His Contract Bride - Pertempuran di Tengah Instrumen Musik Klasik - Bab 12

Penulis Rei_Moira
09 September 2025

Gila, ini benar-benar gila!

Aurora tak pernah membayangkan jika Kael bisa seliar itu—tak terlalu sebenarnya—sementara dirinya bahkan tak pernah bersiap untuk kejutan yang meledak-ledak seperti… ciuman.

Oh, come on…

Aurora bukanlah wanita lugu yang amatiran dalam hal skinship atau relationship—walaupun sebenarnya iya. Banyak novel romansa yang telah ia baca, dan juga deretan film sensual yang pernah ditontonnya. Secara teori, ia telah memiliki acuan untuk melakukannya dengan benar dan bermartabat.

Namun ternyata…

Saat ia merasakannya sendiri—bahkan ketika itu hanya sebuah ciuman—ledakannya yang menyengat membuat akal sehatnya menguap begitu saja.

Seakan, ia menginginkan sesapan dan kekacauan dalam embusan napas tak berjarak itu menjadi semakin dalam, pekat, dan memabukkan. Ia ingin menarik tengkuk pria itu, dan menahannya erat sehingga ciuman itu tak akan berujung.

Sialnya, respon otak dan gerak tubuhnya tak sama. Di satu sisi ia menginginkan sesuatu yang lebih, tapi di sisi lain ia harus menyelamatkan harga dirinya yang masih tersisa.

“A-aku—”

“Hukuman karena kau kabur beberapa hari ini.” Kael kembali menarik sebelah sudut bibirnya, menyipitkan matanya pada Aurora sebelum kembali beranjak ke kursinya.

Saat pria itu berbalik, Aurora tak pernah tahu jika wajah dingin itu pun ikut merona meskipun samar.

“Jadi, Rora. Karena kau tidak menyukai hukumanku, kuharap kau tidak pernah coba-coba kabur dari penthouse ini lagi.” Sebelah tangan Kael meraih cangkirnya lagi, dan menyesap pelan.

Hei, Aurora menyukainya! Sungguh….

“Ya, aku tidak menyukainya—”

Dengusan mengejek dari Kael menghentikan ucapan Aurora. Tak ada orang yang mengatakan tidak menyukai ‘hal itu’, tapi bergerak refleks untuk membalasnya lebih dalam… lebih berani.

“Kemana rencanamu hari ini?” Kael mengatakannya setelah meredakan gemuruh dalam dirinya karena mengingat cara Aurora membalas lumatannya tadi.

“Kenapa?” Suara Aurora meninggi. “Kau mau memastikanku agar tidak kabur dari sini? Tenang saja, Tuan Vireaux. Rencanaku adalah mendekam dan membusuk di sini.”

“Kau sungguh tidak menyukai hukumanku rupanya.”

“Bukan begitu!” Aurora menutup mulutnya, menyadari kesalahan lainnya yang telah ia lakukan pagi ini. “Well, maksudku… aku tidak menyukainya, yaah… tapi… aku juga tidak membencinya?” Ia bahkan tak yakin telah mengucapkan apa.

“Kau menyukainya, akui saja.” Kael kembali menyeringai.

Aurora menggembungkan pipinya, ia kehabisan kata-kata.

“Terlepas dari itu. Kita harus menghadiri acara makan malam dengan pamanku malam ini.” Suara Kael kembali berat, dingin, tak terjangkau. “Seharusnya kita menemuinya beberapa hari yang lalu, tapi kau justru main kabur-kaburan.”

“Maaf,” ucap Aurora pelan, yang ia sendiri bahkan bingung kenapa harus meminta maaf.

“Pastikan nanti malam kau telah siap ketika aku pulang.” Kael beranjak dari kursinya, kembali menatap Aurora dengan sorot mata yang tak terbaca. “Pastikan kau tidak mengacaukannya lagi, Rora.”

Setelah itu, Kael pergi dari ruangan itu. Tak memedulikan wajah Aurora yang telah semerah tomat. Sejujurnya, ia pun harus menenangkan debaran jantungnya yang semakin kacau jika terus menatap wajah wanita itu.


Malam penebusan dosa. Begitu Aurora menjelaskan situasi saat ini pada dirinya sendiri. Ia berjalan di sebelah Kael, dengan sebelah tangan mengapit lengan pria itu, terlihat dekat, penuh ledakan keserasian dan… kebohongan.

Langkahnya hampir tergesa menyesuaikan Kael yang dengan ‘sopannya’ tak memikirkan bahwa jarak langkah mereka sudah tentu berbeda. Beruntung Luther berhasil menyelamatkannya, tepat ketika penjaga pintu hall restoran privat—yang hanya dikhususkan untuk kalangan aristokrat menikmati hidangan—membuka pintu.

Aurora menghela napas lega ketika Kael memperlambat langkahnya.

Alunan instrumen klasik menjadi latar utama dari ruangan tersebut, selain ketukan samar dari sendok garpu di atas piring para pengunjung. Seorang pelayan menyapa mereka ramah, mengantar ke sebuah meja di tengah-tengah ruangan—sangat ‘privat’ bagi mereka yang ingin membicarakan rahasia.

Namun bukan itu yang menjadi fokus dari Aurora saat ini, melainkan pria tua yang telah duduk di sana, baru saja menoleh dengan seringai yang terlihat… jahat.

Hanya itu ungkapan yang Aurora bisa temukan. Mengingat bagaimana situasinya sampai Kael harus menikahinya hanya agar pria tua itu tak menggulingkan ‘suaminya’ dari kursi pimpinan perusahaan.

Hah! Sungguh menarik.

Perebutan kekuasan yang haus darah. Aurora selama ini hanya mendengarnya dari cerita Matthew, itu pun hanya sekilas ketika mereka sedang menyantap makan malam di mansion. Sebagai anak tunggal, tentu Matthew tak memiliki musuh di dalam selimut seperti Kael saat ini, tapi… siapa sangka jika musuh utama dari ayahnya itu adalah kebangkrutannya sendiri.

Cukup ironis, sampai masalah yang dilimpahkan padanya pun harus orang lain yang menyelesaikan.

“Pengantin baru sudah datang rupanya,” sapa Bastien Vireaux, berdiri angkuh dengan tatapan menilai pada Aurora.

“Maaf, kami harus mengundur pertemuan karena istriku sedang tidak enak badan.” Kael menjabat tangan Bastien, jelas terlihat ada hentakan dendam di dalamnya.

“Apa yang kau lakukan pada istrimu sampai jatuh sakit di awal pernikahan, Kael? Kau tidak membebaninya dengan status baru kalian, bukan?”

Dalam sekali dengar, Aurora semakin tidak menyukai pria tua Vireaux di hadapannya itu.

“Oh, Paman tenang saja,” ujar Aurora sambil tersenyum—penuh kepalsuan. “Kael menjagaku dengan sangat baik. Aku hanya tidak enak badan karena kami terus begadang hampir tiap malam selama beberapa hari ini. Benar begitu, Sayang?”

Kael menoleh sesaat, bingung dengan ucapan Aurora yang terlalu… keluar dari privasi?

“Begadang?” Bastien tertawa sarkas. “Kalian buru-buru untuk menghadirkan penerus kecil Vireaux, tampaknya.”

Kael berdeham pelan. Jelas bahwa bukan pikirannya saja yang kotor saat mendengar jawaban Aurora. “Ya… begitulah. Pasangan muda. Paman pasti tahu, kan? Kami sedang dalam fase bersenang-senang.”

Aurora ikut tertawa. Ia tahu benar cara bersikap sebagai pasangan asli bagi Kael di saat seperti ini. Kael menghela napasnya perlahan, merasa lega karena tahu bahwa wanita itu bisa diajak kerjasama.

“Tentu saja aku tahu. Aku merasa senang kalian bisa menikmati waktu bahagia setelah pernikahan yang sangat mendadak.” Bastien terus berusaha untuk menyerang Kael dan Aurora, tapi ia tak pernah membayangkan jika istri baru Kael ini bukanlah bocah ingusan yang tak mampu bermain dalam situasi licik seperti ini.

“Bukan tergesa, Paman. Kael hanya terlalu pintar untuk menyembunyikan hubungan kami dari semua orang.”

Aurora kembali membuat Kael menoleh cepat. Sungguh sebuah sikap yang tak pernah Kael bayangkan akan keluar dari seorang wanita yang kabur darinya selama dua hari.

“Oh ya?” Bastien jelas tertarik. “Bagaimana kalian bertemu?”

Sebelum Aurora menjawab, Kael lebih dulu menghentikan bualan yang tengah disiapkan oleh wanita itu. “Kami pernah bertemu saat kecil, dan aku telah mencintainya dari lama. Setelah dewasa, aku memutuskan untuk mencarinya, dan segera memintanya untuk menjadi istriku—”

“Dan tentu saja aku tidak langsung bilang iya,” sela Aurora cepat, membuat Kael nyaris melotot.

“Wanita mana yang langsung mau menerima ajakan pernikahan seorang teman masa kecil yang telah lama menghilang. Terlebih lagi setelah pertunangannya dengan Celeste batal. Benar begitu, Paman? Karena itu… aku memberinya sedikit ujian sebelum berakhir menerima pinangannya.”

“Ujian?” Bastien semakin tertarik.

Aurora mengangguk. “Ujian yang sangat berkesan. Dan itu akan jadi rahasia kami berdua. Pada intinya, kami saat ini sedang menjalani pernikahan yang sangat bahagia. Paman tidak perlu khawatir.”

Ucapan terakhir Aurora seakan menjadi tamparan keras bagi Bastien. Bukan itu yang ia inginkan malam ini. Ia yakin sekali Aurora akan datang dengan wajah tersiksa karena harus menikahi Kael Vireaux, pemuda tanpa emosi yang menghalangi langkahnya untuk menguasai Vireaux Group.

Namun…

Yang ia temukan justru sesuatu hal yang membuatnya menjadi terus mengerutkan keningnya dalam-dalam, yang harus disamarkan dengan senyum palsu di wajahnya yang mulai keriput.

“Kalau begitu, tidak ada yang harus aku khawatirkan lagi. Benar begitu, Kael?” Bastien tertawa patah-patah, sambil menepuk bahu Kael kencang.

Seringai di sudut Kael tertarik. Ia tahu Bastien Vireaux tidak menyukai situasi ini, dan karena itulah… suasana hatinya menjadi sangat baik.

“Tentu saja, Paman. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan.”

Sementara Aurora, ia tak bisa memastikan siapa yang lebih licik pada malam ini—dirinya, Kael, atau justru si tua Vireaux yang kini menatapnya penuh waspada.

Namun itu tak penting. Satu hal yang pasti, ia tahu bahwa musuh yang harus dihadapi bukan hanya pria yang sedang menggenggamnya, tapi juga perang kekuasaan Vireaux yang pastinya akan menyeret dirinya juga ke dalamnya.

Sialnya, ini terlalu menarik untuk dihindari.