikku. "Aku bukan minta. Aku mengimbangi. Aku jaga rahasia, aku nggak nuntut status. Tapi kamu tahu... di dunia ini, cinta seperti kita butuh ongkos."
Pria itu diam. Ujung jariku bergerak manja, menyusuri ujung dagu lalu berhenti pada belahan dadanya yang terbuka. "Katanya kamu suka kalau aku berdandan cantik. Apa kata temanku kalau aku bahkan nggak punya perhiasan seri terbaru. Ah, mereka pasti julid habis-habisan!"
"Dan juga, dia punya namamu di undangan pesta." Aku kembali melanjutkan. "Aku cuma punya label di baju yang kamu bayar. Dan kadang, label itu harusnya lebih mahal dari nama 'kan?"
Aku bangkit berdiri, membelakanginya, membiarkan siluet tubuhku bermain di pantulan kaca.
"Rolex Pearlmaster 39. Aku mau yang itu. Atau aku akan berpikir kamu nggak lagi serius."
Robert menghela napas panjang. Tangannya mengepal. Tapi aku tahu, dia belum berani kehilangan aku. Belum.
"Besok aku transfer. Tapi ini terakhir, Jen."
Aku tersenyum, pelan dan tajam. "Begitu juga yang kamu bilang waktu terakhir kali, Sayang."
Jawabanku membuat Robert duduk terpaku, matanya menatapku lama, seolah mencari celah untuk melawan kata-kataku. Tapi aku tahu, pada akhirnya dia selalu kalah. Dia lelaki yang tampak gagah, tapi di hadapanku, dia cuma lelaki tua yang takut kehilangan candunya.
Aku berjalan kembali mendekatinya, tumit stiletto Louboutin-ku mengetuk marmer apartemen, suara yang selalu berhasil membuatnya menelan ludah.
Aku menunduk, menempelkan bibirku ke telinganya. “Sayang, kamu tahu kan, aku nggak pernah benar-benar peduli sama jamnya?” bisikku. “Aku peduli sama bukti kalau kamu serius. Kalau kamu anggap aku lebih dari sekadar rahasia.”
Tanganku merayap manja. Menelusup kedalam kemeja Robert yang sudah terbuka kancingnya. Aku menggigit bibir saat ujung jemariku menyentuh otot dadanya yang keras. Ah, sial! Pria tua ini memang punya pesonanya sendiri.
Robert menghela napas, tangannya bergerak ke pinggangku. Dan ya! Godaanku berhasil. “Jen… kamu bikin aku gila.”
Aku terkekeh, menyandarkan tubuhku di dadanya. “Good. Aku memang di sini untuk itu, Sayang.”
Ada jeda sejenak, hanya suara AC yang terdengar. Lalu dia berbisik, pelan tapi jelas di telinga. “Kalau aku kasih kamu Rolex itu… kamu janji berhenti bandingin dirimu sama Rosa?”
Aku bangkit, menatapnya dengan senyum sinis. “Sayang… itu bukan aku yang bandingin. Dunia yang selalu bandingin. Mereka lihat siapa di sampingmu, mereka bisik-bisik. Kamu pikir aku nggak dengar?”
Robert memijat pelipisnya, frustasi. Aku bisa melihat kerut di keningnya makin dalam. Dan aku tahu, aku menang.
Aku melangkah ke meja bar kecil di pojok ruangan, menuang wine merah ke gelas kristal. Membiarkan tubuhku bergerak lentur, sengaja memperlihatkan punggungku yang terbuka oleh potongan gaun tipis.
“Besok Rolex, minggu depan mungkin aku bosan dan minta Hermes, siapa tahu?” Aku menyesap wine itu pelan, lalu menoleh dengan tatapan nakal. “Kamu kan suka kalau aku tampil sempurna di sampingmu. Atau kamu mau aku tampil biasa-biasa aja, kayak wanita tua itu?”
Robert mendesah lagi, kali ini lebih dalam. Dia berdiri, menghampiriku, lalu meraih wajahku dengan kedua tangannya. Matanya menatapku begitu intens.
“Jen, kamu bikin aku lupa segalanya. Tapi jangan pernah bandingin dirimu sama Rosa lagi. Kamu main di liga yang beda. She’s duty. You… you’re my obsession.”
Aku menatapnya, lalu tersenyum puas. Itu yang ingin kudengar.
Aku menaruh gelas wine di meja, lalu meraih lehernya dan menariknya turun, bibirku menempel di bibirnya. Ciuman panas, cepat, penuh kekuasaan. Aku yang memimpin, dia yang mengikuti.
Ketika aku menjauh, napasku sedikit terengah. “Obsession, huh? Kalau begitu, buktikan.”
Dia terkekeh singkat, lalu meraih pinggangku lebih kuat, seolah ingin membuktikan saat itu juga.
Dan aku, seperti biasa, membiarkannya—karena di dalam pelukannya, aku selalu bisa mendapatkan apapun yang kuinginkan.
Robert menyeret tubuhku kembali ke sofa. Menciumku pelan dan lembut, tapi semakin lama, ciumannya makin rakus, tangannya tak sabar menjelajahi setiap lekukku. Aku mendesah pelan, tubuhku bergetar mengikuti ritme yang sudah kukenal betul.
“Aku gila sama kamu, Jen…” gumamnya di sela napas.
Aku terkekeh, menggigit bibirnya sebentar sebelum berbisik di telinganya. “Good. Terus gila. Jangan pernah sadar.”
Sutradara malam itu jelas aku. Aku duduk di pangkuannya, menggoyangkan pinggulku perlahan, membuatnya terengah. Tangannya menekan punggungku, menyeretku makin dekat, seolah tak mau ada celah di antara kami.
Aku bisa merasakan betapa panas dirinya, betapa aku benar-benar jadi candunya.
Namun tepat saat ciuman kami makin dalam, suara itu terdengar. Drrrt—drrrt—drrrt. Nada dering ponsel Robert memecah momen.
Aku berhenti sejenak, menatapnya dengan tatapan membunuh. “Jangan bilang kamu mau angkat.”
Robert menoleh sebentar ke layar. Wajahnya berubah. Aku tak perlu tanya siapa, karena aku sudah tahu jawabannya.
“Shit…” desisnya.
Aku bangkit dari pangkuannya dengan kasar, mendorong dadanya hingga ia bersandar ke sofa. “Of course. Always her.”
“Jen, please…” katanya cepat, tangannya meraih pinggangku. “Aku harus angkat, kalau nggak, dia curiga.”
Aku menepis tangannya, berdiri dengan dagu terangkat. “Lihat? Ini buktinya. Aku selalu jadi rahasia, dan dia yang punya panggung. Bahkan sekarang, ketika kamu panas karena aku, dia bisa masuk seenaknya lewat suara.”
Robert menggenggam rambutnya, frustasi, lalu akhirnya menekan tombol hijau. “Yes, Baby…” suaranya berubah lembut, penuh basa-basi.
Aku berdiri di depan kaca besar, melihat pantulan diriku sendiri. Bibir merah yang berantakan, gaun tipis yang sudah separuh terbuka, dan tatapan penuh kebencian bercampur getir.
Sementara di belakangku, Robert tertawa kecil pada istrinya lewat telepon. Seolah aku tak ada di ruangan. Seolah aku bukan siapa-siapa.
Aku mengepalkan tangan, menahan amarah yang mendidih. Dalam hati aku berbisik, "Satu hari nanti, Rosa. Satu hari nanti, aku akan pastikan kamu yang kalah pamor, bukan aku."