Bab 21. Persahabatan antara Mona, Lala, dan Jenny

Penulis regular20
20 October 2025

Bab 21. Persahabatan Antara Mona, Lala dan Jenny

Suara bunyi bel di rumah megah berbunyi, Mona yang tengah berada dalam kamarnya pun perlahan berjalan menuju pintu. Begitu di buka....

"Hai, Sayang!" seru wanita itu langsung memeluk Mona, yang ternyata itu adalah Jenny dan Lala yang ada dibelakangnya.

"Eh, kalian. Ayo masuk!" ucap Mona menyambut kedua sahabatnya dengan hangat.

Mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah Mona, lalu duduk bersama di ruang tamu. Akhir-akhir ini Lala dan Jenny memang sering mengunjungi Mona, sebab mereka berdua khawatir jika hal buruk kembali menimpa sahabatnya tersebut.

"Kamu baik-baik saja Mon?" tanya Lala nampak cemas.

"Aku baik kok," ujar Mona menunduk lesu. Dia tidak bersemangat menjawab pertanyaan sahabatnya itu.

"Sepertinya tidak baik-baik saja. Apa Ahmad menyakiti hatimu lagi? Kalau iya, biar aku hajar dia biar kapok!" seru Lala sembari mengepalkan tangannya dengan geram seolah tahu jika hati sahabatnya kembali terluka.

"Eh, jangan." Ucap Mona lembut menolak hal itu.

"Lalu, apa dia sudah minta maaf ke kamu, say?" imbuh Jenny yang merasa penasaran.

"Apa salah dia sehingga harus minta maaf padaku?" jawab Mona kembali dengan pertanyaan dengan raut wajah lesu.

"Ya kamu lah yang kasih tahu dia, apa salah dia ke kamu!" tukas Jenny menimpali.

"Mana bisa aku mengatakan perasaanku padanya."

"Ya ampun, Mona yang kukenal telah berubah. Berubah menjadi pemalu kala sedang jatuh cinta!" ucap Lala memeluk Mona dari samping, sedangkan Mona hanya menunduk dengan wajah memerah.

"Ahmad!" ujar Jenny kemudian.

"Mas, kamu sudah pulang?" ucap Mona langsung cepat-cepat berdiri, dan merapikan gamisnya. Namun setelah dilihat, tidak ada siapapun di depannya.

"Jenny!" ujar Mona cemberut lalu kembali duduk, yang ternyata Jenny tadi tengah menggodanya.

Mereka pun tertawa bersama, beberapa waktu kemudian ponsel pintar milik Mona berbunyi. Tertulis di layar Agen Tour And Travel, dan Mona pun segera mengangkat panggilan tersebut.

"Halo, selamat siang. Apa ini dengan Ibu Monalisa Permana?" ucap suara dari seberang telepon.

"Iya, siang. Benar, Mbak. Saya sendiri. Ada apa ya?" jawab Mona kembali bertanya.

"Saya ingin menginformasikan kembali mengenai paket bulan madu yang Ibu pesan, atas nama Tuan Ahmad Jaelani dan Ibu Monalisa Permana untuk keberangkatan esok hari benar? Atau mau dirubah, Ibu?"

"Saya ingin sesuai jadwal saja, Mbak. Tapi nanti jika ada perubahan. Apa bisa langsung dirubah?" tanya Mona lagi.

"Bisa, Ibu. Tetapi batas perubahan jadwal hanya sampai tengah malam nanti ya. Jika lebih dari itu, maka di nyatakan hangus atau tetap mengikuti jadwal awal."

"Baik kalau begitu. Terimakasih informasinya ya, Mbak. Saya akan kabari secepatnya jika ada perubahan jadwal."

"Baik, Ibu. Terimakasih sudah menggunakan jasa kami. Semoga Ibu nanti sehat, selamat sampai tujuan. Selamat berbulan madu."

"Iya, terimakasih kembali."

Panggilan telepon pun diakhiri, sementara itu dua pasang mata yang berada di depan Mona pun mengintimidasi seolah menunggu jawaban dari hal yang baru saja mereka dengar. Dua sahabat Mona itu begitu peka, baru saja melihat siapa yang menelepon Mona. Mereka pun langsung tahu, kemana arah tujuan pembicaraannya.

"Mona...." Ucap Lala lirih.

"Iya...." Jawab Mona tak kalah lirih.

"Kelamaan Lala, Mona kamu mau ngapain pesan jadwal perjalanan di Travel?" seloroh Jenny tak sabaran.

"Ehm, anu ...!"

"Anu apa?" ujar Lala dan Jenny kompak.

"Aku mau melakukan perjalanan bulan madu sama Mas Ahmad!" ucap Mona malu-malu dan menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.

"Bulan madu! Mas Ahmad?" ucap Lala dan Jenny berbarengan sembari saling berpandangan.

"Sejak kapan kamu panggil dia Mas?" tanya Lala.

"Sejak kemarin, saat aku memutuskan untuk berubah. Bukannya kalian sudah pernah mendengarkan aku memanggilnya Mas?" ungkap Mona masih dengan posisinya.

"Kapan...?" Lala berucap sambil membuka tangan Mona yang menutupi wajahnya.

"Waktu setelah dia pulang dengan terburu-buru dan nyebut nama Naysila itu," imbuh Mona.

"Oh, waktu itu. Kita lagi panik, jadi nggak ngeh saat kamu nyebut Ahmad dengan panggilan Mas. Iya kan, Jen?" kata Lala kemudian.

"Iya, soalnya kita waktu itu khawatir banget sama kamu, Beib!" ujar Jenny bersandar di bahu Mona.

"Terus sekarang, bagaimana rencana bulan madu kalian?" ujar Lala.

"Hmm... Mungkin aku cuma akan jalan-jalan, makan-makan dan nginep di hotel. Sudah itu aja sih, terus pulang biar Ayah nggak khawatir." Ungkap Mona.

"Asiknya, jadi pengen bulan madu!" tutur Jenny.

"Hei, pacar aja belum punya, Buk. Kok mikirin bulan madu, ngimpi...." Cecar Lala.

"Iiih, Lala jahat... Mona... Lihat, Lala jahat tuh...." Ujar Jenny manja bergelayut di lengan Mona.

"Udah jangan ganggu Mona, kamu mau bulan madu sama aku?" ujar Lala kemudian.

"Ogah, kamu bukan tipeku!" cecar Jenny sambil menjulurkan lidah.

"Sekarang gitu, dulu aja pas SMA sering nyuruh aku nyamar jadi cowok terus pura-pura jadi pacarmu!" ledek Lala.

"Itu kan dulu, karena aku banyak di gangguin cowok-cowok iseng. Aku minta bantuan ke kamu karena dulu kamu itu terlihat lebih ganteng dari cowok-cowok yang gangguin aku, Lala sayang." Imbuh Jenny.

"Itu karena kamu centil, makanya digodain!" Lala balik menjulurkan lidah, meledek Jenny.

Mona hanya menggeleng pelan dan menepuk jidatnya dengan telapak tangan kanannya melihat kelakuan dua sahabatnya itu, meski begitu mereka bertiga tetap saling menyayangi satu sama lain.

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, hingga menunjukkan pukul lima sore. Lala dan Jenny pun segera berpamitan kepada Mona, dan mereka pun pulang. Segera Mona bergegas memasak untuk Suami dan Ayahnya lalu menata hasil masakannya dimeja makan, dia pun langsung menuju kamarnya untuk segera mandi dan merias diri untuk menyambut sang suami.

Tak berapa lama setelah Mona bersiap, dia pun menyiapkan baju ganti untuk suaminya dan meletakkannya di tepian ranjang. Setelah itu dia bergegas menuju ruang tamu, untuk menunggu suaminya pulang.

Dari luar terdengar kembali bel pintu berbunyi, Mona segera menuju pintu dan membukanya. Ternyata sesuai harapannya, sang suami telah berdiri di depan pintu.

Di ambilnya tas kerja sang suami yang berisi laptop dan dokumen kantor, lalu disambutnya tangan Ahmad dan dicium dengan takzim yang membuat Ahmad bingung harus berkata apa.

"Bagaimana, Mas. Kerjaan kantor lancar?" tanya Mona mencoba untuk membuka percakapan dengan pria yang sikapnya dingin bak kulkas dua pintu.

"Lancar... Aku mau mandi dulu ya, gerah!" tukas Ahmad berlalu meninggalkan Mona.

"Iya Mas, Mas... Baju kamu sudah aku siapin di kamar ya dan nanti selesai mandi langsung ke ruang makan ya, kita makan bersama!" ujar Mona sebelum Ahmad menghilang dari pandangannya.

"Iya, makasih."

"Apa Mona sudah tidak marah ya? Dia sudah bersikap normal seperti biasa." Batin Ahmad dalam hati.

Ahmad pun langsung menuju kamar untuk mandi, sementara Mona pergi ke ruang kerja yang biasanya di pakai Ahmad untuk meletakkan tas kerja suaminya.

Setelah itu Mona gegas menuju ruang makan untuk menghangatkan ayam kecap buatannya, lalu duduk menunggu Ahmad. Beberapa saat kemudian, telepon Mona yang dia letakkan di atas meja menyala. Mona pun mengambilnya, ternyata ada pesan masuk dari aplikasi hijau.

"Mona, Ayah hari ini makan malam diluar ya. Tadi ketemu teman lama, jadi Ayah makan malam sama dia. Kalian makan berdua saja ya Nak, yang akur."

Begitu isi dari pesan yang diterima Mona, yang ternyata itu dari Pak Andi, Ayah Mona. Mona pun membalas pesan singkat itu, lalu Mona duduk untuk menunggu Ahmad.

Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga, Ahmad datang lalu kemudian duduk di kursi yang berseberangan dengan Mona. Dengan cekatan Mona mengambilkan nasi serta ayam kecap buatannya, lalu meletakkannya di hadapan Ahmad.

Mereka pun mulai makan tanpa suara, Mona dan Ahmad sama-sama bingung harus memulai dari mana memulai pembicaraannya itu. Biasanya karena ada Pak Andi, suasananya tidak akan jadi canggung seperti sekarang.

"Mona, kemana Ayah? Kenapa tidak ikut makan bersama kita?" tanya Ahmad memulai percakapan.

"Ayah katanya makan malam dengan teman lamanya, Mas!"

"Oh...."

Suasana pun kembali hening, hingga....

Kembali terdengar bunyi bel pintu berbunyi.

"Mas, aku lihat ke depan dulu ya. Sepertinya ada tamu!" tukas Mona seraya berdiri dari kursinya.

"Iya, ucap Ahmad melanjutkan makan malamnya.

Kembali, hening... Hingga....

BRAAAAK

"Aaaakkhhh! PERGI KAMU! LEPASKAN AKU!" teriak Mona.


Apa yang terjadi selanjutnya, siapakah tamu misterius itu?

Tunggu part selanjutnya....