Restoran mewah itu punya daftar tunggu dua bulan. Tapi untukku? Tidak ada yang perlu menunggu. Nama Jeni saja sudah cukup untuk membuka pintu dan membuat kepala pelayan menunduk.
Gaun silk Givenchy. Anting Tiffany & Co. Lipstik merah darah. Aku tak datang untuk makan malam. Aku datang untuk dilihat.
"Pak Robert akan segera tiba, Bu Jeni," ucap pelayan, membungkuk. Aku mengangguk tipis, tidak menanggapi.
Aku duduk di meja pojok yang strategis—cukup terang untuk dilihat, cukup jauh untuk menjaga eksklusivitas. Segelas anggur merah di tangan kanan, dan tangan kiri yang sibuk memainkan cincin Cartier.
Sepuluh menit berlalu. Aku masih duduk, menunggu, jari-jariku mengetuk gelas anggur. Tatapanku menelusuri interior restoran yang megah. Lampu gantung kristal, pelayan bersarung tangan hitam, pasangan-pasangan kaya yang pura-pura bahagia. Bagiku, semua terasa hambar.
Malam ini seharusnya jadi permintaan maafnya. Malam ini seharusnya Robert menebus keputusannya meninggalkan aku di apartemen, dengan alasan konyol. “Rosa ingin aku pulang.”
Aku mendengus kecil, menyesap anggurku lebih dalam. Rosa ingin aku pulang. Seolah aku ini sekadar hiburan yang bisa dijeda kapan saja, sementara perempuan tua itu cukup mengangkat telepon untuk merusak segalanya.
Aku membetulkan lipstikku lewat pantulan sendok perak. Sempurna. Tak ada yang boleh melihat retak di wajahku, bahkan ketika aku menunggu lebih lama dari yang pantas. Jam terus berputar. Tapi, kursi di seberangku tetap kosong.
"Awas aja kalau berani bohong lagi!" ucapku dengan suara lirih, tanganku mengepal erat.
Tak lama, pelayan mendekat dengan ragu. “Apakah Anda ingin memesan makanan, Bu Jeni?”
Aku menoleh pelan, menatapnya seperti menatap semut. “Boleh. Hidangkan yang paling mahal disini.”
Pelayan itu mengangguk, menundukkan kepala dalam-dalam, lalu mundur tanpa suara. Tanganku meraih ponsel. Layar kosong. Tak ada kabar dari Robert. Bibirku mengerucut, antara kesal dan tersenyum sinis. "Berani banget dia menunda aku dua malam berturut-turut."
Aku tahu pada akhirnya dia akan datang. Dia selalu datang. Pertanyaannya hanya berapa lama aku harus membiarkan egonya merasa lebih besar dari milikku?
Aku menyandarkan tubuh ke kursi, menyilangkan kaki. Gaunku jatuh sempurna, menarik perhatian dua pria di meja seberang. Biarkan mereka menatap. Biarkan semua orang menatap. Aku tak peduli.
Sepuluh menit. Dua puluh. Tiga puluh. Tak ada tanda-tanda Robert. Lalu pintu terbuka. Dan aku melihatnya. Bukan hanya dia.
"Shit!" geramku tertahan.
Tapi juga dia, perempuan itu. Istri sah. Tangannya menggandeng mesra lengan Robert, langkahnya ringan, senyumnya tenang. Gaunnya warna pastel yang sederhana tapi tepat. Klasik. Bukan jenis yang pamer, tapi jenis yang membuat siapa pun ingin menatap lebih lama.
Pelayan menyambut mereka dan mengantar ke meja tengah. Meja paling terang. Meja yang seharusnya untukku.
Aku menegakkan punggung. Wajahku tetap datar. Tapi dalam dada, sesuatu terbakar. Perutku mengeras. Napasku menahan letupan. Aku sudah cukup. Dan aku bangkit. Kursi bergeser dengan suara tajam di lantai marmer, membuat beberapa kepala menoleh. Aku tak peduli.
"Kurang ajar!" desisku geram. Aku menyesap anggurku pelan. Sekali. Dua kali. Lalu kutaruh gelas itu, terlalu keras.
Beberapa kepala menoleh padaku. Biarlah, aku tak peduli.
Semakin lama, rasa panas menyergap dada. Lalu kupanggil pelayan. “Saya batalkan pesanan. Restoran ini tidak pantas untuk saya.”
Pelayan terbata. “Tapi—”
“Sampaikan pada manajer, saya nggak bakal kembali. Dan pastikan meja seperti ini nggak pernah ditawarkan lagi pada perempuan yang sengaja ditelantarkan.”
Aku bangkit. Kursi bergeser dengan suara tajam di lantai marmer, membuat beberapa kepala menoleh. Aku tak peduli. Gaunku bergoyang sempurna mengikuti langkah.
Dengan sengaja, aku berjalan melewati meja mereka tanpa menoleh, tapi cukup dekat untuk mencium aroma parfum istrinya. Aroma parfum Rosa menyusulku, lembut dan menusuk lebih dari belati.
Robert sempat melirik, wajahnya kaget. Tapi aku bahkan tidak memberinya satu detik pun.
"Jeni," panggilnya lirih.
Telinga sialanku ini sempat mendengar Robert menggumamkan namaku. Tapi sekali lagi aku tidak peduli! Malam ini, lagi dan lagi, dia membuatku kecewa.
Langkahku cepat, tumit stiletto menghantam marmer dengan dentuman tegas. Rasanya setiap hentakan sepatu itu adalah sumpah serapah untuk Robert. Untuk Rosa. Untuk semua orang yang mengira aku hanya cadangan, hanya hiburan sementara.
“Permintaan maaf, katanya. Dinner khusus, katanya,” gumamku dingin sambil meraih clutch. “Nyatanya? Dia malah bawa istri sah. Berani sekali mempermalukan aku di depan semua orang.”
Seorang pelayan yang berdiri di dekat lobi sempat menunduk, ragu ingin bicara. “Bu Jeni, apakah Anda ingin—”
“Tidak. Restoran ini tidak pantas untukku,” potongku, suaraku bergetar oleh amarah yang kutahan. “Dan sampaikan pada manajermu, aku tidak akan kembali kesini. Kalau restoran sekelas kalian saja bisa memperlakukan aku seperti barang nggak berguna, aku ingin lihat kalian bertahan dengan tamu biasa. Ingat ya, aku ini sosialita kelas atas. Aku bisa bikin restoran ini viral cukup dengan kedipan mata!”
Aku mendengus, melangkah lebih cepat. Parfumku menyisakan jejak, tajam seperti ejekan.
"Kalau dia memang berniat makan malam sama istri tuanya itu, mengapa harus di restoran yang sama denganku. Apa dia sengaja panas-panasin aku!"
Aku hanya ingin pergi. Suara ketukan heelsku menggaung di lobi mewah restoran itu. Dan di situlah, takdir memainkan perannya.
“Oops—”
Aku menabrak seseorang di tikungan lobi. Bahuku menghantam dadanya yang bidang, dan tas mahalku hampir terjatuh kalau saja tangan besar itu tidak cepat menangkapnya.
Seorang pria. Tinggi. Rambut pirang berantakan dengan gaya effortless. Jas hitam rapi tapi santai, seolah dia tak peduli meski semua mata menatapnya. Matanya—biru, dingin, tapi ada cahaya nakal di dalamnya.
“Wow…” dia tersenyum, suara bariton khas bule. “Aku sama sekali nggak keberatan ditabrak, kalau yang menabrak secantik ini.”
Ucapan itu nembuatku tertegun sepersekian detik, lalu segera mengangkat daguku, menutup kecewaku dengan topeng arogansi. “Kalau begitu, anggap saya baru saja memberi Anda kehormatan,” sahutku datar, mengambil kembali clutch di tangannya.
Dia tertawa kecil, dengan nada rendah yang terdengar menggelitik. “Kehormatan yang jarang sekali, aku rasa.”
Aku menatapnya, tajam tapi penasaran. Pria asing ini berani, tidak seperti kebanyakan pria kaya lokal yang hanya bisa mencibir dari jauh.
Aku menghela napas panjang, menggenggam clutch lebih erat di tangan. “Dasar, Robert! Rosa! Sialan kalian berdua!” gumamku dalam hati, suaraku tipis tapi penuh kebencian yang masih dapat terkontrol.
Pandanganku sengaja menatap lurus ke depan, tidak menoleh ke pria yang baru saja kusiapkan bahu untuk menabrak. Biarlah dia hanya menjadi gangguan kecil dalam dunia besarku ini.
“Biarin saja,” bisikku pelan. “Cuma orang asing. Nggak penting.”
Tapi entah kenapa, langkahku sedikit melambat. Mataku tak bisa lepas dari sosoknya. Rambut pirang berantakan itu, mata biru yang tajam tapi santai, senyum nakalnya yang membuat perutku mual sekaligus penasaran.
Aku menggigit bibir, pura-pura menahan diri. “No, Jeni, jangan terganggu. Kamu harus pergi. Jangan tunjukkan kalau kamu penasaran,” gumamku lagi.
Tapi rasa penasaran itu tetap menusuk. Aku merasa ada sesuatu berbeda pada pria ini. Bukan seperti para pria yang sering mendekat hanya karena aku glamor. Bukan seperti Robert yang selalu ingin dibelai.
Aku menoleh sebentar ke arah belakang, hanya sekelebat. Dia masih berdiri di lobi, tersenyum tipis. Lalu aku mengalihkan pandangan, melangkah keluar ke udara malam.
Udara malam yang dingin menusuk, tapi ada getaran aneh di dadaku. Aku menyalakan rokok, menarik asap panjang, lalu menatap bayangan pria itu di balik pintu kaca mobil.
"Siapa dia?" gumamku pelan.