Sienna menatap bunga gula kapas di tangannya, senyumnya perlahan merekah. Serat manis itu tampak lembut berkilau di bawah cahaya lampu taman yang hangat. Ia menatap Arden sekilas, lalu dengan hati-hati mencubit sedikit bagian ujungnya dan memasukkannya ke dalam mulut.
Begitu gula kapas itu menyentuh lidahnya, ia langsung meleleh menjadi rasa manis yang ringan, nyaris seperti mimpi. Sienna terkekeh kecil, wajahnya tampak benar-benar senang. “Manis sekali,” gumamnya lirih, matanya berbinar seperti anak kecil yang baru menemukan sesuatu yang baru dan menyenangkan.
Arden memperhatikan reaksi itu dengan senyum geli. “Kamu terlihat sangat bahagia hanya karena gula kapas,” katanya menggoda, penuh canda.
Sienna melirik sekilas. “Tentu saja. Aku nggak sering makan hal-hal seperti ini. Lagipula… rasanya lucu. Lembut sekali.”
Arden mencondongkan tubuh sedikit. “Kalau begitu, bagi sedikit,” pintanya santai.
Sienna menaikkan alis. “Kamu mau?”
“Tentu,” jawab Arden cepat. “Kamu nggak mau berbagi sama suamimu sendiri?”
Sienna mendengus pelan, tapi akhirnya tersenyum dan mencubit sedikit gula kapas itu untuk memberikannya pada Arden. Namun,Arden justru menatapnya sambil membuka mulut lebar-lebar.
“Aku minta disuapi,” ucapnya pura-pura manja.
Sienna langsung melotot. “Apa?”
“Ya, Kamu sudah pegang. Jadi, sekalian saja,” balas Arden santai, ekspresinya seolah polos, tapi jelas ada nada menggoda di sana.
Sienna menghela napas, tapi senyum kecil muncul di wajahnya. “Baiklah, kalau itu maumu.” Ia pun memegang gula kapas itu dan bersiap untuk menyuapi Arden, tapi alih-alih memberikan sedikit, Sienna justru menyodorkan potongan besar langsung ke mulut pria itu.
Arden langsung terkejut. “Sienna!” serunya dengan mulut penuh, mencoba mengunyah, tapi malah kesulitan karena gula kapas itu menempel di bibir dan pipinya.
Sienna tak kuasa menahan tawa. Ia memegangi perutnya, bahunya berguncang karena geli.
“Kamu yang minta disuapi, bukan salahku kalau Kamu serakah,” ujarnya sambil tertawa keras.
Arden mencoba menatapnya dengan ekspresi kesal, tapi sulit menjaga wibawa saat mulutnya penuh gula kapas dan separuh pipinya belepotan dengan serat manis itu.
“Kamu … licik sekali,” gumamnya tidak jelas.
Sienna tertawa makin keras. “Itu balasan karena selalu menggoda aku,” ujarnya masih sambil terkekeh.
Akhirnya Arden pun ikut tertawa, menyerah pada suasana malam yang ringan itu. “Baiklah, kali ini Kamu menang,” katanya setelah menelan sisa gula kapasnya.
Saat mereka hendak berbalik menuju taman kecil di sisi jalan, tiba-tiba seorang anak laki-laki berlari kencang sambil membawa balon.
“Mama, lihat!” serunya riang. Tapi sebelum siapa pun sempat bereaksi, anak itu menabrak bagian depan kursi roda Arden cukup keras hingga membuatnya sedikit bergeser mundur.
“Hey, hati-hati!” seru Arden refleks, tangannya menahan roda agar tidak terguling.
Anak itu jatuh terduduk di tanah, menangis keras. Sienna terkejut dan segera membungkuk untuk memastikan anak itu baik-baik saja, tapi sebelum sempat berbicara, seorang wanita paruh baya datang tergesa-gesa.
“Ya Tuhan! Apa-apaan ini!” seru wanita itu dengan nada tinggi. “Kenapa kamu berhenti sembarangan di tengah jalan, lihat anakku sampai jatuh!”
Arden menatapnya dengan tidak percaya. “Berhenti sembarangan? Aku sudah di jalur pejalan kaki sejak tadi, Madame,” katanya dengan nada tegas. “Anakmu yang berlari tanpa memperhatikan sekeliling.”
Namun, wanita itu justru menatapnya sinis. “Tentu saja Kamu bicara begitu! Bukankah seharusnya Kamu sadar kalau kursi roda itu menghalangi jalan orang?”
Nada itu membuat beberapa orang mulai memperhatikan. Sienna yang tadi menenangkan anak kecil itu kini berdiri dan menatap wanita tersebut tajam.
“Maaf, tapi yang menghalangi bukan kami,” kata Sienna. “Anakmu yang nggak berhati-hati.”
Wanita itu mendengus kesal dan justru melangkah mendekat ke arah Arden. “Kamu pikir hanya karena duduk di kursi roda bisa seenaknya, ya?” katanya dengan nada menghina, tangan kirinya terangkat seolah hendak mendorong atau menepuk bahu Arden.
Namun, sebelum ia sempat melakukan apa pun, Sienna sudah berdiri di antara mereka.
“Cukup!” serunya tegas. Matanya berkilat tajam. “Jangan berani menyentuhnya!”
Wanita itu terkejut, langkahnya terhenti. Suasana di sekitar tiba-tiba menjadi hening.
Beberapa pasangan yang sedang berjalan menatap ke arah mereka, dan cahaya lampu taman menyorot wajah Sienna yang kini tampak sangat tenang, tapi penuh wibawa.
“Anakmu yang salah, Madame,” lanjut Sienna. “Alih-alih berteriak dan menyalahkan orang lain, seharusnya kamu belajar mengajarkan anakmu untuk berhati-hati. Dunia nggak selalu akan memaklumi kelalaian, apalagi jika kamu sendiri menutup matanya.”
Wanita itu memucat. Bibirnya terbuka, tapi tak ada kata keluar. Ia menatap sekeliling, menyadari beberapa orang sudah berbisik-bisik dan memandanginya tidak setuju.
Sienna melangkah sedikit lebih dekat, nadanya tetap sopan, tapi menusuk. “Nggak ada salahnya meminta maaf, apalagi jika memang salah. Bukankah begitu, Madame?”
Wanita itu terdiam beberapa detik, lalu dengan wajah merah padam menarik anaknya yang masih memegangi lutut. “Sudahlah, ayo pergi,” gumamnya kesal.
Namun, Sienna menahan lengannya dengan lembut juga tegas. “Nggak. Sebelum Anda pergi, saya ingin mendengar permintaan maaf. Seenggaknya, untuk suami saya.”
Beberapa orang di sekitar mulai mengangguk kecil, mendukung sikapnya.
“Baiklah,” katanya dengan enggan. Ia menatap Arden sekilas. “Maaf,” ucapnya cepat.
“Untuk anakmu juga,” kata Sienna tanpa melembut sedikit pun.
Wanita itu menatap anaknya, lalu berbisik agar anak itu meminta maaf. “Maaf, Om …,” gumam anak kecil itu pelan, matanya berkaca-kaca.
Arden mendengus ketus. “Sudahlah nggak apa-apa, kalian pergi saja!”
Setelah itu, wanita itu menarik anaknya dan pergi dengan langkah cepat, wajahnya masih menunduk malu.
Begitu mereka menjauh, Sienna masih berdiri di tempatnya. Arden menatapnya dengan kagum yang tak bisa ia sembunyikan.
“Terima kasih,” ucapnya pelan. “Kamu benar-benar menakutkan tadi.”
Sienna menoleh terkejut. “Aku menakutkan?” tanyanya kaget.
Arden tertawa kecil, suaranya renyah memecah suasana tegang yang masih tersisa.
“Sungguh menakutkan,” katanya sambil menatap Sienna dengan senyum geli. “Aku sampai bingung kamu tadi marah sama siapa, sama ibu itu, anaknya, atau aku yang kebetulan di tengah.”
Sienna menatapnya tak percaya. “Kamu benar-benar nggak bisa serius, ya?” gerutunya kesal.
Ia mengepalkan tangan seolah ingin memukul, tapi menahannya di udara dan mengembuskan napas panjang. “Lupakan. Aku malas ngomong sama kamu.”
Ia berbalik dan mulai berjalan menjauh dengan langkah cepat, gaunnya sedikit berayun tertiup angin malam. Arden yang masih menahan tawa segera menyadari bahwa Sienna benar-benar marah kali ini.
“Eh, tunggu dulu, Sienna!” seru Arden sambil menggerakkan kursi rodanya, mengejar Sienna yang sudah beberapa meter di depan. “Aku bercanda, jangan pergi begitu saja! Kalau kamu kabur, siapa yang bakal dorong aku nanti?”
Sienna menoleh sebentar, melirik Arden dengan tatapan tajam, tapi pipinya tampak memerah menahan tawa.
“Dasar menyebalkan,” gumamnya. “Kamu bisa mendorongnya sendiri!” lanjutnya ketus, tapi langkahnya mulai melambat, membiarkan Arden menyusul di bawah langit Paris yang masih berkilau.
“Sienna, tungguin dong!” pinta Arden manja.
“Nggak!” jawab Sienna ketus.