BAB I
Berhasil dan Gagal
Ditengah teriknya panas matahari, seorang pemuda tampan dan gagah, Fang An sedang bersembunyi di balik semak-semak belukar, dia bersiap untuk menangkap mangsa hari ini. “Apakah kalian sudah siap?” dia bertanya, pada teman-teman yang berada di belakangnya. Satu persatu menjawab siap.
Instingnya mengatakan 5 menit lagi mangsa akan muncul. Mangsa ini merupakan rombongan yang membawa berbagai makanan yang dikirim untuk para Bangsawan Wilayah Aolan. Mereka selalu melewati hutan kampung Yunshan. Tempat Fang An melakukan aksinya.
Fang An meminta salah satu temannya untuk memancing sebagian mangsa keluar dari rombongan. Zhong Shi dan Gong Shi kompak menjawab, “Oke.” Keduanya keluar bersamaan saat mangsa sudah muncul. Dua belah pedang keluar dari tubuh Gong Zhong , sedangkan Gong Shi mengeluarkan panah kesayangannya.
Seorang laki-laki tua berjenggot tebal, yang merupakan pemimpin rombongan, memerintahkan para pengawal untuk menyerang kedua pemuda yang menghalangi mereka. Beberapa pengawal keluar dari rombongan, mereka bersiap menyerang Gong Zhong dan Gong Shi menggunakan sebilah pedang.
Tanpa menunggu aba-aba, Gong Shi melepaskan anak panahnya pada salah seorang pengawal. Satu panah menusuk tepat di kaki kanan seorang pengawal. Beberapa pengawal geram saat melihat rekannya terluka, mereka kompak menyerang Gong Zhong dan Gong Shi dengan membabi buta.
Fang An sedari tadi masih mengamati situasi, sebuah senyuman sinis terukir di wajahnya. Dia meminta Gong Xun, Gong Zen, dan Gong Wen, agar bersiap mengambil beberapa makanan yang ada di gerobak para rombongan.
Ketiganya kompak menjawab, “Siap!” dengan penuh semangat, tetapi dengan suara kecil.
“Bagaimana? Berapa jumlah pengawal rombongan hari ini?” tanya Fang An pada Gong Shun, sang ahli mata-mata.
Gong Sun menjawab dengan nada datar, “Jumlahnya ada 20 orang, enam orang senang melawan Gong Zhong dan Gong Shi.”
“Oke, seimbang!” ucap Fang An sembari menganggukkan kepalanya.
Fang An perlahan mengangkat tangan kanannya, bersiap memberikan aba-aba bergerak pada teman-teman lainnya yang sedang menunggu perintah.
Ketika tangan kanan Fang An mulai bergerak ke arah depan, di situlah para singa mulai menerkam mangsanya. Satu persatu para pengawal rombongan dibuat pingsan oleh mereka, hingga menyisakan seorang laki-laki tua berjenggot hitam tebal.
“Sudahlah paman, lebih baik kau pulang saja dan tidur di rumah,” ujar Fang An meledeknya dengan sombong.
Wajah laki-laki tua ini, perlahan mulai panik. Dia dengan sembarang mengeluarkan sebilah pedang, bersiap menyerang pemuda sombong di depan matanya. Fang An hanya tertawa kecil saat melihat wajah panik laki-laki tua ini.
Fang An hanya menggerakan kepalanya ke samping. Gong Sun tiba-tiba muncul di belakang laki-laki tua, dia memukul pundaknya hingga pingsan.
“Ayo, cepat! Segera bersihkan tempat ini. Ikat mereka di pohon sekitar sini. Jangan lupa ambil pakaian mereka juga,” perintah Fang An pada teman-temannya dengan suara lantang.
Para singa yang sudah mengalahkan mangsanya, satu persatu mulai mengambil makanan dari gerobak dan pakaian para pengawal. Hanya dalam waktu 15 menit, mereka sudah menyelesaikan semuanya.
“Lapor, Ketua! Kita sudah selesai,” ujar Gong Sun dengan lantang.
“Oke! Kita kembali ke markas sekarang, ayo pergi!” Fang An memimpin para bandit singa hutan kembali ke markas. Mereka meninggalkan orang-orang rombongan ini ditengah hutan.
Selama perjalanan mereka dengan kompak menyanyikan lagu kemenangan dengan penuh gembira dan riang. Wajah Fang An kembali mengukir sebuah senyuman sinis, Aku bangga pada kalian, teman-temanku.
Seorang laki-laki yang sudah berumur dan memiliki jenggot putih duduk dengan santai di bawah pohon beringin. Ia menikmati angin sore sepoi-sepoi yang berasal dari daun pohon beringin yang sudah lebat, sembari menyenandungkan syair-syair klasik Dinasti Han. Ia adalah Li Jiang Xi, salah satu bangsawan di Provinsi Dongfang. Ia memiliki bisnis makanan khas wilayah Dongfang dan beras yang selalu dikirim ke luar kota.
Namun kesenangannya hancur begitu saja, ketika seorang pelayan datang secara tiba-tiba. Sang pelayan membungkukkan tubuhnya sembari mengangkat kedua tangannya, menghormati tuannya sebelum berbicara.
“La-lapor, Tu-tu-tuan!” nadanya bergetar dengan gerogi dan ketakutan.
Jiang Xi mengerutkan keningnya, sembari memijit-mijit keningnya, dia bertanya. “Ada apa? Bicara saja sekarang!”
Sang pelayan merasa sedikit ketakutan, mau bicara pun ia gerogi, hingga suaranya tidak terdengar jelas oleh tuannya. Jiang Xi meminta pelayannya untuk berbicara dengan benar, “Jangan membuatku kesal. Cepat katakan, ada apa?!” tanyanya.
Suara yang begitu lembut dan tenang, tiba-tiba terdengar memanggil Jiang Xi dengan sebutan ayah. “Ayah. Apa ayah ada disini?” panggilnya sekaligus bertanya dengan gembira.
“Ayah disini, Nak!” jawab Jiang Xi dengan nada tegas, membuat sang pelayan kembali ketakutan.
Wanita muda dengan pakaian layaknya seorang laki-laki, hidung mancung, dan rambut hitam yang disanggul dengan sederhana melangkah mendekati ayahnya dari dalam rumah, Jiang Xi. Dia melihat Paman Fu, yang merupakan pelayan ayahnya terlihat ketakutan dengan tubuhnya bergemetar terus bergetar tanpa henti.
“Sepertinya ayah sedang ada masalah, ya?” tanya wanita muda, ia melihat situasi yang begitu canggung.
Jiang Xi hanya berdehem dan menganggukkan kepalanya untuk merespon pertanyaan putrinya.
“Kalau begitu Shui Hu nanti datang lagi,” ucapnya bersiap untuk kembali lagi ke rumah.
Namun, Jiang Xi mencegat putrinya kembali. “Tidak apa-apa. Kau tetap disini saja, sekaligus bantu ayah pikirkan solusi jika ada masalah.”
Shui Hu hanya manggut-manggut dengan mulut manyun.
“Cepat katakan, ada apa, Fu?” Jiang Xi kembali bertanya dengan tegas.
Dengan tubuh yang masih gemetar, ia melaporkan bisnis mereka kembali gagal yang kedua kalinya di bulan ini. “Ba-ban-bandit gu-gunung itu ke-kemba-bali me-merampok bi-.”
“Bisnis kita?” tanya Shui Hu meneruskan ucapan Paman Fu yang terbata-bata saat berbicara.
Jiang Xi berdecak kesal. Dia tidak percaya, lagi-lagi bandit hutan kembali menggagalkan bisnis. Dia sudah rugi dua kali lipat di bulan ini. “Nak, apakah kau ada pendapat tentang masalah ini?” tanyanya pada sang putri kesayangan.
Tanpa berpikir panjang, Shui Hu menjawab dengan senang hati, “Kenapa ayah gak minta bantuan sama Kakak Yu saja? Minta Kakak Yu untuk meminjamkan beberapa prajuritnya untuk mengawal rombongan kita.”
“Tidak-tidak bisa. Kakak Yu-mu itu seorang komandan, dia tidak mungkin mau membantu kita dalam urusan ini.” Jiang Xi menolaknya, karena tidak mungkin meminta beberapa prajurit untuk mengawal rombongannya.
“Ayah tenang saja. Serahkan saja pada, Shui’er. Kakak Yu pasti membantu kita,” sahutnya sembari bermanja-manja dengan mata berbinar-binar pada ayahnya.
Jika sudah begini, Jiang Xi hanya bisa pasrah. Untuk kali ini saja, iya akan membiarkan putrinya menangani masalah, karena Shui Hu adalah satu-satunya orang yang bisa meneruskan bisnisnya suatu saat nanti.
Jiang Xi mengangguk-nganggukkan kepalanya, sembari berkata, “Iya-iya, ayah serahkan masalah ini pada Shui’er.”
Yes! Akhirnya kesempatanku tiba. Terima kasih Buddha sudah mempermudah keinginanku. Shui Hu segera berpamitan pada ayahnya. Saat ini juga, dia akan pergi ke rumahnya Kakak Yu.
Hari sebentar lagi akan malam, Jiang Xi meminta Shui Hu besok saja, tetapi anaknya keras kepala dia kekeh akan pergi sekarang.
“Ayah tenang saja. Biarpun pulang malam. Aku sudah bisa menjaga diri, kok. Aku kan bisa bela diri.” Shui Hu dengan bangga memperlihatkan beberapa gerakan andalannya untuk bertarung.
Jiang Xi hanya menggelengkan kepalanya, “Tidak-tidak! Lebih baik, kau minta Kakak Yu-mu itu untuk mengantarmu pulang.”
Shui Hu kembali manggut-manggut dengan mulut manyun lagi. Setelah melakukan hormat pada ayahnya, dia langsung bergegas pergi menuju rumahnya Kakak Yu.